TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
GARA GARA KECOAK


__ADS_3

Peserta ujian sudah siap di meja masing masing namun Maysa belum juga datang. Nara dan Desi nampak cemas menunggu kedatangannya.


" Baiklah kalian bisa memulai mengerjakan satu menit lagi, sebelum itu di persilahkan untuk berdoa dan membaca petunjuk dulu." Ucap Aska. Pengawas ujian sekaligus guru baru di sekolah Maysa.


" Pak teman saya masih dalam perjalanan, sebentar lagi sampai di sekolah. Bisakah kita menunggunya?" Tanya Nara menatap Aska.


" Tidak bisa, bagi yang terlambat bisa mengerjakannya di ruang kepala sekolah." Sahut Aska tegas.


" Tapi Pak...


Ceklek....


Pintu terbuka, semua murid menatap ke arah pintu dimana Maysa berdiri di sana.


" Maaf Pak saya terlambat." Ucap Maysa.


Aska tertegun menatap Maysa begitupun sebaliknya.


" Wajah pak pengawas kok mirip Mas Ilyas ya? Bahkan mereka seperti pinang di belah dua, atau memang dia saudara Mas Ilyas? Tapi sepertinya bukan. Mas Ilyas kan anak satu satunya. Tapi Mama bilang mas Ilyas hanya anak angkat. Atau mungkin dia saudara kandungnya? Mas Ilyas harus bertemu dengannya." Gumam Maysa dalam hati.


" Ya Tuhan... Cantik sekali muridku satu ini. Pesonanya sungguh luar biasa membuat hatiku berdebar debar." Batin Aska.


" Maysa." Nara mengguncang bahu Maysa membuat keduanya tersadar.


" Ah iya." Sahut Maysa menatap Nara.


Nara menatap Aska yang masih terbengong menatap Maysa.


" Pak teman saya boleh duduk kan?" Tanya Nara. Aska tidak bergeming, Nara dan Maysa saling melempar pandangan.


Maysa maju ke depan mendekati Aska, kini keduanya berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tiba tiba..


Fiuh...


Maysa meniup rambut Aska membuat Aska tersadar.


" Astaga!!" Ucap Aska kaget saat dirinya menyadari berada di dekat Maysa.


" Jangan melamun di pagi hari Pak, atau nanti bisa kesambet setan." Ucap Maysa membuat Aska tersenyum.


" Terima kasih atas kebaikan bapak hari ini." Ucap Maysa tanpa menunggu jawaban dari Aska. Ia berjalan menuju tempat duduknya.


" Eh kamu mau kemana?" Tanya Aska menatap Maysa.


" Ya mau duduk lah Pak, masa' aku mau duduk di kursi bapak, kan nggak mungkin." Sahut Maysa enteng.


" Kalau kamu mau tidak apa apa, saya tidak keberatan." Ucap Aska.


" Hah??" Bengong Maysa.


" Ah tidak, lupakan saja. Siapa namamu?" Tanya Aska.


" Maysa Pak." Sahut Maysa.


" Oh oke, kali ini saya toleransi keterlambatanmu tapi lain kali tidak lagi." Ujar Aska.


" Siap Pak." Sahut Maysa.


" Sekarang mulai kerjakan soal soalnya, good luck anak anak." Ucap Aska.


Aska duduk di kursinya sambil mengawasi anak anak yang sedang fokus pada pekerjaan mereka. Tiba saat tatapannya berhenti pada Maysa yang nampak sedang berpikir sambil menggigit pensilnya, Aska menyunggingkan senyumnya. Entah mengapa setiap gerak gerik Maysa nampak indah di matanya.


" Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa mataku selalu ingin melihat ke arahnya? Hatiku juga berbunga bunga saat melihatnya, bahkan jantungku terasa begitu berdebar. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Ya Tuhan... Belum genap sehari aku di sini, aku sudah menemukan cintaku dan itu pun kepada muridku sendiri.. Maysa.. Nama yang indah." Batin Aska terus menatap Maysa.


Maysa mendongak menatap ke depan, tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Aska. Aska melempar senyuman membuat Maysa terkejut, ia semakin yakin jika Aska sama persis dengan Ilyas setelah melihat senyumannya. Hanya berbeda versi umur saja.


