TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
KEMARAHAN ERCHA


__ADS_3

" Gue mengelabuhi Ercha, gue bertindak seolah olah gue sedang dalam pengaruh pil biru."


Jeduarrr...


Ercha yang mendengarnya langsung mengepalkan erat tangannya. Ia merasa di bodohi oleh Aksa.


Ya... Tanpa mereka sadari jika Ercha sudah berdiri di belakang mereka.


" Dengan aku bersikap begitu Ercha kasihan sama gue, dia tidak tega melihat gue terlihat tersiksa dan akhirnya dia memberikan apa yang gue inginkan." Sambung Aksa.


" Sialan lo! Bisa bisanya lo berbuat seperti itu. Itu namanya lo curang Ak." Ujar Aska.


" Yang penting gue bisa unboxing dan memenangkan taruhan ini." Sahut Aksa.


" Eh tapi sejak kapan Lo bisa berakting dengan baik sampai sampai gadis secerdas Ercha bisa tertipu dengan sandiwara lo." Ujar Aska.


" Gue juga nggak tahu sejak kapan." Sahut Aksa nyengir kuda.


" Lo sudah kalah dari gue jadi lo harus membelikan tiket bulan madu buat gue, gue mau tiket ke Paris, dengan layanan resort vvip." Ujar Aksa.


" Beres akan gue siapkan satu minggu lagi." Sahut Aska.


" Tidak perlu."


Mereka bertiga menoleh ke asal suara.


Deg...


Jantung Aksa terasa berhenti berdetak.


" Er... Ercha." Ucap Aksa gugup.


" Lo nggak perlu pesan paket bulan madu karena gue nggak mau pergi kemanapun, apalagi dengan pria pembohong sepertinya." Ucap Ercha melirik Aksa.


" Sayang aku bisa jelasin semuanya." Ujar Aksa.


" Tidak perlu di jelaskan aku sudah tahu semuanya, hubungan kita di awali dengan kebohongan maka selamanya pasti hanya akan ada kebohongan saja. Aku kecewa sama kamu Mas." Ercha berlalu meninggalkan mereka bertiga.


" Cha tunggu!" Teriak Aksa berlari mengejar Ercha.


Ercha segera menyetop taksi, ia masuk ke dalam taksi sebelum Aksa berhasil mengejarnya.


" Cha."


" Arghhhh!!!!!" Teriak Aksa saat melihat taksi yang di tumpangi Ercha melesat cepat.


Aksa segera berlari menuju parkiran mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Raka. Ia yakin jika Ercha pulang ke sana. Tiga puluh menit Aksa sampai di rumah Raka. Ia segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam karena kebetulan pintu terbuka.


" Ercha." Panggil Aksa.


Raka yang mendengar suara Aksa segera keluar dari kamarnya.


" Ada apa Ak?" Tanya Raka di lantai atas.


" Aku mencari Ercha, apa dia ada di sini?" Tanya Aksa mendongak menatap Raka.


" Ercha?" Raka mengerutkan keningnya. Ia berjalan turun dari tangga menghampiri Aksa.


" Apa maksudmu mencari Ercha? Apa Ercha kabur di malam pertamamu?" Tanya Raka menatap Aksa dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


" Ercha salah paham padaku, terus dia pergi naik taksi. Aku kira dia pulang ke sini." Ujar Aksa.


" Tidak, dia tidak ke sini." Ujar Raka.


" Kemana dia ya?" Gumam Aksa nampak berpikir.


" Pasti dia pulang ke rumahmu. Dia bukan pengecut yang jika ada masalah pulang ke rumahnya." Ucap Raka.


" Jika dia ada masalah sama kamu, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memporak porandakan rumahmu. Kalau kau tidak percaya, lihat saja." Sambung Raka.


" Apa?" Aksa terbengong mendengar ucapan Raka.


" Kamarku." Gumam Aksa.


" Baiklah aku pulang dulu." Ucap Aksa.


Aksa segera berlari menuju mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju rumahnya. Sampai di rumah Aksa segera menuju kamarnya.


Ceklek....


Mata Aksa membulat sempurna saat melihat kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah. Barang barangnya sudah berserakan di lantai tanpa berbentuk lagi.


" Astaga... Ercha." Ucap Aksa masuk ke dalam. Ia segera mengunci pintunya supaya tidak ada orang yang mendengarnya. Beruntung kamar Aksa kedap suara sehingga saat Ercha membanting barang barangnya tidak terdengar dari luar.


" Kenapa? Apa kau tidak terima aku menghancurkan kamarmu ini? Seperti ini saja kamu tidak terima, apalagi aku yang telah kau bohongi?" Ujar Ercha menatap Aksa dengan tajam.


" Benar kata Raka, Ercha benar benar tidak melewatkan kesempatan untuk memporak porandakan kamarku. Ya Tuhan.... Perempuan seperti apa yang aku nikahi ini? Berikan aku kesabaran ya Rob." Batin Aksa.


