
Sampai di rumah, Maysa segera mengganti bajunya dengan kaos, ia juga mengganti baju Kavin dengan baju rumahan.
" Mommy mau memasak dulu ya, kamu masih lapar kan?" Tanya Masa menatap Kavin.
" Iya Mom, Kavin mau makan omlete buatan Mommy." Sahut Kavin.
" Baiklah, Mommy ke dapur dulu kamu di sini saja! Oke?" Maysa mengacungkan jarinya menandakan oke.
" Oke Mom." Kavin membalasnya.
Maysa turun ke bawah, ia segera membuat omlete untuk Kavin. Membutuhkan waktu lima belas menit sampai omlete yang Maysa buat matang.
" Selesai, sekarang tinggal panggil Kavin." Maysa kembali ke kamarnya untuk memanggil Kavin.
" Lhoh kemana Kavin? Kenapa dia tidak ada di kamar?" Gumam Maysa mencari Kavin.
" Oh mungkin di kamarnya." Maysa menuju kamar Kavin, ia masuk ke dalam namun kosong.
" Astaga dimana Kavin?" Maysa nampak berpikir.
" Ruang bermain." Maysa menuju ruang bermain, namun sama. Kavin juga tidak ada di sana. Hal itu membuat Maysa semakin panik.
" Kavin... Kavin.. " Panggil Maysa mencari Kavin di seluruh rumah.
" Ya Tuhan kemana Kavin?" Maysa mengacak rambutnya.
Saat Maysa melewati ruang tamu, ia melihat ada kotak berukuran sedang. Kalau di lihat mirip kotak kue. Maysa segera membukanya.
" Ada kue, siapa yang memberi ya? Apa mungkin ada orang yang ke sini? Atau jangan jangan Kavin di culik, penculiknya nyamar jadi tukang roti. Astaga.... Kavin... Kalau sampai itu terjadi, mati aku di tangan Mas Ilyas." Maysa semakin panik dengan pemikirannya.
Maysa segera keluar rumah mencari Kavin.
" Kavin... Kavin... " Teriak Maysa memanggil Kavin.
Pak satpam yang mendengarnya segera menghampiri Maysa.
" Nona mencari den Kavin?" Tanyanya.
" Iya Pak, apa bapak melihatnya?" Tanya Maysa.
" Den Kavin main ke rumah tetangga baru Nona, tadi beliau mengantar kue sebagai salam perkenalan tapi sepertinya den Kavin suka sama orang itu. Jadi den Kavin ikut ke rumahnya."
" Tetangga baru rumah sebelah?" Tanya Maysa memastikan.
" Astaga kenapa pak satpam membiarkan Kavin bersama orang asing? Kalau dia orang jahat gimana? Kalau ternyata dia pedofil gimana? Apa pak satpam mau tanggung jawab? Kalau nanti Kavin kenapa napa aku akan tuntut pak satpam." Sungut Maysa.
Maysa berjalan menuju rumah sebelah.
" Kavin." Panggil Maysa masuk ke rumah tetangga sebelah untuk mencari Kavin. Ia seperti tamu yang tidak punya sopan santun.
" Kavin." Maysa menghampiri Kavin yang sedang bermain dengan dua orang pria yang saat ini memunggunginya.
" Kavin ayo kita pulang, kenapa kamu pergi dari rumah? Kalau mereka orang jahat bagaimana? Kalau nanti kamu di apa apain sama mereka gimana?" Celoteh Maysa.
Kedua pria itu membalikkan badannya menatap Maysa.
" Maysa."
" Pak Aska." Ucap Maysa dan Aska bersamaan.
__ADS_1
Aska terpesona melihat penampilan Maysa, pasalnya saat ini Maysa memakai kaos oblong dan hotpants di atas lutut membuat kulit putihnya terekspos.