" Entah mengapa aku merasa mereka benar benar mirip. Aku yakin mereka ada ikatan saudara." Batin Maysa kembali fokus pada soal soal di depannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang sekolah Maysa menjemput Kavin di sekolahnya. Ia turun dari mobil menghampiri Kavin yang sudah menunggu di pos satpam bersama pak satpam yang sedang berjaga.

__ADS_1


" Mommy." Seru Kavin memeluk Maysa


Satpam yang bertugas melongo melihat Maysa yang masih menggunakan seragam putih abu abu.


" Mommy? Dia Mommynya?" Gumam pak satpam sambil mengerutkan keningnya.


" Pak satpam jangan menatap mommyku seperti itu! Kavin tidak mau kalau sampai pak satpam jatuh cinta pada mommyku." Ucap Kavin menatap satpam.


Pak satpam hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya saja.


" Sayang tidak baik berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua, sekarang minta maaf sama pak satpam." Ucap Maysa.


Kavin menatap pak satpam lalu meminta maaf, setelah itu mereka pamit pulang.


" Kami permisi Pak." Ucap Maysa.


" Silahkan Nona." Sahutnya.


Maysa menggandeng Kavin menuju mobilnya. Mereka masuk ke mobil, Maysa segera melajukan mobilnya menuju kantor Ilyas.


" Mom apa kita mau makan siang bareng daddy?" Tanya Kavin menara Maysa.


" Iya sayang, daddymu tadi meminta Mommy untuk ke kantornya saat makan siang." Sahut Maysa.


" Kavin malas kalau ke kantor daddy, di sana ada mbak kunti jelek yang suka nempel nempel sama daddy." Ucap Kavin cemberut.


" Mbak kunti? Siapa dia?" Tanya Maysa.


" Kalau nggak salah namanya Santi Mom, yang suka ngikutin daddy kemana mana." Sahut Kavin.


" Oh sekretaris." Gumam Maysa.


" Mom nanti kita kerjain dia aja ya, tapi jangan bilang bilang daddy. Kalau tidak daddy pasti akan marah." Ucap Kavin.


" Kita lihat nanti aja." Sahut Maysa kembali fokus pada kemudinya.


Lima belas menit Maysa sampai di perusahaan IL Group. Ia menggandeng Kavin masuk ke lobby lalu menaiki lift menuju ruangan Ilyas yang berada di lantai lima belas.


" Daddy." Panggil Kavin.


Ilyas menoleh ke pintu, ia tersenyum saat melihat Maysa dan Kavin berdiri di sana.


" Sayang sini masuk!" Ucap Ilyas.


Kavin menggandeng tangan Maysa menghampiri Ilyas. Keduanya menyalami Ilyas dengan takzim.


" Sama tante juga donk!" Ujar Ilyas.


Kavin menatap Maysa yang mengganggukkan kepala. Dengan terpaksa Kavin menyalami Santi.


" Anak tampan, gimana sekolahnya tadi? Apa menyenangkan?" Tanya Santi ramah.


" Hmm." Gumam Kavin.


" Dingin amat nih anak, dari dulu susah banget di deketin. Gue jadi kehilangan peluang buat deketin pak Ilyas." Batin Santi.


Maysa dan Santi saling berkenalan secara formal.


" Ayo Dad kita makan siang!" Ajak Kavin tidak mau berlama lama berada satu ruangan dengan Santi.


" Sebentar sayang, daddy masih meneliti proposal ini. Kamu sama mommy tunggu saja dulu di kamar. Daddy akan segera menyelesaikannya." Sahut Ilyas fokus pada berkas di depannya.


" Ayo sayang kita tunggu daddy di kamar." Ucap Maysa.


" Kavin mau duduk di sini saja lihat daddy kerja." Ujar Kavin duduk di kursi kebesaran yang biasa Ilyas duduki.


" Baiklah terserah kamu saja." Sahut Ilyas.


" Mommy duduk sini! Samping Daddy biar Daddy makin semangat kerjanya." Ilyas menepuk sofa di sebelahnya. Maysa tersenyum mendengarnya.


" Baiklah." Sahut Maysa duduk di samping Ilyas sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Santi menatap Maysa dengan tatapan tidak sukanya. Tak lama Ilyas telah menyelesaikan pekerjaannya.


" Selesai, ayo sayang kita makan siang." Ajak Ilyas menatap Maysa.


