Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
52 - AMUKAN CALON PENGANTIN


__ADS_3

"Saudaramu Zafran, yang atas perintah papamu menemuiku di apartemenku kemarin malam. Zafran yang menceritakan semuanya padaku. Dia juga yang memintaku untuk datang kesini sebelum akad nikahmu dilaksanakan," jelas Citra yang membuat Zafira kembali membulatkan kedua mata. Dia tidak percaya, dua orang pahlawan yang telah menyelamatkannya dari tipu daya Ronald adalah sang papa serta saudara kembarnya.


"Beberapa waktu lalu, papamu telah mengirim anak buahnya untuk menyelidiki siapa kekasih Ronald. Dan mereka mengetahui kalau aku-lah kekasih Ronald. Mereka menemukan apartemenku, memata-matai-ku setiap hari dan mengambil ratusan fotoku bersama Ronald untuk diserahkan kepada papamu. Untung Zafran datang tepat waktu, menceritakan segalanya dan segera menyuruhku menemuimu. Karena jika terlambat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku dan calon anakku, jika Ronald sampai menikah denganmu," Citra berkata lirih dan kembali menangis sesenggukan.


Zafira tertegun mendengar penjelasan Citra. Air matanya kembali menetes. Bayangan sang papa serta Zafran muncul di benaknya. Sebesar itu rasa sayang sang papa serta sang kakak kepadanya, sampai melakukan semua ini untuk dirinya.


"Papa, Zafran, terima kasih.., Kalian telah menyelamatkanku. Maafkan aku tidak pernah mempercayai dan menuruti peringatan kalian. Aku mencintai kalian," bisik hati Zafira penuh penyesalan.


Suasana pun hening. Kedua gadis itu terhanyut dalam lamunan panjang yang terus berputar di benak masing-masing. Hingga akhirnya Citra kembali membuka suara.


"Zafira maaf, apakah kamu pernah tidur dengan Ronald?," Citra dengan perasaan takut, mencoba menanyakan hal privasi itu, seketika membuyarkan lamunan Zafira.


Bukan tanpa alasan Citra menanyakan tentang itu. Karena dia ingin tahu, seintim apa hubungan Ronald dengan Zafira selama ini. Hatinya berharap-harap cemas menanti jawaban Zafira.


"Haahh?," mulut Zafira menganga, matanya membola. Terkejut. Itu yang dirasakannya. Dia menatap tajam pada gadis di depannya.


"Maaf Citra, aku tidak sebebas kamu. Aku juga tidak seperti dirimu. Aku tidak pernah diajarkan orang tuaku untuk memberikan kesucianku untuk laki-laki yang belum menjadi mahram-ku. Alhamdulilah sampai sekarang aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan yang kamu pertanyakan itu," Zafira sempat merasa kesal mendengar pertanyaan Citra.


Zafira merasa Citra membandingkan kepribadian mereka berdua. Dan Zafira tidak terima jika dirinya harus dibandingkan dengan gadis seperti Citra, yang rela menyerahkan segalanya sebelum ada ikatan pernikahan.


Tiba-tiba Citra yang sedari tadi menangis, mendadak tersenyum senang. Dia lega karena posisinya aman. Jika Zafira belum terjamah oleh Ronald, itu berarti posisinya aman, tidak harus berbagi suami dengan Zafira.


Namun di benak gadis itu, dia merasa kagum dengan kepribadian Zafira. Delapan tahun bukan waktu yang sedikit menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, apalagi laki-laki liar seperti Ronald, tetapi Zafira mampu menjaga kehormatannya dari laki-laki penggoda dan perusak seperti kekasihnya itu.


Ada kekaguman tersendiri di dalam hati gadis itu melihat pribadi Zafira. Tidak hanya cantik dan ber-otak pintar, tetapi dia juga pintar menjaga diri dari laki-laki yang mayoritas hanya ingin menghisap madu dari seorang gadis, setelah itu mereka pergi meninggalkan tanpa belas kasihan.


