Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
26 - SIKAP KASAR FARIZ


__ADS_3

Setelah selesai shalat Magrib, Zafira segera pergi ke dapur dan mengambil dua kotak nasi yang telah ditaruh Tina di dalam wadah yang terpisah.


Gadis itu mengambil piring serta sendok kemudian menaruh kotak nasi itu di dalam piring tanpa mengeluarkan isi serta lauknya dari dalam kotak.


Zafira berjalan menuju ke kamar Fariz, tas kerja digantung di bahu, dua tangan membawa dua piring. Dengan susah payah Zafira memutar handle lalu mendorong pintu kamar dan menutupnya kembali dengan telapak kaki, lalu berjalan masuk.


Tampak Fariz masih di atas sajadah sambil memejamkan mata, ternyata pria itu juga baru selesai shalat Magrib.


Zafira menaruh semua bawaannya di atas meja kemudian memutar badan melirik pria yang masih duduk di atas sajadah.


Perlahan-lahan Zafira mendekati Fariz, berdiri sejenak memandangi Fariz lalu tanpa mengeluarkan suara, melipat kaki ikut duduk di samping kiri sahabatnya.


Namun hidung Fariz tidak bisa didustai, pria itu dapat merasakan kehadiran Zafira di dekatnya hanya dengan mencium aroma parfum Zafira yang sudah sangat akrab di hidungnya. Dia tahu jika saat ini Zafira sedang duduk di sebelahnya. Namun pria itu berpura-pura tidak tahu dan tetap memejamkan mata sambil meratapi nasibnya kelak setelah Zafira meninggalkannya menikah dengan pria lain.


Rasanya air mata Fariz hendak menyembur keluar dari kedua sudut mata namun pria itu sekuat mungkin menahannya. Dia tidak ingin Zafira melihat kerapuhannya.


"Zafira, bagaimana nasibku setelah kamu menikah dengan Ronald? Apa aku bisa melewati hari-hari tanpa dirimu? Mengapa kamu tidak pernah mencoba belajar mencintaiku? Apakah hatimu benar-benar telah tertutup karena kehadiran Ronald? Se-sempurna apakah sosok Ronald di matamu? Sehingga di matamu, aku sama sekali tidak berarti. Mengapa kamu terus menganggapku sahabat dan saudara? Padahal aku sangat menginginkan lebih dari itu. Rasanya aku ingin tidur selamanya dan tidak ingin bangun lagi," batin Fariz menangis dalam hati.


Dada pria itu semakin sesak membayangkan di hari mendatang bagaimana dia harus menjalani kehidupan jika gadis yang dicintainya telah menjadi milik pria lain. Ronald, suami Zafira pasti akan melarang gadis itu berhubungan dengannya lagi, setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Rasa takut semakin menghantui diri pria itu.


Zafira yang sedari tadi hanya duduk diam tanpa kata, sedikit menggerakkan kepala menoleh ke kanan. Matanya mengamati Fariz yang sedang memejamkan mata. Zafira terus memperhatikan wajah pria di sampingnya.


Zafira tidak membantah jika wajah Fariz begitu tampan melebihi Ronald. Air muka Fariz terlihat begitu jernih dipandang. Berbeda dengan wajah Ronald, terlihat tampan namun tidak memiliki aura jernih seperti yang dimiliki Fariz


Memang terlihat berbeda, muka yang selalu terbasuh air wudhu dengan muka yang tidak pernah tersentuh air wudhu.


"Fariz, aku yakin banyak gadis yang mengejarmu tapi mengapa kamu mengabaikan mereka dan masih berharap padaku? Padahal kamu tahu, aku telah menambatkan hatiku pada Ronald dan sebentar lagi aku juga akan menikah. Tidak mungkin aku membagi hatiku untuk kalian berdua. Aku hanya bisa mencintai satu pria dan tidak akan bisa mencintai dua pria sekaligus. Ronald kekasihku sekaligus calon suamiku, kamu sahabatku. Bagiku kalian berdua sama pentingnya. Aku memang mencintai Ronald, tapi mengapa hatiku selalu merasa cemas setiap kali kamu mendiamkanku apalagi berkata akan menjauhiku? Apa mungkin karena aku sudah terbiasa ada dirimu dalam hidupku membuatku tidak bisa berpisah denganmu? Seperti halnya aku tidak bisa berpisah dengan Zafran?," Zafira terus memandangi wajah Faris dengan sejuta kegelisahan yang terus berperang dalam hati serta batinnya.


