
" Hiks... Iya Mas... Penyakitmu parah Mas, kata dokter kamu terkena Aids." Ucap Ercha.
" Apa???" Pekik Aksa. Ia sangat terkejut dengan ucapan Ercha.
" Ya Tuhan ampuni aku, aku sedang tidak berdoa aku hanya bercanda saja. Malaikat yang baik hati, jangan aminin ucapanku ya." Batin Ercha.
" Tidak mungkin aku terkena penyakit itu. Aku tidak pernah melakukan free *** sama sekali. Aku hanya melakukannya sekali dan itu pun denganmu sayang." Ucap Aksa menatap Ercha.
" Sekali apanya? Dia melakukannya berkali kali kok bilang sekali." Ujar Ercha dalam hati.
" Tapi begitulah kata dokter mas." Ujar Ercha.
" Dokter mana yang mengatakan itu? Aku akan menuntutnya." Ucap Aksa membuat Ercha terkejut.
" Gawat!! Kalau mas Aksa beneran menuntut dokter Rean gimana? Kan dia nggak tahu apa apa? Ya Tuhan bagaimana ini? " Batin Ercha.
" Aku akan meminta bang Ilyas untuk menuntut penjara seumur hidup kepada doktermu itu. Sekarang katakan siapa.. Awh!!" Aksa memegangi kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.
" Kenapa Mas?" Tanya Ercha.
" Kepalaku sakit sekali sayang." Ucap Aksa.
" Tunggu sebentar aku akan membawakan makanan dan minuman untukmu, setelah itu kau harus minum obat." Ucap Ercha.
" Masalah penyakit itu gimana?" Tanya Aksa lirih.
" Tidak usah di pikirkan! Aku hanya bercanda saja." Ujar Ercha.
" Benarkah?" Tanya Aksa memastikan.
" Iya, maaf jika bercandaku kelewatan." Ucap Ercha.
__ADS_1
" Benar benar keterlaluan. Kau hampir membuatku mati berdiri karena berita ini." Ujar Aksa.
" Eits jangan mati dulu! Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah." Ucap Ercha cepat.
" Apa ucapanmu bisa di artikan kalau kamu sudah memaafkan aku?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Siapa bilang? Aku hanya kasihan saja pada anakku nanti kalau saat dia lahir kamu sudah tiada, padahal aku belum mencari gantimu." Ujar Ercha.
" Tidak boleh." Sahut Aksa cepat.
" Kenapa tidak boleh? Aku juga tidak melarangmu mencari penggantiku. Malahan aku dengan senang hati melepaskan kamu untuknya. Apalagi kalian saling mencintai, kurang baik apa aku coba." Ucap Ercha.
" Sayang aku kan susah menjelaskannya padamu kalau semua itu hanya kebohongan saja. Aku tidak mencintainya ataupun wanita manapun kecuali kamu. Aku hanya mencintaimu Ercha." Ucap Aksa menggenggam tangan Ercha menggunakan tangan kirinya.
" Tapi ucapanmu tidak bisa di artikan candaan Mas, kau sama saja sudah menalak aku dengan berkata seperti itu. Hubungan kita saat ini tidak seperti dulu lagi. Ada jurang yang telah memisahkan kita. Aku juga sudah menyetujui perpisahan ini, jadi bisa di artikan kalau kita sudah berpisah walaupun belum resmi di mata hukum. Maaf aku keluar dulu." Ucap Ercha meninggalkan Aksa.
Aksa menghela nafasnya pelan menatap punggung Ercha.
Lima menit kemudian Ercha kembali dengan membawa nampan berisi makanan.
" Makanlah Mas lalu minum obatnya! Setelah mendingan silahkan pergi dari sini!" Ucap Ercha meletakkan nampannya di atas nakas samping ranjang.
" Aku tidak akan pergi dari sini. Setelah aku sembuh, aku akan menjagamu dan anak kita. Aku akan memenuhi semua yang kau dan anak kita inginkan. Jadi kau tidak boleh mengusirku." Ucap Aksa.
" Aku tidak butuh penjagaan darimu, selama ini aku bisa menjaga diriku sendiri. Jaga saja papa dan kekasihmu itu. Lagian di sini ada kak Raka yang akan selalu menjaga dan mencintaiku. Kak Raka tidak akan pernah berkhianat dariku, dia selalu setia menemaniku kapan saja." Sahut Ercha membuat hati Aksa mencelos.
" Sayang apa kau sama sekali tidak bisa mengerti dan memahami penjelasan yang aku berikan padamu?" Tanya Aksa memastikan.
" Apapun alasanmu aku tidak menerimanya, alasanmu menyakitiku tidak berdasar. Sekarang makanlah dan segera tinggalkan tempat ini." Ucap Ercha menyodorkan nampan berisi makanan kepada Aksa.
