
Pagi ini Ilyas dan Maysa sarapan berdua karena Kavin tinggal bersama Aksa di rumahnya. Keduanya makan dengan khidmat tanpa ada yang berbicara. Ilyas terus menatap Maysa yang nampak sibuk dengan makanannya sendiri.
" Sayang Mas minta maaf! Please jangan marah lagi! Mas tidak sanggup menerima kemarahanmu seperti ini." Ujar Ilyas membuka obrolan.
Maysa menatap Ilyas sekilas, lalu ia kembali fokus pada kegiatannya.
" Sayang please!" Ucap Ilyas merengek seperti anak kecil.
Maysa menghela nafasnya pelan, ia menatap Ilyas begitupun sebaliknya.
" Aku akan memaafkan Mas asalkan Mas mau menuruti permintaanku." Ucap Maysa.
" Apa itu sayang?" Tanya Ilyas.
" Om Hendra ingin bertemu denganmu, temui dia pagi ini sekalian Mas mengantarku ke rumah sakit biar Mas tahu bagaimana kondisi Satya saat ini." Ucap Maysa.
" Untuk apa dia ingin bertemu dengan Mas?" Tanya Ilyas.
" Aku nggak tahu, coba aja Mas temui dia. Mau apa tidak?" Tanya Maysa menatap Ilyas.
" Baiklah sayang, demi mendapat maaf darimu Mas akan menemuinya." Ucap Ilyas akhirnya.
Selesai sarapan Ilyas dan Maysa menuju rumah sakit tempat Satya di rawat. Setelah sampai di sana, keduanya masuk ke dalam ruangan rawat Satya.
Ceklek....
Maysa membuka pintu, Satya yang sedang duduk bersandar menoleh ke arahnya.
" Sayang kamu datang." Ucap Satya senang sambil tersenyum lebar.
Senyum Satya mendadak hilang saat melihat Maysa masuk bersama Ilyas.
" Pagi Sat." Sapa Maysa.
" Pagi sayang." Sahut Satya tersenyum menatap Maysa.
" Satya kenalkan ini Mas Ilyas, dia..
" Dia Om kamu kan? Hai Om aku Satya, calon suaminya Maysa." Ucap Satya.
Maysa menatap Ilyas dengan perasaan bersalah.
" Hai, bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Ilyas menatap Satya.
" Tadi tidak baik baik saja, tapi sekarang sudah lebih baik karena ada Maysa di sampingku." Sahut Satya menggenggam tangan Maysa.
Ilyas mengepalkan erat tangannya menatap genggaman tangan Satya.
" Sayang aku lapar belum makan dari semalam." Ucap Satya menatap Maysa.
" Kenapa belum makan? Apa kamu tidak mendapat jatah dari rumah sakit?" Tanya Maysa.
__ADS_1
" Aku tidak mau makan kalau tidak di suapin sama kamu. Suster baru saja mengirim makanan untukku, suapin aku ya." Ujar Satya.
Maysa menatap Ilyas begitupun sebaliknya.
" Kenapa malah menatap Om Ilyas gitu? Buruan suapin aku! Aku lapar sayang." Ujar Satya.
" Ah iya baiklah." Sahut Maysa.
Maysa mengambil tempat makan lalu ia menyuapkannya ke mulut Satya.
" Apa kamu sudah makan? Kalau belum aku juga akan menyuapimu." Ucap Satya sambil mengunyah makanannya.
" Aku sudah makan tadi, sekarang kau saja yang makan terus minum obat." Ucap Maysa menyuapi Satya lagi.
" Sayang rambutmu berantakan." Ucap Satya merapikan anak rambut Maysa.
Maysa menatap Satya begitupun sebaliknya. Keduanya saling menatap dengan perasaan berbeda. Satya sangat bahagia bisa memandang gadis pujaannya sedekat ini, sedangkan Maysa takut kalau Ilyas akan memarahinya. Bagaimanapun ia telah melukai hati Ilyas.
"Maafkan aku Mas." Batin Maysa.
" Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi terlalu lama, aku tidak mau cinta Maysa kembali kepada Satya karena kedekatan ini. Aku tidak bisa memberikan mereka waktu lagi." Batin Ilyas.
Selesai makan Maysa membantu Satya meminum obatnya.
" Sekarang istirahatlah!" Ucap Maysa.
" Oh ya dimana Om Hendra? Aku ingin bertemu dengannya." Ujar Maysa menatap Satya.
" Ya udah kau istirahat saja! Aku tunggu di sofa." Ucap Maysa beranjak.
Satya mencekal tangan Maysa, Maysa menatap ke arahnya begitupun dengan Ilyas.
" Jangan tinggalkan aku! Tetaplah di sini bersamaku. Aku takut sendirian sayang, aku takut kau akan meninggalkan aku." Ucap Satya.
