
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Hai BESTie-BESTie-ku 🫰
Apa kabar? Mudah-mudahan sehat semua ya...
Makasih bagi temen-temen yang udah follow aku dan favorite-in karyaku🙏
Aku coba menulis Novel kedua, ini lanjutan dari Novel pertamaku : "Istri Pilihan Mama"
Novel kedua ini sengaja aku tulis untuk memenuhi request an reader's, minta dilanjutkan cerita anak-anaknya Laras dan Arga.
Kalian harus baca kisah di Novel pertama dulu ya, biar gak bingung dan bisa nyambung baca novel kedua ini...
Aku gak tau, bisa bagus apa gak ya novel kedua ini.....
Soalnya aku sama sekali gak kefikiran mau bikin novel yang masih berhubungan dengan Laras dan Arga, tulisan ini dadakan jadi inspirasi nya juga dadakan, sampe sekarang ide di kepalaku juga masih abu-abu dan gelap, biar mengalir aja ya inspirasi nya...
Kalo pun novel ini gak bagus, kalian hrs tetep kasih dukungan dan ngasih Bintang 5 dan Subscribe serta hadiah sebanyak-banyaknya ya haha, maksa banget ya aku...
Biarinlah, kalo gak dipaksa pasti jari BESTie-BESTie-ku ini pada males gerak 🤭
Nulis novel itu gak segampang membaca, aku harus mikir setiap hari, kadang sampe larut malam, kadang sampe telat makan, dimana-mana kalo ada waktu senggang tanganku gak berenti ngetik, jadi sibuk banget...
Episode 1 sampai Episode 10, masih menceritakan tentang masa sekolah Zafira dan Fariz yang memang telah dibumbui perasaan suka yang besar Fariz pada Zafira.
Next... Episode 11 baru akan lebih serius, saat mereka telah memasuki dunia perkuliahan hingga pernikahan.
Happy Reading di Episode pertama di Novel keduaku ya...
Semoga kalian tetep setia di sini..🫰🫰
*****
Zafira Mutia Wibawa
Fariz Erlangga
*****
Tiga tahun tak terasa berlalu dengan cepat, Laras, Arga serta Mayang masih disibukkan mengurus anak kembar yang semakin hari semakin pintar, lucu, gemuk dan putih.
Mayang juga tetap rutin menginap di rumah anak dan menantu kesayangannya, wanita paruh baya itu ikut memantau tumbuh kembang kedua cucunya.
Tidak salah, jika kedua anak kembar tersebut menjadi lengket dengan sang nenek, naluri anak kembar itu telah terikat dengan Mayang, keduanya merasa nyaman dan tidak pernah menangis jika Mayang menggendong, memberi makan, mengajak main bahkan memandikan mereka.
__ADS_1
Ikatan nenek dan cucu sangatlah kuat, sesuatu yang wajar, jika kedua anak kembar itu merasa nyaman bersama sang nenek dikarenakan hampir setiap hari Mayang berada di rumah mereka, berada di tengah-tengah kedua anak kembar itu, mengurus dan menyayangi keduanya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Hubungan Laras dan Arga pun semakin mesra dan harmonis, selama pernikahan tidak ada percekcokan apalagi pertengkaran besar dalam rumah tangga mereka.
Sang suami tidak pernah membuat ulah, apalagi sang istri, dari lahir memang bukan tipe wanita yang banyak ulah apalagi mau membuat ulah, sehingga sempurnalah kebahagiaan di rumah itu, dikelilingi dengan orang-orang baik dan saling menyayanginya.
Hari Sabtu, pukul 08:30.
"Sayang, apa hari ini kamu ingin keluar? Kamu pasti jenuh di rumah terus mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak, bagaimana kalo hari ini kita jalan-jalan ke Ancol bersama mama, Zafran dan Zafira," tanya Arga di sela-sela sarapan.
Laras menghentikan kunyahannya sejenak, menatap ke arah Arga.
"Mau sayang, aku juga pengen mengajak Zafran dan Zafira ke Ancol, mama juga ikut ya ma," pinta wanita cantik itu mengalihkan pandangan ke arah Mayang, mengajak mama mertua supaya ikut bersuka ria di luar bersama keluarga kecilnya.
"Mama hari ini pulang ke rumah dulu sayang, kan Sabtu dan Minggu memang jadwal mama pulang ke rumah, karena hari ini dan besok sudah ada Arga yang membantumu menjaga cucu-cucu mama, hari Senin, seperti biasa mama akan ke sini lagi," jawab Mayang menyeruput susu hangat khusus lansia.
"Oh iya, mama benar juga, ya sudah tidak apa-apa kalau mama belum bisa ikut, nanti sekalian saja kita antar mama ke rumah dulu, baru setelah itu kita ke Ancol," ujar Laras sambil kembali melanjutkan mengunyah sarapannya.
