TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
BUKAN PILIHAN


__ADS_3

Rega mengerjapkan matanya saat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya melalui celah celah korden kamar mereka. Ia menatap wajah Aska yang menurutnya sangat tampan itu. Kulit putih, hidung mancung dan bibir berwarna pink seperti bibir perempuan. Perlahan ia mengusap wajah suaminya sambil terus mengembangkan senyum kebahagiaan.


" Aku tidak menyangka sama sekali kalau aku bisa menikah denganmu Mas. Pak guru tampan yang selalu jadi idaman para murid perempuannya yang terkenal jutek. Aku benar benar bahagia memiliki kamu dan keluarga seperti keluargamu yang mau menrimaku apa adanya. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan kepadaku sebesar ini Mas." Ucap Rega lirih.


" Aku juga sangat bahagia sayang." Ucap Aska tiba tiba, ia memeluk Rega dengan erat sambil menciumi pipinya.


" Mas lepas ih." Ucap Rega.


" Tidak akan aku lepaskan, aku sudah susah payah mendapatkanmu kembali dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." Sahut Aska.


" Baiklah, peluk aku sepuasmu Mas. Kalau perlu jangan lepas aku. Aku tidak akan kemana mana." Ujar Rega.


" Tentu sayang." Sahut Aska mengeratkan pelukannya.


Tiba tiba Aska menyusupkan wajahnya ke tengkuk leher Rega membuat tubuh Rega meremang karena nafas hangat yang Aska hembuskan.


" Shhhh." Desis Rega saat Aska menyesap leher putihnya.


" Mas jangan membuatnya lagi di sana, sudah banyak yang kamu buat di leherku ini. Aku akan malu jika sampai ada yang melihatnya nanti Mas." Ujar Rega sambil memejamkan matanya.


" Kamu kan bisa menutupinya sayang, atau kalau tidak biarkan mereka melihatnya. Itu tanda kepemilikan dariku. Biar mereka semua tahu kalau kamu sudah ada yang punya, yaitu Aska wilson." Ucap Aska.


" Semua orang sudah tahu Mas, bahkan satu sekolah saja sudah tahu kalau aku itu milikmu." Ujar Rega.


" Oh ya, ngomong ngomong bagaimana kabar bu Mawar ya Mas?" Tanya Rega.


" Tidak perlu membicarakan dia, lebih baik kita bicarakan tentang kita berdua saja. Tanpa ada yang lainnya." Sahut Aska.


" Mari kita buat Aksa junior yang tampan paripurna seperti aku." Sambung Aska.


" Kan semalam sudah Mas." Ujar Rega.


" Kan belum berhasil sayang, kita harus selalu berusaha dan berdoa supaya kita mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang kita harapkan." Ucap Aska.


" Tapi tidak setiap hari juga Mas. Aku capek, lagian kalau keseringan kan nggak baik, biasanya nggak akan jadi." Ucap Rega.


" Benarkah begitu?" Tanya Aska memastikan.


" Iya gitu sih ilmu yang aku dapatkan, entah benar atau tidak aku belum tahu karena aku belum mencobanya sendiri." Sahut Rega.


" Kalau begitu mari kita coba!" Ucap Aska.

__ADS_1


Aska menindih tubuh Rega, keduanya saling melempar tatapan penuh cinta. Aska mengelus wajah Rega dengan lembut, Rega memejamkan matanya merasakan sensasi kehalusan tangan Aska.


Aska memajukan wajahnya lalu mencium bibir Rega dengan lembut. Rega memejamkan matanya, ia membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu Aska gunakan untuk menyusupkan lidahnya. Ia mengekspos setiap inchi mulut Rega. Suara decapan memenuhi kamar mereka.


Keduanya nampak saling menikmati sensasi manisnya bertukar saliva. Perlahan tapi pasti Rega membalas ciuman Aska. Keduanya saling membelitkan lidah satu sama lain. Ciuman yang semula lembut kini semakin menuntut.


Ciuman Aska turun ke leher Rega, ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana membuat Rega mendesis. Entah siapa yang mulai kini keduanya sama sama polos. Tanpa membuang waktu, Aska segera memulai permainannya. Keduanya sama sama terlena dengan nikmatnya surga dunia.