" Astaga cantiknya. Apa kabar jantungku yang berdebar debar seperti ini? Ya Tuhan... bisa bisa aku terserang penyakit jantung kalau terus terusan seperti ini." Batin Aska.
" Bapak tinggal di sini? Bapak tetangga baruku itu?" Tanya Maysa menatap Aska.
" Iya. Saya tidak menyangka kalau ternyata kita tetanggaan." Sahut Aska.
" Oh ya kenalkan saudara kembar saya, Aksa." Ucap Aska menunjuk Aksa.
" Halo nona, perkenalkan saya Aksa." Ucap Aksa menatap Maysa.
" Hmm." Gumam Maysa membuat Aksa melongo. Selama ini tidak ada gadis yang bersikap dingin padanya.
" Astaga dingin sekali, membuatku penasaran saja." Batin Aksa.
" Kavin ayo pulang!" Ajak Maysa.
" Bentar Mommy, Kavin masih mau main sama om papi." Sahut Kavin.
" Mommy?"
" Om papi?"
Keduanya menatap Kavin sambil mengerutkan keningnya. Setelah itu keduanya saling melempar pandangan.
" Iya Om papi, ini mommy Kavin. Namanya Mommy Maysa dan Mommy, ini Om papi. Lihat saja wajahnya sangat mirip dengan daddy kan?" Ujar Kavin menatap keduanya bergantian.
Maysa mengangguk anggukkan kepala. Sedangkan Aska menatap Maysa tak percaya.
" Ya Tuhan... Ternyata dia istri orang. Ibarat kata belum juga mencoba dekat sudah di tendang duluan. Kau memberikan rasa ini tapi Kau juga yang menghancurkan hati ini." Teriak Aska dalam hati.
" Aku yakin bang Aska pasti menyukai Maysa. Tadi dia cerita tentang gadis yang mencuri hatinya saat dia mengawasi ujian di ruang c, aku yakin gadis itu pasti Maysa." Batin Aksa.
" Ya sudah sekarang kita pulang, Mommy sudah membuatkan omelete sesuai keinginanmu." Ucap Maysa.
" Tapi Kavin masih pengin main sama Om sama Om papi. Mommy bawa ke sini aja ya omeletenya. Kavin akan makan di sini." Ujar Kavin.
" Tidak bisa Kavin, om omnya mau istirahat, mereka capek baru pulang kerja. Mainnya lain kali saja ya." Ujar Maysa.
" Tidak masalah May, kami suka kok bermain dengan Kavin. Biarkan dia tinggal di sini dulu! Kau bisa menjemputnya nanti sore." Ujar Aska.
" Tidak Pak terima kasih, itu akan sangat merepotkan kalian." Sahut Maysa.
" Kami tidak repot kok, lagian dia bosan bermain sama mommynya terus, dia juga ingin bermain bersama kami para laki laki. Kau tenang saja! Kami tidak jahat kok, kami selalu menjaga tata susila kepada sesama." Ucap Aksa.
" Boleh ya Mom?" Tanya Kavin menatap Maysa. Maysa menghela nafasnya pelan, Maysa nampak sedang berpikir antara mengijinkan atau tidak. Tapi melihat Kavin ia jadi tidak tega.
" Baiklah, Mommy ijinkan kamu bermain di sini, tapi kau tidak boleh nakal! Jangan menyusahkan orang lain! Apa kau mengerti?" Maysa menatap Kavin.
" Iya Mom, Kavin janji tidak akan nakal." Sahut Kavin.
" Mommy ambilkan makanan dulu." Ucap Maysa keluar dari rumah Aska.
Aska menatap kepergiannya dengan tatapan entah.
" Tidak perlu di sesali, mungkin memang belum jodohnya." Ucap Aksa membuat Aska menoleh ke arahnya.
" Ngomong apa sih kamu." Ucap Aska terkekeh.
__ADS_1
" Aku tahu apa yang kamu rasakan Bang, lupakan perasaan itu karena aku tidak mau abangku jadi seorang pebinor." Ujar Aksa menggoda Aska.