Tiga menit Zafira memandangi pria itu. Dia menarik nafas seraya meremas jemari. Hatinya kian dilanda kebingungan harus mengeluarkan kalimat apa lagi untuk membujuk Fariz agar tidak marah lagi padanya? Dari tadi dia telah mengeluarkan ribuan kata untuk menghibur serta meminta maaf pada Fariz tetapi semua sia-sia.


"Emm, Fariz.., aku membawa nasi ayam bakar kesukaanmu. Tadi aku membelinya di restoran langganan kita," Zafira mencoba membuka suara tanpa mengalihkan tatapan pada pria di sampingnya.


Fariz tiba-tiba membuka mata, bukannya menoleh kepada gadis di sebelahnya, pria itu justru segera berdiri kemudian tangannya hendak mengambil sajadah bermaksud melipatnya.

__ADS_1


"Sini aku saja yang melipat," Zafira menawarkan bantuan dan tangannya ikut meraih sajadah namun dengan cepat Fariz mendahuluinya dan menarik sajadah yang masih terbentang di lantai.


Pria itu melipat sajadah, melepas sarung serta peci lalu meletakkan ke tempatnya semula di atas meja kecil.


Zafira terdongak menatap terkejut dengan sikap Fariz sembari menelan kasar saliva. Sepertinya kali ini Zafira mengalami kesulitan untuk membujuk Fariz. Hati pria itu sudah membatu. Berbagai cara telah dilakukannya namun pria itu terkesan mulai menjaga jarak dengan dirinya, namun gadis itu tidak menyerah begitu saja dan masih berusaha berdamai dengan sahabatnya.


"Pergilah. Aku ingin sendiri," akhirnya sebuah suara keluar juga dari mulut Fariz yang sedari tadi terkunci rapat.


Tanpa mempedulikan Zafira, pria itu berjalan ke tempat tidur dan duduk di bibir ranjang.


Zafira tercekat mendengar perkataan Fariz. Hati gadis itu mendadak terasa teriris. Perih rasanya. Dia tidak menyangka Fariz mengatakan itu. Setelah sekian tahun mereka bersahabat dan selalu bersama, baru kali ini Fariz menyuruhnya pergi.


Zafira berusaha menahan perasaan perihnya, mencoba berjalan mendekati Fariz yang kini duduk mematung di bibir ranjang.


Zafira seperti seorang terdakwa berdiri tertunduk di hadapan Fariz. Jika melihat keadaannya seperti itu, seharusnya Fariz iba, namun ternyata rasa sakit hati pria itu membuatnya terus bersikap acuh kepada gadis yang dicintainya dan melupakan nasehat Tina.


Zafira tidak bisa menyembunyikan raut lelah di mukanya. Dari pagi hingga malam, dia belum beristirahat. Kepalanya mulai terasa pusing. Dia ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan Fariz kemudian pulang dan tidur memulihkan tenaga serta fikiran yang seharian ini telah terkuras.


"Fariz, jangan seperti ini terus. Tidak mungkin aku pulang ke rumah dalam keadaan masih belum berbaikan denganmu. Aku mohon maafkan aku kalau rencana pernikahanku membuatmu sakit hati dan kecewa. Aku akan pulang setelah kamu mau berbicara denganku," Zafira berkata sambil mengerjapkan mata berulang kali yang tampak sudah sangat lelah.


Zafira berjalan ke meja dan mengambil kotak nasi yang telah ditaruh di dalam piring beserta sendok yang tadi telah diambil di dapur.


Gadis itu ikut duduk di bibir ranjang, di samping kiri Fariz.


"Tadi siang di restoran, kamu belum menyelesaikan makan. Aku tahu, kamu pasti masih lapar. Kita makan yuuk... Sebagai permintaan maafku, aku suapi ya.., Setelah ini aku akan pulang," ucap Zafira memelas agar sang sahabat mau berbaikan dengannya.


Gadis itu menyodorkan sendok berisi nasi serta suiran ayam bakar ke mulut Fariz.