" Ya sudah, kamu istirahatlah!" Ucap Maysa duduk kembali di kursi samping ranjang.
Dengan kesal Ilyas duduk di sofa. Bukannya tidur Satya malah mengajak Maysa bercanda hingga membuat mereka saling melempar tawa. Hal itu membuat Ilyas merasa sangat kesal.
Tak lama tuan Hendra datang, ia menghampiri Maysa dan Satya.
" Pagi Maysa." Sapa tuan Hendra.
" Pagi Om." Sahut Maysa.
" Oh ya Om, itu Mas Ilyas sudah ada di sini." Ucap Maysa menunjuk Ilyas yang masih setia duduk di sofa. Tuan Hendra melihat ke arh sofa, ia melempar senyuman kepada Ilyas.
" Ah iya, Om ke sana dulu." Sahut tuan Hendra menghampiri Ilyas.
" Pagi nak Ilyas." Sapa tuan Hendra duduk di samping Ilyas.
" Pagi tuan." Sahut Ilyas formal.
__ADS_1
" Panggil Om saja seperti Maysa memanggilku." Ujar tuan Hendra.
" Baik Om." Sahut Ilyas.
" Begini nak Ilyas, Om mau meminta bantuanmu untuk mengijinkan Maysa merawat Satya sementara waktu sampai Satya siap menerima kebenaran yang sebenarnya." Ujar tuan Hendra menatap Ilyas.
Ilyas nampak diam saja, ia juga bingung harus bagaimana. Di lain sisi ia merasa kasihan pada Satya tapi di sisi lain ia takut Maysa kembali pada Satya. Bagaimanapun mereka pernah mencintai satu sama lain.
" Om mohon nak Ilyas, Om sangat membutuhkan bantuan Maysa untuk membuat Satya pulih seperti sediakala. Dokter mengatakan kalau ingatan Satya bisa kembali tapi Om tidak akan meminta Maysa merawat Satya sampai ingatannya kembali, itu akan terlalu lama untuk menyita waktu Maysa. Apa kamu mengijinkannya nak?" Tanya tuan Hendra.
" Maaf Om. Sebenarnya aku ingin sekali membantu Om dan Satya, tapi aku tidak mau mengambil resiko, aku khawatir kedekatan mereka mampu mengembalikan perasaan Maysa kepada Satya. Dan aku tidak mau sampai itu terjadi, putraku sangat membutuhkan mommynya saat ini. Kemarin saja Maysa meninggalkan putra Kami hingga larut malam. Dan pagi ini dia bahkan belum bertemu dengan mommynya padahal dia juga sedang dalam masa pemulihan."
" Sekali lagi maafkan aku Om! Aku tidak bisa mengijinkan Maysa untuk merawat Satya. Tapi aku akan mengijinkan Maysa menengok Satya sesekali. Aku harap Om bisa memahami dan mengerti pemikiranku saat ini. Aku rasa jika papa David tahu beliau juga tidak akan mengijinkannya." Ucap Ilyas.
Kecewa.. Tentu saja tuan Hendra merasa sangat kecewa. Namun ia tidak bisa egois memaksa Maysa untuk merawat Satya, Maysa punya kehidupan sendiri. Dan tuan Hendra sangat paham akan hal itu.
Tuan Hendra menghela nafasnya.
" Baiklah tidak masalah, Om mengerti dan sangat memahami pemikiranmu. Om juga punya keluarga, itu sebabnya Om ingin bertemu denganmu. Om tidak mau jika masalah ini membuat hubungan kalian renggang. Om akan mencoba memberi pengertian kepada Satya akan hal ini." Ucap tuan Hendra.
" Terima kasih Om sudah memahamiku." Ucap Ilyas di balas anggukkan kepala oleh tuan Hendra.
Tuan Hendra berjalan menghampiri Satya dan Maysa.
" Satya ada yang ingin Om katakan pada padamu." Ucap tuan Hendra.
" Apa itu Om? Katakan saja!" Ucap Satya menatap tuan Hendra.
" Begini Sat, Maysa mau pamit padamu. Maysa hendak melanjutkan studinya di luar negeri, jadi dengan berat hati Maysa tidak bisa menemani dan merawatmu lagi."
Jeduarrr..
Satya langsung menatap Maysa begitupun sebaliknya. Maysa tahu apa yang terjadi sehingga membuat tuan Hendra mengatakan itu. Maysa sedikit kecewa dengan Ilyas, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa.
" Sayang kau mau meninggalkan aku?" Selidik Satya.
" Aku... Aku... " Lidah Maysa kelu untuk menjawab iya. Ia tidak tega melihat keadaan Satya saat ini.
" Katakan Maysa!" Desak Satya.
" Ya. Maysa mau pergi ke luar negeri." Sahut Ilyas.
Tiba tiba...
Prang....
Nah lhoh apa itu?
Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih....
__ADS_1
Miss U All...