TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
ILYAS SAKIT


__ADS_3

Setelah menghabiskan buburnya, Maysa memberikan segelas air dan sebutir obat penurun panas kepada Ilyas.


" Silahkan di minum Mas! Semoga cepat sembuh." Ucap Maysa.


Ilyas menerima obat dan segelas air putih itu sambil menatap Maysa.


" Sayang kenapa sepertinya lantainya kotor sekali? Apa kau tidak menyapunya?" Tanya Ilyas.


" Masa' sih Mas, padahal semalam sebelum tidur aku sudah menyapunya lhoh. Akan aku sapu lagi deh, aku ambil sapu dulu Mas." Ujar Maysa beranjak keluar kamar.


Ilyas segera turun dari ranjang menuju balkon kamar, ia langsung membuang obat yang di berikan Maysa tadi. Secepat kilat ia kembali ke ranjang, namun naas belum sampai di ranjang kakinya tersandung karpet bulu lalu...


Brugh....


" Awh..." Kepala Ilyas terpentok pinggiran ranjang.


" Awh kepalaku tambah sakit." Ilyas memijat pelan kepalanya.


Ceklek...


Maysa membuka pintunya, ia melongo melihat Ilyas yang masih tersungkur di lantai.


" Astaga Mas kamu kenapa? Kamu jatuh? Kenapa bisa begini Mas? Kalau butuh apa apa harusnya Mas tunggu aku. Ini malah sampai jatuh gini." Ujar Maysa menghampiri Ilyas.


" Aman... Maysa kira aku jatuh dari ranjang ha ha."Batin Ilyas.


" Maaf sayang, tadi Mas mau ke kamar mandi tapi malah jatuh. Bisakah kamu membantu Mas sekarang?" Tanya Ilyas sambil mendongak menatap Maysa.


" Baiklah akan aku bantu, nanti aku kompres dahi kamu yang benjol itu." Ucap Maysa menunjuk dahi Ilyas yang ternyata memang benjol.


Maysa membantu Ilyas berdiri, ia memapah Ilyas masuk ke kamar mandi.


" Duduk sini Mas!" Maysa mendudukkan Ilyas di atas closet duduknya.


" Aku tunggu di luar dulu." Maysa keluar dari kamar mandi membiarkan Ilyas menuntaskan hajatnya. Ia menunggu di depan pintu kamar mandi. Berulang kali ia melihat ke arah jarum jam yang terus berputar.


" Lima belas menit? Mas Ilyas di dalam sudah lima belas menit, ngapain aja sih dia." Gumam Maysa.


" Mas udah belum?" Teriak Maysa sambil mengetuk pintunya namun tidak ada sahutan.


" Apa dia pingsan ya di dalam? Aku harus melihatnya." Ujar Maysa hendak membuka pintu tapi ia mengurungkan niatnya.


" Eh tapi kalau Mas Ilyas belum memakai celananya kan bisa berbare, mata gue bakal ternoda melihat itu."


" Tapi kalau tidak di lihat, nanti malah dia kenapa napa lagi. Ah biarin aja lah lihat, udah halal ini. Gue harus memastikan kalau dia baik baik saja, setidaknya tidak mati di sini." Ujar Maysa membuka pintunya.

__ADS_1


" Mas." Maysa masuk ke dalam dan...


" Aaaaaaaa.... " Teriak Maysa saat melihat Ilyas tergeletak di lantai dengan kondisi polos. Maysa membalikkan badannya.


" Ya Tuhan mas Ilyas pingsan saat kondisi seperti itu, gimana gue mau nolonginnya? Gue nggak mau lihat itu, gue belum siap lihat itu. Gue...


" May kamu kenapa? Kenapa kau berteriak? Apa semua baik baik saja?" Teriak nyonya Melodi dari luar.


" Mama." Gumam Maysa.


Maysa langsung mengunci pintunya.


" Tidak apa apa Ma, kami baik baik saja." Sahut Maysa membuat nyonya Melodi tersenyum malu karena telah tertipu oleh teriakan Maysa.


" Oma, Mommy kenapa?" Tanya Kavin menatap nyonya Melodi.


" Kavin mau punya adik kan?" Tanya nyonya Melodi di balas anggukkan kepala oleh Kavin.


" Mommy sama daddy lagi bikin adek Kavin di dalam." Ucap nyonya Melodi.


" Daddy ada di sini?" Tanya Kavin terkejut.


" Iya, tadi pagi pagi sekali daddymu ke sini. Sekarang mending kita keluar ya, ayo Oma antar ke sekolah." Ujar nyonya Melodi.


" Iya Oma." Sahut Kavin.


Di dalam kamar mandi, Maysa membuka pintunya setelah tahu mamanya dan Kavin sudah keluar. Ia mengambil selimut lalu kembali ke kamar mandi. Dengan ragu Maysa mendekati tubuh Ilyas.


