
Hari ini anak anak dari keluarga Wilson ada janji untuk memasak dan makan makan bersama. Ada Ilyas, Maysa, Aska, Rega, Aksa dan seharusnya ada Ercha juga, namun sampai saat ini Ercha belum datang juga padahal mereka sudah memulai kegiatan memasaknya. Para perempuan membuat bumbu sedangkan para pria meracik daging dan sayurannya.
" Ak kenapa Ercha belum datang juga? Apa mungkin dia masih marah sama lo?" Tanya Aska menatap Aksa.
" Gue nggak tahu Bang, kata mami sih dia mau datang." Sahut Aksa.
" Gue yakin dia pasti masih kesal sama lo Ak." Ujar Ilyas sambil memotong motong daging ayam.
" Gue jadi bingung sendiri harus gimana. Mau menjelaskan juga percuma karena dia tidak mau mendengar apa apa dari gue. Padahal gue ingin meneruskan pembicaraan semalam." Sahut Aksa.
" Nggak perlu menjelaskan karena aku nggak akan menerima usulanmu itu."
Semua orang menoleh ke pintu dimana Ercha sedang berdiri saat ini.
" Keputusan dan keinginanku masih sama, jika kamu mau menikah denganku maka adakan acara pesta yang mewah dan meriah. Jika tidak, maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Ucap Ercha tegas.
" Ercha jangan seperti ini!" Ucap Aksa.
" Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus menuruti apa maumu? Apa aku harus mengesampingkan impianku selama ini begitu?" Tanya Ercha dengan tinggi.
" Tidak Mas Aksa, kau harus tahu beginilah sifatku. Aku tidak akan berubah manis ataupun baik hanya untuk terlihat baik di mata orang lain ataupun karena di tekan oleh keadaan. Aku sudah mengorbankan masa mudaku dengan menerima lamaranmu walaupun aku tahu jika semua ini terjadi karena ulahku, tapi kau punya kesempatan menolak yang tidak kau gunakan. Dan aku tidak akan memaksamu untuk menuruti keinginanku, sekarang keputusan ada di tanganmu sendiri." Ucap Ercha.
Ercha membalikkan badannya tiba tiba...
"Awh." Pekik Ercha saat Kavin menabraknya.
" Astaga bocil siapa ini membuatku kaget saja." Ucap Ercha membuat semua orang menahan tawanya.
" Hai Aunti cantik, kenalkan aku Kavin. Anaknya mommy sama daddy." Ucap Kavin menunjuk Ilyas dan Maysa.
" Hai." Sahut Ercha.
" Aunti cantik kenapa tidak ikut mereka memasak? Atau jangan jangan Aunti tidak bisa memasak ya." Tebak Kavin membuat Ercha nyengir kuda.
" He he selain tampan kamu pintar sekali." Ucap Ercha mengusap kepala Kavin.
" Kalau begitu ayo kita main robot robotan Aunti!" Ajak Kavin.
" Main robot robotan?" Tanya Ercha di balas anggukkan kepala oleh Kavin.
" Nggak mau ah, nggak asyik." Sahut Ercha membuat Kavin cemberut.
" Gimana kalau kita mau game ff aja. Kita main tembak tembakkan siapa yang kalah nanti dia akan di hukum." Sambung Ercha.
Kavin menatap Maysa di balas anggukkan kepala olehnya.
__ADS_1
" Oke Aunti siapa takut." Ucap Kavin.
" Ayo Aunti!" Kavin menarik tangan Ercha.
" Maaf semua, seperti kata Kavin tadi kalau aku tidak bisa memasak. Jadi aku tidak bisa membantu kalian, kalau aku paksakan takutnya malah membuat semuanya berantakan." Ucap Ercha menatap semua orang yang ada di dapur.
" Nggak apa apa Cha kamu main aja sama Kavin. Aku bisa memakluminya kok, dulu aku juga seperti itu. Aku tidak bisa memasak sama sekali malah." Sahut Maysa.
" Thanks ya atas pengertiannya, ayo Kavin kita bermain." Ucap Ercha.
" Yei... " Sorak Kavin menggandeng tangan Ercha meninggalkan dapur.
" Gue nggak nyangka kalau anak lo langsung deket sama Ercha, padahal mereka baru pertama kali bertemu." Ucap Rega.
" Iya gue juga nggak nyangka. Mungkin Kavin menganggap Ercha sebagai teman." Sahut Maysa.
" Iya bisa jadi karena Ercha punya sifat yang sama dengan Kavin, sama sama kekanakkan." Ucap Aska terkekeh.
" Ya nggak gitu juga donk Bang, mungkin Kavin berpikir jika Ercha yang bisa tahu keinginannya makanya dia mengajak Ercha bermain." Ujar Aksa.
" Mungkin juga Kavin melihat sifat keibuan dari Ercha, buktinya Kavin dulu juga seperti itu sama gue. Padahal dulu gue nggak suka sama yang namanya anak kecil." Sahut Maysa.
