
Aksa membuka matanya, ia menatap Ercha dengan tatapan intens.
" Kamu kenapa Mas?" Tanya Ercha.
" Ercha badanku terasa panas, rasanya sangat menyiksa Cha." Ujar Aksa melepas pakaian atasnya.
" Apa? Bagaimana bisa Mas?" Tanya Ercha terkejut.
" Sepertinya ada yang sengaja menaruh obat di minumanku." Sahut Aksa.
" Oh ya Tuhan." Gumam Ercha. Ercha tidak bodoh akan hal hal begituan.
Ercha menatap badan Aksa yang nampak $3k$! di matanya. Perut sispack, dada bidang dan kulit seputih susu.
" Andai saja aku bisa menyentuhnya, ugh..
Pasti halus sekali. Bagaimana bisa dia mempunyai badan sebagus ini? Ya Tuhan... Aku ingin menyentuhnya."
" Ehh apa apaan kamu Ercha.. Di saat genting seperti ini lo malah mikir yang enggak enggak." Batin Ercha memukul kepalanya.
" Shhhh." Desis Aksa sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
" Aku harus gimana Mas? Apa aku pergi saja?" Tanya Ercha turun dari ranjang.
" Jangan tinggalkan aku!" Ucap Aksa mencekal tangan Ercha.
" Mas aku mohon, jangan sentuh aku! Aku takut dan aku tidak mau hamil dulu. Saat ini aku masih dalam fase subur Mas, aku baru selesai datang bulan beberapa hari lalu. Aku mohon!" Ucap Ercha ketakutan.
" Tapi kau harus membantu aku Cha, kalau kau tidak mau membantuku aku bisa mati Cha. Efek obat ini terlalu kuat, aku tidak bisa menahannya walau aku berendam sampai tenggelam sekalipun." Ujar Aksa menatap Ercha dengan mata berkabut gairah.
" Tapi Mas...
" Kau harus memilih antara melihatku melampiaskannya pada wanita lain atau melihatku mati." Ucap Aksa membuat Ercha terkejut.
" Dengan wanita lain? Tidak tidak... Jangan lakukan itu. Tapi kalau melihatmu mati aku pasti tidak akan sanggup. Aku tidak mau menjadi janda ketika umur pernikahanku baru beberapa jam saja. Tapi kalau membantumu aku juga tidak bisa, aku takut huaaaaa... Aku harus bagaimana?" Ucap Ercha panik.
" Shhh Cha.. " Aksa kembali menggeliat, kali ini lebih parah.
" Cha tolong aku." Rintih Aksa.
Tiba tiba Aksa menarik tangan Ercha dengan kasar sehingga Ercha jatuh terjerembab ke atas kasur. Tanpa membuang waktu Aksa mencium bibir Ercha dengan sedikit kasar, karena Ercha terus memberontak. Lama kelamaan ciuman Aksa menjadi lembut karena Ercha tidak memberi perlawanan lagi.
Aksa memagut bibir Ercha dengan lembut. Ercha terhanyut dengan ciuman yang Aksa berikan padanya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Ciuman Aksa turun ke leher Ercha, ia menyesap leher Ercha meninggalkan jejak kemerahan di sana.
" Ercha biarkan aku melakukannya, aku akan memperlakukanmu dengan lembut jadi kau tidak perlu takut." Ujar Aksa dengan suara seraknya.
Tidak tahu harus bagaimana, akhirnya Ercha hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Aksa memulai permainannya dan.....
SKIP LAGI PUASA YA.... NGGAK USAH DI BAYANGIN 😃
Pagi hari Ercha mengerjapkan matanya. Matanya membulat sempurna saat merasakan dirinya tidak menggunakan apa apa.
" Astaga ternyata bukan mimpi." Ucap Ercha duduk bersandar pada head board.
" Awh!!" Pekik Ercha saat merasakan tubuhnya remuk. Apalagi bagian bawahnya, benar benar sakit luar biasa.
__ADS_1
" Ehh sayang, kau mengagetkanku saja." Gumam Aksa.
Plak....
Ercha memukul keras pundak Aksa.
" Gara gara kamu nih badanku jadi pegal pegal semua." Omel Ercha menarik selimut hingga ke batas bahu menutupi tubuhnya.
Aksa ikut duduk bersandar di samping Ercha.
" Maaf Cha! Tapi walaupun pegal kau menikmatinya kan." Ucap Aksa menaik turunkan alisnya.
" Siapa bilang? Aku menahan sakit selama permainan. Kamu enak enak an nggak ngerasain gimana sakitnya aku. Apalagi kamu di bawah pengaruh obat sialan itu." Ucap Ercha.
" Maaf sayangku! Dan terima kasih karena telah memberikan apa yang aku mau. Aku menyayangimu." Ucap Aksa mencium kening Ercha membuat tubuh Ercha berdetak sangat kencang.
" Aku harus membeli pil penunda kehamilan." Ujar Ercha. Aksa langsung menatap ke arahnya.
" Tidak boleh." Ucap Aksa cepat.
