TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
DI TANGKAP POLISI


__ADS_3

Maurene berlari ke arah Maysa, Maysa melihat Maurene menggenggam sesuatu di tangannya, saat Maurene sudah mendekat dengan sigap Maysa menepis tangan Maurene hingga tangan Maurene terpental ke dalam mengenai perutnya dan...


Jleb....


" Arghhh!!!" Teriak Maurene saat pisau yang ia bawa mengenai perutnya sendiri.


Maysa langsung menjauhkan tangannya, ia melongo karena terkejut dengan apa yang terjadi.


Brugh....


Tubuh Maurene tergeletak di jalanan.


" Astaga.. Ya Tuhan." Maysa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka jika yang Maurene bawa sebuah pisau karena ia tidak melihatnya dengan jelas.


Barra mendekati Maysa.


" Bang Barra, bukan aku... Aku tidak melakukan apapun." Ucap Maysa menatap Barra di balas anggukkan kepala olehnya.


" Kau tenang saja! Bukan kau pelakunya, jangan menyentuh pisaunya. Kau pulanglah! Biarkan aku yang mengurus semua ini." Uang Barra.


" Tapi Bang, tanganku tadi mengenai pisau itu, apa sidik jariku tertinggal di sana?" Tanya Maysa cemas.


" Akan aku usahakan tidak ada sidik jari yang tertinggal di sana. Kau pulanglah! Bawa mobilnya! Aku akan mengurusnya." Ujar Barra.


" Tapi kalau kau di sini sendiri, kau akan di tuduh melukainya oleh warga sini Bang, mending kita bawa dia ke rumah sakit. Setelah itu kita pulang bareng." Ujar Maysa.


" Baiklah." Sahut Barra.


Barra mengeluarkan sapu tangannya, ia mencabut pisau yang menancap di perut Maurene. Ia menyimpan pisau itu di saku celananya lalu ia membopong tubuh Maurene ke mobil.


Barra menurunkan Maurene di jok belakang. Nyonya Melodi yang melihatnya pun terkejut.


" Astaga dia kenapa Barra?" Tanya nyonya Melodi saat melihat tubuh Maurene yang bersimpah darah.


" Tertusuk pisaunya sendiri nyonya, kita harus segera ke rumah sakit." Sahut Barra.


Maysa duduk di depan memangku Kavin sedangkan nyonya Melodi bersebelahan dengan Maurene.


Tanpa membuang waktu, Barra melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju rumah sakit terdekat.


" Mommy hiks... Tante itu jahat, biarkan dia terluka. Kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit. Biar saja dia mati di sini." Ucap Kavin memeluk Maysa.


" Sayang kamu tidak boleh seperti itu, sejahat apapun orang itu kita tetap harus menolongnya jika dia butuh pertolongan. Kalau kita tidak mau menolong, itu berarti kita sama jahatnya dengan dia. Jadi kita harus membantu mereka yang butuh pertolongan, siapa pun itu." Ujar Maysa mengelus kepala Kavin.


" Kavin benci tante itu, sampai kapan pun Kavin akan mengingat kejahatannya pada Kavin." Ucap Kavin.


" Iya sayang tenanglah." Ucap Maysa mengelus kepala Kavin. Ia sendiri merasa cemas, ia takut di tuduh melenyapkan Maurene karena kejadian ini.


Setelah sampai di rumah sakit Barra menghentikan mobilnya di depan ruang UGD.


" Kalian di sini saja! Aku akan segera kembali." Ucap Barra.


" Baiklah." Sahut Maysa.


Barra segera menggendong Maurene masuk ke ruang UGD. Setelah mengurus administrasinya, Barra kembali ke mobil.

__ADS_1


" Sudah Bang? Apa dia sudah di tangani oleh dokter? Aku takut dia tiada karena kehabisan darah." Ucap Maysa.


" Kau tenang saja! Dia sudah di tangani oleh dokter. Sekarang aku akan mengantar kalian pulang." Ucap Barra.


" Iya Bang." Sahut Maysa.


Barra kembali melajukan mobil ke rumah nyonya Melodi. Lima belas menit kemudian mereka sampai di sana. Nyonya Melodi dan Maysa segera turun dari mobil.


" Mampir dulu Bang!" Ucap Maysa.


" Lain kali saja, aku harus kembali ke kantor. Jaga Kavin dengan baik! Dan kau tidak perlu cemas akan hal ini. Semua pasti akan baik baik saja." Ucap Barra.


" Iya Bang, terima kasih." Sahut Maysa.


Maysa menggandeng tangan Kavin masuk ke rumahnya, ia langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya sekaligus memastikan keadaan Ilyas.


Ceklek....


Ilyas menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum manis menyambut kedatangan dua orang yang ia cintai.


" Sayang kalian sudah kembali?" Ujar Ilyas senang.


" Daddy." Kavin berlari menghampiri Ilyas, ja langsung memeluk Ilyas dengan erat.


" Daddy tante itu jahat. Kavin tidak suka padanya, dia membentak bentak Kavin. Terus dia juga menampar pipi Kavin, sakit Dad." Ucap Kavin mengadu sambil menyentuh pipinya yang terlihat lebam.