Citra tersenyum melihat Zafira, baginya Zafira sosok gadis yang nyaris sempurna. Dari mulai wajah, lekukan tubuh, otak bahkan kepribadiannya. Wajar saja jika Ronald tidak mau melepaskannya dan bertekad menjadikannya istri.


"Terima kasih Zafira, kamu sudah menjaga kehormatanmu. Itu sangat membantuku dan membuat posisiku lebih aman. Setidaknya aku sekarang menjadi lega karena tidak harus berbagi suami denganmu dan bisa meminta pertanggung jawaban Ronald untuk segera menjadi ayah bagi calon anakku. Sekarang aku juga lebih tenang karena bisa menjadikan Ronald satu-satunya ayah untuk anakku tanpa harus berbagi ayah dengan anak dari wanita lain," ucap Citra dengan jujur.


Zafira tersenyum tipis mendengar perkataan Citra. Dia masih mencerna kata-katanya. Iya, untuk saat ini Citra aman, tetapi tidakkah gadis itu berfikir jika suatu hari nanti, Ronald akan berbagi benih lagi untuk wanita lain?


Zafira benar-benar bingung dengan jalan fikiran Citra, mengapa tetap ingin bertahan dengan Ronald, yang jelas-jelas bukan laki-laki yang baik untuk dijadikan suami. Namun Zafira tidak ingin ikut campur terlalu jauh, itu urusan pribadi Citra dan biarkan dia yang menyelesaikan dan menjalani, yang terpenting saat ini, Zafira merasa beruntung karena telah terselamatkan dari laki-laki pelacur seperti Ronald.


Belum sempat Zafira menjawab perkataan Citra, suara pintu terbuka dan seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Honey, apakah kamu sudah siap?," tiba-tiba sebuah suara memanggil Zafira, yang membuat kedua gadis itu terlonjak dengan raut wajah terukir keterkejutan.


Pria itu belum melihat dengan jelas, siapa yang ada bersama calon istrinya. Dengan langkah tegap, dia tersenyum mendekati Zafira.


Baik Zafira maupun Citra, sangat hafal dengan suara itu. Secara bersamaan, kedua gadis itu secepat kilat menoleh ke arah datangnya suara yang muncul dari arah pintu.


Mata keduanya membuka lebar menatap kedatangan Ronald yang telah berdiri tiga meter dari kursi yang mereka duduki.


Dan tidak hanya kedua gadis itu yang merasa terkejut, Ronald merasakan hal yang lebih menegangkan, menerjang hatinya. Seketika pria itu merasakan kepanikan. Bola matanya membuka lebar hampir lepas dari tempatnya melihat Citra duduk bersama Zafira.


Ronald yang memakai setelan jas putih senada dengan kebaya Zafira mendadak membeku, hanya berdiri tak berani menggerakkan tubuh. Tulangnya menjadi kaku untuk bergerak. Dia pun mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata. Hanya mukanya tak dapat menyembunyikan ketegangan, memandangi kedua gadis di depannya secara bergantian.


Terlihat dengan jelas, gurat muka pria itu menggambarkan ketakutan serta kepanikan. Dia tetap di tempatnya tanpa berani melangkahkan kaki. Niatnya yang tadi ingin mencium dan memeluk Zafira pun dibatalkan. Jangankan melakukan itu, lebih mendekat ke arah kedua gadis di depannya pun, dia tidak berani.


Bibir Zafira terkatup rapat, hanya matanya yang terbuka lebar dengan sorot kebencian tersimpan di kedua retina mata itu. Tatapannya tajam menusuk hingga ke jantung pria itu, pria yang telah memberi angin syurga untuknya namun ternyata di belakangnya menabur dan menanam benih-benih menjijikkan untuk gadis lain.


Dengan gerakan pelan, Zafira beranjak dari duduk. Berjalan mendekati Ronald, dengan tidak lupa, satu tangan terulur menyambar gelas yang berisi air putih di atas meja.


"Byuuur"


Citra tercekat melihat itu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Di dalam hati, dia tidak menyalahkan Zafira jika melakukan hal itu kepada Ronald. Sudah sepantasnya Ronald diberi pelajaran supaya kelakuan serta kebiasaan buruknya bisa sedikit berubah.