Tiba tiba...
__ADS_1
Pyarrr...
Ercha berjingkrak kaget saat Aksa menepia tangannya membuat piring dan gelas jatuh berserakan di lantai.
" Apa yang kau lakukan hah? Aku sudah berbaik hati mau merawatmu di sini tapi malah kau berbuat kasar seperti ini." Ucap Ercha dengan nada tinggi.
" Itulah sebabnya aku membuang makanan itu, aku tidak mau sembuh. Biarkan aku sakit atau mati sekalian." Ucap Aksa membuat Ercha melongo tak percaya. Suami yang selama ini pendiam dan selalu menampakkan kesabarannya kini bisa semarah ini.
" Untuk apa aku hidup jika aku tidak akan bisa menjalani hidup dengan baik tanpa kamu. Aku lebih baik kehilangan kesehatan dan nyawaku Ercha." Ucap Aksa dengan mata berlinang air mata.
" Aku tahu aku berbuat kesalahan kepadamu, aku sudah mengakuinya, aku sudah meminta maaf padamu, aku juga sudah menjelaskan kesalahpahaman ini. Tapi kenapa kau masih tidak percaya padaku? aku harus bagaimana? Aku harus apa lagi agar kamu bisa memaafkan aku dan kembali padaku seperti dulu lagi hiks... Aku memang bodoh Ercha. Aku bodoh." Ucap Aksa memukuou dadanya sendiri yang terasa sesak.
Ercha menatap suaminya yang nampak begitu rapuh dan putus asa.
" Jika kau membutuhkan banyak waktu untuk memaafkanku, aku akan memberikan waktu sebanyak kau mau. Tapi aku meminta kesempatan padamu untuk tetap membiarkan aku berada di dekatmu. Aku tidak bisa jauh darimu setelah ini Ercha. Apalagi dengan calon anakku yang ada di dalam kandunganmu. Impianku selama ini adalah menjadi papa muda untuk anak anakku. Aku ingin menjadi ayah dari banyak anak di usiaku yang masih muda ini. Tolong jangan membunuh harapanku selama ini Ercha, waktu itu aku tidak bisa mencegahmu. Aku bingung harus melakukan apa, saat aku mendengar ucapan ya darimu duniaku terasa runtuh. Aku merasa sudah tidak ada harapan lagi untukku hidup bersamamu karena aku merasa kau tidak menginginkan aku. Bagaimana bisa kau menginginkan aku di saat kau tidak menginginkan darah daging muda sendiri. Aku putus asa saat itu Ercha, di tambah lagi dengan berita penyakit papa. Aku semakin menemui jalan buntu. Ingin sekali aku berbagi masalah itu kepada keluargaku tapi aku berusaha menjaga nama baikmu di depan mereka. Aku tidak mau kau terlihat buruk di depan mereka karena berniat menggugurk@n pewaris mereka. Aku tidak mau mereka menanam kebencian kepadamu. Karena itu aku memilih untuk pergi dan berpisah darimu. Aku pikir itulah yang terbaik untuk kita berdua. Tapi ternyata aku salah, aku sangat salah Ercha. Jika aku tahu anak kita masih ada di dalam rahimmu, tidak mungkin aku melakukan hal sebodoh ini. Tidak mungkin aku berita berpisah darimu, sedangkan selama ini aku selalu memaafkan kesalahanmu. Kau selalu memaklumi dan menerima sikapmu kepadaku. Aku tidak pernah mengeluhkan apa yang kau lakukan padaku. Aku benar benar mencintaimu, aku benar benar menyayangimu apa adanya Ercha. Perlu kau tahu, kau juga salah dalam hal ini. Kau yang memulai kesalahpahaman ini. Jika kau mengatakannya dengan jelas, aku tidak akan marah dan langsung meninggalkanmu begitu saja. Tanpa kau meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu. Sekarang giliranmu memaafkan aku." Ucap Aksa panjang lebar membuat Ercha merasa tersudut.
Ercha nampak diam saja, apa yang di katakan Aksa memang ada benarnya.
" Bagaimana sayang? Apa kau mau memaafkan aku? Jika kau tidak bisa memaafkan aku maka aku jamin ini pertemuan kita yang terakhir. Kita tidak akan bertemu lagi selamanya."
Ercha melotot menatap Aksa.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Ercha.
" Sama sepertimu yang ingin melenyapkan anakku, itu juga yang akan aku lakukan pada dirimu sendiri."
Tiba tiba.....
Apa ya? Masih mau lanjut atau mau mendekati tamat nih?
Jangan lupa tekan like koment vote dan mawar yang banyak biar author semangat.
__ADS_1