"Sudah, tidak perlu mengantar mama, mama kan ada sopir pribadi, nanti pak Wito yang akan menjemput mama seperti biasanya," tolak wanita paruh baya itu tersenyum menatap menantunya dengan tatapan lekat.
Mayang bangga kepada Laras, ternyata memang tidak salah dia memilihkan Laras untuk menjadi istri Arga, wanita paruh baya yang kini telah berusia 60 tahunan itu merasa tidak ada perubahan sikap sedikit pun dari sang menantu, meski pun saat ini Laras telah menjadi istri dan menantu dari orang kaya, namun sikapnya tetap sederhana, apa adanya dan lembut terhadap suaminya, mertua, anak-anak bahkan ke semua pekerja di rumahnya.
Setelah selesai sarapan, mandi, Mayang pun langsung berjalan ke teras, dimana sang sopir telah dari Tiga puluh menit yang lalu menunggunya.
Mayang mencium pipi gembul Zafran yang tengah di gendong Laras, dan mencium pipi kemerahan Zafira yang ada dalam gendongan Arga.
Kedua anak itu hanya tertawa memperlihatkan gigi yang sebagian masih belum tumbuh, saat Mayang mencium pipi mereka, kemudian sang oma yang berhati sangat baik itu segera masuk mobil.
"Hati-hati di jalan oma," pesan Laras memegang telapak tangan mungil Zafran kemudian melambaikannya ke arah Mayang yang ada di dalam mobil dan berlalu dari depan mereka.
"Sayang, kamu sudah menghubungi Tina? Apa hari ini dia bisa ikut kita ke Ancol sekalian mengajak Fariz?," tanya Arga sembari berjalan masuk ke rumah yang diiringi Laras.
Keduanya duduk di sofa ruang tengah dengan memangku masing-masing satu anak di atas paha mereka.
"Sudah, tadi pas selesai sarapan, aku langsung menelpon Tina, nanti Rico yang akan mengantarkan Tina dan Fariz ke sana," sahut Laras seraya memasangkan baju Zafran yang beberapa bagian kancingnya tidak terkancing.
"Rico dan Tina mau menjodohkan Zafira dengan Fariz, apa kamu setuju sayang?," tanya Arga meminta pendapat istri cantiknya.
"Sejujurnya aku setuju sayang, aku tahu persis Tina orang yang sangat baik dan Fariz juga pasti akan tumbuh menjadi anak yang baik seperti ibunya. Dan mas juga pasti sudah tahu, sebaik apa Tina padaku waktu hidupku masih susah dulu, dia orang pertama yang menyelamatkan hidupku, menampungku di kontrakan tanpa pamrih, meminjamkanku uang untuk membeli handphone dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan Tina yang lain," tutur Laras mencoba mengingat kembali masa-masa dirinya hidup susah dulu, hanya Tina lah tempatnya mengadu dan menumpang hidup di kontrakan Tina untuk tinggal dan berteduh.
"Iya aku tahu, Tina sudah seperti kakakmu sendiri, dan sebenarnya aku juga menyetujui perjodohan anak mereka dengan Zafira, mudah-mudahan saja Fariz kelak bisa menjadi suami yang baik untuk anak kita," ucap Arga mengusap kepala Zafira yang sedang asyik memainkan bonekanya.
"Aamiin, seperti papanya, sangat baik dan penyayang," ucap Laras melirik suami yang duduk di hadapannya.
"Aamiin," ucap Arga pula sambil tersenyum menatap lembut Laras.
"Tapi sayang.., bagaimana kalau Zafira tidak menyetujui perjodohan ini? Apa kita harus memaksanya?," sambung Arga kembali, dia bertanya seperti itu karena belajar dari pengalamannya terdahulu, saat sang mama memaksanya menikahi Laras tanpa rasa cinta.
"Kita tidak perlu memaksanya, kita cukup memberitahu Zafira jika kita telah menjodohkannya dengan Fariz, dan kita harus terus menasehati dan mengarahkannya kalau kita memilihkan pasangan hidup yang baik dan tepat untuknya," sahut Laras membelai pipi Zafira yang ada di pangkuan Arga.
__ADS_1
"Iya sayang, itu akan menjadi urusanmu untuk menasehati Zafira, karena kamu Ibunya, aku yakin kamu bisa meluluhkan hati anakmu seperti dulu kamu meluluhkan hatiku yang jahat, kejam dan seperti monster," ujar Arga tersenyum simpul menatap Laras dengan penuh cinta.
Laras tersenyum membalas tatapan Arga.
"Kamu dulu itu memang seperti monster sayang, monster bermata merah," sela Laras lalu tertawa lebar.
