
Jam dua belas malam Ilyas membopong Maysa yang sudah tertidur ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh Maysa di atas ranjang. Ia mengelus wajah Maysa dengan lembut lalu ia mencium bibir Maysa dengan lembut membuat tidur sang empu terganggu.
Maysa membuka matanya menatap wajah tampan suaminya.
" Mas aku.. " Maysa melihat ke sekeliling, ia menyadari jika saat ini ia berada di kamarnya.
" Hmm nakal kamu ya Mas." Ucap Maysa mengalungkan tangannya ke leher Ilyas.
" Aku akan mengadukan penculikan ini kepada Kavin biar kamu kena marah." Ujar Maysa.
" Jangan sayang! Kau nanti harus kembali sebelum Kavin bangun." Ucap Ilyas mengelus pipi Maysa. Maysa memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Ilyas.
Ilyas mengecup bibir Maysa, Maysa membuka sedikit mulutnya. Ilyas tidak melewatkan kesempatan, ia menyusupkan lidahnya ke mulut Maysa mengekspos setiap inchinya.
Ilyas *****@* bibir Maysa dengan lembut. Suara decapan memenuhi kamar mereka. Tak ingin di kuasai oleh suaminya, Maysa membalas ciuman Ilyas. Keduanya saling membelitkan lidah masing masing. Tangan Ilyas bergerilya kemana mana. Tangannya bermain main di area favoritenya membuat tubuh Maysa menggila seperti cacing kepanasan. Sesekali ia mendesis pelan membuat Ilyas semakin semangat.
Tanpa mereka sadari keduanya sudah sama sama polos. Ia menutupi tubuh mereka dengan selimut. Ilyas mencium leher Maysa, ia memainkan lidahnya di sana. Sesekali ia menyesap leher Maysa hingga meninggalkan jejak merah di sana.
" Mas.. " Desis Maysa.
" Iya sayang." Lirih Ilyas.
Ciuman Ilyas turun ke dada Maysa, ia memainkan lidahnya di atas gundukan kembar milik Maysa. Maysa mencengkeram sprei dengan erat agar tidak mengeluarkan suara lucknutnya. Tak lama setelah itu Ilyas mulai mengarahkan senjatanya ke goa milik Maysa hingga terbenam sempurna. Ilyas mulai memacu tubuhnya di atas Maysa dengan pelan.
Suara des@h@n dan erangan mengiringi olahraga malam mereka. Berbagai gaya dan suara menghiasi permainan mereka. Hingga dua jam kemudian tubuh Ilyas tumbang di samping Maysa.
" Terima kasih sayang." Ucap Ilyas memeluk Maysa di balik selimut.
Maysa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia benar benar merasa sangat lelah hingga ia tidak menyadari jika ia terlelap dalam pelukan Ilyas.
Dor dor dor
Pintu kamar Ilyas di gedor dari luar membuat Ilyas dan Maysa terbangun karena kaget.
" Mommy." Teriak Kavin.
__ADS_1
" Astaga Kavin Mas." Pekik Maysa menatap Ilyas.
" Iya sayang, buruan pakai bajumu! Mas mandi dulu." Ucap Ilyas turun dari ranjang. Ia memunguti bajunya lalu berlari ke kamar mandi.
Dengan cepat Maysa memakai bajunya. Setelah selesai ia membuka pintunya.
Ceklek...
" Mommy tidur di sini?" Tanya Kavin menatap Maysa dengan tajam.
" Enggak." Sahut Maysa menggelengkan kepalanya.
" Terus kenapa Mommy di sini?" Selidik Kavin.
" E Mommy.. Mommy sedang menyiapkan baju ganti buat daddy. Daddy sedang mandi saat ini, itu sebabnya Mommy ada di sini." Dusta Maysa.
" Ya Tuhan maafkan aku yang telah berbohong pada anak kecil ini, aku hanya tidak ingin ada keributan di pagi hari." Batin Maysa.
" Benarkah?" Tanya Kavin memastikan.
Kavin masuk ke dalam, ia melihat ke seluruh penjuru kamar. Tanpa sengaja Maysa melihat bra yang belum sempat ia pakai berada di bawah ranjang, dengan langkah pelan ia berjalan menuju ranjang lalu kakinya menggeser bra tersebut ke bawah ranjang.
" Mommy kenapa tempat tidur daddy berantakan seperti ini? Apa daddy tidak tidur dengan baik tadi malam?" Tanya Kavin.
" Mungkin saja, karena daddy tidak tidur dengan Mommy. Kalau kamu kasihan sama daddy, biarkan Mommy tidur di sini menemani daddy." Ujar Maysa.