" Udah ah nggak usah ngledek gitu." Ucap Aska.
" Om papi ayo main lagi." Ucap Kavin memainkan mobil mobilan dan robotnya
Maysa masuk ke dalam rumahnya, ia terkejut melihat Ilyas yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Mungkin Ilyas menunggunya, pikir Maysa.
" Darimana kamu? Dimana Kavin?" Tanya Ilyas mendekati Maysa.
" Ada di rumah sebelah, dia sedang bermain bersama tetangga baru kita." Sahut Maysa.
" Maksudmu tetangga baru kita punya anak seusia Kavin?" Tanya Ilyas memastikan.
" Tidak... Kavin bermain dengan pak Aska dan Aksa." Ujar Maysa.
" Mereka sudah dewasa? Kenapa kau membiarkan Kavin bermain dengan mereka? Kalau mereka orang jahat gimana?" Ujar Ilyas menatap Maysa.
" Mereka bukan orang jahat, mereka guru baru di sekolahku. Yang satu jadi guru yang satu bekerja di bagian tata usaha." Ujar Maysa.
" Apa mereka tampan?"
Maysa mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Ilyas. Maysa paham dengan apa yang di pikirkan Ilyas.
" Sangat tampan." Sahut Maysa membuat Ilyas melongo.
" Dan masih muda." Sambung Maysa berlalu dari sana. Ia berjalan menuju dapur.
" Maysa, Mas tidak mau kamu dan Kavin dekat dekat dengan mereka." Ucap Ilyas mengikuti Maysa dari belakang.
" Kenapa? Mereka orang baik kok. Lagian sesama tetangga kita harus saling menghormati dan kedekatan di butuhkan di sini Mas." Ujar Maysa mengambil omelete dari teflon.
" Pokoknya Mas tidak suka. Selama ini Kavin tidak pernah bergaul dengan orang luar, jadi Mas khawatir kalau dia tidak bisa menyesuaikan diri." Ujar Ilyas.
" Kata siapa? Kavin suka bermain dengan mereka. Buktinya Kavin tidak mau di ajak pulang. Selama tidak berbahaya maka biarkan saja dia bermain Mas." Ucap Maysa.
" Tapi tidak bermain dengan orang dewasa juga Maysa. Nanti dia akan tercuci otaknya dengan hal hal dewasa." Ujar Ilyas.
" Hal hal dewasa gimana? Orang mereka main mobil mobilan, robot robotan. Mereka nggak ajari yang aneh aneh, apalagi mereka seorang guru. Aku yakin mereka punya kesopanan penuh untuk hal itu Mas." Bantah Maysa.
Maysa tidak tahu jika semua bantahannya membuat Ilyas menjadi emosi. Ia cemburu dengan apa yang di lakukan Maysa yang seolah membela tetangga barunya itu.
Maysa berlalu dari sana sambil membawa piring makanannya.
" Mau kemana?" Tanya Ilyas mencekal tangan Maysa.
" Mau menyuapi Kavin lah Mas." Sahut Maysa.
" Tidak bisa! Suruh Kavin pulang sekarang juga!" Ucap Ilyas tegas.
" Dia nggak mau." Sahut Maysa.
" Pokoknya harus mau! Kau harus membawa Kavin pulang saat ini juga." Ucap Ilyas penuh penekanan.
" Kamu itu kenapa sih Mas? Tadi ngebentak Kavin sekarang bersikap menjengkelkan seperti ini. Kau bersikap seperti cewek lagi PMS aja, berubah ubah moodnya. Udah ah, Kavin sudah menungguku. Kasihan dia kelaparan karena tadi Mas membentaknya." Ujar Maysa berlalu dari sana.
" Maysaaaaa.... " Geram Ilyas mengepalkan erat tangannya.
TBC....
__ADS_1