TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
SALAH PAHAM


__ADS_3

Prang.....


Maysa membanting piringnya di depan Ilyas membuat Ilyas berjingkrak kaget.


" Sampai segitunya kamu membela dia Mas? Bahkan kau sampai membawa kabur dia di saat aku mengajukan laporan padanya hah?Apa kau masih mau mengelak jika kau tidak ada perasaan apa apa padanya? Apa kau masih mau mengelak kalau kau tidak peduli padanya? Kemarin aku masih diam saat kau membelanya di depanku, tapi kali ini kau sudah keterlaluan. Kau membuktikan cintamu padanya dengan tindakan ini Mas." Bentak Maysa hilang kendali. Ia menarik kerah baju Ilyas.


" Maysa kendalikan dirimu!" Ucap tuan David.


" Lihatlah dia Pa! Dia melindungi wanita yang hampir membunuh anak dan istrinya sendiri. Dia tidak rela mantan istrinya masuk ke penjara karena aku, itu sebabnya dia membantu wanita itu kabur dari pantauan polisi. Apa yang dia bilang waktu itu palsu Pa. Dia bilang tidak ada perasaan apa apa terhadap mantan istrinya, dia bilang tidak akan peduli apapun yang terjadi dengannya. Tapi apa sekarang? Dia membelanya mati matian dan menentangku Pa. Apa dia bisa di sebut sebagai seorang suami? Apa ini yang di namakan suami yang baik? Katakan Pa!" Ucap Maysa membuat Ilyas terkejut.


" Tenanglah Maysa!" Ucap tuan David.


" Sayang dengarkan Mas! Mas sama sekali tidak membantunya, Mas tidak tahu tentang masalah ini sayang. Mas tidak tahu jika Maurene kabur, Mas juga tidak tahu siapa yang membantunya sayang. Percayalah pada Mas! Mas berani bersumpah demi nyawa Mas sendiri. Mas tidak tahu sama sekali sayang, Mas tidak terlibat dalam hal ini." Ujar Ilyas menyentuh kedua pundak Maysa.


" Aku tidak percaya sama sekali Mas. Satu satunya orang yang tidak mau wanita itu di penjara adalah kamu. Jika kau tidak mau memberitahuku tidak apa apa. Aku akan mencari tahu sendiri, tapi jika sampai ketahuan kamu dalang di balik semua ini, maka kau akan menanggung akibatnya." Ucap Maysa menunjuk wajah Ilyas.


Maysa meninggalkan Ilyas dan tuan David.


" Sabar Ilyas, Papa minta maaf atas nama Maysa yang telah bersikap kasar padamu." Ucap tuan David.


" Tidak apa apa Pa. Wajar kalau Maysa marah karena memang sebelumnya aku mengatakan seperti itu. Aku permisi dulu Pa mau menyusul Maysa." Ucap Ilyas.


" Baiklah, bujuk Maysa dengan halus. Papan yakin jika amarahnya sudah reda, ia akan bersikap seperti biasa lagi." Ujar tuan David.


" Iya Pa." Sahut Ilyas meninggalkan tuan David.


Ilyas menyusul Maysa menuju kamarnya. Ilyas masuk ke dalam menghampiri Maysa yang sedang bersiap pergi.


" Sayang kamu mau kemana?" Tanya Ilyas menghadang Maysa.


" Aku mau mencari nenek lampir itu, akan aku pastikan dia di penjara dalam waktu lama." Sahut Maysa penuh penekanan.


" Eh tapi untuk apa aku bilang padamu? Yang ada kau tidak akan membantuku tapi membantunya lagi." Sinis Maysa.


" Sayang sudah Mas bilang berapa kali sih, Mas...


" Cukup! Kau tidak perlu banyak bicara Mas! Aku akan mendapatkan bukti jika kau di balik semua ini." Ucap Maysa meninggalkan Ilyas.


Ilyas menarik kasar rambutnya. Entah mengapa sangat sulit membuat Maysa percaya padanya.


" Aku harus mengikutinya, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan Maysa." Ujar Ilyas keluar kamar.

__ADS_1


Ilyas keluar rumah menuju mobilnya. Saat ia hendak membuka pintu mobil ia mendapat telepon dari bi Hanum. Asisten yang bekerja di rumahnya. Ilyas segera mengangkatnya.


" Baiklah saya akan segera ke sana Bi. Tolong jaga dia." Ucap Ilyas.


