
Tiba tiba...
" Aaaa." Teriak Maysa saat tubuhnya melayang.
" Turunin gue! Turunin gue sekarang juga Pak!" Pekik Maysa saat Ilyas menggendongnya menuju mobilnya.
" Turunin!" Ucap Maysa.
Ilyas menurunkan Maysa di jok mobilnya, ia langsung menutup pintunya dan berlari memutari mobil. Ilyas segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
" Hentikan mobilnya! Atau gue teriak biar bapak di kira penculik." Ancam Maysa.
" Lakukan saja!"
" Tolong... Tolong aku!!!" Teriak Maysa. Ilyas hanya tersenyum saja.
" Ah sial!!! Mobil ini pakai peredam suara." Umpat Maysa menarik kasar rambutnya.
" Aku akan lapor polisi!" Ucap Maysa mengambil ponsel di saku bajunya.
" Bukannya tadi kamu yang memberiku solusi seperti ini? Lalu kenapa sekarang kamu mau lapor polisi? Apa kau pikir polisi akan percaya dengan aduanmu?" Ilyas menatap sekilas ke arah Maysa, ia kembali fokus pada kemudinya.
" Bener bener terjebak gue." Gerutu Maysa.
Drt... Drt...
Ponsel Ilyas berdering tanda panggilan video masuk.
" Kavin." Gumam Ilyas.
Ilyas menepikan mobilnya lalu mengangkat panggilan dari Kavin.
" Halo sayang." Ucap Ilyas.
Huek... Huek..
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Ilyas menatap gambar Kavin yang sedang muntah muntah di atas ranjang.
" Daddy, Kavin tidak enak badan. Kavin muntah muntah Dad. Cepat pulang bersama mommy ya, Kavin tidak kuat lagi."
Blep...
" Kavin.. Kavin.. " Panggil Ilyas.
" Buruan jalankan mobilnya Pak! Kita harus sampai di rumah sebelum terjadi apa apa dengan Kavin." Ucap Maysa khawatir. Ilyas malah diam saja.
" Buruan Pak!" Teriak Maysa.
" Ah iya." Ilyas segera melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang.
'" Kau hebat sayang, kau bisa membuat mommymu langsung merespon tindakanmu, padahal ini tidak ada dalam skenario." Batin Ilyas tersenyum.
Sesampainya di rumah, Ilyas dan Maysa segera masuk ke dalam.
" Kavin.. Kavin." Panggil Ilyas. Tidak ada sahutan.
__ADS_1
" Pak mungkin Kavin di kamarnya." Ucap Maysa.
" Iya kau benar, ayo kita ke kamarnya!" Tanpa sadar Ilyas menarik tangan Maysa menaiki tangga menuju kamar Kavin yang terletak di sebelah kamarnya.
Ceklek...
" Kavin kamu dimana?" Ilyas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, namun Kavin tidak ada.
" Bukankah aku meminta Kavin untuk tetap di ranjang? Lalu kemana dia sekarang?" Tanya Ilyas dalam hatinya.
Maysa menuju kamar mandi yang terbuka, tiba tiba..
" Kavin." Teriak Maysa menghampiri tubuh Kavin yang tergeletak di bawah lantai.
Ilyas segera berlari menghampirinya.
" Astaga Kavin." Pekik Ilyas.
" Kavin bangun! Mommymu sudah ada di sini sayang." Ilyas menepuk pelan pipi Kavin. Kavin tidak bergeming.
" Pak segera bawa ke rumah sakit! Kavin pingsan Pak." Ujar Maysa.
" Pingsan?" Ilyas mengerutkan keningnya. Ia menatap Kavin dengan seksama.
" Kavin bangun! Daddy sudah berhasil membawa mommy kamu sayang, bangunlah! Jangan bercanda seperti ini! Daddy tidak suka." Ujar Ilyas.
" Buruan Pak bawa ke rumah sakit sebelum terlambat!" Ucap Maysa dengan nada tinggi.
" Jadi Kavin beneran pingsan?"
" Jadi Kavin beneran sakit? Dia tidak sedang berpura pura seperti yang aku perintahkan?" Batin Ilyas.
Saat Ilyas menatap ke tempat Kavin tiba tiba Kavin tidak ada. Ternyata Maysa sudah membopongnya ke mobil. Ilyas berlari menyusulnya.
" Aku saja yang mengemudi Pak, kondisimu sedang tidak baik baik saja. Lebih baik jaga Kavin di belakang." Ucap Maysa duduk di belakang kemudi.
" Baiklah." Sahut Ilyas.
Maysa segera melajukan mobilnya.
" Mau ke rumah sakit atau ke klinik Pak?" Tanya Maysa memastikan.
" Klinik spesialis anak saja yang ada di perempatan depan." Ujar Ilyas.
" Baik Pak." Sahut Maysa.
Sampai di klinik, Kavin segera di periksa oleh dokter spesialis anak.
