
Malam ini Maysa dan Ilyas berada di cafe tempat Rega bekerja. Mereka memesan cofee latte dan fried potatto, kebetulan Rega sendiri yang melayani mereka.
" Maysa." Pekik Rega meletakkan nampan makanan di depan meja Maysa.
" Ya Tuhan Maysa, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Rega memeluk Maysa.
" Rega, bagaimana kabar lo? Bagaimana sekolah lo? Sebentar lagi ujian, kenapa lo masih bekerja?" Maysa memberikan pertanyaan beruntun pada Rega.
" Duduklah!" Ucap Maysa.
" Boleh saya duduk Pak?" Tanya Rega menatap Ilyas.
" Ya silahkan." Sahut Maysa.
Rega duduk sering menghadap Maysa.
" Gue harus tetap bekerja lah May, kalau gue nggak kerja mau makan apa? Lo kan tahu kondisi gue." Ujar Rega.
" Iya juga sih, sekarang gue juga nggak bisa bantu lo karena sekarang gue sudah punya suami. Tapi kalau lo butuh bantuan ngomong aja ke gue! Jangan sungkan sungkan." Ujar Maysa.
" Alhamdulillah gue belum butuh bantuan lo ha ha ha." Sahut Rega tertawa lepas.
Mereka melanjutkan mengobrol, Maysa juga menanyakan tentang ibunya Rega. Ia tidak menyangka jika ibunya Rega sudah tiada. Ia menyayangkan sikap Rega yang tidak memberitahunya.
" Maaf gue nggak kepikiran buat ngabarin lo, saking kalutnya gue." Ujar Rega.
" Ya udah nggak apa apa, lo yang sabar ya." Ujar Maysa.
" Iya May." Sahut Rega.
Drt... Drt...
Ponsel Rega berdering tanda panggilan masuk, ia mengambil ponsel di saku celananya lalu melihat id pemanggil.
" Pak Aska." Gumam Rega memutar bola matanya malas.
Rega meletakkan ponselnya di atas meja tanpa mau mengangkatnya.
" Siapa Ga? Kenapa nggak di angkat?" Tanya Maysa.
" Salah sambung kali." Sahut Rega.
__ADS_1
Drt drt drt
Ponsel Rega kembali berdering.
" Pak Aska, itu pak Aska adiknya mas Ilyas? Kenapa dia menelepon lo? Apa kalian sedang dekat saat ini?" Tanya Maysa penasaran.
" Enggak, nggak tahu dia telepon gue mau apa. Mungkin mau ngasih tahu nilai matematika gue kali." Ujar Rega.
" Terus kenapa nggak lo angkat?" Tanya Maysa.
" Malas aja." Sahut Rega enteng.
Tanpa sopan Maysa mengambil ponsel Rega lalu mengangkatnya.
" May..." Rega melotot ke arah Maysa.
" Takut pak Aska kenapa napa." Sahut Maysa.
" Halo Rega, ini aku Aksa. Saat ini aku butuh bantuanmu Ga. Bang Aska mengunci diri di dalam kamar. Tadi aku lihat dia membawa botol kecil yang sepertinya berisi obat. Aku takut kalau bang Aska bunuh diri Ga." Ucap Aksa panik.
" Nggak usah lebay deh. Paling juga dia bawa vitamin. Emangnya gue siapa sampai dia mau bunuh diri segala." Ujar Rega cuek.
" Ya kalau vitamin, kalau obat tidur atau obat penenang lainnya gimana? Terus dia minum satu botol penuh, terus overdosis. Kalau sampai terjadi sesuatu pada bang Aska kamu harus bertanggung jawab." Ucap Aksa.
" Kenapa lo bermain main dengan nyawa orang Rega? Kalau terjadi sesuatu sama pak Aska beneran gimana? Mending lo segera ke sana deh, gue antar." Ujar Maysa.
" Gue nggak mau Maysa, paling ini cuma akal akalan dia saja biar gue maafin dia." Ujar Rega.
" Rega aku mohon! Cepatlah ke sini! Aku mendengar suara aneh dari dalam kamar bang Aska. Tolong Rega, aku mohon! Aku akan melakukan apapun keinginanmu kalau kamu mau ke sini dan mencegah bang Aska melakukan hal bodoh. Aku mohon Rega." Ucap Aksa di seberang sana.
" Gue nggak mau." Sahut Rega menutup sambungan teleponnya.
" Lo hutang penjelasan sama gue." Ucap Maysa.