" Kamu mau marah?" Tanya Ercha sambil berkacak pinggang.


" Tidak sayang." Sahut Aksa menampilkan senyum terbaiknya.


" Kenapa tidak marah?" Tanya Ercha lagi.


" Aku minta maaf! Bukan maksudku membodohi ataupun membohongimu. Aku melakukannya karena aku ingin menjadi seorang ayah di usiaku saat ini."


" Apa? Seorang Ayah?" Pekik Ercha tidak percaya. Ia segera menarik tangannya.


" Iya sayang, aku ingin menjadi seorang ayah di usia muda. Rasanya gimana gitu, masih muda, tampan tapi di panggil daddy sama seorang babby mungil. Itu salah satu impianku selama ini Cha." Ujar Aksa.


" Aku tidak mau, usiaku masih sangat muda untuk mengandung seorang babby. Lagian aku juga tidak akan bisa mengurusnya." Ujar Ercha.


" Kau tenang saja! Kita akan mengurusnya bersama sama. Semuanya akan mudah jika kita ikhlas menjalaninya." Ucap Aksa memberi Ercha pengertian.


" Kamu saja yang hamil, aku tidak mau." Ucap Ercha naik ke atas ranjang.


Aksa menghela nafasnya pelan.


" Jika sampai kebohonganmu semalam membuahkan hasil, aku akan sangat membencimu. Aku tidak akan menerimanya." Ucap Ercha.


" Tidak baik berbicara seperti itu, bagaimanapun itu rejeki yang Tuhan berikan kepada kita. Dan kita harus mensyukurinya." Ucap Aksa.


" Kamu yang menginginkannya kan? Kamu aja yang menjaganya. Jika perlu kau yang mengandungnya juga." Sahut Ercha ketus.


" Aku mau istirahat dan aku tidak mau di ganggu oleh siapapun." Sambung Ercha menutup tubuhnya dengan selimut.


" Baiklah." Ucap Aksa.


Aksa merapikan barang barang yang masih bisa di selamatkan. Ia turun ke bawah mengambil sapu dan bak sampah.

__ADS_1


" Aksa buat apa semua itu?" Tanya nyonya Alexa.


" Aku tidak sengaja memecahkan pajangan Mi, aku mau membersihkannya." Sahut Aksa.


" Biar bi Endah yang membersihkannya." Ujar nyonya Alexa.


" Tidak Mi, Ercha sedang istirahat. Aku tidak mau dia terganggu." Ucap Aksa.


" Baiklah." Sahut nyonya Alexa.


" Oh ya, apa papamu sudah memberitahumu kalau dia mau ke sini besok?" Tanya nyonya Alexa.


" Papa datang? Dia tidak mengabariku Mi. Atau dia sudah mengabari bang Aska?" Ujar Aksa.


" Ya mungkin dia memberitahu Aska makanya dia tidak memberirahumu." Ujar nyonya Alexa.


" Aku ke kamar dulu Mi." Ucap Aksa.


" Silahkan."


Aksa menaiki tangga menuju kamarnya. Ia segera menyapu barang barang yang hancur berkeping-keping.


" Seram juga istriku kalau marah, lebih baik aku tidak memajang apapun di sini. Bisa bisa mami tahu sifatnya yang sebenarnya." Gumam Aksa menggelengkan kepala.


" Nggak usah ngomel deh, kalau nggak suka bilang aja nggak suka." Ucap Ercha.


" Eh kamu mendengar semuanya?" Tanya Aksa terkekeh.


" Telinga dan mataku ada dimana mana, jadi jangan macam macam!" Ucap Ercha.


" Baiklah maafkan aku!" Ucap Aksa.


" Besok aku mau pindah rumah."


" Apa?" Tanya Aksa memastikan.


" Aku mau pindah rumah, aku tidak mau tinggal di sini biar kalau aku marah tidak ada yang tahu, atau kau akan malu." Ujar Ercha.


" Maaf Ercha aku tidak bisa pergi dari sini." Ucap Aksa.


Ercha membuka selimutnya, ia duduk bersila sambil menatap Aksa.


" Kenapa tidak bisa? Bukankah ini bukan rumahmu?" Tanya Ercha.


" Ini rumahku. Rumah yang aku beli dengan kerja kerasku sendiri. Aku membeli rumah ini untuk mami dan papi."


" Terus kenapa kamu nggak mau pindah dari sini? Kamu bisa membeli rumah lagi kan untuk kita tinggal berdua, atau kalau tidak biarkan aku yang beli. Aku...


" Bukan aku tidak mampu membeli rumah lagi, tapi ada satu alasan yang membuat kami tidak bisa meninggalkan Mami." Sahut Aksa memotong ucapan Ercha.


" Apa?" Tanya Ercha.


" Karena.....


Karena author lapar belum makan saat buka puasa tadi, jadi kita lanjut next bab ya...


Jangan bosan untuk selalu memberikan suport pada author, tekan like koment, vote dan 🌹yang banyak buat author...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss u all...


TBC....


__ADS_2