
Pagi ini keluarga Ilyas berkumpul di ruang rawat Kavin. Ada Aska, Aksa, nyonya Alexa, tuan Frans, tuan dan nyonya Lambyyan dan juga kedua orang tua Maysa. Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu, ada juga yang berdiri mengerubungi Kavin untuk sekedar bercanda bersama. Mereka nampak mengkhawatirkan keadaan Kavin dan ingin tahu perkembangannya.
" Cucu Oma ternyata sudah besar ya, udah lama kita tidak bertemu dan bermain bareng. Oma kangen banget sama kamu sayang." Ucap nyonya Lambyyan mencium wajah Kavin.
" Oma Kavin nggak mau di cium! " Kavin mengusap pipinya bekas ciuman omanya membuat semuanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
" Kavin bukan anak kecil lagi karena sebentar lagi Kavin mau jadi abang." Sambung Kavin sontak membuat semua orang menatap Maysa yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Sadar menjadi perhatian, Maysa mengalihkan pandangannya. Ia mendongak menatap semua orang secara bergantian.
" Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Tanya Maysa tidak paham dengan situasi saat ini.
" Kavin bilang dia akan menjadi abang, apa kau sedang hamil Maysa?" Tanya nyonya Lambyyan.
Maysa mengerutkan keningnya, ia menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya.
" Belum Ma, tapi Kavin memang selalu berbicara seperti itu. Dia sudah ingin mempunyai adik seperti teman temannya katanya." Sahut Maysa membuat semua orang nampak kecewa.
" Bhy the way kalian sudah melakukannya belum? Kalau belum kapan Kavin akan mempunyai adik." Ujar Aska mendapat pelototan dari Ilyas.
" Lo itu apa apaan Bang, jangan menggoda mereka lah! Gue lihat sepertinya situasinya sedang dingin, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda." Ujar Aksa.
" Benarkah?" Aska menatap mereka berdua bergantian.
Ya walaupun mereka duduk berdampingan tapi mereka tidak saling bicara seperti biasanya.
" Apa kalian bertengkar karena keadaan Kavin sekarang?" Selidik Aska.
" Sedikit." Ucap Ilyas membuat semuanya melongo.
" Gue yakin lo pasti menyalahkan Maysa atas apa yang terjadi pada Kavin saat ini." Tebak Aska.
Ilyas hanya diam saja, ia tidak mampu menjawab apa apa karena memang itu kebenarannya.
__ADS_1
" Benar kan Bang?" Tanya Aska memastikan. Ilyas menganggukkan kepalanya.
" Kenapa lo mesti menyalahkan Maysa Bang? Bukan hanya Maysa yang bertanggung jawab atas Kavin tapi lo juga Bang. Gue yakin Maysa sudah berusaha menjaga Kavin dengan baik, tapi jika yang terjadi seperti sekarang ini itu namanya musibah. Lo nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kalau lo nyalahin Maysa, terus dimana kesalahan lo Bang? Kavin juga anak lo, lo juga harus menjaganya Bang bukan malah menyudutkan Maysa." Ucap Aska menyudutkan Ilyas.
Ilyas semakin merasa bersalah pada Maysa. Ia menatap Maysa namun Maysa memalingkan wajahnya menatap Aska.
" Maafkan aku!" Ucap Ilyas.
" Kalau gue jadi Maysa, gue tidak akan maafin lo Bang. Gue bakal ninggalin lo sendirian biar lo tahu bagaimana rasanya tidak ada orang yang mendukung lo saat lo butuh dukungan seperti yang lo lakuin pada Maysa. Gue yakin Maysa pasti sangat mencemaskan kondisi Kavin terus tiba tiba lo marah marah padanya dan menyudutkannya. Nangis kalau gue Bang, gue langsung otw pulang ke rumah." Ucap Aska. Ilyas sedikit terkejut dengan ucapan Aska. Ia kembali menatap Maysa.
" Jangan gitu lah Bang! Lo malah jadi kompor buat Maysa. Mereka kan suami istri jadi sudah sewajarnya mereka saling memaafkan, walaupun memang Bang Ilyas yang salah tapi Maysa tidak boleh egois. Kalau mereka berantem yang ada kasihan Kavin, Kavin tidak akan senang berada dalam kondisi perang dingin. Bisa bisa pikirannya terbebani akan hal ini." Ujar Aksa.
" Sudah sudah hentikan semua ini! Kenapa malah kalian yang berdebat di sini? Mereka berdua sudah dewasa, mereka bisa memutuskan mana yang baik dan buruk untuk keluarga mereka. Biarkan mereka mengambil keputusan sendiri!" Ujar nyonya Alexa mencoba menghentikan perdebatan di antara kedua putranya itu.
