TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
TERUNGKAP SUDAH


__ADS_3

Jeduarrrr...


Bagai di sambar petir di siang Bolong, Aska dan Rega nampak sangat terkejut dengan ucapan Mawar.


" Apa apaan anda ini bu Mawar, kita harus mencari bukti bahwa mereka memang salah atau hanya salah satu dari mereka yang salah. Bukannya main hakim sendiri seperti ini. Main mau menikahkan anak orang segala. Di pengadilan saja hakim memberikan kesempatan kepada tersangka untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, apalagi ini di sekolah. Saya tidak setuju dengan usul bu Mawar pak kepala sekolah." Ucap Aksa tegas.


Kepala sekolah nampak berpikir sejenak. Ia membenarkan ucapan Aksa.


" Pak Aksa benar, kita tidak boleh main hakim sendiri. Kita harus mendengarkan mereka dengan jelas agar kita tidak salah menghukum orang. Sekarang jelaskan Rega, bagaimana kejadian ini bisa terjadi! Bapak harap kamu jujur dan tidak berbohong kepada kami." Ucap pak Beno membuat Aska dan Rega bernafas lega.


" Seperti yang tadi saya bilang Pak, Niko menarik saya ke kamar mandi dan dia mencium saya dengan paksa di sana. Entah itu atas kemauannya sendiri atau karena perintah dari orang lain." Ucap Rega melirik Mawar. Keberaniannya kini sudah kembali.


Aska mengikuti arah pandang Rega, ia mengerutkan keningnya dan bertanya dalam hati kenapa Rega melirik Mawar saat mengatakan itu?


" Apa maksudmu Niko melakukan itu karena perintah orang lain Rega?" Tanya Aksa.


" Tadi pagi ada yang mengancam saya, dia bilang akan mempermalukan saya jika ada kesempatan. Saya rasa saat ini dia sedang menjalankan rencananya." Ujar Rega.


Aska mengepalkan tangannya erat menatap Mawar, tatapan mereka bertemu namun Mawar lebih dulu membuang pandangannya.


" Jangan berbicara omong kosong Rega! Itu tidak bisa di jadikan bukti, lebih baik kamu tunjukkan bukti kepada kami kalau kamu tidak bersalah." Ucap Mawar menyela pembicaraan.


Semua orang menatap ke arahnya, Rega nampak berpikir bagaimana ia bisa membuktikannya.


" Rekaman CCTV." Ucap Rega.


" Bukankah di depan lorong itu ada CCTV yang mengarah ke dalam? Kalian bisa melihat Niko saat menarik tangan saya dan memaksa saya ikut dengannya melalui CCTV itu." Sambung Rega.


" Sial... Kenapa aku nggak kepikiran ke sana. Gawat kalau mereka berhasil melihat CCTV itu, mereka akan tahu kalau semua ini rencanaku." Batin Mawar.


" Baiklah akan saya lihat." Ucap Aksa cepat.


Aksa segera keluar dari ruangan kepala sekolah menuju ruangannya. Kebetulan rekaman CCTV adalah salah satu tugas Aksa untuk memantaunya. Semua orang menunggu dengan cemas, apalagi Mawar. Nampak Mawar begitu gelisah.


" Kenapa anda terlihat begitu gelisah bu Mawar? Apa terjadi sesuatu dengan anda?" Tanya Aska membuat semua orang menatap ke arahnya.


" Ah tidak pak Aska, saya hanya sedang menahan perut saya yang tiba tiba terasa sakit. Maaf saya kembali ke kantor dulu." Ucap Mawar.


" Anda harus tetap di sini bu Mawar, sebentar lagi pak Aksa akan membawa bukti jika saya tidak bersalah. Anda bisa menahan sakit perut anda lebih lama lagi kan." Ujar Rega.


Aksa masuk ke dalam dengan membawa flashdisk.


" Ini rekaman CCTVnya pak, biar saya buka di komputer anda." Aksa menancapkan flashdisk di komputer pak Beno. Lalu ia membuka rekaman CCTV di lorong saat jam pulang sekolah.

__ADS_1


Nampak Niko berlari menghampiri Rega, lalu ia menarik tangan Rega menuju ke arah toilet.


Pak Beno menatap tajam ke arah Niko yang saat ini menundukkan kepalanya.


" Rekaman ini sedikit membuktikan jika Rega tidak bersalah, tapi kita harus melihat rekaman yang membuktikan jika Rega benar benar tidak bersalah." Ucap Aksa membuat semua orang bingung.


Aksa memutar rekaman di sebelah kantor guru saat pagi hari. Nampak Niko dan Mawar sedang membicarakan sesuatu. Tak lama Mawar memberikan satu bendel uang kepada Niko. Semua orang menatap tajam ke arah Mawar.


