TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
CEMBURU


__ADS_3

Ilyas menatap Maysa dengan seksama. Kaos oblong berwarna hitam dan celana jeans selutut membuat kulit putih Maysa terekspos.


" Ganti celananya! Mas nggak suka kamu pakai celana seperti itu." Ucap Ilyas.


Maysa meneliti penampilannya sendiri.


" Tidak ada yang salah Mas, memangnya kenapa?" Maysa malah bertanya kepada Ilyas.


" Mas tidak suka sayang. Lihatlah kaki indahmu itu! Aska dan Aksa pasti akan menatapnya tanpa berkedip. Mas tidak suka berbagi, pokoknya ganti titik. Kalau tidak kita tidak jadi ke rumah Mami." Ujar Ilyas mengancam.


" Hah bisanya cuma mengancam saja, dasar posesif." Gerutu Maysa menuju walk in closet untuk mengganti celananya.


Tak lama Maysa keluar dengan celana barunya, Ilyas membulatkan matanya saat melihat Maysa malah memakai hot pants jauh di atas lutut membuat Ilyas merasa gemas padanya. Ilyas mendekat sambil terus menatap Maysa.


" Kamu sengaja menggoda Mas dengan memakai celana seperti ini. Baiklah akan Mas ladeni keinginanmu." Ucap Ilyas menarik pinggang Maysa membuat tubuh mereka menempel.


" Eh bukan gitu Mas, aku hanya ingin membuat Mas kesal aja. Aku akan ganti sekarang." Ucap Maysa panik.


" Tidak perlu ganti, pakai seperti ini lebih bagus. Kau terlihat sangat cantik." Ucap Ilyas.


" Benarkah? Kalau begitu ayo kita pergi!" Ujar Maysa.


" Siapa yang memintamu pergi? Maksud Mas kamu lebih bagus pakai pakaian seperti ini jika di dalam kamar saja. Apalagi kalau atasan kamu ini diganti dengan tanktop, pasti terlihat sangat menarik dan sedap di pandang mata. Dengan begitu Mas akan lebih semangat dan rajin membuatkan adik untuk Kavin." Ucap Ilyas.


Maysa melongo membuka sedikit mulutnya. Ia baru menyadari jika dirinya terjebak dengan omongan Ilyas.


" Aku mau ganti." Ucap Maysa melepas diri. Ia kembali masuk ke ruang ganti.


Setelah selesai ia keluar mendekati Ilyas, kali ini Maysa memakai celana jeans tiga perempat dan Ilyas tidak koment akan hal itu.


" Ayo kita keluar! Kavin pasti sudah menunggu kita." Ucap Maysa kelaur kamar di ikuti Ilyas yang berjalan di sampingnya.


" Momu Kavin sudah siap." Ucap Kavin menghampiri Maysa.


" Anak Mommy pintar." Ujar Maysa.


Maysa dan Ilyas menggandeng Kavin menuju rumah Aska.


" Assalamu'alaikum." Ucap mereka bertiga bersamaan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut mereka semua dari dalam.


" Om Papi." Kavin berlari menubruk Aska yang sedang duduk di sofa.


" Sayangnya Om, gimana kabarnya? Betah ya tinggal di rumah oma?" Tanya Aska memangku Kavin.


" Iya Om papi, oma sama opa baik banget sama Kavin. Om papi ayo kita bermain!" Ajak Kavin.

__ADS_1


" Memangnya Kavin mau main apa hmm?" Tanya Aska menatap Kavin.


" Bagaimana kalau kita main basket, sama om Aksa juga." Ujar Kavin.


" Sama mommy sama daddy juga." Sambung Kavin.


" Oke siapa takut." Sahut Ilyas menatap Maysa.


" Aku nggak mau, kalian pria semua masa' aku perempuan sendiri." Ujar Maysa.


" Tidak apa apa Mom, please Mom." Ucap Kavin menatap Maysa dengan puppy eyesnya.


" Hah baiklah." Sahut Maysa menghela nafasnya.


" Yei." Sorak Kavin senang.


Mereka berlima menuju lapangan basket yang ada di sebelah ruang gym. Mereka membagi menjadi dua tim. Tim pertama Aksa, Aska dan Kavin dan tim lawan Ilyas, Maysa dan tuan Frans.


Mereka mulai bermain dengan bola berada di tangan tim Ilyas. Ilyas mendrible bola menuju ring lawan.


" Sayang tangkap!" Ilyas mengoper bola kepada Maysa. Dengan sigap Maysa menangkapnya.


Kini giliran Maysa yang mendrible bola menuju ring. Ia mengangkat bola dengan kedua tangannya di atas kepala siap memasukkan bola ke dalam ring. Ia menatap curiga pada orang orang yang malah menatapnya sambil melongo.