Tidak hanya Citra yang tercekat. Ronald pun merasakan hal yang sama. Dia tidak menyangka Zafira bisa melakukan hal sekasar ini padanya. Padahal selama hubungan mereka, tidak satu kali pun Zafira bersikap kasar kepadanya.


Pria itu mengusap muka yang telah basah karena siraman air dengan telapak tangan, sambil tetap tidak mengalihkan pandangan menatap ngeri pada calon istrinya.


Zafira yang dia kenal selama ini begitu cantik dan menawan, tetapi hari ini wajah itu berubah menjadi dingin, kaku, tatapannya seakan ingin menerkam dan mengulitinya seperti zombie mencari mangsa.


"Ho-honey? A-apa yang kamu lakukan?," pria itu terbata, masih mencoba bertanya dengan suara menunjukkan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.


Zafira masih diam seribu bahasa dan masih menatap tajam pria itu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Gelas dipegang di tangan kiri, sementara tangan kanannya terangkat ke udara.


"Plaakk"


Satu tamparan begitu keras mendarat di pipi kiri calon suaminya.

__ADS_1


Citra terperanjat. Gadis itu spontan berdiri dari kursi tatkala menyaksikan amukan Zafira. Lagi dan lagi dia hanya bisa diam. Dia mengerti perasaan Zafira dan membiarkan saja gadis itu melakukan apapun untuk meluapkan rasa sakit hatinya kepada Ronald tanpa berniat melerainya.


"Plaaakk"


Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi kiri Ronald.


"Plaaakk"


"Plaaakk"


"Plaaakk"


"Plaaakk"


"Plaaakk"


Entah berapa kali Zafira telah melayangkan tangannya ke wajah Ronald tanpa rasa belas kasihan sedikit pun. Hingga dia tidak sadar telah menjatuhkan gelas di tangannya, sampai suara gelas itu terdengar nyaring membentur lantai dan pecah berkeping-keping menjadi beling. Namun gadis itu tidak menghiraukan. Dia terus memberikan pukulan di muka Ronald sampai akhirnya dia sendiri yang merasa kelelahan dan merasakan telapak tangannya terasa panas, perih dan berwarna kemerahan.


Ronald sama sekali tidak menghindar atau pun melakukan perlawanan. Dia menerima saja semua tamparan dari gadis itu. Karena dia yakin, Citra pasti telah menceritakan semua tentang hubungan mereka. Dan dia tidak berani untuk membela diri, Zafira pasti telah mengetahui semua kebusukannya.


"Honey..," Ronald mengeluarkan suara serak, setelah dilihatnya Zafira telah menghentikan pukulannya.


"Apa? Honey?," potong Zafira cepat dengan tatapan menghunus ke manik mata pria di depannya.


"Honey, aku..," panggil Ronald kembali, berusaha menjelaskan semuanya namun kalimatnya terpaksa berhenti tatkala tangan Zafira kembali melancarkan pukulan.


"Plaaakk"


Satu tamparan lagi tak ayal mampir ke muka Ronald. Entah, ini sudah tamparan yang ke berapa puluh kali. Namun tetap tidak mampu mengobati rasa sakit yang menikam hati gadis itu.


"Jangan pernah memanggilku lagi dengan kata itu! Aku jijik mendengarnya!," bentak Zafira dengan sorot mata memancarkan kemarahan.


"Aku..," Ronald kembali ingin berkata tetapi Zafira kembali memangkas kalimatnya.


"Aku apa? Apa yang mau kamu jelaskan lagi padaku? Dasar laki-laki pembohong! Penipu! Pengkhianat! Kamu sudah menipuku bertahun-tahun Ronald! Kamu sudah mengkhianati cintaku! Aku sudah memberikan hati dan menghabiskan banyak waktuku untukmu! Tapi tega-teganya kamu mempermainkan perasaanku. Delapan tahun kamu membuatku seperti orang bodoh!," teriak Zafira sudah tidak tertahan.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2