" Lo nggak suka anak kecil tapi bisa jadi ibu yang baik ya, apalagi Rega yang suka sama anak kecil. Pasti Rega bisa menjadi ibu terbaik di dunia ini." Ucap Aska.
" Gimana kalau kita berlomba lomba mencetak babby imut, nanti Maysa, Rega dan Ercha bisa hamil bareng terus kita punya babby bareng deh. Kan seru tuh tiga pewaris keluarga Wilson lahir dalam waktu yang bersamaan. Gimana Bang? Bagus nggak ide gue?" Ucap Aska asal.
" Gimana mau lomba? Kalian saja nikah belum." Ujar Ilyas.
" Kalau gue sih gampang Bang, tinggal gandeng tangan Rega ke KUA langsung sah. Beda lagi sama Aksa, calon bininya rewel Bang." Lirih Aska di akhir kalimatnya.
" Sialan lo! Gitu gitu calon adik ipar lo Bang." Sahut Aksa.
" Aksa, mendingan lo temui Ercha dan bicarakan tentang pernikahan kalian baik baik. Saran Abang lebih baik lo turuti saja apa kemauan Ercha. Buat dia bahagia dan bangga bisa menikah dengan lo. Masalah biaya biar Abang yang menanggungnya." Ujar Ilyas.
" Iya Bang." Sahut Aksa.
" Kalian juga, kalau kalian mau ngadain pesta yang mewah dan meriah kalian tidak perlu memikirkan biayanya. Persiapan sekalian sama Aksa dan Ercha itu sudah memotong biaya. Kalian rundingkan dulu sana, biar Abang dan kakak kalian yang memasak." Ucap Ilyas menatap Aska.
Aska menatap Rega, Rega hanya bisa menganggukkan kepala.
" Baik Bang." Sahut Aska.
Mereka bertiga meninggalkan Ilyas dan Maysa.
" Kita bergabung saja sama Aksa dan Ercha, kita selesaikan masalah ini baik baik." Ucap Aska.
__ADS_1
" Iya Mas." Sahut Rega.
Di gazebo belakang nampak Ercha dan Kavin sedang asyik bermain. Sesekali mereka nampak tertawa tawa bersama.
" Kavin, Kavin main sama Oma dulu sana di dalam. Om ada urusan sama Aunti Ercha." Ucap Aksa.
" Baik Om." Sahut Kavin menganggukkan kepala.
" Aunti nanti kalau udah selesai, kita main lagi ya. Hari ini Aunti tidak boleh pulang, mumpung Kavin libur sekolah Kavin mau main sama Aunti." Ucap Kavin menatap Ercha.
" Oke." Ercha mengangkat jarinya membentuk angka nol.
Kavin segera berlari meninggalkan para orang dewasa.
" Apa yang ingin kau bicarakan padaku? Jika kau ingin membahas soal pesta pernikahan jawabannya hanya ada dua. Ya atau tidak." Ucap Ercha penuh penenakan.
Aksa menatap Aksa dan Rega bergantian.
" Ercha...
" Ya atau tidak sama sekali." Sahut Ercha kukuh.
Aksa menghembuskan nafasnya kasar. Ia duduk di samping Ercha sedangkan Aska dan Rega duduk di sudut gazebo.
" Begini Ercha." Ucap Rega memberanikan diri.
" Maaf Rega aku tidak butuh penjelasanmu, aku hanya ingin melihat bagaimana mas Aksa bisa membujukku dan sejauh mana keinginannya untuk menikah denganku. Ini masalahku dengannya, jadi aku tidak mengijinkan orang lain untuk mencampurinya." Ucap Ercha.
Sadis memang, tapi itulah Ercha. Dia selalu tampil apa adanya dan tidak suka basa basi ataupun bersikap sok baik hanya untuk terlihat baik.
" Baiklah Ercha, kau ingin tahu seberapa besar keinginanku menikahimu kan? Maka aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan menuruti apa keinginanmu selama keinginanmu tidak menyimpang. Aku akan mengadakan acara pertunangan dan pernikahan kita dengan meriah. Tidak masalah jika acara pertunanganku dan bang Aska tidak terjadi dalam satu hari. Yang jelas aku akan menunjukkan keseriusanku padamu. Pesta pertunangan kita akan di adakan minggu depan di balroom hotel King jam tujuh malam. Aku akan mengundang semua teman temanmu untuk hadir di acara bahagia kita." Ucap Aksa membuat Ercha tersenyum bahagia.
" Terima kasih telah mengabulkan keinginanku. Apa kau tidak mau tahu apa alasanku melakukan semua ini?" Ercha menatap Aksa sambil tersenyum.
" Jika kau mau memberitahu kami, kami akan mendengarkannya." Ucap Aska.
" Sebelumnya aku minta maaf, bukan karena aku tidak mau memahami keadaan kalian berdua tapi aku....
Apa ya?
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya buat author..
Terima kasih...
TBC...
__ADS_1