Ilyas menatap pipi Kavin, tangannya mengepal erat menahan emosi melihat putra tercintanya terluka.


" Daddy akan membalasnya sayang." Ucap Ilyas.


" Mommy sudah membalasnya Dad, mommy tadi menjambak sama menampar tante jahat itu. Saat Kavin mau membantu mommy, oma malah membawa Kavin pergi." Ujar Kavin menatap Maysa.


" Daddy tapi tante jahat itu masuk rumah sakit, perutnya terluka dan banyak mengeluarkan darah." Jelas Kavin.


Ilyas menatap Maysa yang saat ini berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


" Apa benar itu sayang?" Tanya Ilyas.


" Iya Mas, mungkin tadinya dia mau menusukku, tapi aku menepis tangannya hingga pisau itu mengenai perutnya sendiri." Ujar Maysa.


" Ya Tuhan... Beruntung kamu tidak apa apa sayang, apa kamu terluka?" Tanya Ilyas menatap Maysa.


" Tidak ada, aku lebih gesit darinya." Ujar Maysa.


" Kau memang benar benar istri yang pintar. Mas bangga memilikimu." Ujar Ilyas.


" Apa Mas tidak tertarik untuk mengetahui keadaannya saat ini?" Tanya Maysa menatap Ilyas.


" Tidak, untuk apa Mas tertarik dengan wanita jahat itu. Mau dia hidup atau tiada sekalipun Mas tidak peduli. Yang Mas peduliin itu kamu sayang, dari tadi Mas merasa gelisah takut kamu kenapa napa. Mas aja bertekad kalau sampai sore kamu tidak pulang juga, Mas mau menyusul ke lokasi. Mas mau buat perhitungan sama dia. Dia telah berani mengusik keluarga Mas, apalagi sampai berani melukai putra kita. Mas tidak akan pernah melepaskannya begitu saja. Dia harus membayar apa yang terjadi hari ini." Ucap Ilyas.


" Iya Mas, semoga tidak ada masalah lagi dalam keluarga kita." Ucap Maysa.


" Amin." Sahut Ilyas.


" Ya udah aku mandi dulu, gerah habis berkelahi sama nenek lampir payah itu." Ucap Maysa masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Ilyas menatap Kavin.


" Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Ilyas.


" Dia bilang kalau dia mommy Kavin. Dia bilang kalau mommy Maysa merebut daddy darinya. Padahal kan mommy Maysa mommy Kavin, mommy Maysa orang yang baik yang menyayangi Kavin selama ini. Walaupun Kavin sering membuat mommy kesal tapi mommy tidak pernah memarahi Kavin. Tidak seperti tante jahat itu." Ujar Kavin.


" Jangan percaya apa katanya, mommy Kavin adalah mommy Maysa. Mulai sekarang Kavin harus lebih berhati hati! Jangan mau di ajak oleh sembarangan orang." Ujar Ilyas mengelus kepala Kavin.


" Iya Dad." Sahut Kavin menganggukkan kepala.


" Anak Daddy yang pintar." Ucap Ilyas memeluk Kavin.


" Anak Mommy Dad." Ujar Kavin.


" Iya sekarang anak mommy, Daddynya nggak di akui." Sahut Ilyas.


" Kavin sayang mommy sama daddy." Seru Kavin.


" Kami lebih menyayangimu sayang." Sahut Ilyas mencium kepala Kavin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat makan malam mereka berkumpul untuk makan bersama. Tuan David, nyonya Melodi, Kavin, Maysa dan Ilyas nampak makan dengan khidmat. Hanya ada suara piring dan sendok yang di adu.


" Bagaimana keadaanmu Ilyas? Papa dengar kamu sakit." Ucap tuan David membuka pembicaraan.


" Sudah mendingan Pa, aku sakit karena terlalu merindukan putrimu." Ucap Ilyas melirik Maysa.


" Apa sih Mas." Ucap Maysa malu malu membuat kedua orang tuanya tersenyum.


" Papa sudah mendengar kejadian tadi siang, papa akan mengurus mantan istrimu itu." Ujar tuan David.


Bi Ijah berjalan tergopoh gopoh menghampiri mereka.


" Maaf Tuan, Nyonya, di depan ada dua polisi yang mencari Nona Maysa."


Deg...


Jantung Maysa berdetak sangat kencang, ia menoleh ke arah Ilyas. Ilyas segera menggenggam tangan Maysa seolah menyalurkan kekuatan dari sana.


" Kami akan menemuinya." Ucap tuan David.


" Ma bawa Kavin ke dalam!" Ucap Maysa.


" Baiklah." Sahut nyonya Melodi.


" Kavin sama Oma ya." Nyonya Melodi menggendong Kavin menuju kamarnya.


Maysa, Ilyas dan tuan David menuju ruang tamu. Di sana dua orang polisi sedang duduk menunggu Maysa.


" Malam tuan David, kami kemari untuk menangkap nona Maysa atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap nona Maurene."


Jeduarrr....


Penasaran sama kelanjutannya? Tekan like koment vote dulu ya...

__ADS_1


Terima kasih...


TBC...


__ADS_2