
" Memangnya siapa dia?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Dia kekasihku."
Jeduarrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Aksa benar benar terkejut mendengar ucapan Ercha, ia mengepalkan erat tangannya membuat darah di tangannya kembali mengalir.
Tanpa berkata apa apa Aksa membalikkan badannya, saat ia hendak melangkahkan kakinya tiba tiba Ercha mencekal tangannya.
" Mau kemana?" Tanya Ercha.
" Mau pulang." Sahut Aksa.
" Bukankah kita sudah berjanji akan menjalin komunikasi dengan baik? Lalu kenapa kamu mau pergi begitu saja? Apa kamu tidak membutuhkan penjelasan dariku? Apa kamu begitu percaya padaku sehingga kamu tidak mau memastikan kebenarannya dulu?" Tanya Ercha membuat Aksa membalikkan badan lalu menatap ke arahnya.
" Ya kau benar, maaf jika aku terlalu emosional." Ucap Aksa mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Ia mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
" Sekarang jelaskan! Apa dia benar benar kekasihmu?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Iya benar." Sahut Ammar menghampiri mereka berdua.
" Aku dan Ercha kekasih sejak kecil, bahkan sejak kami di lahirkan." Ucap Ammar merangkul pundak Ercha.
Aksa mencoba melepaskan tangan Ercha namun Ercha semakin mengeratkan pegangan tangannya.
" Kamu ini ikutan menggoda suamiku Kak. Dia pasti tambah salah paham gara gara kita berdua." Ujar Ercha terkekeh.
" Apa kamu sedang mencoba mempermainkan perasaanku?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Tidak tidak Bro, sorry! Kenalin gue Ammar, kakak sepupu Ercha yang paling menyayangi Ercha seperti adik kandung gue sendiri. Bahkan gue sudah seperti kekasih Ercha dalam menjaganya selama dia tinggal bersama gue di luar negeri." Ucap Ammar menyodorkan tangannya.
" Benarkah?" Tanya Aksa memastikan.
" Iya Mas, ini kaka Ammar. Kakak pengganti kak Raka selama aku menuntut ilmu di luar negeri. Dia orangnya baik, bahkan sangat baik. Dia memberikan kejutan kepadaku dengan datang kemari tanpa memberi kabar lebih dulu. Dia bilang ke sini mau menjenguk calon keponakanannya, maaf telah mengerjaimu seperti ini." Terang Ercha.
" Nakal kamu ya, tunggu pembalasan dariku." Ucap Aksa.
" Aku Aksa, suami bodohnya Ercha." Ucap Aksa menjabat tangan Ammar.
" Ya kau memang bodoh karena meninggalkan adik kesayanganku. Sebenarnya waktu itu aku ingin menghancurkan kariermu dan karier kekasihmu itu namun Ercha melarangnya." Ujar Ammar.
Aksa tidak terkejut mendengar ucapan Ammar, ia sudah bisa menebak jika apapun masalah yang Etcha hadapi pasti di ketahui oleh kedua kakak laki lakinya.
" Maafkan aku karena telah salah kepada adikmu. Tapi bisakah kau menjauhkan tanganmu dari tubuh istriku? Aku tidak telah istriku di sentuh oleh siapapun termasuk kakak sepupunya sendiri." Ucap Aksa mbuat Ammar terkekeh.
" Ternyata posesif juga." Ucapan Ammar.
" Bukan posesif tapi cemburu." Sahut Ercha.
" Bukan cemburu sayang tapi takut. Aku takut kehilanganmu dan anak kita." Ucap Aksa menarik tangan Ercha hingga menubruk tubuh Aksa dan terlepas dari rangkulan Ammar.
" Cerdas juga caramu mengambil Ercha dariku." Ujar Ammar.
" Harus, aku suaminya jadi aku harus selalu menjadi pemenangnya." Sahut Aksa.
" Sudah sudah... Kalian malah seperti orang yang berhadapan dengan lawannya. Sekarang ayo kita kembali ke kamar! Aku akan mengobati tanganmu Mas. Selalu saja seperti ini." Gerutu Ercha.
__ADS_1
" Kecemburuannya mampu mengembalikan tenaganya yang sempat hilang Cha, sepertinya suamimu harus sering sering di buat cemburu biar cepat sembuh." Ucap Ammar mengejek.
" Udah Kak diam ah! Aku ke kamar dulu." Ujar Ercha menggandeng tangan Aksa menuju kamarnya.
Sampai di dalam kamar, Ercha segera memasang hansaplast di tangan Aksa.
" Apa sudah mendingan? Sudah tidak lemas lagi? Kalau tidak berarti infusnya tidak usah di pasang lagi." Ujar Ercha.
" Iya tidak usah, kita langsung pulang saja sore ini." Sahut Aksa membuat Ercha terkejut.
" Kok pulang?" Ujar Ercha menatap Aksa.
" Aku tidak mau kamu dekat dekat sama kakak sepupumu itu." Ucap Aksa.