Ilyas melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sedangkan Maysa melajukan mobilnya menuju kantor rumah sakit dimana Maurene di rawat. Sampai di sana ia segera masuk ke dalam menghampiri Abraham.


" Gimana Kak? Apa Maurene sudah ketemu?" Tanya Maysa menatap Abraham.


" Belum, polisi sedang melakukan pencarian." Ujar Abraham.


" Bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Padahal ada dua polisi yang menjaganya kan? Tahu gitu dia langsung di penjara saja tanpa harus menunggunya sembuh dulu. Biar dia tiada sekalian di balik jeruji besi." Ucap Maysa kesal.


" Sadis bener, teranglah! Polisi sedang mencarinya, dia sudah menjadi DPO jadi dia tidak akan bisa bebas bergerak." Ujar Abraham.


" Tapi tetap saja, nyatanya sampai sekarang dia belum juga ketemu. Membuatku resah saja tahu nggak." Ujar Maysa.


" Ya udah buat menghilangkan resah, gelisah, galau merana, gimana kalau kita jalan jalan muterin kota pakai mobil. Biar fresh gitu pikirannya." Ujar Abraham.


" Boleh juga, ayo!" Ajak Maysa.


Maysa dan Abraham meninggalkan rumah sakit. Keduanya masuk ke mobil Maysa, Abraham melajukan mobilnya tanpa tujuan pasti dengan kecepatan sedang.


" Kira kira ada nggak tempat yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Abraham.


" Emangnya bisa tidur?" Tanya Abraham.


" Enggak sih, sebelum nenek lampir itu tertangkap aku belum bisa tidur dengan nyenyak." Ujar Maysa.


" Tenang saja dia pasti segera tertangkap, dia tidak bisa pergi jauh karena bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun sudah stand by orang orangku. Jika dia berani ke sana maka dia akan tertangkap." Ujar Abraham.


" Wih gercep juga." Ucap Maysa.


" Harus donk! Apalagi untuk client sepenting keluargamu, apapun akan aku lakukan." Sahut Abraham.


Tiba tiba Maysa teringat jika baju Kavin habis. Ia berpikir untuk mengambil baju Kavin di rumah Ilyas.


" Kak kita ke rumah mas Ilyas sebentar ya, aku mau mengambil baju Kavin. Soalnya di rumah pada kotor semua, apalagi Kavin suka banget mainan air. Jadi bentar bentar ganti deh." Ujar Maysa.


" Oke." Sahut Abraham.


Abraham melajukan mobilnya menuju rumah Ilyas. Sepuluh menit mereka sampai di sana. Maysa mengerutkan keningnya saat melihat mobil Ilyas terpaksa di depan rumah.

__ADS_1


" Mas Ilyas ada di sini, ngapain dia ke sini?" Gumam Maysa yang di dengar oleh Abraham.


" Ini rumahnya Maysa, tinggal di rumah mertuanya di musuhi terus sama istrinya ya dia pulang ke rumah lah. Sudah buruan turun! Aku tunggu di sini." Ucap Abraham.


" Oke." Sahut Maysa turun dari mobil.


Maysa melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Deg...


Jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat Ilyas menggendong seorang perempuan. Dengan langkah pelan Maysa mengikutinya dari belakang.


" Kamar tamu." Gumam Maysa.


Ilyas membuka pintu kamar tamu dengan satu tangannya, ia masuk ke dalam lalu membaringkan wanita itu ke ranjang. Maysa mengintip dari celah celah pintu.


" Siapa wanita itu? Kenapa mas Ilyas membawanya ke rumah?" Lirih Maysa bertanya pada dirinya sendiri.


" Atau jangan jangan... "


Ceklek...


Maysa masuk ke dalam tanpa bersuara.


" Taruh di meja aja Bi, Maurene pingsan." Ucap Ilyas.


Deg...


Dada Maysa bergemuruh mendengar ucapan Ilyas. Ilyas yang tidak mendengar pergerakan dari bi Hanum menoleh ke belakang dan...


Jeduarrrr.....


Tubuhnya terasa kaku seperti di sambar petir saat melihat Maysa yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Nampak perasaan kecewa dari tatapan yang Maysa pancarkan.


" Sayang." Ucap Ilyas.


Tanpa berkata apa apa lagi Maysa berlari keluar. Ia mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipinya.


" Sayang tunggu!"


Gregetan nggak nih sama Ilyas? Cubit aja pipinya dengan cara kasih mawar yang banyak ya....

__ADS_1


Thank you...


TBC...


__ADS_2