Mendengar perkataan Laras, Arga pun tidak bisa menahan tawa, pria itu mengucek rambut Laras seraya menatap penuh cinta pada sang istri.
*****
Tiga belas tahun kemudian.
Kini, umur Zafran, Zafira dan Fariz telah menginjak 16 tahun.
Ketiganya kini telah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan mereka menimba ilmu di sekolahan yang sama, hanya saja Fariz berbeda kelas dengan Zafran dan Zafira.
Ketiganya memiliki kecerdasan yang sama, Zafira selalu mendapat juara Pertama dan Zafran mendapat juara Kedua di kelas mereka, Fariz pun tidak kalah cerdasnya dengan kedua sahabatnya, dia selalu meraih juara Pertama di kelasnya.
Sejak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, sebenarnya Fariz sudah mulai mengagumi Zafira, semakin hari semakin besar rasa kagumnya kepada gadis anak orang kaya itu.
Zafira yang sama persis seperti Laras memiliki hati yang lembut, baik, cantik dan bertubuh tinggi semampai, membuat Fariz begitu mengagumi gadis cantik dan putih itu.
Banyak anak laki-laki satu sekolah atau dari sekolah lain yang menyukai bahkan tak segan-segan mengejar gadis rupawan itu namun sang gadis tidak pernah mengindahkan mereka.
Zafira hanya menyukai satu pria, Ronald, kakak kelas mereka, pemain basket yang digilai banyak anak perempuan di sekolah mereka, seumuran Anak Menengah Atas, Ronald memiliki postur tubuh di atas rata-rata, dengan tinggi badan 180 cm.
Ronald sangat mengagumi Zafira yang terkenal dengan kecantikan serta kecerdasannya, dan begitu pun sebaliknya, Zafira sangat bangga bisa berdekatan dengan pembasket tampan dan hebat seperti Ronald, bahkan sudah satu bulan ini, mereka menjalin hubungan cinta monyet, hubungan yang hanya sekedar makan bersama, nonton bioskop dan keliling ke tempat-tempat wisata di kota Jakarta, namun itu sudah cukup membuat Zafira dan Ronald merasa senang melalui hari-hari mereka.
Sementara Fariz, hingga kini, setelah mereka duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas, anak baru gede itu hanya berani diam membisu, menyimpan perasaan kagumnya kepada sang sahabat sekaligus anak dari sahabat mamanya itu.
Sebenarnya Fariz sudah tahu sejak lama, jika dirinya dan Zafira telah dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing, hanya saja perjodohan itu tidak terlalu dipaksakan, semua berjalan seperti air mengalir, dan semua keputusan diserahkan kepada Zafira dan Fariz, apakah akan menerima perjodohan ini atau tidak.
Baik Laras dan Arga, atau pun Tina dan Rico, sama sekali tidak memaksakan kehendak mereka agar anak-anak mereka menyetujui perjodohan ini, keduanya menyerahkan segala keputusan kepada Zafira dan Fariz.
"Riz, ayo kita pulang!," Zafran merangkul sahabatnya itu dan berjalan ke parkir mobil saat mata pelajaran telah usai.
Fariz tidak terlalu mengacuhkan ajakan Zafran, matanya sibuk berputar mencari sesuatu yang tidak terlihat di matanya.
"Kamu mencari siapa?," Zafran menarik sebelah bibir, tersenyum menatap Fariz penuh selidik.
Fariz tidak menjawab, matanya masih berkeliling hingga kepalanya ikut berputar melihat ke belakang, mengedarkan pandangan mencari sesuatu.
"Zafira mana Fran?," Fariz akhirnya bertanya setelah matanya lelah mencari sosok Zafira tetapi tidak menemukannya.
"Sudah kuduga, kamu pasti mencari Zafira!," Zafran terkekeh menepuk bahu sahabatnya dengan keras.
"Riz, kamu jangan berharap banyak pada adikku. Dia sudah punya pacar. Kamu ini tampan Riz, banyak yang menyukaimu. Kamu cari saja cewek lain, seperti si Adel, Tria, Cella, dan masih banyak lagi. Kamu pilih salah satu dari mereka, daripada kamu terus memendam rasa pada Zafira. Pasti sakit rasanya!," Zafran mencoba menasehati dan membuka fikiran sang sahabat, Zafran tidak tega melihat Fariz yang setiap hari hanya berharap Zafira melihatnya.
Zafran tahu persis parasaan dan seluruh isi hati Fariz terhadap Zafira, karena mereka telah bersahabat sejak kecil, dan Zafran telah berpuluh kali menasehati Fariz agar melupakan adiknya namun pria tampan beralis tebal itu tidak pernah menggubris nasehat Zafran, Fariz tetap tidak menyerah, terus berharap Zafira akan memalingkan mata untuk melihatnya.
__ADS_1
...*******...