TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
INGIN PERGI


__ADS_3

*Buat kak Erchaparm yang minta double up nih... Author tunggu kopinya ya...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


Maysa masuk ke mobil dengan tergesa gesa membuat Abraham heran.


" Jalan Kak!" Ucap Maysa.


" Kamu kenapa? Kamu menangis?" Tanya Abraham.


" Aku bilang jalan ya jalan Kak!" Bentak Maysa tanpa sadar.


" Baiklah." Ucap Abraham tanpa mau bertanya apa apa lagi.


Abraham segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ilyas. Ilyas yang mengejarnya hanya bisa mengacak rambutnya saat melihat mobil Abraham menjauh.


" Argh... Kenapa sih harus seperti ini sih. Kenapa juga Maurene harus datang ke rumah. Masya jadi di salah paham kan akhirnya." Gerutu Ilyas.


" Aku harus pulang, aku tidak mau sampai Maysa melakukan hal yang tidak aku inginkan." Ucap Ilyas masuk ke mobilnya. Ia melajukan mobilnya ke rumah mertuanya.


Sampai di rumah Maysa segera berlari ke kamarnya. Ia mengambil secarik kertas lalu menemui papanya di ruang kerja.


" Pa." Maysa menghampiri tuan David yang sedang fokus pada laptopnya.


" Apa sayang? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya tuan David menatap Maysa.


" Aku butuh tanda tangan Papa di sini." Ucap Maysa memberikan kertas itu pada tuan David.


" Tidak perlu di baca Pa! Tinggal di tanda tangani saja." Ujar Maysa.


" Papa tidak bisa tanda tangan begitu saja tanpa membaca isinya sayang, lagian tanda tangan Papa tidak ada gunanya di sini karena bukan Papa yang menjadi walimu sekarang tapi Ilyas suamimu." Ucap tuan David sambil membaca kertas yang ternyata formulir pendaftaran gelombang ke dua sebuah Universitas di luar negeri.


Maysa menghela nafasnya pelan mendengar ucapan Maysa.


" Maysa... Papa tahu kalian sedang ada masalah. Kau harus menghadapi masalah itu untuk menyelesaikannya Nak. Bukan malah pergi menghindarinya. Kau bukan hanya seorang istri tapi kau seorang ibu Nak. Bagaimana perasaan Kavin jika kamu pergi ke luar negeri Nak? Dia akan menilaimu sama seperti Maurene yang dulu meninggalkannya demi karier. Kamu tidak boleh egois yang hanya mementingkan perasaanmu sendiri. Kau juga harus memikirkan perasaan Ilyas dan Kavin. Berpikirlah secara dewasa, jangan seperti anak SMA. Papa yakin kau paham maksud Papa Nak." Tutur tuan David panjang lebar.


" Hiks... Hiks... Aku tidak tahu harus bagaimana Pa." Isak Maysa.


Tuan David mendekati Maysa lalu menarik putrinya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


" Mas Ilyas menyembunyikan Maurene di rumahnya Pa. Aku kecewa.. Aku sangat kecewa, aku merasa mas Ilyas masih mencintai Maurene. Itu sebabnya dia melakukan semua ini Pa hiks... Aku berpikir untuk mundur dari pernikahan ini, aku ingin pergi jauh dari Mas Ilyas. Aku akan membiarkan Mas Ilyas kembali pada Maurene agar mereka bahagia Pa." Ujar Maysa dalam isakannya.


" Ini adalah kata kata dari seseorang yang putus asa sayang. Kau menyerah begitu saja hanya karena masalah kecil ini. Semua ini bisa di selesaikan dengan baik sayang. Dengarkan penjelasan Ilyas lebih dulu! Jangan berasumsi sendiri! Jangan bersikap kekanakan seperti ini! Kasihan Kavin. Dia akan menjadi korbannya sayang. Belajarlah bersikap dewasa supaya kau bisa merasakan kebahagiaan berumah tangga. Selama ini kau bahkan belum merasakan bahagia setelah pernikahanmu. Papa hanya bisa menguatkanmu sayang, pikirkan baik baik keputusanmu. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." Ujar tuan David.


Tanpa mereka sadari Ilyas berada di balik pintu melihat semuanya. Ia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Sebelum Maysa melihatnya, ia segera kembali ke kamarnya.


Kavin masuk ke ruang kerja opanya menghampiri Maysa.


" Mommy... Mommy di sini. Kenapa akhir akhir ini Mommy sangat sibuk? Mommy tidak ada waktu untuk sekedar bermain bersama Kavin. Apa Mommy marah sama Kavin?" Tanya Kavin menatap Maysa.


Maysa berjongkok menyamakan tingginya dengan Kavin.


" Tidak sayang, Mommy tidak marah sama Kavin. Mommy hanya sedang sibuk karena ada keperluan mendesak. Sekarang Mommy akan menemani Kavin bermain. Ayo!" Ajak Maysa.


