TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
KEMARAHAN MAYSA


__ADS_3

" Malam tuan David, kami kemari untuk menangkap nona Maysa atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap nona Maurene."


Jeduarrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh mereka terasa kaku, terutama Maysa. Jantungnya berdetak sangat kencang, bagaimana kalau dia di penjara? Siapa yang akan mengurus Kavin? Bagaimana keluarganya akan menanggung malu karena semua itu? Pikiran Maysa benar benar kacau saat ini.


" Mmm.. Mas." Maysa menggenggam erat tangan Ilyas.


" Tenanglah sayang! Ada Mas di sini, Mas pastikan kau baik baik saja dan terlepas dari tuduhan itu." Ucap Ilyas.


" Maaf Pak! Siapa yang membuat pengaduan seperti ini pada istriku?" Tanya Ilyas.


" Nona Maurene sendiri tuan, saat ini beliau sedang dalam perawatan di rumah sakit." Sahut polisi.


Mereka semua saling melempar pandangan satu sama lain.


" Dia berbohong Pak, dia sedang mempermainkan kalian saat ini dengan membuat laporan palsu. Istri saya tidak bersalah, dia tidak melakukan apa yang di tuduhkan Maurene padanya. Istri saya hanya berusaha menyelamatkan dirinya dari serangan Maurene. Dia membela diri saat itu Pak, bukan menyerang." Ucap Ilyas mencoba memberikan keterangan.


" Berikan keterangan anda di kantor polisi saja Tuan, saat ini kami harus membawa Nona Maysa ke kantor polisi. Kami butuh keterangannya untuk melakukan penyelidikan. Jika terbukti Nona Maysa tidak bersalah kami akan membebaskannya. Kami hanya menjalankan tugas saja." Ujar pak polisi.


" Tapi Pak..


" Aku tidak apa apa Mas, aku akan mengikuti instruksi kinerja mereka." Ucap Maysa.


" Mari Nona!" Ucap polisi.


" Ijinkan saya untuk mendampinginya Pak." Ucap Ilyas yang di setujui oleh kedua polisi itu.


Maysa di gelandang oleh dua orang polisi, Ilyas selalu setia menemaninya. Di dalam perjalanan Ilyas selalu menggenggam tangan Maysa. Sedangkan tuan David mengikuti dengan mobilnya sendiri. Ia menelepin pengacara keluarganya untuk menyelesaikan masalah Maysa.


Sampai di kantor polisi Maysa di bawa ke ruang penyidik. Ilyas segera menelepon Barra meminta Barra mengumpulkan bukti bukti jika Maysa tidak bersalah. Maysa beri berbagai pertanyaan seputar kejadian di kampung kumuh itu. Maysa menjawabnya dengan jujur.


Tak lama Barra dan pengacara tuan David masuk ke dalam memberikan bukti bukti kepada penyidik. Penyidik meneliti bukti bukti itu sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


" Ini flashdisk berisi rekaman saat kejadian Nona Maurene hendak menyerang Nona Maysa Pak. Kebetulan orang kami sempat menvideonya." Ucap Barra.


Maysa nampak terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka jika salah satu orang Barra berhasil mengambil video itu.


Barra memberikan flash disk pada penyidik, lalu penyidik segera memutarnya. Nampak jelas di sana jika Maurene lah yang menyerang Maysa membuat penyidik menyimpulkan jika Maysa tidak bersalah.


" Baiklah, berdasarkan bukti bukti yang Anda berikan pada kami, kami menyatakan jika anda terbukti tidak bersalah Nona. Maafkan tindakan kami dan terima kasih telah bekerja sama dengan baik." Ucapnya.


" Sama sama Pak, sekarang saya yang mau mengajukan laporan atas tindak kekerasan dan penculikan terhadap putra saya yang di lakukan oleh Nona Maurene Pak. Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi." Ucap Maysa.

__ADS_1


" Baik Nona, silahkan ajukan laporan ke bagian pengaduan." Ucap penyidik.


" Terima kasih Pak." Ucap Maysa.


Maysa, Ilyas, dan yang lainnya kekaur dari ruang penyidik. Ilyas menatap Maysa begitupun sebaliknya.


" Sayang apa benar kau akan melaporkan Maurene pada polisi?" Tanya Ilyas memastikan.


" Kenapa? Apa Mas keberatan? Apa Mas berempati padanya karena penyakitnya? Dia berbohong Mas. Maurene tidak sakit, dia hanya menjebakmu saja. Aku sudah mengatakan itu padamu tadi kan. Atau kau masih ada perasaan padanya? Makanya kamu tidak mau sampai dia di penjara? Benar begitu?" Selidik Maysa menatap tajam Ilyas.


" Bukan begitu sayang, Mas cuma tidak mau..


" Tidak mau apa? Nggak usah banyak alasan Mas. Di sini aku dan Kavin yang di sakiti, tapi bisa bisanya kamu membela dia seperti ini. Kau kecewa padamu Mas." Kesal Maysa meninggalkan Ilyas.


" Sayang." Panggil Ilyas namun Maysa tidak menghiraukannya.


Barra menepuk pundak Ilyas.


