
Maysa berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia menuju meja informasi untuk mencari tahu dimana Kavin berada. Ya tadi Ilyas meninggalkannya di rumah begitu saja.
" Mbak pasien bernama Kavin Lambyyan dimana ya?" Tanya Maysa kepada petugas informasi.
" Sebentar ya Nona, saya cek dulu." Ucapnya.
Nampak petugas informasi mencarinya di layar komputer.
" Kavin Lambyyan berada di ruang rawat inap VIP nomer satu Nona." Ucapnya.
" Terima kasih Mbak." Ucap Maysa.
Maysa segera menuju ruang rawat yang di maksud petugas tadi dengan mengandalkan petunjuk yang ada. Sampai di depan pintu, Maysa segera membukanya.
" Mommy." Ucap Kavin yang rupanya sudah sadar menatap Maysa yang berdiri di depan pintu.
Ilyas menoleh menatap Maysa begitupun sebaliknya.
" Sayang." Maysa menghampiri Kavin lalu memeluknya tanpa menghiraukan tatapan Ilyas. Ia terlalu bahagia melihat Kavin yang baik baik saja.
" Sayang kamu tidak apa apa?" Maysa menangkup wajah Kavin lalu menciuminya.
" Tenanglah Mom! Kavin anak kuat. Kavin tidak apa apa cuma karena main air saja." Sahut Kavin lirih.
" Maafkan Mommy sayang, karena Mommy kamu jadi seperti ini. Mommy benar benar tidak becus mengurusmu." Ucap Maysa mengusap air mata di sudut matanya.
" Mommy jangan menangis! Jangan bicara seperti itu! Kavin baik baik saja Mom." Ucap Kavin.
" Tidak.. Mommy tidak menangis kok, Mommy hanya senang karena Kavin baik baik saja." Ucap Maysa kembali menciumi wajah Kavin.
" Suhu tubuhnya mencapai empat puluh satu derajat, terlambat sedikit saja bisa berakibat fatal bagi Kavin. Beruntung Kavin tidak kejang, jadi dia baik baik saja. Tapi dia butuh pengawasan dari dokter. Mas harap kau tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi. Mas tidak tahu apa yang akan Mas lakukan padamu jika terjadi hal buruk pada Kavin. Jadikan ini pelajaran untukmu, dan Mas minta maaf karena telah membentakmu tadi." Ucap Ilyas.
Maysa menatap Ilyas, sebenarnya hatinya sakit mendapat perlakuan seperti itu dari Ilyas tapi ia memahami sikap Ilyas karena panik dan takut putranya kenapa napa.
" Aku yang seharusnya minta maaf Mas, aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Kavin. Bahkan dalam hal ini saja aku tidak tahu apa apa. Aku tidak tahu kalau Kavin akan sakit setelah bermain air." Ucap Maysa memalingkan wajahnya menatap Kavin.
" Mommy jangan bilang seperti itu! Mommy orang baik kok, buktinya Mommy mau menemani Kavin bermain. Bukan Mommy yang salah tapi Kavin yang salah karena Kavin tidak menurut sama Mommy. Mommy sudah meminta Kavin untuk berhenti bermain tapi Kavin yang nggak mau. Kavin minta maaf Mom, karena Kavin Mommy jadi kena marah daddy." Ucap Kavin membuat Maysa terharu.
__ADS_1
" Tidak sayang, kamu tidak salah. Mommy yang kurang tegas dan kurang hati hati dalam menjagamu." Sahut Maysa.
" Oh ya apa Kavin sudah makan? Kavin sudah minum obat?" Tanya Maysa.
" Sudah Mom tadi." Sahut Kavin.
" Pintarnya anak Mommy, maaf Mommy terlambat ke sini jadi tidak bisa menyuapi Kavin." Ujar Maysa.
" Big no Mom." Sahut Kavin.
" Baiklah sekarang istirahatlah! Mommy akan menemanimu di sini." Ucap Maysa.
" Bobok sini Mom, peluk Kavin." Ujar Kavin menepuk ranjang di sisinya.
" Baiklah Mommy akan memelukmu." Sahut Maysa naik ke atas ranjang.
Maysa berbaring di samping Kavin sambil memeluknya. Ilyas menatap keduanya sambil menghela nafasnya. Ia tahu jika Maysa terluka dan mencoba menghindarinya.
Tak lama Kavin pun tertidur, sedangkan Maysa tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Hampir saja ia membuat putranya tiada. Ia benar benar menyesali perbuatannya yang menuruti Kavin bermain air dalam waktu lama.
