TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

" Mami, bagaimana jika mas Aksa tidak bisa di hubungi selama dia di sana?"


Nyonya Alexa nampak sedikit berpikir mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan menantunya.


" Tidak apa apa, anggap saja kita sedang memberikannya waktu kepada Aksa agar dia fokus mengurus papanya. Bukankah semakin cepat papanya sembuh, semakin cepat juga Aksa pulang? Kau jangan khawatir! Ada kami di sini yang akan selalu menemanimu. Kalau kamu butuh apa-apa atau kamu menginginkan sesuatu kamu bisa mengatakannya pada Aska. Biar dia menggantikan Aksa sebagai suami pengganti Aksa untuk sementara waktu. Pasti dia mau." Sahut nyonya Alexa.


" Iya Mi, aku juga bisa memintanya pada Romi. Aku tidak mau membuat Rega merasa terancam jika aku mengandalkan suaminya." Ujar Ercha.


" Baiklah terserah kamu saja, yang jelas untuk saat ini kamu tidak boleh banyak pikiran! Jaga baik baik calon cucu Mami! Maki sangat menantikan kehadirannya." Ucap nyonya Alexa.


" Iya Mi, terima kasih telah memperlakukan aku seperti putrimu sendiri." Ucap Ercha.


" Mi... Bagaimana kalau aku menyusul mas Aksa ke sana Mi?" Tanya Ercha hati hati.


" Itu sangat berbahaya untuk kehamilanmu sayang, di usia kehamilanmu saat ini sangat rentan terhadap keguguran. Mami tidak mau terjadi hal buruk pada calon cucu Mami. Apa kamu meragukan kami? Apa kamu mengira kalau kami tidak bisa mengurusmu dengan baik sehingga kamu begitu bergantung pada Aksa?" Tanya nyonya Alexa menatap Ercha.


" Tidak Mi, bukan begitu. Aku hanya takut merindukan mas Aksa. Apalagi kami sedang dalam masalah." Sahut Ercha.


" Kita akan selesaikan masalah kalian dengan baik. Berdoa saja semoga masalah kalian segera terselesaikan. Sekarang tidurlah! Mami akan membicarakan masalahmu ini kepada papi." Ucap nyonya Alexa mengusap kepala Ercha.


" Iya Mi." Sahut Ercha.


Pada dasarnya Ercha adalah orang yang cuek, ia tidak begitu memikirkan permasalahannya dengn Aksa. Lama lama ia terlelap begitu saja, entah ia merasa lelah atau karena bawaan bayi.


Setelah Ercha tidur, nyonya Alexa keluar dari kamar Ercha. Ia kembali ke ruang keluarga menghampiri keluarganya yang masih ada di sana.


" Bagaimana keadaan Ercha Mi? Apa dia baik baik saja?" Tanya Maysa menatap ibu mertuanya.


" Dia sedang tidak baik baik saja." Ucap nyonya Alexa.


" Maksud Mami apa?" Tanya Aska.


" Terjadi kesalahpahaman antara Ercha dan Aksa saat ini. Karena Aksa tidak mau menerima panggilan dari Ercha, Mami minta bantuan kalian untuk menghubungi Aksa, jika tersambung katakan padanya jika Ercha ingin berbicara hal penting padanya." Ujar nyonya Alexa.


" Baik Mi, kami akan membantunya." Sahut Aska.


" Kalau boleh kami tahu, sebenarnya ada masalah apa Mi?" Tanya Ilyas menatap nyonya Alexa.


" Untuk masalahnya itu terlalu pribadi untuk mereka, dan Mami tidak bisa memberitahukan kepada kalian. Yang jelas, setiap pernikahan pasti akan ada permasalahan yang datang menguji kita. Satu pesan Mami pada kalian, selesaikan masalah dengan segera dan dengan kepala yang dingin. Jangan menggunakan emosi untuk mengambil keputusan." Ucap nyonya Alexa.


" Baik Mi." Sahut Aska dan Ilyas bersamaan.


" Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi Aksa Mi supaya masalah mereka segera terselesaikan." Ujar Aska di balas anggukkan kepala oleh nyonya Alexa.


Aska segera menelepon nomer Aksa.


" Tidak aktif Mi." Ucap Aska.


Mereka semua menghela nafas mendengar ucapan Aska.


" Kenapa Aksa mematikan ponselnya? Apa dia masih sibuk dengan urusan papanya?" Ujar nyonya Alexa.


" Tenanglah sayang! Nanti kita coba hubungi Aksa lagi." Ucap tuan Frans merangkul istrinya.


" Iya Pi." Sahut nyonya Alexa.

__ADS_1


Di belahan dunia lain, saat ini Aksa sedang duduk di sofa menemani ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang setelah beberapa jam menjalani operasi pada kepalanya.


Raganya di sini tapi jiwa dan pikirannya tertuju pada Ercha. Rasa kecewa begitu mendalam kepada Ercha membuatnya enggan berinteraksi pada siapapun.


" Aku berpikir setelah kamu tahu kalau kamu hamil, kamu akan menerimanya dengan bahagia. Namun aku salah, kau justru mengambil keputusan yang sangat bertentangan dengan keinginanku. Kamu bilang akan menjaga hubungan ini, tapi tanpa kau sadari kau justru merusak hubungan ini Ercha. Jika memang kau tidak bisa menerima keadaan ini, baiklah. Aku akan melepasmu dan mengikhlaskanmu demi kebahagiaanmu. Semoga kau bersabar menungguku kembali." Monolog Aksa sambil memijat pelipisnya dengan pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu, hari hari yang Ercha lalui tanpa Aksa terasa begitu berat. Selama satu bulan terakhir, Aksa benar benar tidak bisa di hubungi. Aska dan Ilyas berniat menyusul Aksa namun Ercha melarangnya dengan alasan takut mengganggu Aksa dan kesembuhan papanya, akhirnya mereka menuruti permintaan Ercha.


Pagi ini ia baru saja selesai mandi. Tiba tiba Rega memanggilnya dan memintanya untuk segera turun ke bawah.


Ercha berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Ia mengembangkan senyumannya saat melihat Aksa yang sedang duduk di ruang tamu.


" Mas Aksa." Ucap Ercha dengan mata berbinar.


Namun sesaat kemudian senyumannya memudar saat melihat Aksa menggenggam tangan wanita di sebelahnya.


Deg....


Jantung Ercha berdetak dengan kencang. Ia berjalan menghampiri mereka semua.


" Kebetulan ada kamu Cha. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan kepadamu." Ucap Aksa menatap Ercha.


" Apa itu Mas?" Tanya Ercha duduk di samping nyonya Alexa berhadapan dengan Aksa.


" Aku minta maaf jika keputusanku melukai hatimu Cha. Semua berawal dari satu bulan yang lalu. Aku bertemu dengan suster Yura, kebetulan Yura adalah suster yang merawat papa selama ini. Kedekatan kami selama satu bulan ini menimbulkan perasaan dalam hatiku, aku..


" Aksa!!!" Bentak nyonya Alexa.


" Tidak apa apa Mi!" Ucap Ercha menggenggam tangan ibu mertuanya.


" Aku... Aku dan Yura saling mencintai."


Jeduaarrr......


Bagai di sambar petir di siang bolong, Ercha dan semua orang benar benar terkejut mendengar ungkapan Aksa. Dada Ercha terasa sesak, bahkan sangat sesak. Ingin rasanya ia menjerit melepaskan rasa sesak itu, namun sebisa mungkin ia menahannya.


" Apa apaan lo Ak? Apa ini cara lo menyakiti hati istri lo sendiri hah!!" Bentak Aska menarik kerah Aksa.


" Hentikan Bang! Lepaskan Mas Aksa! Biarkan dia mengutarakan keinginannya! Semua akan jelas setelah dia mengatakan semuanya." Ucap Ercha.


" Tapi Ercha lo sedang...