" Astaga Mas... Kenapa kamu sekarang berubah sih? Kamu tidak seperti dulu yang bisa bersikap dewasa, banyak diam, dan nggak pernah aneh aneh seperti cemburu seperti sekarang ini." Ujar Ercha.
" Aku juga tidak tahu kenapa sayang, yang jelas aku selalu merasa ketakutan. Aku takut kehilanganmu dan anak kita. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua." Ucap Aksa memeluk pinggang Ercha. Ia menyusupkan wajahnya ke perut Ercha yang masih rata.
" Kami tidak akan meninggalkan kamu Mas. Jangan khawatir berlebihan seperti itu." Ucap Ercha.
" Benarkah?" Tanya Aksa mendongak menatap Ercha.
" Iya." Sahut Ercha menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih sayang." Ucap Aksa.
" Ya sudah sekarang lebih baik kamu istirahat Mas, kita pulang besok pagi saja. Aku masih kangen sama kak Ammar." Ucap Ercha.
" Baiklah." Sahut Aksa mengalah.
...----------------...
Siang ini Maysa sedang duduk bersantai di sofa kamarnya sambil memainkan ponsel. Tiba tiba ia mendapat pesan dari Nara sahabatnya. Ia segera membukanya.
May ngumpul sini sama Desi di resto xx sekalian makan siang ~Nara
Maysa nampak sedikit berpikir lalu ia mengetik balasan kepada Nara.
Oke wait a minute ~Maysa
Oke ~ Nara
Maysa segera bersiap, ia mengambil kunci mobil dan tas selempang di atas nakas. Ia keluar kamar menuju parkiran, kebetulan Kavin sedang bersama Aska.
Maysa melakukan mobilnya menuju cafe xx. Sampai di sana ia segera menghampiri kedua temannya.
" Maysa lama tidak berjumpa." Ucap Desi memeluk Maysa.
" Gue kangen banget sama kalian." Ucap Maysa.
" Kita juga." Sahut Nara memeluk keduanya.
" Lo mau makan apa biar gue pesenin." Ucap Nara.
" Gue pengin makan cumi pedas sama es rujak buah." Sahut Maysa.
" Lo lagi hamil?" Tanya Nara memastikan. Ia menatap Maysa yang nampak lebih berisi sekarang.
__ADS_1
" Iya." Sahut Maysa.
" Aaaa... Selamat babby.. Akhirnya keponakan gue segera launching." Pekik Nara memeluk Maysa.
" Gue senang banget May, kenapa lo nggak kabarin ke kita kalau lo hamil hah? Lo telat ngasih kejutan ini ke kita." Ujar Desi.
" Sorry, gue pikir mau ngasih kejutan ke kalian saat kita bertemu seperti sekarang ini." Ucap Maysa.
" Okelah tidak apa apa kami memang terkejut kok. Jaga kesehatanmu dan jaga kesehatan keponakanku dengan baik." Ujar Nara.
" InsyaAllah." Sahut Maysa.
" Ya sudah gue pesenin dulu makanan bumil kita." Ucap Nara meninggalkan mereka.
Setelah pesanan datang mereka makan bersama sambil berbincang bincang. Tiba tiba tatapan Maysa tertuju pada seorang pria dan wanita yang memasuki resto sambil bergandengan tangan. Tepatnya sang wanita mengapit lengan sang pria.
" Mas Ilyas." Gumam Maysa membuat Nara dan Desi menoleh ke arah pandang Maysa.
Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...
Desi tersedak makanannya sendiri saat melihat Ilyas bersama wanita, mereka nampak seperti sepasang kekasih.
" Minum beb." Nara memberikan segelas air putih kepada Desi. Desi segera meminumnya hingga tandas.
Tatapan Maysa tidak berpaling dari Ilyas. Ia menahan sesak di hatinya saat melihat Ilyas menarik kursi untuk wanita itu.
Keduanya duduk saling berhadapan, tak lama datang seorang pria menghampiri mereka.
" Ilyas kenalin ini Fendi, Fendi ini Ilyas kekasihku."
Jeduarrr.....
Maysa dan yang lainnya nampak sangat terkejut mendengar ucapan wanita itu. Tak tahan menahan sesak di dadanya, Maysa beranjak dari kursinya lalu meninggalkan kedua temannya.
" Maysa." Teriak Nara memanggil Maysa.
Mendengar nama istrinya di sebut, Ilyas menatap ke asal suara.
Deg....
Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Maysa yang berlari keluar meninggalkan resto tersebut.
" Siall." Umpat Ilyas.
Maysa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak mau dirinya dan anak dalam kandungannya kenapa napa.
" Tega kamu Mas, di saat aku seperti ini kamu malah menjalin hubungan dengan wanita lain. Bisa bisanya kamu ikut menghakimi Aksa kemarin. Untuk apa kau sok sokan membela Ercha kalau kamu sendiri berbuat lebih hina dari Aksa. Aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Maysa mengusap air matanya. Karena tidak fokus tiba tiba....
Brak.....
Suara apa ya??
Jangan lupa like koment vote dan 🌹yang banyak biar author makin semangat...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1