
Bel pulang sekolah berbunyi, Maysa segera berkemas karena Ilyas sudah menunggunya di depan sekolahan.
" Guys gue duluan ya." Ucap Maysa.
" Kami berdua mau shopping, apa lo nggak bisa ikut?" Tanya Desi menatap Maysa.
" Sorry gue nggak bisa, lain kali aja ya." Ujar Maysa.
" Apa doi udah nungguin di depan?" Tanya Nara menatap Maysa.
" Iya, si bocil juga ada di rumah. Kalau gue nggak pulang nanti dia marah." Sahut Maysa.
" Bocil nginep di rumah lo May?" Tanya Desi memastikan.
" Iya, ya udah ya gue duluan!" Ucap Maysa.
" Kalau gitu gue ikut donk May! Gue juga mau main sama bocil lo." Ujar Nara.
" Gue juga ikut!" Timpal Desi.
" Baiklah ayo!" Sahut Maysa.
Mereka bertiga keluar kelas menuju ke parkiran.
" Gue bilang sama daddynya Kavin dulu ya." Ujar Maysa.
" Oke." Sahut Nara dan Desi.
Maysa menghampiri mobil Ilyas. Ilyas segera membukanya dari dalam.
" Mas aku pulang bareng sama Nara sama Desi, kau bisa pulang duluan!" Ucap Maysa.
" Nggak bisa! Kamu pulang bareng Mas." Sahut Ilyas cepat.
" Mas mereka mau main ke rumah masa' aku pulang sama kamu, nggak enak lah." Ujar Maysa.
" Maysa kau harus menghormati suamimu, Mas sudah meluangkan waktu kerja Mas untuk menjemputmu. Lalu apa ini? Kamu malah mau ninggalin Mas. Mau Mas bilangin ke papa?" Ujar Ilyas menatap Maysa.
" Gawat kalau dia sampai ngadu ke papa, bisa bisa dapat ceramah sehari semalam gue. Punya calon laki rewel bener sama kaya' anaknya." Ujar Maysa dalam hati.
" Baiklah aku pulang sama Mas." Sahut Maysa pilih jalan aman. Ilyas tersenyum menatap Maysa.
Tin tin...
Nara memencet klakson mobilnya, Maysa mendekatinya.
" Sorry guys! Gue bareng sama daddynya Kavin." Ucap Maysa.
" Oke." Sahut Nara.
Maysa masuk ke mobil Ilyas sambil cemberut. Ilyas membungkuk membuat tubuhnya menempel pada Maysa. Jantung Maysa berdetak sangat kencang.
" Ya Tuhan... Kenapa jantungku berdebar gini? Dia mau apa sih? Awas saja kalau berani cium gue lagi! Gue gibeng pala' lo Mas." Ujar Maysa dalam hati.
Klik...
__ADS_1
Terdengar suara sealbelt terkunci. Maysa menghela nafasnya lega. Belum selesai kelegaan Maysa tiba tiba..
Cup...
Ilyas mencium kening Maysa sekilas. Maysa menatapnya begitupun dengan Ilyas tiba tiba..
Plak....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ilyas. Ilyas memejamkan matanya menahan perih yang menjalar di pipinya.
" Beraninya kau melakukan itu Mas, dua kali kau merendahkan aku dengan cara seperti ini." Bentak Maysa penuh emosi.
Tanpa berkata apa apa lagi Maysa keluar dari mobil Ilyas.
Blummm...
Maysa menutup keras pintu mobil Ilyas, mungkin jika bukan mobil mahal pasti sudah copot tuh pintu. ia masuk ke dalam mobil Nara. Ilyas segera keluar dari mobil mengejar Maysa.
" Jalan Na!" Ucap Maysa.
Nara mulai melajukan mobilnya, Ilyas mengejarnya.
" May buka pintunya!" Ilyas menggedor kaca mobil Nara namun Maysa mengabaikannya.
Mobil melaju sedikit kencang meninggalkan sekolahan.
" Argh... " Teriak Ilyas menarik kasar rambutnya. Ia segera masuk ke mobilnya mengejar mobil Nara.
" Bodoh kau Ilyas.. Kenapa kau begitu terburu nafsu? Tidak seharusnya kau mencium Maysa sebelum menikah, kau melukai harga dirinya." Ilyas memukul mukul stirnya.
Sesampainya di rumah Maysa, Nara dan Desi masuk ke dalam.
" Mommy." Teriak Kavin berlari menghampiri Maysa sambil merentangkan kedua tangannya.
Grep...
Kavin memeluk kaki Maysa.
" Kavin minggir! Mommy mau ke kamar dulu." Ucap Maysa tanpa membalas pelukan Kavin.
" Tapi Kavin merindukan Mommy." Ucap Kavin.
" Kavin Mommy bilang minggir! Mommy capek mau istirahat dulu." Ucap Maysa penuh penekanan.
Dengan raut wajah sedih Kavin melepas pelukannya, ia mundur ke belakang lalu menundukkan kepalanya sedangkan Maysa berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Melihat itu hati Ilyas tersayat pilu. Karena perbuatannya kini Kavin yang menerima akibatnya.
