TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
BERKUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Hari ini Ilyas dan Maysa baru saja pulang dari rumah sakit, Maysa memeriksakan kandungannya yang memang saat ini ia sedang mengandung dengan usia enam bulan. Ilyas nampak sangat bahagia dengan. kabar gembira ini, senyumannya terus mengembang dan matanya terus berbinar nampak jelas memancarkan rona kebahagiaan di wajahnya.


Mereka berdua berjalan menghampiri keluarga Wilson yang sedang berkumpul di ruang tamu.


" Mommy, bagaimana keadaan dedek bayi Kavin?" Tanya Kavin menatap Maysa yang saat ini duduk di samping Ilyas berseberangan dengan Kavin.


" Alhamdulillah dedek bayinya sehat dan baik baik saja, doakan semoga Mommy juga sehat terus ya." Sahut Maysa.


" Alhamdulillah." Ucap semua orang.


" Tentu Mom." Sahut Kavin.


" Berapa usianya sekarang sayang?" Tanya nyonya Alexa menatap Maysa.


" Kurang lebih enam minggu Mi." Sahut Maysa.


" Jaga kesehatanmu dan kesehatan calon cucu Mami! Semoga sehat dan lancar sampai persalinan nanti." Ucap nyonya Alexa.


" Amin, terima kasih Mi." Sahut Maysa.


" Abang udah mau punya dua anak nih, kalian juga harus segera menyusul. Kita ciptakan penerus keluarga Wilson yang soleh dan solehah." Ucap Ilyas.


" Amin, gue pasti segera menyusul Bang." Sahut Aska percaya diri.


" Gue akan berusaha semaximal mungkin dan akan mencetaknya setiap hari. Kalau perlu nonstop dua puluh empat jam." Sambung Aska ngawur.


" Tinggal lo Ak." Ujar Aska menatap Aksa.


" Kalau Gue.... " Aksa menjeda ucapannya saat Ercha mencubit perutnya.


" Sakit sayang." Bisik Aksa.


" Awas aja kalau kasih jawaban yang sama, aku akan pergi dari rumah ini." Balas Ercha berbisik juga.


" Iya baiklah sayang, aku tidak akan menjawab seperti itu." Sahut Aksa.

__ADS_1


" Lo kenapa Ak?" Tanya Aska menatap Aksa.


Ercha segera menjauhkan tangannya.


" Tidak apa apa Bang." Sahut Aksa.


" Hmm gue tahu, lo nggak bisa janji karena Ercha tidak mau hamil dulu ha ha ha kasihan sekali nasib lo Ak... Udah pengin jadi bapak tadi yang mau jadi ibunya belum mau. Padahal usia istri lo lebih tua dari istri gue." Ucap Aska mengejek


" Tapi nggak apa apa, lo masih terlihat muda. Masih pantas menjadi lajang untuk beberapa tahun ke depan, tidak seperti gue sama Rega walaupun kami masih sama sama muda tapi kami sudah pengin punya momongan. Jadi kami tidak akan menundanya." Sambung Aska.


" Nggak apa apa, gue mah ngikut Ercha aja. Orang dia yang hamil, dia juga yang ngerasain efek kehamilannya jadi gue harus sabar menunggu sampai Ercha siap dulu. Lagian butuh kesiapan mental dan fisik untuk menjadi calon ibu. Yah walaupun jujur Gue juga pengin jadi papa muda, tapi gue nggak mau memaksakan kehendak, gue harus bisa memahami istri gue. Ya nggak sayang?" Ujar Aksa menatap Ercha.


" Walaupun gue selalu berdoa setiap malam kalau hubungan kami malam itu membuahkan hasil. Tapi gue harus pura pura memahami Ercha daripada dia marah, gue mah cari aman saja lah." Ujar Aksa dalam hati.


" Iya Mas terima kasih telah memahamiku." Sahut Ercha.


" Itu baru sikap suami yang baik dan benar. Aku saja harus menunggu selama ini. Menunggu aku siap jadi ibu dan menunggu Kavin siap jadi abang. Karena memang semua butuh persiapan yang matang. Aku takut tidak bisa mengurus keduanya, tapi sekarang aku sudah siap. Aku siap menjadi mommy muda untuk kedua anakku nanti." Ujar Maysa.


" Semoga lancar dan berjalan sesuai harapan." Sahut Aksa.