" Iya Mas." Sahut Maysa kalem.


" Pak, saya juga mau makan siang, bolehkan saya bergabung dengan kalian?" Santi menatap Ilyas.


" Tapi saya...


" Biarkan saja dia ikut bersama kita Mas. Aku anggap ini sebagai acara pertemuan pertama kita nona Santi." Timpal Maysa.


Bukan tanpa alasan Maysa mengijinkannya, ia ingin melihat bagaimana Santi mendekati suaminya seperti yang Kavin katakan.


" Terima kasih nona Maysa, anda baik sekali." Ucap Santi.


" Ya sudah ayo!" Sahut Ilyas.


Ilyas menggandeng Maysa dan Kavin, sedangkan Santi berjalan di belakangnya. Mereka keluar ruangan menuju lobby. Ilyas melajukan mobilnya menuju resto xx.


Di dalam perjalanan Kavin hanya bisa diam dan melipat kedua tangannya di dada. Apalagi Maysa membiarkan Santi duduk di depan di samping kursi kemudi.


Sampai di sana mereka berempat memesan makanan.


" Saya ambilkan Pak!" Santi mengambilkan sayur untuk Ilyas, Maysa hanya melihatnya saja.


Ilyas menatap Maysa dengan tatapan tidak enak. Ia takut Maysa salah paham.


" Ayo makan sayang." Ucap Maysa menyuapi Kavin.


" Saya permisi ke toilet dulu." Ucap Santi berlalu dari sana.


Muncul ide jahil di kepala Kavin. Ia mengeluarkan kecoak mainannya yang ia beli di sekolah tadi lalu tanpa kedua orang tuanya sadari, ia meletakkannya di atas piring Santi.


Santi yang baru kembali, duduk di kursinya. Saat ia menatap piringnya, ia nampak sangat terkejut.


" Ah kecoak... " Teriak Santi membuat pengunjung lain menatap ke arah mereka.


" Pak Ilyas ada kecoak di piringku." Santi menunjuk ke piring makanannya.


Ilyas menatap piring Santi, ia mengambil kecoak mainan itu lalu menatap tajam ke arah Kavin.


" Apa ini Kavin?"


Kavin menggelengkan kepalanya.


" Jangan berbohong pada Daddy! Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti ini? Apa ini yang Daddy ajarkan kepadamu? Minta maaf pada tante Santi, dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya." Ucap Ilyas penuh penekanan.


Kavin beringsut memeluk Maysa. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Maysa.


" Sayang minta maaf pada Aunti." Ucap Maysa. Kavin menggelengkan kepalanya.


" Kavin... " Tekan Ilyas.


Kavin tetap tidak bergeming membuat Ilyas merasa kesal.


" Kavin!!!" Bentak Ilyas membuat ketiga orang itu berjingkrak kaget.


Maysa merasa tidak terima Ilyas membentak Kavin, apalagi di depan umum seperti ini.


" Mas.. Mas membentak Kavin? Ini tempat umum Mas, kenapa hal sepele seperti ini di permasalahkan? Ini hanya kenakalan anak anak Mas, kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu." Ucap Maysa memeluk Kavin.


" Maysa ini masalah kesopanan, jangan membela putramu demi menutupi kesalahannya!" Ucap Ilyas.


" Kesopanan.. Jika nona Santi memiliki kesopanan, dia tidak akan merebut hakku untuk mengambilkan makanan untukmu. Dan jika dia punya kasih sayang, dia tidak akan membiarkanmu menuntut maaf dari putraku." Tekan Maysa menohok hati Santi.


" Ayo sayang kita pulang." Maysa menggendong Kavin.


" Oh ya... Kalau kau ingin mendengar kata maaf dari putraku, maka aku akan menggantikannya. Aku minta maaf atas nama putraku, tapi aku punya saran untukmu. Jadi wanita jangan terlalu lebay, hanya melihat kecoak mainan saja seperti melihat ular besar yang siap memangsamu nona Santi." Ucap Maysa sinis.


Maysa meninggalkan mereka berdua. Ilyas menarik kasar rambutnya. Ia segera mengejar Maysa keluar resto. Ilyas menghela nafasnya saat melihat Maysa masuk ke dalam taksi. Ia kembali ke dalam untuk membayar billnya.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2