Belum sampai sendok itu ke mulut sang pria, tiba-tiba tangan kiri Fariz bergerak kasar.


"Tidak perlu Zafira!!," teriak Fariz spontan.


Fariz menepis tangan Zafira dengan keras, dan...

__ADS_1


"Byuuuur"


Sendok serta piring nasi yang ada di pegangan Zafira terlepas dan terlempar. Nasi serta lauk yang ada di dalam kotak nasi pun tumpah berserakan di lantai. Terdengar suara nyaring sendok serta piring membentur marmer.


Fariz terperanjat, matanya sontak terbuka lebar. Dia tidak sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Tangannya refleks bergerak begitu saja, mungkin karena suasana hatinya yang sedang hancur mendengar berita bahwa Zafira akan segera menikah membuat pria itu tidak mampu mengontrol emosinya.


Fariz merenggangkan telapak tangan dan matanya nanar menatap tak berkedip kelima jarinya. Dia tidak menyangka bisa melakukan hal sekasar ini kepada Zafira. Akal sehatnya baru bisa berfungsi secara tenang serta normal setelah tangan itu berhasil menepis tangan Zafira sehingga nasi serta lauk yang dengan susah payah dibeli Zafira berhamburan di lantai.


Fariz seketika sadar, apa yang baru saja dilakukannya pasti telah menciptakan kesedihan di hati Zafira. Fikirannya mendadak terbuka dan muncul perasaan sesal serta iba melihat Zafira.


Fariz yang beberapa detik masih terpaku memandangi tangannya, segera mengangkat kepala lalu berpaling menatap wajah Zafira yang tampak shock dan pucat memandangi dengan sorot mata sedih nasi yang bertaburan di lantai.


"Fariz! Kamu jahat!," hanya kata itu yang mampu diucapkan Zafira dengan bibir bergetar, mengalihkan pandangan ke arah Fariz, menatap nanar pria itu dengan mata berkaca-kaca.


Wajah gadis itu seketika mendung dan air mata menetes di kedua sudut matanya, hingga tangis pun kini tidak terbendung lagi.


Selama persahabatannya dengan Fariz, baru kali ini Fariz bersikap kasar padanya. Hati gadis itu terasa sakit telah diperlakukan seperti ini oleh sahabat yang telah dianggapnya saudara bahkan telah menjadi salah satu orang yang terpenting dalam hidupnya.


Fariz hanya bisa tercenung menatap Zafira tanpa berani melontarkan kata-kata. Apalagi sejak Zafira datang, Fariz tidak memperhatikan muka gadis itu yang ternyata memang tampak lelah dan pucat. Mungkin Zafira juga sedang menahan lapar, dikarenakan di restoran tadi dia juga tidak sempat menghabiskan makanannya. Semakin besar rasa sesal di hati pria itu setelah ingat jika Zafira dalam kondisi lelah dan lapar.


Zafira mengusap air mata dengan ujung tangan, dengan terburu-buru gadis itu berlari memutar mengambil tas yang ada di meja di samping kanan ranjang kemudian berlari keluar dengan tetesan air mata yang semakin deras.


Fariz terlonjak dari ranjang melihat Zafira pergi sambil menangis.


Pria itu meraih kunci mobil yang tergeletak di meja dan berlari secepat kilat keluar kamar mengejar Zafira. Dia begitu menyesal telah bersikap kasar pada sahabatnya. Gadis itu pasti merasa sakit hati mendapat perlakuan kasar Fariz yang selama ini belum pernah diterimanya.


Fariz juga tidak berhenti memarahi dirinya sendiri mengapa tidak bisa mengontrol emosi serta rasa cemburunya.


Apapun caranya, Fariz harus menghentikan Zafira. Dia telah melihat wajah lelah serta pucat Zafira dan dia tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada Zafira saat mengendarai mobil.


Fariz mengepal keras tangannya, merasa menyesal telah mengikuti emosinya. Pria itu dapat merasakan perasaan sedih serta sakit hati yang saat ini dirasakan Zafira.


"Zafira!," panggil Fariz saat melihat Zafira telah sampai di ruang tengah namun gadis itu tidak mengindahkan panggilan pria itu. Zafira terus menangis dan menghapus air matanya mengingat perlakuan kasar Fariz padanya.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2