
Setelah Aska dan nyonya Alexa pergi, Ercha mendekati Aksa yang duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan Aksa sambil menatap wajahnya.
" Aku minta maaf Mas." Ucap Ercha.
Aksa tersenyum menatap Ercha.
" Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah sayang." Ujar Aksa.
" Aku salah karena telah membuat kalian bersedih. Niatku tadi hanya bercanda saja tapi aku tidak menyangka jika endingnya akan seperti ini. Aku menyesal Mas." Ucap Ercha.
" Tidak apa apa, kamu juga berhak tahu siapa aku. Aku tidak mau ada rahasia di antar hubungan kita. Kemarin aku sempat membohongimu, sekarang tidak lagi." Ujar Aksa.
" Terima kasih Mas." Ucap Ercha.
" Oh ya besok pagi papa mau ke sini mengunjungi kita. Saat pernikahan papa tidak bisa datang karena ada client penting menawarkan kerja sama, dan hal papa tidak bisa meninggalkannya karena banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan papa. Aku harap kamu bisa memahami akan hal ini." Ujar Aksa merapikan anak rambut Ercha membuat Ercha tersipu malu.
" Aku bisa memahaminya Mas." Sahut Ercha.
" Kamu cantik." Ucap Aksa.
" Apa sih Mas." Ucap Ercha.
" Ya kamu sangat cantik, apalagi waktu kamu memanggil namaku saat itu." Ucap Aksa mengerlingkan sebelah matanya.
" Eh mana ada? Yang ada kamu yang memanggilku namaku." Sahut Ercha.
" Aku mendengarnya dengan jelas Ercha, apa kau lupa kalau aku tidak mabuk saat itu? Aku sadar sepenuhnya sayang." Ucap Aksa.
Ercha beranjak dari duduknya, tiba tiba ia mendorong tubuh Aksa hingga terjerembab ke ranjang. Ercha mengukung Aksa dengan menopang tubuhnya pada kedua tangannya.
" Ma.. Mau apa?" Tanya Aksa gugup.
" Mau mengulang malam itu." Sahut Ercha mengelus pipi Aksa.
Aksa memejamkan matanya, ada gelenyar aneh dalam hatinya.
" Mas Aksa yang tampan paripurna, kenapa malah memejamkan mata? Lihat aku donk sini!" Ucap Ercha dengan nada menggoda.
Aksa membuka matanya, mereka saling menatap mata untuk beberapa saat membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang seperti genderang mau perang.
" Ya Tuhan jantung gue... Kenapa bisa berdetak sangat kencang gini? Dulu sama Samuel rasanya nggak seperti ini. Apa gue jatuh hati sama Mas Aksa ya? Atau malah gue kena penyakit jantung? Oh no... Gue tidak mau sampai itu terjadi, bisa bisa gue mati muda karena penyakit itu." Ujar Ercha dalam hati.
" Jantungku seperti mau lepas dari tempatnya. Sungguh indah ciptaanMu ya Rob. Aku tidak menyangka akan mendapat pasangan hidup secantik ini. Walaupun sikapnya bar bar tapi aku yakin kalau dia punya sikap penyayang yang besar. Semoga aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku dan semoga aku bisa menjadi imam yang baik untuknya. Aku mencintaimu istriku."
" Apa? Cinta? Benarkah aku sudah mencintainya? Kenapa secepat ini? Apa mungkin karena aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita selama ini sehingga hati ini cepat melabuhkan cintanya kepada Ercha." Batin Aksa.
Tanpa sadar Ercha mengelus pipi mulus Aksa. Setelah itu jari lentiknya turun ke bibir Aksa yang manis. Tiba tiba...
" Awh." Pekik Ercha saat Aksa menggigit jarinya.
" Nakal kamu ya Mas." Ucap Ercha menepuk pipi Aksa.
" Wah kamu melakukan kdrt sayang." Ucap Aksa.