" Apa ini bu Mawar? Jadi semua ini adalah rencana anda? Benar benar memalukan." Ucap pak Beno.


" Tidak Pak, saya tadi memang memberikan uang kepada Niko tapi itu untuk membantu Niko membayar sekolah. Kalau masalah ini saya tidak tahu apa apa." Kilah Mawar.


" Pembayaran yang mana yang bu Mawar maksud? Semua biaya sekolah Niko sudah terbayar lunas." Ujar Aksa.


" Niko katakan yang sebenarnya! Jika kau berbicara jujur saya akan memastikan kamu tidak akan di keluarkan dari sekolah, tapi kalau kamu berani berbohong saya tidak segan segan untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini." Ancam pak Beno.


Niko nampak diam saja, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena semua jawabannya akan berakibat buruk untuknya.


" Katakan Niko! Atau saya akan membawa kasus ini ke polisi atas tuduhan pelecehan." Ancam Aska.


" Sa... Saya.. " Ucap Niko dengan bibir bergetar.


" Katakan jangan takut!" Ucap Aska.


" Saya di suruh oleh bu Mawar."


Jeduarrrr...


Prok prok prok...


Rega mendekati Mawar sambil tepuk tangan.


" Kau hebat bu Mawar! Kau sengaja menjebakku dan membuatku merasa kotor hanya karena aku dekat dengan pak Aska. Apa bu Mawar yakin pak Aska mau sama ibu setelah tahu bagaimana sifat aslimu?" Tanya Rega menatap Mawar.


" Aku rasa tidak. Pak Aska justru ilfeel dengan wanita sepertimu." Sambung Rega.


Rega beralih mendekati Niko membuat Niko berii menghadapnya. Rega menatap tajam ke arah Niko lalu...


Plak...


Tamparan keras mendarat di pipi Niko, semua orang terkejut melihat apa yang di lakukan Rega kepada Niko.


" Satu tamparan karena kau menjebakku."

__ADS_1


Plak...


" Satu tamparan lagi karena kau berani menciumku. Kali ini hanya tamparan saja yang aku berikan, tapi lain kali aku akan menghabisimu jika kau berani mengusikku lagi." Bentak Rega menunjuk wajah Niko.


" Pak kepala sekolah, saya minta keadilan untuk diri saya sendiri. Pecat bu Mawar dengan tidak hormat dari sekolah ini. Saya akan membicarakan hal ini pada pak Ilyas selaku pemilik yayasan ini." Ucap Rega membuat Mawar terkejut.


" Kau mengenal pak Ilyas?" Tanya Mawar.


Rega mendekat ke arah Mawar, ia memajukan wajahnya membisikkan sesuatu di telinga Mawar.


" Pak Ilyas calon kakak iparku."


Mata Mawar membola, ia sedikit membuka mulutnya karena saking terkejutnya. Ia menatap Aska dan Rega bergantian.


" Gawat!! Itu berarti Aska adiknya tuan Ilyas. Mampus aku, aku tidak akan bisa berbuat apa apa karena tuan Ilyas bukan tandingan keluargaku." Batin Mawar.


" Saya sudah tidak punya urusan di sini Pak, saya permisi." Ucap Rega keluar dari ruangan kepala sekolah.


Aska segera menyusulnya.


" Rega tunggu!" Ucap Aska menghentikan langkah Rega.


" Mau apa lagi Mas? Sekarang Mas tahu kan kenapa aku sempat menolak berhubungan Mas? Inilah yang aku takutkan Mas. Belum apa apa saja aku sudah mendapatkan masalah sebesar ini. Sampai sampai aku di cium sama pria brengsek seperti Niko." Ucap Rega menggosok bibirnya.


Aska terkekeh melihatnya.


" Jangan di gosok seperti itu nanti lecet, begini saja." Ucap Aska menangkup wajah Rega.


Keduanya saling menatap tiba tiba...


Cup...


Rega membulatkan matanya saat Aska mencium bibirnya. Beruntung sekolahan sudah sepi jadi tidak ada yang melihatnya. Aska ******* bibir Rega dengan lembut untuk beberapa saat. Kemudian ia melepas pagutannya.


" Sambung nanti di rumah." Ucap Aska mengusap bibir Rega dengan jempolnya.


Rega nampak malu malu menundukkan kepalanya.


" Ayo kita pulang!" Aska menggandeng tangan Rega menuju mobilnya. Tanpa mereka sadar Aksa melihat semuanya.


" Aku bahagia kau bahagia Bang." Gumam Aksa.


TBC...

__ADS_1


Next part mau kita temuin jodoh Aksa atau mau kembali ke Ilyas sama Masa nih? Tulis di kolom komentar ya... Jangan lupa tekan like dan mawarnya juga...


Bye bye...


__ADS_2