
Di perjalanan menuju pulang ke rumah, Fariz menelepon seseorang dan Zafira menyimak pembicaraan tersebut. Gadis itu dapat menangkap dari pembicaraan itu kalau yang sedang ditelepon Fariz adalah sopir kantor yang tadi dimaksud Fariz untuk mengambil mobil.
"Bagaimana? Apa sopir kantor bisa mengambil mobilmu?," tanya Zafira ingin tahu setelah Fariz menutup pembicaraan.
"Bisa, sebentar lagi dia langsung menuju lokasi," ujar Fariz memberitahu.
"Alhamdulilah, aku jadi tenang sekarang," gumam Zafira yang membuat Fariz tersenyum.
Hanya masalah mobil saja, Zafira sudah merasa khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Fariz, mungkin gadis itu akan menangis dan histeris.
"Tadi kamu belum menjawabku. Kamu mau kan memaafkanku?," tanya Zafira menoleh sekilas ke samping.
"Tentang apa?," Fariz bertanya tanpa mengalihkan pandangan, masih fokus mengemudikan kendaraan melihat ke depan.
"Tentang rencana pernikahanku," Zafira menjawab sangat pelan sambil kembali meluruskan pandangan ke depan.
Fariz tertegun. Sontak menoleh ke samping kiri, menatap Zafira beberapa detik. Menarik nafas panjang lalu kembali memfokuskan mata ke jalanan.
Sebenarnya saat ini hatinya sedang bahagia karena baru mendapat pelukan pertama kali dari Zafira dan dia tidak mau merusak moodnya yang masih merasa berbunga-bunga dengan membahas rencana pernikahan Zafira yang tentunya akan merusak suasana hatinya.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas sekarang. Itu kan baru rencana, belum tahu kapan terealisasi. Nanti kalau Ronald sudah menemui papa dan mamamu, barulah kita bicarakan lagi tentang ini," ujar Fariz menginjak gas sedikit dalam untuk mempercepat laju kendaraan agar bisa cepat sampai di tujuan.
"Kalau begitu, itu artinya kamu tidak marah dengan rencana pernikahanku?," kejar Zafira bertanya cepat.
Fariz tidak menjawab. Wajah itu tidak bergeming. Matanya pun tetap tertuju ke depan.
Melihat sikap Fariz, Zafira pun menjadi takut. Takut Fariz akan marah seperti kejadian di kamar satu jam yang lalu. Demi menghindari perdebatan kembali di antara mereka, gadis itu pun memilih diam dan mengarahkan pandangan keluar jendela memperhatikan kondisi jalan yang terlihat masih mengalami kemacetan di beberapa titik jalan.
Lima menit kemudian, Fariz membelokkan mobil ke sebuah restoran dan memarkirkan mobil di sana.
"Mengapa berhenti di sini?," Zafira bertanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat, yang dia tahu kalau ini salah satu restoran yang sering dia dan Fariz datangi.
"Aku tahu, kamu pasti lapar, sama sepertiku. Tadi kita sama-sama tidak makan dengan kenyang. Sekarang kita makan sebentar, setelah itu langsung pulang. Tapi kamu telepon tante Laras dulu, beritahu kamu sedang bersamaku biar mereka tidak cemas menunggumu pulang," saran Fariz, mematikan mesin mobil serta melepaskan safety belt.
__ADS_1
"Tadi pulang dari kantor, aku sudah menghubungi mama. Dan aku juga sudah memberitahu kalau aku akan pulang sedikit malam karena main ke rumahmu," Zafira menjelaskan seraya mengecek ponsel di tas, tidak ada pesan masuk atau panggilan telepon. Itu artinya sang mama tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Iya baguslah kalau kamu sudah mengabari tante Laras. Itu artinya orang di rumah sudah tahu kalau kamu sedang bersamaku," ucap Fariz menjadi tenang.
"Iya, mama sudah tahu," sahut Zafira memasukkan kembali ponsel di tas sambil melepaskan safety belt yang mengikat tubuhnya.
Namun gadis itu tampak kesulitan melepas safety belt di tubuhnya, dikarenakan tubuhnya sudah terlalu lelah, gerah dan lapar sehingga melepas safety belt saja terasa sulit.
Fariz melirik itu, mencoba membantu. Dia memanjangkan tangan meraih safety belt Zafira, memiringkan dan sedikit mengangkat tubuh mendekat ke arah gadis itu dan segera melepaskan safety belt yang masih terkait di tubuhnya. Dan ternyata sangat mudah Fariz melepasnya.
"Deg"
Fariz terkesima saat berada sedekat itu dengan gadis cantik itu. Wajah Zafira yang ada di bawah kungkungannya sangat terlihat cantik. Apalagi pada saat yang sama Zafira juga tengah mendongak ke atas. Mata bening gadis itu sedang menatap Fariz dengan tatapan sendu.
Untuk beberapa detik keduanya saling bertatapan. Lagi dan lagi Zafira merasakan debaran halus dan samar-samar mengusik hatinya menatap sorot mata Fariz yang tenang serta teduh. Namun dia tidak terlalu mempedulikan debaran itu.
Zafira berfikir kalau debaran itu hanyalah debaran biasa karena merasa terkejut masuk dalam kungkungan pria yang bukan keluarga sedarah dengannya. Dan dia juga berfikir tidak mungkin dia jatuh cinta kepada Fariz sedangkan dia sudah memiliki calon suami dan tidak mungkin juga dia mencintai laki-laki lain dalam waktu yang bersamaan.