Nara berjongkok di depan Kavin.
" Kavin sayang, maafkan mommy kamu ya. Sepertinya mommy kamu sedang ada masalah itu sebabnya dia bersikap seperti tadi sama kamu. Tapi percayalah mommy sangat menyayangimu. Setelah mommy menyelesaikan masalahnya, aunti jamin mommy kamu pasti mau bermain lagi denganmu. Kamu ngertiin mommy kan." Ujar Nara tidak tega melihat kesedihan Kavin.
" Apa Mommy tidak marah sama Kavin?" Tanya Kavin menatap Nara.
" Tidak." Sahut Nara menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Memangnya siapa yang bisa marah sama adik kecil yang super tampan dan imut seperti kamu? Sudah tidak perlu di pikirkan! Mending sekarang kita main di taman belakang. Aunti akan menemanimu bermain gimana." Ujar Nara.
Kavin menganggukkan kepalanya. Desi dan Nara menggandeng Kavin menuju taman belakang.
Ilyas menaiki tangga menuju kamar Maysa. Ilyas membuka pintunya lalu masuk ke dalam. Ia mengedarkan pandangannya mencari Maysa sampai...
Ceklek...
Maysa keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja tanpa sadar jika ada Ilyas yang saat ini sedang menatapnya.
Glek...
Maysa dan Ilyas sama sama menelan kasar salivanya saat pandangan mereka bertemu. Ada sesuatu yang menegang di tubuh bagian bawah Ilyas. Sadar akan tatapan Ilyas, Maysa menggeser pelan tubuhnya ke samping ranjang, ia menarik selimut lalu melilitkan ke tubuhnya.
Dengan langkah pasti Maysa mendekati Ilyas. Ia menatap ilyas tajam penuh emosi.
" Aku tidak menyangka, pria berpendidikan dan pemimpin perusahaan besar sepertimu sama sekali tidak punya sopan santun. Apa begini caramu memperlakukan setiap wanita? Kau menciumku lalu sekarang kau masuk ke kamarku tanpa seijinku?" Bentak Maysa tidak bisa membendung amarahnya lagi.
" Mas minta maaf! Mas ke sini ingin menegur sikapmu terhadap Kavin tadi. Kavin nampak sedih dan terluka karena kau bersikap dingin padanya." Ujar Ilyas.
" Itulah aku. Terserah kau suka atau tidak yang jelas itulah caraku meredam amarah. Lebih baik aku menghindarinya daripada aku meluapkan emosiku padanya. Apa kau tidak berpikir bagaimana terlukanya harga diriku saat kau mencium keningku? Kau menganggapku wanita apaan hah? Kau menyamakan aku dengan wanita wanitamu begitu? Tidak... Aku tidak sama seperti mereka. Aku menjaga diriku dari sentuhan pria manapun selama ini. Sekarang keluarlah! Aku tidak akan memaafkan sikapmu yang telah melecehkan aku." Ucap Maysa menunjuk pintu keluar.
" Baiklah Mas akan keluar! Tpai satu hal yang harus kamu ingat Maysa! Setelah aku berpisah dengan mantan istriku, aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Apalagi menyentuhnya. Entah mengapa saat berada di dekatmu, hatiku terdorong untuk melakukannya. Sekali lagi Mas minta maaf padamu." Ucap Ilyas keluar kamar Maysa.
Maysa langsung mengunci pintu kamarnya.
" Bisa bisanya dia bersikap tidak tahu malu seperti itu. Dasar duda sialan, sukanya main nyosor nyosor aja. Untung dia baru cium kening, kalau berani mencium bibirku akan aku pastikan pecah tuh bibirnya." Gerutu Maysa memakai bajunya.
" Seperti itu aku mau menikah dengannya. Hah... " Maysa mengapa nafasnya pelan.
" Oh ya aku sampai lupa menanyakan pada mama tentang acara pertunangan kemarin, bagaimana bisa mas Ilyas nampak begitu dekat dengan mama sama papa. Dan kenapa mama sama papa menerima lamarannya tanpa bertanya dulu padaku. Aku akan menanyakannya sekarang juga." Ujar Maysa keluar kamarnya. Ia berjalan menuju kamar mamanya.
Tok tok
" Ma." Panggil Maysa.
" Masuk sayang." Sahut nyonya Melodi.
Maysa masuk ke dalam, ia menghampiri mamanya yang sedang duduk di tepi ranjang menatap keluar jendela.
" Ada apa sayang?" Tanya nyonya Melodi.
" Ma, aku ingin tahu bagaimana mama sama papa bisa menerima lamaran mas Ilyas begitu saja, padahal aku sama sekali belum memberitahu kalian soal ini." Ucap Maysa menatap mamanya.
Nyonya Melodi tersenyum.
" Ilyas adalah.....
Siapa dia?
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya.
Terima kasih...
Miss U All..
__ADS_1
TBC