Ercha bangkit dari tubuh Aksa. Ia duduk di tepi ranjang sambil memukul pelan kepalanya. Ia merutuki kebodohannya yang mengagumi ketampanan Aksa.
" Kenapa? Jangan di pukul begitu nanti sakit." Ucap Aksa menangkap tangan Ercha.
" Nggak apa apa, lagian nggak sakit kok." Sahut Ercha.
" Tetap aja nggak boleh, aku tidak mau sampai kamu terluka walaupun sedikit pun sayang." Ujar Aksa.
" Sayang? Dari tadi sayang, sayang mulu. Emang kamu beneran sayang sama aku?"
__ADS_1
" Ehh... " Aksa menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan Ercha. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
" Kok nggak di jawab?" Tanya Ercha menaik turunkan alisnya.
" Emmm... Aku tidak tahu jawabannya." Sahut Aksa asal.
" Apa???" Pekik Ercha sambil berkacak pinggang.
" Terus kenapa kamu panggil panggil aku sayang kalau bukan karena isi hatimu Mas? Atau jangan jangan setiap wanita kau panggil sayang? Begitu kan?" Selidik Ercha.
" Enggak sayang... "
" Tuh kan sayang lagi." Ujar Ercha.
Aksa menghela nafasnya pelan. Ia menggenggam tangan Ercha lalu menatapnya.
" Iya deh aku akui kalau aku mulai ada rasa denganmu. Aku mulai menyayangimu, aku mencintainu, apalagi sejak kita ehm." Ucap Aksa malu malu.
Ercha nampak menganggukkan kepalanya.
" Kalau kamu gimana?" Tanya Aksa membuat Ercha terkejut.
" Aku tidak tahu." Sahut Ercha menggelengkan kepalanya.
" Kok tidak tahu? Katakan saja apa yang kau rasakan saat ini!" Ujar Aksa.
" Yang aku rasakan saat ini adalah... " Ercha menjeda ucapannya.
" Apa?" Tanya Aksa.
" Aku lapar." Ucap Ercha.
" Astaga!" Aksa menepuk jidatnya sendiri.
Aksa dan Ercha masuk ke dapur, dengan telaten Aksa mengambilkan makanan untuk Ercha.
" Terima kasih." Ucap Ercha di balas anggukkan kepala oleh Aksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini saat sarapan bersama, keluarga Wilson kedatangan tuan Arian. Sekilas tentang tuan Arian. Ia adalah mantan suami dari nyonya Alexa. Setelah berpisah dari nyonya Alexa, ia menikah lagi. Istrinya meninggal saat melahirkan Aksa, itulah sebanya ia memberikan Aksa kepada nyonya Alexa yang saat itu juga melahirkan Aska.
Dengan kepintaran dan koneksi yang kuat, mereka membuat identiras Aksa dan Aska sebagai saudara kembar. Mereka pikir Aksa tidak akan pernah menyadarinya karena nyonya Alexa dan tuan Frans menjaganya sama seperti mereka menjaga Aska. Tapi siapa sangka Aksa berhasil menemukan identitas yang sebenarnya.
" Selamat pagi semua." Sapa tuan Arian.
" Papa." Ucap Aksa dan Aska bersamaan.
Mereka beranjak dari tempat duduk lalu memeluk papa tercinta.
" Kami kangen banget sama Papa." Ucap keduanya bersamaan.
" Papa juga kangen sama kalian berdua, jagoan jagoan Papa yang sekarang telah berubah status menjadi suami." Ucap tuan Arian.
" Maafkan Papa yang tidak bisa hadir di acara penting kalian berdua. Kalian melangsungkan pernikahan dengan mendadak di saat jadwal Papa sangat padat." Sambung tuan Arian.
" Tidak apa apa yang penting Papa sudah memberikan restu Papa untuk kami. Sekarang Papa pulang setelah punya waktu senggang kan." Ujar Aska.