" Kenapa? Aku dalam masa subur dan aku belum mau hamil dulu Mas. Boro boro hamil dan mengurus anak, mengurus diriku sendiri saja aku belum bisa." Ucap Ercha.
" Kamu dalam masa subur tapi aku tidak. Pria yang terpengaruh obat perangsang itu tidak akan menghasilkan sel sperm@ dengan baik. Lagian kalau kamu minum pil penunda kehamilan, aku takut rahimmu akan kering. Bisa bisa kamu tidak bisa punya anak nanti." Ujar Aksa.
" Benarkah begitu? Kenapa aku tidak pernah mempelajari hal ini ya." Gumam Ercha.
Aksa tersenyum lega melirik Ercha.
" Semoga Ercha percaya dan tidak mencari tahu kebenarannya." Batin Aksa.
" Shhh." Desis Ercha menahan perih.
" Kamu di sini saja, aku akan menggendongmu ke kamar mandi. Aku siapkan air hangatnya dulu." Ujar Aksa.
Aksa memakai handuknya lalu masuk ke kamar mandi menyiapkan air hangat pada bathup. Setelah itu ia menggendong Ercha masuk ke dalam. Ia menurunkan Ercha ke dalam bath up berisi air hangat tersebut.
Tiba tiba...
Blumm...
" Ehh kamu ngapain Mas?" Ujar Ercha saat Aksa ikut masuk ke dalam bath up.
" Aku akan membantumu mandi." Ucap Aksa menggosok punggung Ercha.
" Nggak mau Mas, geli ih." Ucap Ercha.
" Udah diam aja." Sahut Aksa.
Alhasil acara mandi mereka di penuhi dengan perdebatan keduanya.
Selesai mandi mereka segera bersiap untuk pulang ke rumah.
" Sayang kamu tidak dandan dulu?" Tanya Aksa menatap Ercha yang sedang menyisir rambutnya.
" Dandan gimana maksudmu Mas?" Tanya Ercha.
__ADS_1
" Ya semisal pakai make up gitu. Biasanya kan wanita setelah mandi memakai bedak, lipstik, terus apa itu yang merah merah di pipi. Aku udah beliin kamu make up termahal lhoh." Ujar Aksa.
" Aku nggak suka memoleh wajahku dengan benda benda seperti itu. Yang ada mereka hanya menodai kulitku saja. Paling aku cuma pakai cream aja, selain itu aku nggak minat." Sahut Ercha.
" Aku lebih suka tampil natural dan apa adanya." Sambung Ercha membuat Aksa terharu.
" Sebenarnya aku juga lebih suka kamu tampil seperti ini sih, aku cuma tidak mau kamu kehilangan hakmu atas itu." Ucap Aksa.
" Terima kasih, lain kali kalau aku ingin aku akan memakai make up yang kamu berikan padaku Mas." Ucap Ercha.
" Tidak masalah." Sahut Aksa.
" Ya sudah ayo kita keluar, bang Aska sama Rega pasti udah nungguin kita di resto bawah." Ujar Aksa.
" Kamu duluan aja Mas, aku nanti menyusul. Aku mau telepon kak Raka dulu untuk memberitahunya kalau kita tidak jadi mampir ke rumah." Ujar Ercha.
" Oke, aku ke sana dulu. Kamu hati hati di sini, jangan sampai ada orang lain yang mengganggumu." Ucap Aksa mencium kening Ercha.
" Suka banget nyosor deh." Gerutu Ercha. Aksa hanya membalasnya dengan senyuman saja.
Aksa keluar kamar lebih dulu, ia menemui Aska yang sudah menunggunya di resto bawah.
" Pagi." Sapa Aksa menatap Aska dan Rega yang duduk di depannya.
" Pagi, gimana? Apa lo berhasil unboxing?" Tanya Aska.
" Udah." Sahut Aksa tersenyum bahagia.
" Bohong banget lo." Ucap Aska.
" Siapa yang bohong? Gue emang udah berhasil unboxing, lo lihat aja nanti buktinya. Lo bisa lihat leher Ercha sebagai bukti gue berhasil melakukannya." Ucap Aska.
Aksa melongo mendengar ucapan Aksa. Bagaimana bisa Aksa melakukannya? Bagaimana cara Aksa membujuk Ercha? Pikir Aska.
" Kalau lo gimana? Berhasil nggak lo?" Tanya Aksa menatap Aska.
" Enggak." Sahut Aska kesal.
" Kenapa? Apa lo menolaknya Ga?" Tanya Aksa menatap Rega.
" Gue lagi dapet."
" Ha ha ha ha." Aksa tertawa lepas mendengar ucapan Rega.
" Sumpah istri gue ternyata di kabulin sama Tuhan. Ha ha ha kasihan lo Bang, itu berarti lo kalah dari tantangan ini. Guelah pemenangnya." Ucap Aksa.
" Gimana bisa lo merayu Ercha yang jelas jelas menolak berhubungan dengan lo?" Tanya Aska.
Aksa menerawang kejadian tadi malam sambil tersenyum smirk.
" Cepat katakan!" Desak Aska.
" Gue....
TBC.....
__ADS_1
Gantung lagi ya... Ha ha ha