
Aska baru saja keluar dari minimarket dengan menenteng dua plastik besar berisi makanan dan mainan untuk Kavin. Ia berjalan dengan tergesa menuju mobilnya karena sudah di tunggu Kavin tiba tiba...
Brugh....
Aska menabrak seorang gadis dengan keras hingga tubuh sang gadis terhuyung ke belakang. Aska segera menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya menabrak dada bidang Aska.
Dugh...
" Awh." Gadis itu mengusap keningnya yang terasa sakit.
" Ini dada apa cor coran ya, kok keras banget gini." Ucapnya sambil menekan nekan dada Aska.
Aska memejamkan matanya, gadis itu tidak tahu jika sentuhannya menimbulkan gelenyar aneh di hati Aska. Gadis itu mendongak lalu..
" Pak Aska." Ucapnya terkejut.
Aska menatap gadis itu, gadis berwajah cantik natural, bibir pink, body oke yang ternyata salah satu muridnya.
" Kamu Regata kan? Kelas dua belas IPA satu." Ucap Aska memastikan.
" Iya Pak, maaf telah menabrak Bapak." Ucap Regata, gadis cantik yang sering di sapa Rega.
" Tidak apa, saya juga minta maaf karena saya yang menabrakmu." Sahut Aska.
" Bapak memborong mainan anak kecil, apa Bapak sudah punya anak?" Tanya Rega menatap kantong plastik yang berisi berbagai mainan.
" Ah bukan, saya belum menikah. Ini untuk keponakan saya." Sahut Aska.
" Owh, pasti keponakan Bapak cowok." Tebak Rega.
" Darimana kamu tahu?" Tanya Aska menatapnya.
" Di lihat dari mainan yang Bapak beli, itu ada mobil mobilan, ada robot juga. Nggak mungkin kan kalau keponakan Bapak perempuan Bapak beliin itu." Ujar Rega.
" Bisa saja, kalau anaknya tomboi pasti mainannya seperti laki laki." Sahut Aska.
" Bapak bisa aja, ya sudah Pak saya permisi dulu. Saya buru buru karena sedang ada urusan." Ucap Rega.
" Mau kemana?" Tanya Aska. Entah mengapa ia ingin tahu.
" Mau ke rumah sakit Pak, ibu saya sedang di rawat di sana." Sahut Rega.
" Ibu kamu sakit? Kalau begitu ayo saya antar! Sekalian saya menengok ibu kamu." Ujar Aska.
__ADS_1
" Tidak Pak terima kasih, saya tidak mau merepotkan Bapak. Minta doanya saja untuk kesembuhan ibu saya." Sahut Rega.
" Saya punya niat baik untuk menjenguk ibu kamu lhoh, kenapa kamu menolaknya? Saya juga tidak merasa di repotkan. Ayo aku antar!" Ucap Aska.
Rega nampak sedikit berpikir.
" Baiklah Pak, sebelumnya saya ucapkan terima kasih." Ucap Rega.
Aska membukakan pintu mobil untuk Rega, setelah mereka masuk ke dalam, Aska melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana ibu Rega di rawat.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Mereka berdua segera menuju ruang rawat kelas tiga dimana satu ruangan di huni oleh lima orang.
Aska mengerutkan keningnya, ia merasa heran bagaimana mereka semua bisa tinggal dalam satu ruangan. Bukankah mereka akan ketularan penyakit satu sama lain? Pikir Aska.
" Silahkan masuk Pak!" Ucap Rega menatap Aska yang malah bengong.
" Ah iya." Sahut Aska.
Rega dan Aksa mendekati ranjang ibu Norma, ibu Rega. Nampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik terbaring lemah di atas ranjang.
" Bu, kenalkan ini Pak Aska. Guru matematika di sekolah Rega." Ucap Rega kepada ibunya.
Bu Norma menatap Aska.
" Siang Bu, kenalkan saya Aska. Saya turut prihatin dengan musibah yang menimpa ibu saat ini. Saya doakan semoga Tuhan segera mengangkat penyakit ibu sehingga ibu bisa beraktifitas seperti biasa." Ucap Aska sopan.
" Silahkan duduk Pak!" Rega mempersilahkan Aska duduk di kursi samping ranjang.
" Terima kasih." Sahut Aska.