" Kau salah Yas, kau melakukan kesalahan besar dengan mengatakan hal itu. Harusnya kamu bunuh si nenek lampir itu bukan malah membelanya." Ujar Barra.


" Aku tidak membelanya Bar, aku hanya kasihan saja saat ini Maurene sedang terluka. Dia tidak punya siapa siapa dan yang paling aku takutkan dia pasti akan balas dendam suatu hari nanti. Aku punya cara sendiri untuk menghukumnya, aku berencana untuk mengirimnya ke luar negeri dan akan aku buat dia tidak bisa kembali lagi ke sini setelah apa yang dia lakukan Bar. Bukan memenjarakan ya di sini." Terang Ilyas menatap Barra.


" Itu urusan rumah tanggamu Yas, aku tidak mau ikut campur. Kau terkesan melindungi Maurene daripada membela istrimu sendiri. Mungkin benar kata Maysa jika kau masih punya perasaan padanya." Ucap Barra meninggalkan Ilyas menyusul Maysa, begitupun dengan tuan David dan pengacaranya.


Maysa nampak mengacuhkan Ilyas, ia berjalan menuju mobil. Ilyas segera mengejarnya. Saat Ilyas membukakan pintu mobilnya, Maysa malah melewatinya. Ia masuk ke mobil tuan David. Ilyas melihatnya sambil menghela nafasnya pelan.


" Sabar Nak!" Tuan David menepuk pundak Ilyas.


" Iya Pa." Sahut Ilyas.


Tuan David masuk ke mobil sedangkan Ilyas masuk ke mobilnya. Mereka pulang dengan mobil masing masing.


Sampai di rumah Maysa segera masuk ke dalam menuju kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, setelah selesai ia naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya.


Ilyas menghampirinya, ia duduk di tepi ranjang dekat Maysa.


" Sayang Mas minta maaf! Mas salah karena terkesan membelanya. Tapi percayalah sayang, Mas tidak sedang membelanya. Sebenarnya Mas punya cara sendiri untuk menghukum Maurene." Ucap Ilyas. Ilyas menceritakan rencananya kepada Maysa sama seperti yang ia ceritakan pada Barra.


" Itulah rencana Mas sayang." Ucap Ilyas.


" Dengan begitu kau memberikan kebebasan padanya, aku tidak akan membiarkan orang yang telah menyakitiku bebas begitu saja. Dia harus mendekam di penjara dalam waktu lama. Terserah bagaimana pemikiranmu Mas, yang jelas aku yakin dengan hatiku. Kau masih memiliki perasaan padanya, itu sebabnya kau mengasihaninya." Ucap Maysa penuh penekanan.


" Sayang bukan begitu, Mas...

__ADS_1


" Aku capek Mas, aku pusing. Aku mau tidur dan tolong jangan ganggu aku! Kalau kau khawatir ataupun kasihan pada Maurene, mending kamu ke rumah sakit sekarang. Aku yakin polisi saat ini sedang menangkapnya." Ucap Maysa.


" Mas tidak mau ke sana. Mas mau di sini saja menemanimu. Maafkan Mas jika Mas membuatmu marah ataupun membuatmu sakit hati. Kalau begitu selamat malam, semoga mimpi indah." Ucap Ilyas.


Maysa memejamkan matanya menuju alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari saat sarapan, ponsel Maysa berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil yang tak lain pengacara keluarganya yang bernama Abraham. Maysa segera mengangkatnya.


" Halo Kak, ada apa?" Tanya Maysa kepada Abraham. Pengacara keluarganya yang umurnya lima tahun lebih tua dari Maysa.


" Maysa, Maurene kabur dari rumah sakit. Sepertinya ada yang membantunya keluar dari sini."


Jeduarrr....


Maysa menatap tajam ke arah Ilyas membuat Ilyas mengerutkan keningnya.


" Ada apa sayang? Kenapa kau menatap Mas seperti itu?" Tanya Ilyas memastikan.


" Dimana kau menyembunyikan Maurene?" Tanya Maysa membuat semua orang terkejut.


" Apa maksudmu sayang?" Tanya Ilyas mengerutkan keningnya.


" Tidak perlu berpura pura lagi." Sahut Maysa.


" Dimana kau menyembunyikan Maurene Mas?" Bentak Maysa membuat semua orang kaget termasuk Kavin.


" Ma, bawa Kavin ke dalam." Titah tuan David. Ia tahu jika saat ini Maysa sedang di rundung amarah.


" Baik Pa." Nyonya Melodi menggendong Kavin meninggalkan meja makan.


" Sayang Mas tidak tahu apa apa. Kenapa kau bertanya seperti itu pada Mas?" Ujar Ilyas.


" Aku tanya sekali lagi, dimana kau menyembunyikan Maurene Mas? Kalau kau tidak mau mengatakannya aku akan berbuat kasar padamu." Ucap Maysa penuh penekanan.


Maysa marah, ia kecewa, karena ia menyangka Ilyas telah mengkhianatinya dengan membawa kabur Maurene.


" Mas tidak tahu sayang." Sahut Ilyas.


Prang....


Nah loh Maysa marah..

__ADS_1


TBC....


__ADS_2