
Pagi ini keluarga Wilson berkumpul di rumah Raka, tepatnya di dalam kamar Ercha untuk menghadiri acara ijab qobul yang di lakukan oleh Aksa. Ia kembali menikahi Ercha setelah mengucapkan talak saat itu di depan semua keluarganya. Kini keduanya kembali resmi menjadi pasangan suami istri baik secara hukum maupun secara agama.
" Ercha, setelah Aksa sembuh Mami minta kalian segera pulang ke rumah. Mami tidak mau kamu meninggalkan rumah terlalu lama, Mami jadi tidak bisa mengurus dan mengawasi kamu di sini sayang. Mami khawatir kamu tidak bisa mengurus diri sendiri." Ucap nyonya Alexa.
" InsyaAllah kami segera pulang Mi. Terima kasih sudah menyayangi aku sedalam ini Mi." Sahut Ercha.
" Sudah menjadi kewajiban Mami sayang, Mami sangat bahagia akhirnya keluarga kita bisa bersatu lagi seperti dulu. Semoga setelah ini tidak akan ada perpisahan lagi di dalam keluarga kita." Ucap nyonya Alexa.
" Amin." Ucapan semua orang.
" Sayang aku haus." Ucap Aksa menarik tangan Ercha.
" Manja." Cebik Ercha.
" Mumpung ada kesempatan Cha si Aksa manja manja gitu. Dia pasti akan menggunakan sakitnya agar di manja olehmu dengan baik. Biarin aja, biar dia ambil sendiri." Sahut Aska.
" Aska... " Tekan nyonya Alexa menatap Aska.
" He he maaf Mi." Ucap Aska nyengir kuda.
" Sayang." Aksa menggoyang tangan Ercha.
" Iya bentar." Sahut Ercha.
Ercha mengambil segelas air putih di atas nakas lalu memberikannya kepada Aksa. Aksa segera meminumnya sampai tandas.
" Terima kasih sayang." Ucap Aksa memberikan gelas kosong kepada Ercha. Ercha hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Ercha kapan jadwal pemeriksaanmu? Bukankah kalau tidak salah minggu minggu ini?" Tanya Aska menatap Ercha.
" Iya Bang, besok hari Sabtu." Sahut Ercha.
" Sayang kenapa kamu tidak bilang sama aku? Aku akan mengantarmu, semoga saja keadaanku sudah membaik." Ucap Aksa.
" Ya emang sudah tanggung jawab lo, masa' gue lagi yang ngantar Ercha. Lo nggak tahu aja tatapan para pengunjung lain saat gue dan Rega menemani Ercha periksa waktu itu. Seolah olah mereka mengira kalau gue punya bini dua. Gue kapok jadinya." Ujar Aska membuat yang lain terkekeh.
" Ya nggak apa apa, kan gue nggak ada waktu itu. Kalau sekarang udah ada gue jadi gue sendiri yang akan mengantar Ercha memeriksakan kandungannya. Gue juga ingin tahu perkembangan anak gue di salam sini." Ujar Aksa mengusap perut Ercha.
" Mas malu ih." Ujar Ercha menepis tangan Aksa.
" Nggak perlu malu lah sayang, cuma di elus doank nggak di apa apain." Sahut Aksa.
Entah kenapa sekarang sikap Aksa sedikit beda. Ia tidak sependiam saat pertama kali menikah dulu.
" Sebenarnya kalau lo belum pulang, besok jatahnya bang Ilyas yang nganter Ercha periksa. Beruntung lo udah pulang jadi bang Ilyas bisa di rumah saja." Ujar Aska.
" Ya udah nggak apa apa udah ada Aksa, jadi gue nggak perlu mendapat tatapan meresahkan dari emak emak yang ada di sana. Lagian gue juga mau nemenin kakak ipar kalian, pas kebetulan harinya juga sama hanya jamnya aja yang selisih sedikit." Ujar Ilyas.
" Memangnya kak Maysa mau kemana Kak?" Tanya Ercha menatap Maysa.
__ADS_1
" Ada acara perpisahan di kelas Kavin, mereka mengadakan pentas jadi para wali murid di haruskan untuk hadir di sana." Sahut Maysa.
" Beruntung mas Aksa sudah pulang, kalau tidak kan kasihan Kavin kalau bang Ilyas nggak datang. Aku pasti akan merasa sangat bersalah kepada Kavin kalau sampai itu terjadi Kak." Ujar Ercha.
" Tidak apa apa, satu keluarga memang seharusnya saling membantu dan menjaga. Tidak perlu sungkan! Lagian aku juga tidak keberatan bang Ilyas mengantarmu periksa toh kamu juga adiknya." Sahut Maysa.
Ercha merasa terharu berada di lingkup keluarga Wilson yang orang orangnya saling membantu satu sama lain.
" Terima kasih atas perhatian kalian semua." Ucap Ercha di balas anggukkan kepala oleh yang lainnya.
Mereka melanjutkan mengobrol sampai hari menjelang siang. Tepat jam dua belas siang keluarga Wilson kembali ke rumah masing masing. Kini hanya tinggal Ercha dan Aksa berdua saja.
" Istirahatlah Mas! Aku akan...
