TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
JANJI ASKA


__ADS_3

Pagi ini Aska menjenguk bu Norma di ruang rawatnya, ia masuk ke dalam menghampiri Rega dan bu Norma.


" Bapak ke sini lagi? Apa Bapak mau... " Rega menjeda ucapannya sambil melirik ibunya.


" Tidak, aku hanya ingin menjenguk ibuku saja." Sahut Aska seolah tahu maksud Rega yang akan mengungkit hutangnya.


" Pagi Bu, gimana keadaan ibu setelah di operasi?" Tanya Aska menatap bu Norma yang terbaring lemah di atas ranjang.


" Sudah mendingan Nak, sudah tidak sakit lagi. Terima kasih sudah membantu membayar biaya operasi ibu. Ibu tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Ibu hanya bisa mendoakan semoga kelak kau selalu hidup bahagia." Ucap bu Norma.


" Amin, terima kasih Bu." Ucap Aska.


" Nak Aska, sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan padamu." Ucap bu Norma tiba tiba.


" Kenapa Bu? Katakan saja jangan sungkan!" Ujar Aska.


" Begini Nak, ibu merasa hidup ibu tidak akan lama lagi."


" Ibu kenapa bilang seperti itu? Ibu akan terus sehat dan mendampingi aku sampai aku sukses nanti." Sahut Rega memotong ucapan bu Norma.


" Tidak Nak, ibu memang ingin selalu mendampingimu tapi tubuh ibu tidak kuat Nak. Walaupun ibu berhasil menjalani operasi tapi sepertinya semuanya sia sia." Ujar bu Norma membuat Rega terlihat sedih.


" Nak Aska, maukah kau berjanji satu hal pada ibu?" Tanya bu Norma menatap Aska.


Rega melongo menatap ibunya dan Aska bergantian.


" Jika saya bisa melakukannya pasti akan saya lakukan Bu." Ucap Yoga.


" Jika ibu tiada nanti, berjanjilah kau akan menikahi Rega."


Deg...


Jantung Rega terasa berhenti berdetak, bagaimana bisa ibunya meminta pria yang baru ia kenal untuk menikahinya? Apalagi Aska dari keluarga terpandang, Rega yakin jika Aska sudah mempunyai calon istri.


" Ibu ini apa apaan sih? Kita tidak sedekat itu dengan pak Aska bu. Lagian pak Aska sudah punya calon istri. Dia mau menolong kita saja itu sudah suatu keberuntungan, kenapa ibu menjadi serakah seperti ini? Aku tidak mau bu. Dan stop! Jangan menyusahkan orang lain lagi, hidup kita sudah susah selama ini. Tidak perlu menambah masalah dengan hal ini bu. Dan ya... Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku tidak mau menikah sebelum aku menjadi orang sukses." Ujar Rega.


" Ibu tidak bisa tenang jika meninggalkanmu sendirian sayang, ibu takut terjadi hal buruk padamu. Ibu yakin nak Aska adalah pria yang baik, dia pria yang tepat untuk mendampingimu." Sahut bu Norma.

__ADS_1


" Hilangkan jauh jauh pikiran itu bu! Saat ini ibu harus fokus pada kesembuhan ibu. Walaupun dokter bilang kesembuhan ibu hanya beberapa persen saja, tapi aku yakin ibu pasti bisa sembuh. Semangatlah bu! Aku ada di sini." Ucap Rega mencoba tegar, walaupun sebenarnya hatinya rapuh dan di liputi rasa takut yang luar biasa. Apalagi setelah dokter mengatakan jika bu Norma mengalami komplikasi setelah operasi.


" Bagaimana nak Aska? Apakah kamu mau menikahi Regata? Atau kamu menolak karena sudah punya calon istri seperti yang Rega katakan tadi? Apapun jawabanmu ibu akan menerimanya Nak. Ibu tidak memaksamu." Ujar bu Norma.


" Aku menerimanya bu." Ucap Aska membuat Rega terkejut.


" Tidak Pak, aku tidak mau. Keadaan kita sangat jauh berbeda Pak, jangan korbankan kebahagiaan Bapak hanya untuk permintaan konyol ibu saya. Lagian aku juga masih sekolah, usia kita juga berbeda jauh Pak." Ucap Rega.


Aska tersenyum menatap Rega.