" Kamu sudah terlihat dewasa sekarang, apa sikap jahilmu masih kamu simpan sampai sekarang?" Tanya tuan Arian menatap Aska.
" Masih lah Pa, kalau tidak jahil itu Aksa namanya." Sahut Aska.
" Kau benar. Kau memang selalu bisa menjawab ucapan Papa dari dulu." Sahut tuan Arian mencubit pelan hidung Aska.
__ADS_1
Ya.. Dari kecil memang Aska lah yang lebih dekat dengan tuan Arian. Karena Aksa lebih tertutup pada semua orang kecuali maminya.
Tuan Arian menatap Ilyas yang saat ini sedang menatap ketiganya.
" Itu Aksa?" Tanya tuan Arian menunjuk Ilyas.
" Iya Mas, dia Aksa. Aksa kita bertiga yang sekarang menjadi Ilyas. Ilyas lambyyan." Sahut nyonya Alexa.
" Ilyas, kenalkan dia Papa Arian. Papa kamu juga." Ucap nyonya Alexa.
" Halo Pa." Sapa Ilyas berdiri.
Tuan Arian berjalan mendekati Ilyas sambil terus menatapnya. Memori dalam ingatannya kembali pada beberapa puluh tahun silam dimana tuan Arian dan istrinya membawa Ilyas berlibur ke pantai hingga menyebabkan Ilyas terhanyut ombak dan hilang selama puluhan tahun. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.
Ilyas menatap tuan Arian dengan heran, tiba tiba..
Grep...
" Aksa." Ucap tuan Arian memeluk Ilyas.
" Papa sangat bahagia akhirnya setelah puluhan tahun Papa bisa bertemu denganmu kembali Nak. Kalau saja mamamu masih hidup, pasti mamamu juga sangat bahagia. Mamamu sangat menyayangimu sayang, mamamu sangat kehilanganmu waktu itu." Ucap tuan Arian.
" Iya Pa." Sahut Ilyas merasa bingung dengan situasi ini.
" Kamu sangat tampan seperti papimu Nak." Ucap tuan Arian menangkup kedua pipi Ilyas.
" Terima kasih Pa." Sahut Ilyas.
" Aku tidak menyangka putraku kembali Alexa." Ucap tuan Arian menatap nyonya Alexa.
" Aku juga Mas." Sahut nyonya Alexa.
" Oh ya Maysa, Rega dan Ercha, kenalkan dia papa Arian, teman Mami sama Papi sekaligus papanya suami kalian. Kami membesarkan suami kalian bersama sama." Ucap nyonya Alexa.
" Hai Pa." Sapa ketiganya.
Tuan Arian menatap ketiganya bergantian.
" Halo menantuku yang sangat cantik cantik. Ternyata ketiga putraku pintar memilih seorang istri." Ucap tuan Arian sambil tersenyum.
" Harus donk Pa. Kalian saja pintar cari pasangan apalagi kami. Tuh bang Ilyas yang menang banyak, duda dapat gadis. Masih muda lagi." Sahut Aska.
" Istrimu juga masih muda." Ujar tuan Arian.
" Beda Pa, aku kan masih single saat menikah kalau bang Ilyas kan udah punya bontot." Ujar Aska.
" Iri aja lo." Cebik Ilyas.
" Ngapain gue iri? Gue juga dapat yang masih muda, ya nggak sayang." Ucap Aska menatap Rega. Tega tersenyum malu menatap Aska.
" Ya sudah kita lanjutkan nanti ngobrolnya, sekarang kita lanjutin makan dulu." Ujar tuan Frans.
Mereka semua melanjutkan makannya. Saat Maysa hendak menyuapkan makanannya, tiba tiba....
Tiba tiba apa hayo....
Maaf kemarin tidak up date karena author sibuk. Maklumlah mau lebaran...
Tapi tetap dukung karya author ya...
Miss u all...
TBC....
__ADS_1