Kini posisi mereka bagaikan sepasang kekasih yang hendak berciuman. Fariz begitu terpesona melihat kecantikan wajah Zafira yang bisa dia amati sedekat ini. Mata yang bening, hidung mancung dan bibir yang indah, ditambah rambut panjang yang tergerai di pinggang menambah kecantikan gadis itu. Hati Fariz menjadi gugup dan tubuhnya menjadi gemetaran. Dan...
Saking nervous-nya sang pria, tubuhnya terjatuh menimpa tubuh Zafira. Karuan saja, tubuh Fariz mendarat sempurna di atas tubuh gadis itu.
Untungnya bibir mereka tidak saling bersentuhan karena Zafira refleks menolehkan kepala ke samping dan Fariz pun melakukan hal yang sama, menahan beban tubuhnya dengan satu tangan menekan di jok mobil dan satu tangan lagi memegang dasboard mobil.
"Fariiizz..,! Mengapa menimpaku!," teriak Zafira mendorong tubuh besar itu menjauh dari tubuhnya.
"I-iya maaf. Aku tidak sengaja," ucap Fariz tergagap menunjukkan kegugupan dan sontak kembali duduk di tempat duduknya semula.
"Kamu ini ya! Mengapa sekarang jadi suka sekali menempel di tubuhku!," gerutu Zafira merapikan kemejanya yang sempat tertarik karena ditimpa tubuh Fariz.
"Enak saja menuduhku yang tidak-tidak. Aku hanya ingin membantumu," Fariz membela diri.
"Masih saja tidak mau mengaku! Memang kenyataannya begitu, kamu senang sekali dekat-dekat denganku! Mencari kesempatan dalam kesempitan!," Zafira mendelik yang akhirnya membuat Fariz tertawa melihat wajah cantik itu.
__ADS_1
"Ya sudah sudah. Aku minta maaf karena kurang berhati-hati. Jangan marah-marah terus, nanti mukamu itu jadi jelek!," gurau Fariz masih dengan tertawa melihat muka Zafira yang tampak merah menahan kesal.
Zafira diam saja. Dia tidak menjawab gurauan Fariz dan malah memperlihatkan muka cemberut. Tangannya bergerak hendak membuka pintu, tiba-tiba pria tampan di sampingnya memberikan sebuah perintah, larangan.
"Jangan keluar dulu, biar aku yang membukakan pintu. Bukankah tadi sudah kukatakan, saat sedang bersamaku, izinkan aku yang membukakan pintu untukmu," ujar Fariz yang refleks membuat gerakan Zafira terhenti.
Pria itu segera keluar dari mobil dan segera membukakan pintu sebelah kiri dimana Zafira duduk.
Gadis itu pun menapakkan kaki di pelataran parkir, keluar dari mobil. Dan dia masih sempat menggerakkan kedua bola mata melirik ke arah Fariz yang berdiri di depan pintu dan seperti biasa pria itu selalu mengulas senyum di bibir, sama seperti yang dilakukannya saat ini. Tersenyum menyambut Zafira yang keluar dari mobil.
Hati Zafira yang tadinya sedang kesal karena tertimpa tubuh Fariz mendadak sirna saat melihat perlakuan Fariz yang sungguh manis.
Hati Zafira semakin tersentuh dengan perlakuan pria itu padanya. Andai kata dia tidak mengenal Ronald dan hanya ada Fariz saja di dalam hidupnya, mungkin saja saat ini dia telah jatuh cinta pada Fariz dan memilih sahabatnya itu menjadi suami.
Tetapi untuk saat ini, hal itu tidak boleh terjadi, karena hubungannya dengan Ronald sudah sangat serius bahkan telah merencanakan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan dan tidak ada yang bisa membatalkan rencana pernikahan yang telah mereka sepakati bersama. Karena Ronald mencintai Zafira, begitu pun sebaliknya.
"Terima kasih," ucap Zafira keluar dari mobil sambil membalas senyuman Fariz. Hatinya sudah tidak kesal lagi.
Mereka pun memasuki restoran dan hanya tiga puluh menit mereka berada di sana dan segera pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah Zafira, tampak mobil Fariz sudah berada di sana dan sang sopir sedang duduk di ruang tamu bersama Arga.
Fariz turun sebentar dan sempat beberapa menit berbincang dengan Arga di ruang tamu.
Dan menit berikutnya Fariz pun pamit mencium tangan Arga yang diantar Arga hanya sampai di teras rumah. Sang sopir pun segera meninggalkan rumah Zafira naik taxi yang telah menunggunya di luar pagar rumah.
Fariz berjalan menuju mobil yang diiringi Zafira di sampingnya.
"Zafira, aku pulang dulu. Kamu jangan lupa mandi air hangat, shalat dan langsung istirahat," pesan Fariz setelah masuk ke dalam mobil.
"Baik. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut dan jangan lupa baca doa," Zafira pun memberi pesan dengan senyum yang begitu manis diberikan untuk pria beralis tebal itu.
"Siap tuan puteri," Fariz mengangguk tersenyum kemudian menjalankan kendaraan meninggalkan rumah mewah itu dengan lambaian tangan Zafira yang mengantar kepergiannya.
__ADS_1
...*******...