" Maaf Mi." Ucap Aska dan Aksa bersamaan.
Mereka kembali bermain main dengan Kavin, setelah hari berubah menjadi siang, mereka semua pamit pulang. Kini tinggal Ilyas, Maysa dan Kavin saja.
Nampak Ilyas sedang menidurkan Kavin, sedangkan Maysa duduk di sofa memainkan ponselnya.
Ponsel Maysa berdering tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya setelah tahu siapa yang meneleponnya.
" Halo."
" Maysa ini Om Hendra, Om hanya mau mengabarkan jika saat ini Satya berada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan hingga membuatnya mengalami koma. Dokter menyarankan untuk mendatangkan seseorang yang di harapkan Satya saat ini. Dan Om yakin jika kamu lah satu satunya orang yang Satya harapkan kehadirannya. Om minta bantuanmu Maysa, tolong bantu Om untuk membuat Satya sadar seperti sedia kala. Beri pengertian pada suamimu agar dia mau mengizinkanmu." Ujar tuan Hendra salah satu paman dari Satya.
Maysa menatap Ilyas begitupun sebaliknya.
" Maaf Om, aku tidak bisa ke sana sekarang karena saat ini putraku juga sedang di rawat di rumah sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya Om." Sahut Maysa.
Terdengar tuan Hendra menghela nafasnya pelan.
" Baiklah tidak apa apa, kau bisa kemari setelah putramu sembuh nanti. Ajak juga putramu ke sini, Om ingin berkenalan dengannya." Ujar tuan Hendra.
__ADS_1
" Jika suamiku mengijinkan aku akan membawanya ke sana tapi kalau tidak, maaf Om. Aku tidak berhak mengambil keputusan untuk putraku." Ucap Maysa.
" Baiklah Om bisa memahaminya, terima kasih sebelumnya Maysa. Sampai berjumpa nanti." Ucap tuan Hendra menutup sambungan teleponnya.
" Siapa sayang?" Tanya Ilyas mendekati Maysa. Ia duduk di samping Maysa sambil terus menatapnya.
" Om Hendra, Omnya Satya. Dia memberi kabar kalau Satya kecelakaan dan dia memintaku untuk membantunya menyadarkan Satya dari komanya. Sebagai sesama aku ingin membantunya sebisaku, dan aku harap Mas tidak melarangnya." Sahut Maysa.
" Mas bisa apa jika kamu sudah berbicara seperti itu. Walaupun sejujurnya Mas cemburu dengan kepedulianmu pada Satya, tapi Mas tidak akan melarangmu. Atau kau akan semakin marah pada Mas." Ucap Ilyas.
" Baguslah kalau Mas memahami hal itu." Ucap Maysa cuek.
" Sayang stop bersikap cuek seperti ini sama Mas. Mas tidak nyaman dengan sikapmu yang dingin seperti ini sayang. Mas minta maaf! Mungkin kamu bosan mendengar kata maaf dari Mas, tapi Mas harus bagaimana lagi supaya kau tidak mendiamkan Mas seperti ini sayang. Apakah Mas harus tiada lebih dulu supaya kau mau memaafkan Mas?" Ucap Ilyas putus asa. Ia tidak bisa berlama lama menahan sikap dingin Maysa padanya.
" Bukan ide yang buruk." Ucap Maysa membuat Ilyas melongo.
" A... Apa maksudmu sayang?" Tanya Ilyas waspada.
" Mas ingin tiada kan? Kalau begitu tiada saja. Mungkin aku bisa memaafkanmu dan menghilangkan sikap dinginku pada Mas." Ujar Maysa.
" Apa kau sungguh sungguh?" Tanya Ilyas menatap Maysa dengan serius.
" Apa Mas sungguh sungguh dengan ucapan Mas barusan?" Bukannya menjawab Maysa malah balik bertanya.
Glek...
Ilyas menelan kasar salivanya. Sebenarnya ia hanya sedikit memberi gertakan pada Maysa namun ia tidak menyangka jika jawaban Maysa tidak keberatan dirinya tiada.
" Tidak perlu menggertakku dengan ancaman seperti itu Mas. Aku bukan anak kecil lagi, aku juga tidak akan mencintai orang terlalu bucin hingga aku selalu memaafkan kesalahannya. Mas memang tidak salah tapi aku merasa sakit saat Mas membentakku dan mengancamku. Tidak perlu pusing memikirkanku! Kemarahanku akan hilang dengan sendirinya nanti. Aku mau istirahat! Tolong jangan ganggu aku!" Ucap Maysa merebahkan tubuhnya di atas sofa di sisi lain.
Ilyas hanya bisa menghembuskan kasar nafasnya. Ia membuka ponselnya untuk menghilangkan kegalauannya.
Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author ya...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....