" Bagaimana keadaan putra saya Dok?" Tanya Ilyas menatap dokter Sulis.
" Kadar asam lambung dalam tubuh putra anda meningkat tuan Ilyas. Sepertinya pola makan putra anda tidak teratur akhir akhir ini di tambah tekanan batin yang membuatnya stress. Itulah sebabnya ia muntah muntah, karena terlalu lama muntah menyebabkan putra anda pingsan." Terang dokter Sulis.
" Ya Tuhan putraku." Gumam Ilyas.
" Istirahat yang cukup, makan teratur dan jangan membuatnya banyak pikiran bisa memepercepat pemulihannya Tuan. Saya akan berikan obat dan vitamin untuknya. Setelah infusnya habis, anda bisa membawanya pulang. Suster akan memindahkannya ke ruang rawat." Ujar dokter Sulis.
__ADS_1
" Iya Dok terima kasih." Sahut Ilyas.
Ilyas menghampiri Kavin yang terbaring lemah di atas ranjang.
" Sayang maafkan Daddy." Ucap Ilyas menciumi pipi Kavin. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
Maysa yang melihatnya pun menjadi merasa bersalah. Secara tidak sengaja dialah faktor utama penyebab keadaan Kavin saat ini.
Maysa mendekat, saat ia hendak mengelus pipi Kavin, Ilyas menahan tangannya.
" Kau tidak mau menjadi ibunya Kavin kan? Sekarang pergilah! Aku berjanji padamu mulai sekarang aku tidak akan mengusik hidupmu lagi. Hiduplah dengan tenang tanpa adanya gangguan dari aku ataupun Kavin. Aku akan memberi pengertian pada Kavin kalau kau bukan ibunya." Ucap Ilyas
Entah mengapa ucapan Ilyas membuat hati Maysa mencelos. Bukankah ini yang ia inginkan? Tapi kenapa saat kesempatan itu datang, ia meras begitu berat menerimanya?
" Ya Tuhan apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya aku tidak rela pergi jauh dari kehidupan Kavin? Kenapa yang aku inginkan saat ini justru berbanding terbalik dengan yang aku inginkan tadi pagi? Sekarang aku justru ingin selalu menemani Kavin? Aku ingin menghiburnya dan menjadi teman bermainnya." Batin Maysa menurunkan tangannya.
" Kau benar, sepertinya aku harus menikah lagi supaya Kavin memiliki seorang ibu. Dengan begitu Kavin tidak akan merasa kesepian dan dia tidak akan mencarimu lagi. Terima kasih telah membuka hatiku, dan terima kasih untuk beberapa hari yang kau berikan kepada Kavin. Kavin sangat bahagia untuk itu. Jangan temui Kavin setelah ini supaya dia bisa melupakanmu! Aku akan meminta Bara untuk mengantarmu ke rumah dan aku akan menyuruhnya membawakan mobilmu ke rumah juga." Ucap Ilyas tanpa menatap Maysa.
Ada yang mengusik hati Maysa mendengar perkataan Ilyas. Entah kenapa dia sendiri tidak tahu.
" Pergilah sebelum Kavin bangun! Bara sudah menunggumu di depan." Sambung Ilyas.
Dengan berat hati, Maysa membalikkan badannya. Saat ia hendak melangkah tiba tiba tangan Kavin mencekalnya.
" Mommy jangan pergi lagi!"
Maysa menoleh ke belakang.
" Kavin."
Tanpa sadar Maysa memeluk tubuh Kavin.
" Kavin sayang, kamu sudah sadar." Ucap Maysa.
" Jangan tinggalkan Kavin lagi Mom." Ucap Kavin.
Maysa mengusap air mata di sudut matanya.
" Apa Mommy tahu? Kavin sangat kehilangan Mommy, Kavin sangat merindukan Mommy. Kavin rindu masakan Mommy, walaupun telur yang di masak Mommy terkadang keasinan tapi setidaknya itu membuat perut Kavin kenyang." Ucap Kavin.
Maysa melirik Ilyas yang menahan tawanya, Maysa mengerucutkan bibirnya.
" Mommy, Kavin anak nakal ya? Itu sebabnya Mommy tidak mau punya anak seperti Kavin. Kavin berjanji tidak akan nakal lagi! Kavin berjanji akan menurut sama Mommy. Kavin tidak akan mengejek rumah Mommy lagi. Apa Mommy mau menerima Kavin menjadi anak Mommy? Apa Mommy akan tetap bersama Kavin selamanya? Katakan Mommy! Jangan diam saja!" Ujar Kavin.
Maysa menatap Ilyas.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku menerima keinginan Kavin? Aku tidak pantas menjadi ibunya tapi aku juga tidak tega mematahkan hati dan keinginannya untuk tetap bersamaku. Aku harus jawab apa? "
Bantu jawab donk!
Author nanti like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...