Maysa menggandeng tangan Kavin menuju kamarnya.


" Mommy, Kavin perhatikan Mommy seperti habis menangis. Apa ada yang jahat sama Mommy?" Tanya Kavin polos.


" Tidak ada, Mommy kelilipan sayang bukan nangis." Sahut Maysa.


Ceklek...


" Daddy." Kavin berlari menghampiri Ilyas. Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk daddynya.


" Mommy sini!" Ucap Kavin.


Maysa mendekat ke arah mereka berdua.


" Mommy duduk di sini." Ucap Kavin menepuk ranjang di sampingnya.


Maysa menuruti kemauan Kavin. Ia duduk bersandar di samping Kavin. Kavin menarik tangan Ilyas dan Maysa lalu menyatukannya di atas perutnya.


" Kavin senang kalau Mommy sama Daddy akur gini, nggak jauh jauhan seperti kemarin kemarin. Bisakah kalian berjanji untuk selalu bersama Kavin sampai Kavin besar nanti?" Tanya Kavin mendongak menatap Ilyas dan Maysa bergantian.


Maysa menatap Ilyas begitupun sebaliknya.


" Tidak bisa sayang." Ucap Ilyas membuat Maysa terkejut.


" Kenapa tidak bisa Daddy? Apa mommy akan meninggalkan kita lagi?" Tanya Kavin.

__ADS_1


" Mommymu mau melanjutkan sekolahnya ke luar negeri. Jadi kita akan berpisah dengan mommymu selama empat tahun." Ucap Ilyas.


" Benarkah Mommy?" Tanya Kavin menatap Maysa. Maysa hanya diam saja. Ia sedang berpikir kenapa Ilyas mengetahuinya? Apa Ilyas tadi mendengar pembicaraannya dengan papanya? Pikir Maysa.


" Kenapa Mommy mau meninggalkan Kavin dan daddy? Apa Mommy sudah tidak sayang lagi sama kami? Atau Mommy pengin jadi pengusaha seperti daddy? Terus nanti Mommy sibuk dengan pekerjaan Mommy dan melupakan Kavin. Berarti bukan empat tahun Mommy, tapi kita akan berpisah selamanya." Ucap Kavin sedih.


" Kavin tidak mau sampai itu terjadi, kalau sampai Mommy meninggalkan kami, Kavin bakal membenci Mommy selamanya. Kavin tidak mau lagi sama Mommy." Ucap Kavin cemberut.


Tanpa terasa air mata Maysa menetes begitu saja. Ia segera mengusapnya. Ia benar benar merasa bingung saat ini, emosi dan perasaannya masih labil di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun.


Tok tok...


Pintu di ketuk dari luar.


" Kavin ini Oma, ayo kita main ke rumah Dante!" Ucap nyonya Melodi dari luar. Ia ingin memberi waktu berdua untuk putri dan menantunya menyelesaikan masalah.


" Oma.. Ya sebentar Oma." Teriak Kavin.


" Mommy, Daddy, Kavin main dulu ke rumah Dante ya. Mommy sama Daddy baik baik di rumah." Ujar Kavin.


" Iya sayang, hati hati ya." Sahut Ilyas.


" Mommy... Mommy janji dulu kalau Mommy tidak akan meninggalkan Kavin." Ucap Kavin menatap Maysa. Maysa hanya menganggukkan kepalanya.


" Kavin main." Ucap Kavin turun dari ranjang. Ia membuka pintu lalu keluar dari kamar Maysa.


" Sebelumnya Mas sudah pernah memberikanmu penawaran untuk melanjutkan ke Perguruan tinggi, tapi kau menolaknya. Setiap ada masalah kau selalu ingin pergi meninggalkan kami dengan alasan kuliah ke luar negeri. Mas ingin mengakhiri semuanya di sini." Ucap Ilyas membuat Maysa terkejut.


" Mas baru menyadari jika Mas tidak bisa membuatmu bahagia sayang, Mas tidak akan menghalangi kebahagiaanmu. Mas tidak mau kejadian seperti ini terus terulang lagi, masalah pasti akan datang silih berganti dalam rumah tangga kita ke depannya, dan Mas akan bosan jika saat ada masalah kau selalu ingin pergi. Untuk itu Mas akan mengakhiri semuanya di sini, dan saat ini juga. Mas...


" Apa maksudmu Mas? Apa Mas mau menceraikan aku dan kembali pada Maurene? Begitu maksudmu Mas?" Selidik Maysa.


Apa hayooo....


Udah double up ya, jangan lupa hadiahnya..


Dukung juga karya baru author dengan judul KAU SELINGKUH AKU BALAS


InsyaAllah nggak kalah seru ya..

__ADS_1


__ADS_2