" Iya sorry, sebenarnya gue..... " Akhirnya Rega menceritakan apa yang terjadi padanya dan Aska akhir akhir ini.
" Jadi ceritanya sekarang lo lagi marah sama pak Aska." Ujar Maysa.
" Hmm." Rega menganggukkan kepalanya.
" Hati siapa yang nggak sakit jika di perlakukan seperti itu May, dan dengan mudahnya dia datang meminta maaf seolah ingin aku melupakan semuanya. Dia kira dengan meminta maaf hubungan kami akan baik baik saja. Lo tahu siapa gue kan? Gue nggak akan mudah maafin orang yang udah nyakitin gue." Ujar Rega.
__ADS_1
" Iya gue tahu, gadis keras kepala dan pekerja keras ha ha ha." Mereka tertawa bersama.
" Ehm." Dehem Ilyas membuat keduanya menatap Ilyas.
" Bagaimanapun Aska adik saya Rega, saya tahu dia salah karena menyakitimu. Tapi tidak seharusnya kau membalasnya kan? Bagaimana kalau adik saya beneran bunuh diri karena frustasi dengan masalah ini? Saya yakin Aska mencintaimu, itu sebabnya dia rela melakukan apapun demi mendapatkan maafmu."
" Coba pahami dari segi pandangnya! Dan coba tempatkan dirimu pada posisinya! Apa yang akan kamu lakukan seandainya adikmu mencintai kekasihmu? Apa kau tetap akan mempertahankan hubunganmu dengan kekasihmu? Dengan begitu hubunganmu dengan adikmu pasti terpecah. Atau kau akan mempertahakan hubungan dengan adikmu dan merelakan kekasihmu untuknya?"
Pertanyaan Ilyas membuat Rega terkejut. Ia merasa semua ucapan Ilyas benar. Apakah itu artinya Aska tidak bersalah? Apakah itu artinya ia harus memaafkan Aska? Banyak pertanyaan bersarang di kepala Rega saat ini.
" Tunggu apalagi Rega? Jika kau memiliki perasaan yang sama dengan Aksa, pergilah! Jangan sampai dia berbuat sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu." Ucap Ilyas.
Tanpa ragu Rega segera berlari keluar cafe. Tak lupa ia menelepon nomer Aska dan menanyakan keberadaan Aska saat ini. Aksa menjawab Aska ada di rooftoop rumahnya.
Rega menyetop taksi lalu masuk ke dalam. Taksi melaju dengan cepat menuju rumah Aska. Sampai di sana Rega segera turun dari taksi. Ia menatap ke arah rofftoop rumah Aska yang nampak gelap.
Rega berlari masuk ke dalam rumah Aska yang kebetulan pintunya terbuka. Ia menaikk anak tangga menuju rofftoop tanpa peduli jika ia di cap tidak sopan masuk ke rumah orang oleh orang tua Aska. Yang ada di pikirannya saat ini Aska Aska dan Aska.
" Hah ya Tuhan semoga tidak terjadi sesuatu di sana. Kenapa mau bunuh diri saja menyusahkan orang sih? Eh tapi kata kak Aksa pak Aska mau minum pil, tapi kenapa minum pil harus di rooftoop? Kenapa tidak di kamar saja? Tadi pertama telepon katanya pak Aska ada di kamarnya. Kenapa sekarang pindah ke rooftoop? Atau jangan jangan pak Aska mau lompat ya? Oh ya Tuhan... Jangan sampai itu terjadi! Atau aku akan menyesal karena telah mengabaikannya. Bagaimanapun aku mencintainya ya Tuhan. Tolong lindungi dia." Monolog Rega sambil mengatur nafasnya.
Ceklek...
Rega membuka pintu menuju roftoop, dengan perlahan ia masuk ke dalam mencari Aska.
" Pak Aska." Panggil Rega namun tidak ada sahutan.
" Gelap amat sih, apa tidak ada lampunya ya?" Gumam Rega.
" Lampu pasti ada, aku coba cari dulu deh." Rega meraba raba dinding mencari saklar lampu.
" Nah ini saklarnya, aku akan menyalakan lampunya." Ujar Rega.
Pyar...
Lampu roftoop menyala dengan terang, Rega mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tiba tiba..
Deg...
Jantung Rega terasa berhenti berdetak. Ia menatap ke depan lalu...
" Pak Askaaaaaa.... "
__ADS_1
Nah loh kenapa ya? Jangan lupa like koment vote dan 🌹 yang banyak buat author... Terima kasih.. Miss U All...
TBC...