
Prang....
Satya membanting gelas yang ada di atas nakas membuat semua orang berjingkrak kaget.
Prang...
Ia juga membanting wadah stainles yang ada di sekitarnya. Hatinya marah, ia sangat marah mendengar Maysa hendak meninggalkannya. Ia tidak mau kehilangan wanita yang sangat ia cintai selama ini.
" Ya Tuhan Satya, apa yang kau lakukan?" Ucap Maysa menyentuh dadanya yang terasa berdebar akibat kaget.
" Kamu bohong sama aku!" Bentak Satya menatap nyalang ke arah Maysa.
" Kamu bilang kamu mencintaiku, bahkan kamu bilang kamu sangat mencintaiku, kamu tidak bisa hidup tanpa aku. Lalu kenapa kau ingin meninggalkan aku di saat aku seperti ini? Di saat aku sangat membutuhkanmu sayang, Di saat aku terpuruk dan tidak bisa kau tinggalkan. Kenapa kau lakukan ini padaku? Bunuh saja aku dan tinggalkan aku dalam keadaan tidak bernyawa." Bentak Satya membuat semua orang terkejut dengan ucapanmu.
" Ini yang aku takutkan jika kamu tahu tentang kondisiku yang sebenarnya, tapi aku rasa sekarang kamu sudah tahu makanya kamu ingin meninggalkan aku. Apa kau malu punya calon suami cacat sepertiku? apa kau meninggalkan aku karena tidak mau menikah dengan pria lumpuh sepertiku hah." Teriak Satya sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa frustasi dengan keadaanya seperti ini.
" Aku lebih baik mati Maysa daripada hidup cacat dan kehilangan kamu." Ucap Satya.
" Cacat? Cacat seperti apa yang kau maksudkan Satya?" Tanya Maysa mengerutkan keningnya.
" Hiks... Hiks... Sakit Maysa, dadaku sesak." Satya terisak sambil memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak.
" Satya apa yang sebenarnya terjadi padamu? Katakan!" Ucap Maysa menyentuh bahu Satya.
" Aku cacat sayang."
Deg...
Jantung Maysa terasa berhenti berdetak.
__ADS_1
" Cacat? Cacat apanya? Kamu janda bercanda Satya, ini tidak lucu." Maysa bertanya lagi.
" Kakiku cacat Maysa, kakiku tidak bisa bergerak, aku tidak bisa berjalan seperti dulu lagi. Aku tidak bisa menggendongmu seperti dulu lagi. Aku memang tidak berguna Maysa, Hiks... " Ucap Satya terus terisak.
Maysa menatap tuan Hendra seolah meminta penjelasannya.
" Iya Maysa, kemarin saat Om menemui dokter, dokter mengatakan jika kaki kanan Satya mengalami kelumpuhan. Satya meminta Om untuk tidak memberitahumu karena dia takut kamu akan meninggalkannya karena hal ini. Tapi sekarang malah dia sendiri yang memberitahumu." Ujar tuan Hendra.
Maysa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Apa itu sebabnya dari kemarin kamu tidak mau turun dari ranjangmu?" Selidik Maysa menatap Satya.
" Iya... Aku takut kamu akan meninggalkan aku jika kau tahu aku mengalami kelumpuhan, aku tidak mau kehilangan kamu sayang. Lebih baik aku mati daripada aku harus hidup tanpa kamu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, tetaplah bersamaku dan menemaniku dalam titik terendah seperti sekarang ini. Aku butuh dukungan darimu untuk menjalani semua ini. Hanya kamu yang bisa menjadi penyemangat hidupku. Hanya kamu dan tidak ada yang lain." Ucap Satya.
" Om Hendra bilang aku hilang ingatan, penderitaanku tidak sampai di situ, bahkan sekarang kakiku lumpuh. Aku tidak berdaya, aku tidak bisa berbuat apa apa. Ini merupakan ujian terberat dalam hidupku sayang, tapi aku masih ingin berjuang untuk sembuh agar aku bisa menikah denganmu. Itulah tujuan hidupku saat ini. Tapi jika kau pergi meninggalkan aku, tidak ada lagi harapan untuk aku tetap hidup. Lebih baik aku tiada selamanya." Ucap Satya menggenggam tangan Maysa.