" Jangan lihat Maysa! Jangan lihat!" Gumam Maysa.


Maysa menyelimuti tubuh Ilyas sambil melihat ke arah lain. Dengan perlahan ia membangunkan Ilyas menjadi duduk bersandar pada dinding kamar mandi.


" Ya Tuhan demamnya semakin tinggi, padahal baru saja minum obat. Apa obatnya tidak manjur ya? Atau mas Ilyas alergi obat? Duh jangan sampai mas Ilyas alergi obat, bisa bisa fatal nih akibatnya. Gue nggak mau masuk penjara karena di tuduh membunuh suami gue sendiri." Monolog Ilyas.


" Mas ayo bangun!" Maysa menepuk pipi Ilyas.


" Mas bangun! Kita pindah ke ranjang dulu." Maysa mencoba sekali lagi dan berhasil. Ilyas membuka matanya dengan perlahan. Tiba tiba tubuhnya menggigil kedinginan.


" Sa.. yang dingin sekali." Lirih Ilyas.


" Aku bantu ke ranjang." Ucap Maysa.


Maysa memapah Ilyas dengan penuh perjuangan sampai Ilyas bisa berbaring sempurna di atas ranjang. Maysa mengambil baju ganti untuk Ilyas.


" Gantiin nggak ya? Kalau nggak pakai baju nanti mas Ilyas masuk angin. Tapi kalau gue pakein baju takutnya gue bakal salah pegang. Yang ada nanti dia menerkam gue lagi." Ujar Maysa bingung.

__ADS_1


" Eh tapi kan gue istrinya, kalau bukan gue siapa lagi? Kalau gue tawarkan pada nenek lampir pasti dia mau banget. Gue pakaikan baju sendiri aja deh, masalah salah pegang urusan belakangan." Ujar Maysa.


Maysa menurunkan selimut sampai ke batas perut. Ia mulai memakaikan kaos oblong ke badan Ilyas.


" Sayang dingin." Ucap Ilyas seperti orang mengingau.


" Iya Mas, nanti aku buatkan susu jahe buat kamu." Sahut Maysa.


Maysa berhasil memakaikan baju Ilyas. Kini tinggal celananya saja.


" Hah... Memakaikan baju aja udah keringatan gini, apalagi bagian bawah nanti." Ujar Maysa mengusap keringat yang menetes di dahinya.


" Lo pasti bisa Maysa."


Maysa menyingkap selimut Ilyas bagian bawah sampai batas pangkal paha. Dengan hati hati ia memakaikan celana d@l@m kepada Ilyas setelah itu ia memakaikan celana pendeknya. Saat hendak mengeluarkan tangannya dari balik selimut. tiba tiba tangannya tanpa sengaja menyentuh bagian itu milik Ilyas.


" Astaga!!" Maysa langsung menarik tangannya.


" Kau membangunkannya sayang." Ucap Ilyas masih menutup matanya.


" Maaf Mas! Aku tidak sengaja." Ucap Maysa, entah Ilyas mendengarnya atau tidak.


Saat Maysa hendak pergi, Ilyas mencekal tangannya.


" Jangan pergi! Mas takut sendirian jika sedang sakit begini. Temani Mas sayang." Ucap Ilyas menatap Maysa dengan mata berair karena saking panasnya.


" Aku buatkan susu jahe dulu Mas, setelah itu aku akan menemanimu di sini." Ucap Maysa.


" Jangan lama lama!" Ucap Ilyas di balas anggukkan kepala oleh Maysa.


Maysa keluar kamarnya menuju dapur, ia segera membuatkan susu jahe hangat untuk Ilyas. Ia kembali ke kamar lalu memberikan susu jahe itu kepada Ilyas. Ilyas meminumnya sedikit demi sedikit sampai habis.


" Istirahatlah Mas! Aku ke bawah dulu." Ujar Maysa.


" Sayang Mas pengin tidur sambil di peluk sama kamu." Ucap Ilyas.


" Tapi Mas aku...


" Please.." Sahut Ilyas memohon membuat Maysa tidak tega.


" Baiklah." Sahut Maysa.


Maysa naik ke atas ranjang, ia berbaring miring memeluk Ilyas. Ilyas menyusupkan wajahnya ke dada Maysa membuat Maysa merasa geli. Namun sekuat mungkin menahannya.


" Nggak anak nggak bapak sama aja, sukanya ngusel gini. Nggak tahu apa kalau gue kegelian." Batin Maysa.

__ADS_1


" Mas seneng banget sayang, walaupun Mas merasakan sakit tapi Mas bisa dekat gini sama kamu. Kamu merawat Mas dengan baik, bahkan kamu mau mengganti baju Mas. Mas bahagia sayang." Batin Ilyas sambil tersenyum.


TBC...


__ADS_2