" Big No." Sahut Kavin cepat.
Maysa menghela nafasnya pelan.
" Ya sudah sekarang mending kita ke kamar Kavin, Kavin belum mandi kan?" Ujar Maysa di balas gelengan kepala oleh Kavin.
" Ya sudah ayo kita mandi dulu." Ucap Maysa menggandeng Kavin menuju kamarnya.
Selesai mandi mereka bertiga berkumpul di meja makan untuk sarapan. Kebetulan hari ini weekend jadi Ilyas dan Kavin tidak berangkat ke sekolah ataupun ke kantor.
__ADS_1
" Kavin nanti main ke rumah om papi ya, Mommy ada urusan sampai jam sepuluh." Ucap Maysa sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Ini weekend sayang, apa kamu juga mau pergi? Seharusnya saat ini waktu uang tepat untuk kita menghabiskan waktu bersama. Apa kau tidak bisa untuk tetap tinggal di rumah saja?" Tanya Ilyas menatap Maysa.
" Maaf Mas aku tidak bisa, hari ini dia ada pemeriksaan pada kakinya. Apakah theraphinya berhasil atau tidak. Apa ada perkembangan atau tidak, kita akan tahu hari ini." Ujar Maysa.
Tiba tiba Ilyas meletakkan sendok ke piringnya, lalu ia berlalu dari sana begitu saja.
" Astaga Mas Ilyas." Maysa segera mengejarnya.
Ilyas menaiki tangga menuju kamarnya, entah kenapa hatinya merasa kesal dengan sikap Maysa yang lebih memilih Satya daripada dirinya. Ia benar benar cemburu.
" Mas." Maysa masuk ke kamarnya mendekati Ilyas yang berdiri di depan jendela.
" Mas bukannya aku membela ataupun lebih memilih Satya, tapi aku mohon mengertilah! Saat ini Satya membutuhkan aku. Aku..
" Kenapa harus Mas yang mengerti, kenapa tidak Satya saja. Harusnya Satya tahu kalau kamu bukan pacarnya. Kamu istri Mas, istri orang lain. Dia tidak bisa seenaknya menguasaimu begitu saja. Mending kamu katakan yang sebenarnya pada Satya supaya dia bisa mengerti. Mas tidak bisa merelakan waktumu untuk menjaga ataupun sekedar menemaninya." Ucap Ilyas.
Maysa menghembuskan kasar nafasnya.
" Jika aku mengatakan yang sebenarnya saat ini sama saja aku membunuhnya Mas. Aku tidak setega itu untuk bisa melakukannya. Aku merasa iba dengan keadaannya saat ini. Jika Mas berada di posisinya apa aku juga harus melakukan seperti yang Mas perintahkan padaku?" Ujar Maysa menatap Ilyas.
Deg...
Ucapan Maysa menohok hati Ilyas.
" Aku juga tidak menginginkan semua ini Mas, aku tahu bagaimana perasaan Mas. Bagaimana terlukanya Mas saat melihatku bersama pria lain. Aku pernah merasakannya Mas, apa Mas lupa Mas pernah dekat dengan mbak Maurene? Dan itu tanpa sepengetahuan aku Mas. Sakit... Dadaku bahkan terasa sesak saat itu. Ingin rasanya aku tiada saat itu juga Tapi aku mencoba berpikir lebih luas, aku memaafkan Mas dan menerima kebohongan Mas kan. Aku minta maaf jika kali ini aku membangkangmu Mas, demi rasa kemanusiaan aku ingin membantu Satya pulih seperti sebelumnya. Aku satu satunya orang yang sangat ia harapkan dukungannya. Aku harap Mas bisa mengerti dan tidak mendebatkan masalah ini di lain hari. Percayalah Mas! Hati dan cintaku tidak akan condong kepadanya. Hati, cinta dan hidupku bahkan sudah terpatri kepadamu. Aku tidak akan bisa mencintai pria lain selain dirimu. Aku harap Mas bisa mengerti apa yang coba aku katakan pada Mas." Ucap Maysa panjang lebar.
" Maafkan Mas sayang! Mas tidak pernah berpikir sampai ke situ. Baiklah Mas tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi di kemudian hari. Mas percaya padamu, Mas percaya jika kau tidak akan berpaling dari Mas. Maafkan Mas, Mas telah terbawa emosi tadi. Mas mencintaimu." Ucap Ilyas memeluk Maysa.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Maysa membalas pelukan Ilyas.
Kavin yang hendak masuk melihat mereka berpelukan mengepalkan erat tangannya. Dengan kesal ia meninggalkan kamar Ilyas.
TBC
__ADS_1