" Amin." Sahut Ercha.


" Iya Pa, kami akan selalu mengingat pesan Papa. Kami berjanji akan selalu mencintai dan memberikan waktu untuk istri kami. Terima kasih Papa sudah menyempatkan waktu untuk datang kemarin memberikan doa restu Papa kepada kami. Papa hati hati di jalan, kapan kapan kami akan mengunjungi Papa." Ucap Ilyas mewakili adik adiknya.


" Papa akan selalu menanti kedatangan kalian." Ucap tuan Arian.


Mereka melanjutkan berbincang bincang.


" Aunti cantik, ayo kita main ke rumah Kavin." Ajak Kavin menarik tangan Ercha.


" Lhah mommy sama daddy aja di sini, masa' kita main di sana. Lain kali aja ya sayang." Ujar Ercha.


Jujur, Ercha memang menyukai Kavin namun ia tidak telaten bermain dengan anak sekecil Kavin. Ia bingung apa yang harus ia lakukan, untuk itu ia menolaknya secara halus.


" Tidak apa apa Cha, turuti saja kemauan Kavin. Akhir akhir ini dia pasti kesepian karena sering kami tinggal keluar. Dia butuh teman untuk bermain." Sahut Ilyas.

__ADS_1


" Sudah tahu anaknya kesepian, kenapa malah sering di tinggal? Dasar orang tua aneh." Gumam Ercha. Aksa tersenyum mendengar gumaman Ercha yang menurutnya lucu.


" Sekalian Abang sama kakakmu juga mau pulang, Maysa harus banyak istirahat supaya dia dan bayinya sehat." Sambung Ilyas.


" Lhah nanti kedatanganku pasti mengganggu istirahat kakak ipar. Bukannya istirahat nanti malah kakak ipar nemenin aku sama Kavin main. Besok besok aja ya." Ujar Ercha.


" Enggak apa apa Cha, sepulang dari sini aku mau tiduran aja. Kamu main sama Kavin di kamarnya, hitung hitung belajar mengasuh anak kecil." Sahut Maysa.


Ercha menatap Aksa seolah memohon agar bisa terlepas dari Kavin.


" Please Mas tolongin gue! Gue akan bosan jika di sirih nemenin Kavin main." Batin Ercha.


" Gini aja Kavin mainnya sama Om juga. Ayo kita main bertiga biar seru." Ajak Aksa.


" Boleh, ayo Om." Kavin menarik tangan Aksa dan Ercha.


Mereka bertiga meninggalkan rumah Aksa dan menuju rumah Ilyas di ikuti Ilyas dan Maysa dari belakang.


Setelah itu Aska dan Rega pamit ke kamar. Mereka berdua masuk ke kamar lalu duduk bersandar pada head board berdampingan.


" Kenapa kehilatannya dari tadi kamu murung terus hmm?" Tanya Aska menarik kepala Rega lalu menyandarkannya ke pundaknya.


" Entah mengapa aku merasa Kavin lebih menyukai Ercha daripada aku Mas." Ucap Rega.


" Jangan sedih begitu donk! Itu hanya perasaanmu saja. Mungkin Kavin begitu karena dia merasa Ercha lebih wellcome padanya. Ercha si gadis periang dan ceroboh itu bisa membuka dirinya pada semua orang. Sedangkan kamu lebih terlihat pendiam jadi seolah olah kamu membatasi dirimu terhadap orang lain." Ujar Aska hati hati agar tidak menyinggung perasaan istrinya.


" Iya kau benar Mas, jujur aku merasa minder berada di tengah tengah kalian. Aku merasa kita jauh berbeda, dan..


" Stt!!" Aska meletakkan jari telunjuknya di bibir Rega.


" Jangan berpikir seperti itu lagi! Kau sudah menjadi istriku dan itu berarti kita sudah menyatu. Kita berdua satu, jadi jangan merasa minder karena seolah olah kamu sendirian. Aku dan keluargaku ada di sini bersamamu dan selalu mendukungmu. Oke?" Ujar Aska menatap Rega.


Rega menganggukkan kepalanya, ia memeluk perut Aska meluapkan perasaan cintanya di sana.


" I Love You." Ucap Aska mencium kening Rega.

__ADS_1


" Love you too." Sahut Aska.


TBC....


__ADS_2