" Tidak apa apa Bang! Diamlah! Ini urusanku dengannya, bang Aska tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Sekarang duduklah dengan tenang dan kita dengarkan keinginannya!" Titah Ercha.


Dengan terpaksa Aska duduk kembali, padahal ia sangat ingin merontokkan semua gigi Aksa saat ini.


" Lalu apa yang kau inginkan Mas?" Tanya Ercha menatap Aksa dan Yura.


" Aku ingin kita bercerai dan aku berniat untuk menikahinya."


" Aksa!!!" Kali ini tuan Frans sendiri yang membentak Aksa.


" Kenapa Pi? Apa aku salah jika aku mengutarakan keinginanku? Aku sudah tidak mencintai Ercha lagi, dan kemungkinan kami untuk bersama sangatlah kecil. Kami tidak akan bahagia tanpa adanya cinta kan?"

__ADS_1


Tidak tahan dengan kelakuan putranya, tuan Frans beranjak. Ia menarik Aksa dari kurainya lalu...


Bugh..... Bugh.... Bugh...


Tuan Frans memukul wajah Aksa memahami buta. Para wanita hanya bisa menjerit saja tanpa bisa melakukan apa apa.


" Papi hentikan! Mas Aksa bisa mati kalau Papi seperti ini." Ucap Ercha dengan nada tinggi.


" Lebih baik dia mati daripada harus menyakiti hati putriku." Ucap tuan Frans.


Brak...


Tuan Frans mendorong tubuh Aksa hingga punggungnya membentur meja.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


" Kenapa? Kenapa kamu melarang Papi menghajar pria brengsek sepertinya?" Ujar tuan Frans menatap Ercha.


" Karena aku tidak mau calon anakku menjadi yatim sebelum ia di lahirkan."


Jeduarrrrr......


Kali ini Aksa lah yang terkejut. Ia menatap Ercha begitupun sebaliknya. Tak tahan menatap mata Aksa, air mata lolos begitu saja di mata Ercha. Ia segera mengusap air matanya, ia tidak mau terlihat lemah di depan Aksa.


" Aku akan mengabulkan keinginanmu Mas. Mulai saat ini kau bukan lagi siapa siapaku." Ucap Ercha.


" Ercha..." Ucap Aksa.


Ercha segera berlari menuju kamarnya.


" Ercha tunggu!!"


Aksa beranjak ingin mengejar Ercha namun Aska dan Ilyas mencegatnya.


" Lo tidak perlu mengejarnya lagi! Dia bukan siapa siapa lo lagi. Pergilah dan bawa kekasihmu dari sini sekarang juga!" Titah Ilyas menatap tajam ke arah Aksa.


" Bang aku minta maaf! Aku....


" Tidak perlu meminta maaf! Lakukan apa yang lo mau, memang benar kata orang orang. Pada dasarnya lo tidak mengandung darah keluarga kami jadi sikap lo tidak akan menuruni kami. Kami selalu menjunjung tinggi harkat wanita, walaupun mungkin kami pernah melakukan kesalahan tapi tidak separah yang lo lakukan saat ini Aksa. Lo pernah berjanji untuk selalu menjaga hati dan perasaan wanita, terutama ibu dan istri kita. Tapi hari ini lo mengingkarinya Aksa... Gue kecewa sama lo, gue sangat kecewa." Teriak Aska di akhir kalimatnya. Aska mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ia benar benar merasa kecewa pada Aksa.


Aska menarik tangan Rega meninggalkan Aksa dan Yura begitupun dengan Ilyas dan Maysa.


" Papi." Aksa mendekati papinya namun tuan Frans segera meninggalkannya.


Tinggal nyonya Alexa yang masih duduk di tempatnya, nampak ia mengusap air matanya.


" Mami aku... "


Nyonya Alexa segera beranjak meninggalkan Aksa.


" Arghh!!!" Teriak Aksa.


Nah loh rasain Aksa... Sebenarnya apa yang terjadi dengan Aksa ya??? Jangan lupa tetap dukung mereka ya...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2