Permainan Aska benar benar lembut bagi Rega. Ia bahkan tidak mampu menolak setiap sentuhan yang Aska berikan padanya. Suara des@h@n dan erang@n nampak mengiringi permainan mereka berdua.


Setelah hampir satu jam lamanya, tubuh Aska tumbang di samping Rega.


" Terima kasih sayang." Ucap Aska.


" Sama sama Mas." Sahut Rega.


" Aku mau mandi dulu." Ujar Rega turun dari ranjang.


" Kita mandi bersama saja." Ucap Aska.


Aska menggendong Rega menuju kamar mandi. Ia menurunkan Rega pada bath up lalu mengisinya dengan air hangat. Ia masuk ke dalam lalu duduk di belakang Rega.


" Mengulang apa sayang? Mengulang yang mana hmm? Mengulang adegan barusan?" Tanya Aska menggoda Rega.


" Kalau kamu mau mengulang, dengan senang hati aku akan mengulangnya." Sambung Aska.


" Tidak tidak! Aku sudah terlambat turun Mas. Bisa bisa aku aku tidak membantu mami menyiapkan sarapan, kan kasihan mami Mas." Sahut Rega.


" Iya baiklah." Sahut Aska.


Mereka akhirnya mandi bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huek... Huek...


Maysa memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi. Dengan setia Ilyas berdiri di belakangnya sambil memijat pelan tengkuknya.


Setelah mendingan Maysa membasuh mulutnya dengan air bersih.


" Gimana sayang? Apa sudah mendingan?" Tanya Ilyas.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Maysa.


" Mau ke kamar atau masih mau muntah lagi?" Tanya Ilyas.


" Ke kamar aja Mas." Sahut Maysa.


" Baiklah." Sahut Ilyas.


Ilyas menggendong Maysa ke ranjang. Ia membantu Maysa duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Mas buatkan susu hangat untukmu ya." Ucap Ilyas.


" Iya Mas, yang rasa stroberry." Ujar Maysa.


" Baiklah tunggu sebentar." Sahut Ilyas keluar kamar.


Tak lama Ilyas kembali dengan segelas susu khusus ibu hamil di tangannya. Ia menghampiri Maysa di ranjangnya.


" Ini sayang segera di minum mumpung masih hangat." Ucap Ilyas memberikan susu kepada Maysa.


" Terima kasih Mas." Ucap Maysa. Maysa segera meminumnya sampai habis.


" Duh pinternya anak Daddy, lapar ya." Ucap Ilyas meletakkan gelas kosong di atas nakas. Ia naik ke atas ranjang lalu menempelkan telinganya ke perut Maysa.


" Kasihan anak Daddy di bawa muntah terus sama mommy ya. Sehat sehat di dalam sini sayang, jangan menyusahkan mommy ya. Kasihan mommy kalau harus muntah terus seperti ini. Cepat besar dan cepat lahir dengan selamat. Daddy sudah nggak sabar pengin gendong kamu seperti dulu daddy menggendong bayi bang Kavin." Ucap Ilyas mengelus perut Maysa yang masih rata.


" Oke siap daddy." Sahut Maysa menirukan suara anak kecil.


" Mas pengin anak perempuan apa laki laki?" Tanya Maysa.


" Laki laki atau perempuan bagi Mas sama saja sayang, apapun jenis kelaminnya nanti Mas terima dengan senang hati dan bahagia. Mas tidak mau terlalu berharap karena Mas takut anak kita akan kecewa jika mendengarnya. Sedikasih Tuhan aja sayang." Sahut Ilyas.


" Kalau kamu penginnya laki laki apa perempuan?" Sambung Ilyas.


" Iya Mas kamu benar, aku juga tidak ingin memilih. Bagiku laki laki sama perempuan sama saja karena ini yang pertama buatku. Sama sama belum bisa merawat mereka dengan baik, dan tugas Mas di sini adalah mengajariku supaya aku bisa menjadi ibu yang baik yang bisa mengurus anak anak kita dengan baik." Ujar Maysa.


" Tentu sayang, apapun untuk kalian bertiga. Mas sangat menyayangi kalian." Ucap Ilyas mencium kening Maysa.


" Aku juga Mas." Sahut Maysa memeluk perut Ilyas.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2