" Peluk." Ucap Aksa mencekal tangan Ercha.
" Nggak usah manja deh Mas, biasanya juga kamu nggak pernah bersikap begini. Sepertinya benar kata bang Aska kalau kamu menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Aku mau ke bawah dulu mau makan cemilan." Ujar Ercha.
" Bukan mencari kesempatan sayang, tapi memang aku tidak mau jauh dari kamu. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa, yang jelas aku ingin selalu berada di dekatmu. Mending bawa ke sini saja makanannya! Aku ingin...
" Nggak mau, aku mau makan di taman belakang sambil mencari angin." Ujar Ercha menepis tangan Aksa.
" Baiklah terserah kamu saja." Sahut Aksa menghela nafasnya pelan.
" Kamu tidur saja nggak usah rewel. Kalau tidak aku tidak mau pulang ke rumahmu. Terus terang aku lebih nyaman tinggal di rumahku sendiri. Di sini mau ngapain aja bebas nggak perlu sungkan sama yang lain." Ucap Ercha.
" Iya aku tahu, lagian tidak masalah aku tinggal di rumahmu Mas. Aku orangnya cuek dan tidak peduli dengan sekitar jadi aku merasa biasa saja tinggal di rumahmu. Aku maaf kalau ucapanku menyinggung perasaanmu. Sekarang tidurlah! Aku akan membangunkanmu sore nanti." Ucap Ercha keluar dari kamarnya.
Pada dasarnya Ercha adalah gadis yang keras kepala, jadi mau merengek seperti apapun ia tidak mungkin terketuk hatinya. Tidak mau memikirkan hal yang tidak tidak, Aksa mencoba memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Aksa membuka matanya saat mendengar tawa Ercha di bawah sana. Dengan perlahan ia turun dari ranjang. Ia berjalan menuju balkon sambil mendorong tiang infusnya.
Di bawah sana Ercha sedang berbincang dengan seorang pria. Mereka nampak sangat akrab, sesekali mereka tertawa bersama.
" Aku senang bisa melihatmu tertawa lagi Cha." Ucap Amar.
" Memangnya dari kemarin aku tidak tertawa? Apa maksudmu mukaku kelihatan sangat menyedihkan begitu?" Tanya Ercha menatap Amar.
" Sangat." Sahut Amar menganggukkan kepalanya.
" Ih jahat banget kamu Kak." Ucap Ercha memukul Amar dengan bantal sofa.
" Eits nggak boleh marah! Nanti kasihan debaynya kalau kamu marah marah." Ujar Amar menangkis tangan Ercha.
" Salah sendiri bikin aku kesal." Ucap Ercha mengerucutkan bibirnya.
" Kamu tambah cantik kalau cemberut gitu." Ujar Amar.
" Gombal." Sahut Ercha.
__ADS_1
" Iya benar." Sahut Amar mengacak rambut Ercha.
Melihat itu Aksa mengepalkan erat tangannya. Ia mencabut jarum infusnya lalu keluar dari kamarnya. Sepertinya tenaganya sudah pulih karena melihat Ercha bersama pria lain. Ia tidak mempedulikan darah yang mengalir dari tangannya.
Sampai di taman belakang Aksa berjalan menghampiri Ercha dengan langkah tegap.
" Ercha." Panggil Aksa dengan nada tinggi.
" Mas kamu.." Ercha menjeda ucapannya saat melihat darah yang mengalir dari tangan Aksa.
" Mas tangan kamu, astaga kenapa kamu mencabut jarum infusnya?" Tanya Ercha turun dari gazebo menghampiri Aksa.
" Ayo aku bantu mengobatinya." Ucap Ercha.
" Tidak perlu." Sahut Aksa menarik tangan Ercha masuk ke dalam.
" Mas lepas! Apa apaan sih." Ucap Ercha menyentak kasar tangannya.
" Kenapa? Apa kamu masih mau berduaan dengannya? Kamu bahagia berada di dekatnya? Kamu nyaman bersamanya?" Tanya Aksa menatap Ercha dengan tajam.
" Ya... Semua yang kau ucapkan benar, aku nyaman bersamanya, kau bahagia bersamanya aku...
" Hentikan Ercha! Kau menyakitiku." Ucap Aksa memotong ucapan Ercha.
Tiba tiba Ercha tertawa lepas mendengar ucapan Aksa. Ia tidak menyangka jika Aksa bisa secemburu ini padanya.
" Kenapa kamu tertawa?" Tanya Aksa mengerutkan keningnya.
" Ya lucu aja Mas, aku nggak menyangka kalau kamu bisa mengeluarkan sikap kecemburuanmu seperti ini Mas." Ucap Ercha terkekeh.
" Aku cemburu?" Aksa mengerutkan keningnya.
" Tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya kesal saja melihatmu bersamanya." Ujar Aksa.
" Itu namanya cemburu Mas. Lagian kamu tidak tahu siapa dia." Ucap Ercha.
" Memangnya siapa dia?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Dia kekasihku."
Jeduarrr.....
Nah loh....
Jangan lupa tekan like koment vote dan mawar yang banyak ya biar author semangat.
Miss U All...
TBC...
__ADS_1