Maysa melihat ke bawah dimana bajunya terangkat ke atas sampai di atas pusar, ia langsung memasukkan bolanya ke ring dan...


" Yeiiii masuk." Sorak Maysa membuat semua orang tersadar.


" Gimana nggak kalah kalau dia menggunakan ilmu sirep. Duh... Itu kulit apa susu ya putih bener." Gumam Aska membayangkan perut rata Maysa yang tadi terlihat.


Ilyas mendekati Maysa dengan kesal.


" Sayang bajumu tadi terangkat membuat mereka gagal fokus. Lain kali kalau pakai baju yang bener. Jangan baju kekurangan bahan seperti ini di pakai." Omel Ilyas.


" Ya mana aku tahu kalau kita mau main basket. Lagian tadi aku juga sudah menolak kan? Mas aja yang membuat aku terpaksa ikut main. Sekarang malah aku yang di omelin." Ucap Maysa kesal.


" Mommy Daddy, jangan berantem! Ayo kita main lagi." Ajak Kavin.


" Iya sayang." Sahut Maysa menghampiri Kavin.


Mereka kembali bermain, kali ini bola berada di tangan Aska. Maysa mencoba merebutnya, Aska mengangkat bolanya tinggi, Maysa melompat lompat berusaha mengambil bolanya namun tidak berhasil. Aska menatap Maysa dengan jantung berdebar karena tanpa sengaja tubuh Maysa bergesekan dengan tubuhnya.


Melihat itu Ilyas semakin kesal. Ia mendekati Maysa lalu menarik tangannya keluar lapangan.


" Mas kenapa keluar? Kita belum selesai main lhoh." Ujar Maysa.


" Kau tidak perlu bermain! Kau membuat onar saja." Ucap Ilyas.

__ADS_1


Maysa menyentak kasar tangan Ilyas hingga genggamannya terlepas.


" Membuat onar? Memangnya aku melakukan apa Mas? Aku bermain dengan baik kok." Ucap Maysa tidak terima di katakan membuat onar.


" Iya bukan kamu, tapi pikiran mereka menjadi tak karuan sayang. Penampilanmu meresahkan tahu nggak. Apa kamu tidak tahu bagaimana Aska memandangmu saat kau mencoba merebut bolanya? Mas tahu arti dari tatapannya sayang. Dia tertarik padamu, itu sebabnya Mas menarikmu ke sini. Mending kamu sama Mami aja sana! Atau kalau tidak buatkan jus buat kami." Ucap Ilyas.


" Ckk dasar posesif." Cebik Maysa menatap Ilyas sinis.


" Sayang jangan begitu donk sama Mas! Mas hanya menjaga apa yang menjadi milik Mas. Mas tidak mau ada orang yang menginginkan dirimu. Kamu harus paham itu." Ucap Ilyas.


" Aku tidak boleh dekat siapapun, tapi Mas dekat dekat sama sekretaris baru Mas." Ucap Maysa keceplosan. Ia menutup mulutnya sambil memukul kepalanya pelan.


" Kapan Mas dekat dengan sekretaris baru Mas? Mas tidak pernah dekat dekat dengannya." Ujar Ilyas.


" Kemarin siang." Sahut Maysa.


" Kemarin siang? Memangnya kamu lihat dimana?" Tanya Ilyas memastikan.


" Aku lihat di ruanganmu, kamu sedang duduk berdampingan dengan sekretarismu, sepertinya kalian sedang makan siang waktu itu." Sahut Maysa.


" Bukannya kemarin siang kamu tidak jadi ke kantor?" Selidik Ilyas.


" Aku ke kantor tapi karena aku kesal melihatmu sama sekretarismu itu jadi aku pergi." Ucap Maysa.


Ilyas terkekeh menatap Maysa.


" Mas tidak menyangka kalau ternyata istri Mas bisa cemburu juga. Mas senang mendengarnya." Ucap Ilyas


" Eh nggak gitu ya, siapa juga yang cemburu." Sahut Maysa.


" Kamu." Ucap Ilyas.


" Tidak.. Aku tidk cemburu." Ucap Maysa.


" Cemburu."


" Tidak."


" Cemburu."


" Tidak. Aku bilang tidak ya tidak, nggak percaya banget jadi orang." Ucap Maysa.


" Pasti cemburu." Ujar Ilyas.


" Bodo' ah." Maysa berlalu meninggalkan Ilyas.


Ilyas tersenyum bahagia bisa menggoda istrinya.

__ADS_1


Kasih hadiah donk buat author, malam malam author sempetin ketik biar readers nggak kecewa.


TBC....


__ADS_2