" Sayang apa kau sudah makan malam?" Tanya Ilyas.
" Tidak perlu di pikirkan lagi sayang! Kavin sudah baik baik saja dan semoga keadaannya semakin membaik." Ucap Ilyas.
" Kalau begitu ayo kita cari makan dulu! Mas tidak mau kamu sakit karena melewatkan makan." Ajak Ilyas.
" Kamu saja Mas, aku tidak nafsu makan." Sahut Maysa.
" Tapi sayang...
" Anggap saja ini hukuman untukku karena lalai menjaga Kavin." Sahut Maysa memotong ucapan Ilyas. Ilyas menghembuskan nafasnya kasar.
" Sayang Mas tahu kamu sakit hati dengan perlakuan Mas padamu, Mas minta maaf. Mas tadi sangat panik sayang, Mas takut Kavin kenapa napa. Kamu tahu kan Mas sangat menyayangi Kavin. Mas tidak mau kehilangannya. Mas berharap kamu bisa memakluminya." Ujar Ilyas lembut.
" Walaupun aku memakluminya tapi yang namanya luka tetap saja luka Mas, luka itu tidak akan sembuh begitu saja hanya dengan kata maaf saja. Melihat tindakanmu meninggalkanku tadi membuat aku sadar, jika sampai kapan pun aku tetaplah orang asing bagi kalian. Aku tidak berhak atas Kavin karena aku bukan siapa siapa." Ucap Maysa mengeluarkan apa yang mengganjal di hatinya sambil menahan air matanya.
" Sayang kenapa kau berpikiran seperti itu? Mas sudah menjelaskannya padamu. Mas panik sayang, apapun bisa di lakukan orang saat terserang rasa panik kan? Mas harap kau mengerti itu." Ujar Ilyas.
__ADS_1
" Ya aku tahu aku salah. Maaf!" Ucap Maysa akhirnya. Ia tidak mau berdebat dan menganggu tidur Kavin.
Maysa mencoba memejamkan matanya, ia terlalu malas berdebat dengan Ilyas karena ia menyadari kesalahannya. Ia hanya merasa kecewa dengan sikap Ilyas padanya.
" Mas akan mencari makan, kamu bisa makan di sini nanti." Ucap Ilyas.
Tanpa menunggu jawaban Maysa, Ilyas keluar dari ruangan. Lima belas menit kemudian Ilyas kembali dengan menenteng dua plastik berisi bungkusan nasi goreng.
" Sayang." Ilyas mengguncang pelan bahu Maysa.
Maysa yang belum tertidur menoleh ke arahnya sebentar.
" Mas belikan nasi goreng untukmu, ayo kita makan bareng!" Ucap Ilyas.
" Aku sudah bilang kalau aku tidak nafsu makan, aku tidak lapar jadi kau saja yang makan." Sahut Maysa kembali memejamkan matanya.
" Sayang kau boleh marah ataupun kecewa sama Mas, tapi tolong jangan siksa tubuhmu yang tidak tahu apa apa. Tubuhmu butuh asupan sayang, kalau tidak kau akan sakit nanti." Ujar Ilyas.
" Jangan pedulikan aku! Pedulikan dirimu sendiri dan Kavin. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Sahut Maysa.
Merasa kesal dengan sikap Maysa, Ilyas membopong Maysa lalu menurunkannya ke sofa yang ada di ruangan itu.
" Apa apaan sih Mas, aku mau tidur." Ujar Maysa.
" Diam di situ! Mas akan menyuapimu." Titah Ilyas.
Ilyas membuka bungkusannya, lalu ia mengambil sesendok nasi goreng. Ia menyodorkannya ke mulut Maysa.
" Buka mulutmu sayang! Makanlah selagi nasi goreng ini hangat, kalau sudah dingin tidak enak nanti." Ujar Ilyas.
" Aku bisa makan sendiri Mas." Ucap Maysa merebut sendok di tangan Ilyas.
" Baiklah." Ucap Ilyas.
Maysa mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Ilyas tersenyum melihat itu, setidaknya Maysa tidak melewatkan makan malamnya.
Selesai makan malam, Maysa kembali ke ranjang. Kali ini ia bisa tertidur dengan lelap setelah perutnya kenyang. Ilyas membaringkan tubuhnya di sofa, ia menatap langit langit ruangan nampak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
" Bisa bisanya aku hilang kendali dengan membentak Maysa. Aku yakin dia sangat terluka, maafkan Mas sayang. Mas tidak sengaja melukai perasaanmu." Monolog Ilyas memejamkan matanya.
TBC..