Tak lama Rega di panggil oleh suster. Rega segera menuju ruangan dokter Arga yang menangani ibunya.
" Selamat siang Dok." Sapa Rega.
" Siang nona Regata, silahkan duduk!" Ucap dokter.
Rega duduk di depan dokter Arga yang terhalang oleh meja.
" Begini nona Regata, setelah di lakukan beberapa pemeriksaan ternyata ibu anda mengidap kanker usus."
" Apa Dok? Kanker usus?" Rega nampak syok dan terkejut.
" Iya Nona, sebelum virus kankernya menyebar kemana mana, saya sarankan ibu anda untuk segera di operasi. Jika anda setuju segera urus administrasi dan tanda tangani surat persetujuannya." Ucap dokter Arga.
__ADS_1
Regata nampak murung, ia memikirkan biaya operasinya. Ia bukan orang bodoh, ia tahu betapa mahalnya biaya operasi. Boro boro puluhan juta, seratus ribu saja Rega tidak punya. Ia hanya bisa mengandalkan uang gajinya bekerja di cafe untuk pengobatan ibunya. Bahkan kemarin Rega sudah meminta pinjaman kepada bosnya. Rega menghela nafasnya pelan, ia berdoa semoga ada orang baik yang mau menolongnya.
" Bagaimana nona Regata? Apa anda menyetujuinya?" Tanya dokter Arga.
" Saya pikir pikir dulu Dok, kalau saya sih setuju setuju saja, tapi saya terkendala dengan biayanya yang tidak sedikit." Ucap Regata meninggalkan ruangan dokter Arga.
Saat ia membuka pintu yang tidak tertutup rapat, ia melihat Aska yang berdiri mematung di sana.
" Pak Aska, ngapain Bapak di sini?" Tanya Rega tersenyum indah.
" Kau pintar menyembunyikan kesedihanmu Rega, bahkan kau bisa tersenyum di saat pikiran dan hatimu kalut." Batin Aska.
" Pak." Panggil Rega.
" Ah saya mau pamit sama kamu, keponakan saya sudah menunggu di rumah." Ucap Aska.
" Oh silahkan Pak, terima kasih telah menjenguk ibu saya." Ucap Rega.
" Rega." Ucap Aska.
" Ya." Sahutnya.
" Maaf tadi saya mendengar masalah operasi ibu kamu, dan saya juga mendengar kalau kamu mengatakan ketiadaan biayanya. Bolehkah saya membantumu?" Pertanyaan Aska membuat Rega terkejut.
" Membantu? Apa Bapak mau meminjamkan uang kepada saya?" Tanya Rega memastikan.
" Ya, saya akan membayar biaya operasi dan perawatan ibu kamu. Kamu bisa menganggapnya hutang dan bisa membayarnya kapan pun." Sahut Aska.
" Be.. Benarkah Pak?" Tanya Rega memastikan. Ia menatap Aska dengan mata berbinar.
" Iya." Sahut Aska.
" Tapi sampai kapan aku bisa melunasi hutang ku pada Bapak? Paling aku bisa mencicilnya tiga ratus ribu per bulan." Ujar Rega.
" Tidak masalah, saya akan memberikan kamu waktu berapa banyak yang kau butuhkan." Ujar Aska.
Aska tahu orang seperti Rega tidak akan mau jika di beri dengan cuma cuma. Ia tidak mau melukai harga diri Rega, itu sebabnya ia membiarkan Rega menganggapnya sebagai pinjaman.
" Baiklah Pak saya mau, saya akan bekerja lebih giat setelah saya tamat sekolah. Terima kasih banyak karena telah sudi membantu saya." Ucap Rega.
" Sama sama." Sahut Aska.
Setelah itu Aska dan Regata kembali menemui dokter Arga. Aska membayar lunas semua biaya rumah sakit ibunya Rega. Satu jam kemudian di lakukan operasi kepada ibu Norma. Regata menunggunya di depan tuang operasi sedangkan Aska pulang ke rumah karena sudah di telepon Kavin.
__ADS_1
" Terima kasih ya Tuhan, Kau telah mengirimkan orang baik untukku tanpa melukai harga diriku. Pak Aska bagaikan malaikat untukku. Semoga aku bisa melunasi smeua hutang hutang ku padaku." Gumam Rega.
TBC...