Hati Maysa trenyuh mendengar ucapan Satya, ia merasa tidak tega meninggalkan Satya dalam keadaan rapuh seperti ini. Ia menjadi bimbang antara memilih mengikuti keputusan suaminya atau tetap membantu Satya.
Maysa menatap Ilyas dan tuan Hendra bergantian. Ia kembali menatap Satya di depannya.
" Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Maysa.
" Aku ingin meminum racun langsung dari tanganmu."
Deg...
Hati Maysa mencelos mendengar ucapan Satya, begitu besarkah cinta Satya kepadanya hingga dia rela mati jika tidak bisa hidup bersamanya? Bagaimana jika Satya tahu yang sebenarnya jika Maysa sudah menikah dengan pria lain di saat ingatannya belum kembali? Tak terasa air mata lolos dari matanya begitu saja. Tidak tahan dengan apa yang di alami Satya, Maysa menarik Satya ke dalam pelukannya.
" Hiks.. Satya." Maysa mengelus punggung Satya.
__ADS_1
" Satya.. Kenapa kau mengatakan seperti itu? Hiks... Kenapa kau meminta sesuatu yang tidak pernah bisa aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa melakukan itu kepadamu hiks... Satya aku mohon jangan seperti ini! Jangan menyulitkan posisiku yang serba salah. Jika seperti ini aku juga tersiksa Satya, aku terluka." Ucap Maysa mengusap air matanya.
Satya membenamkan wajahnya di perut Maysa, ia memeluk pinggang Maysa dengan erat seolah tidak mau terlepas begitu saja.
" Lalu aku harus bagaimana sayang? Lebih baik aku kehilangan nyawaku sendiri daripada aku harus kehilangan kamu. Aku tidak sanggup kehilanganmu sayang, aku tidak sanggup hidup tanpamu. Sekarang aku serahkan keputusan kepadamu. Kau tetap akan meninggalkan aku atau tetap menemaniku di sini. Tapi jika kau ingin pergi dariku, aku ingin meminum racun itu sekarang juga." Ucap Satya ikut menangis dalam pelukan Maysa.
Maysa mengusap air matanya. Ia melepas pelukannya lalu menangkup wajah Satya.
" Aku pernah bilang padamu, tetaplah hidup untukku mesti kita tidak bisa bersatu." Ucap Maysa.
" Benarkah? Lalu apa maksudmu berbicara seperti itu? Kenapa kita tidak bisa bersatu? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Tanya Satya.
" Astaga aku lupa kalau Satya hilang ingatan." Batin Maysa.
" Takdir tidak ada yang tahu Satya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku..
" Jika takdir memisahkan kita, aku akan melawan takdirku sendiri. Aku akan menulis takdirku untuk tetap hidup bersamamu." Sahut Satya memotong ucapan Maysa.
Maysa menghela nafasnya pelan, ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
" Bagaimana sayang? Katakan apa keputusanmu." Ucap Satya.
" Baiklah aku tidak akan meninggalkanmu tapi aku juga tidak bisa seharian penuh menemanimu. Aku punya banyak kegiatan di luar yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku hanya bisa menemanimu dari jam setengah delapan sampai jam sepuluh. Kalau kau tidak mau terpaksa aku akan meninggalkanmu dengan keadaan seperti sekarang ini. Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti yang kamu mau. Apa kau tidak masalah dengan waktu yang aku berikan padamu?" Tanya Maysa. Ilyas menghembuskan nafasnya kasar. Kesabarannya kali ini benar benar sedang di uji.
Ya jam setengah delapan sampai jam sepuluh adalah jam sekolah Kavin. Daripada Maysa di rumah sendirian lebih baik ia menemani Satya demi membantu Satya untuk tetap hidup.
" Baiklah aku setuju. Aku akan menikmati waktu singkat itu bersamamu setiap harinya. Terima kasih mau menemaniku di saat aku susah seperti ini. Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Ucap Satya mencium punggung tangan Maysa.
Ilyas tidak tahan lagi menahan emosinya, ia segera berlalu meninggalkan ruangan Satya. Maysa hanya menatapnya dengan tatapan bersalah.
__ADS_1
" Maafkan aku Mas, semoga kau mengerti dan memahami diriku." Batin Maysa.
TBC...