" Yang pertama aku tidak punya pacar, apalagi calon istri. Yang kedua aku tertarik menjalin hubungan denganmu. Yang ketiga, perbedaan umur tidak jadi masalah. Yang terakhir, mari kita bahagia sama sama." Ucap Aska membuat Rega terharu. Bu Norma tersenyum melihatnya.


" Tapi Bapak akan menyesal jika menjalin hubungan denganku, keluarga Bapak juga pasti akan menentangnya. Kita tidak sepadan Pak, kita bagai langit dan bumi." Ujar Rega.


" Bukankah langit dan bumi saling melengkapi? Mereka selalu beriringan dan saling membutuhkan satu sama lain, bayangkan saja jika ada langit tanpa bumi ataupun sebaliknya. Jika masalah keluargaku, mereka orang orang yang baik. Mereka pasti mau menerimamu dengan hati lapang. Mereka tidak pernah memandang orang lain melalui harta ataupun kedudukannya. Jadi kau tidak perlu khawatir!" Ucap Aska.


" Kita juga masih sekolah, Bapak bisa di pecat dari sekolahan kalau menikahi muridnya sendiri." Ucap Rega.


Bukan Rega sok jual mahal, tapi ia tidak mau menyulitkan Aska di kemudian hari. Baginya Aska seperti malaikat oenolong yang Tuhan kirimkan untuknya. Hanya saja nasib baik tidak berpihak kepadanya.


" Pak Aska adiknya pak Ilyas?" Tanya Rega memastikan.


" Ya." Sahut Aska.


" Berarti Bapak adik iparnya Maysa donk!" Ucap Rega.


" Iya, apa kau kenal baik dengan Maysa?" Tanya Aska.


" Dia selalu membantuku saat aku kesusahan Pak, dia kakak kelas terbaik yang pernah aku kenal selama ini. Aku sering kesulitan membayar sekolah, dan Maysa yang selalu membantuku dengan membayar biaya sekolah." Ucap Rega menerawang saat saat ia bersama Maysa.


" Ah aku jadi kengen dengannya, sudah lama aku tidak calling dia. Bagaimana kabarnya Maysa Pak?" Tanya Rega.


" Baik, kalau kamu kangen kamu bisa main ke rumahnya. Kamu juga bisa bermain dengan Kavin." Ujar Aska.


" Kapan kapan saja Pak. Saat ini aku harus menyiapkan untuk ujian nanti." Sahut Rega.


Tiba tiba bu Norma mengalami sesak nafas, seketika Rega terserang panik yang luar biasa.

__ADS_1


" Ibu.. Ibu kenapa? Ibu." Rega menggenggam tangan bu Norma.


Aska berlari memanggil dokter Arga, tak lama dokter Arga dan Aska masuk ke ruangan bu Norma.


" Dokter ibu saya kenapa? Tolong selamatkan ibu saya Dok!" Ucap Rega sambil menangis.


" Tenanglah Nona! Kami akan memeriksanya, silahkan anda tunggu di luar!" Ucap dokter.


" Hiks.. Ibu." Isak Rega.


" Ayo Re, kita tunggu di luar." Aska merangkul Rega membawanya keluar.


Saat Aska hendak membuka pintu, suara bu Norma menghentikannya.


" Nak Aska." Panggil bu Norma dengan nafas tersengal.


Aska membalikkan badan menatap bu Norma. Ia berjalan mendekati bu Norma di ikuti Rega.


" Ibu ingin mendengar janjimu sebelum ibu tiada, ibu akan pergi dengan tenang jika kau bisa menepatinya." Uajr bu Norma.


" Iya bu aku berjanji, aku akan menikahi Rega. Aku akan menjaganya dan melindunginya selama hidupku. Aku akan membuatnya hidup bahagia bersamaku. Itu janjiku pada ibu, jika ibu ingin pergi, pergilah dengan tenang bu! Kami ikhlas melepas kepergianmu." Ucap Aska.


" Terima kasih Nak." Ucap bu Norma.


Bu Norma menatap Rega.


" Sekarang ibu bisa pergi dengan tenang Nak, jaga dirimu baik baik dan jadilah istri yang baik setelah nak Aska menikahimu nanti." Ucap bu Norma.


" Ibu Hiks... hiks.. " Rega memeluk tubuh kurus ibunya. Tak lama bu Norma menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.


" Ibu... " Teriak Rega histeris. Ia tak kuasa menahan kesedihannya di tinggalkan satu satunya orang yang sangat menyayanginya.


TBC..


Novel baru author udah launching ya... Author tunggu dukungan kalian di sana.


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2