
Saat pertanyaan sang mama tertuju padanya, tiba-tiba di saat yang sama muncul bayangan Fariz melintas di pelupuk mata Zafira.
Di moment penting seperti ini, mengapa gadis itu malah tanpa sengaja mendadak memikirkan Fariz? Entah apa yang diinginkan hatinya.
Di satu sisi, dia mencintai Ronald dan ingin Ronald menjadi suaminya. Namun di sisi lain, dia juga tidak ingin melukai hati Fariz dengan rencana pernikahannya ini.
"Fariz, aku mohon maafkan aku. Aku yakin, setelah aku menikah, kamu pasti akan segera membuka hati untuk gadis lain dan tidak ada alasan untukmu menungguku lagi. Kamu pasti bisa melupakanku. Aku yakin itu..," batin Zafira nelangsa, berusaha menenangkan hatinya.
Isi kepala serta hati Zafira kini dipenuhi dengan kecemasannya terhadap Fariz. Apapun yang telah menjadi keputusannya yakni menerima lamaran Ronald, tetap saja tidak bisa menutupi rasa iba dan rasa tidak tega yang bergejolak di relung hatinya karena telah menolak cinta Fariz bahkan kini berniat meninggalkannya untuk menikah dengan pria lain.
"Sayang?," panggil Laras membuyarkan lamunan gadis cantik itu.
"Eh, i-iya ma..," jawab Zafira terbata, tersadar dari lamunan tentang Fariz yang sempat menghilangkan konsentrasinya.
"Bagaimana sayang? Apa kamu menerima lamaran Ronald? Semua keputusan ada padamu. Oma, papa, mama dan Zafran akan menyetujui dan merestui semua yang menjadi keputusanmu. Asal kamu bahagia, kami juga pasti akan ikut bahagia," Laras memperjelas perkataannya sembari memandangi putrinya dengan penuh kekhawatiran.
Laras begitu khawatir melepaskan sang putri kepada Ronald.
Tidak rela, kata itu yang menyelimuti hati Laras. Dia merasa tidak rela harus menyerahkan putrinya untuk laki-laki seperti Ronald yang menurut penilaiannya selama ini, kepribadian Ronald jauh di bawah Fariz. Baik dalam berfikir maupun bersikap, Laras tetap memilih Fariz untuk menjadi menantunya.
Jauh di dasar hati, wanita cantik itu masih terus berdoa dan berharap ada keajaiban dari Sang Maha Kuasa agar menjadikan Fariz sebagai jodoh anaknya. Karena dia tahu, hanya Fariz satu-satunya laki-laki yang mengerti, selalu memperhatikan dan memprioritaskan serta mencintai Zafira dengan begitu tulus, dari mereka kecil hingga dewasa tanpa ada kata jenuh atau pun lelah.
Beberapa detik kemudian, akhirnya gadis itu menjawab pertanyaan sang mama yang telah menunggu jawabannya sedari tadi, terutama Ronald dan kedua orang tuanya.
"Iya ma, Zafira menerima lamaran Ronald," sahut Zafira tersenyum dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Ronald serta kedua orang tuanya pun saling berpandangan, merasa lega dan tersenyum mendengar jawaban Zafira yang telah mengambil keputusan menerima lamaran Ronald.
"Syukurlah, lamaran ini telah diterima Zafira. Ronald meminta bulan depan dapat segera melangsungkan akad nikah dan resepsi. Apakah Zafira bersedia dan tidak keberatan?," ujar papa Ronald kembali sambil memandang calon menantunya yang menurutnya memang sangat cantik dan pantas mendampingi Ronald.
Arga memandang Zafira diliputi perasaan cemas. Sang papa juga merasa tidak tenang melepaskan putrinya untuk pria pembasket itu. Karena sama halnya dengan Laras, Arga sangat menyukai Fariz menjadi suami Zafira. Arga bisa melihat dan menilai sendiri sifat serta karakter Fariz karena sejak kecil tumbuh di sekitarnya dan merupakan hal yang mudah baginya menilai jika Fariz adalah sosok yang sangat baik dan sangat tepat untuk mendampingi Zafira.
Namun Arga tidak dapat berbuat banyak karena Ronald adalah laki-laki pilihan Zafira. Dia tidak ingin menentang keputusan yang telah diambil sang putri. Jika itu bisa membuat putrinya bahagia maka dia tidak akan menghalangi kebahagiaannya itu.
"Bagaimana nak? Apakah kamu siap jika pernikahan kalian dilangsungkan bulan depan?," kali ini Arga yang mengajukan pertanyaan kepada putri kesayangannya.
Zafira mengangguk pasti.
"Iya pa, Zafira siap. Karena Ronald dan Zafira juga sudah lama saling mengenal. Dan akan lebih baik disegerakan dari pada berlama-lama yang akan membuat fitnah," ujar Zafira melirik ke arah Ronald yang disambut anggukan yakin dari calon suaminya.
Ronald terpana melihat kecantikan Zafira malam ini. Apalagi gadis itu mengenakan Maxi dress membuat dirinya bagaikan seorang puteri, tampil elegant dan mempesona. Mata Ronald sedari tadi terus memandangi calon istrinya.
"Baiklah sayang, kalau itu keinginanmu. Oma, papa, mama dan Zafran akan merestuimu," Laras tersenyum, mencium kening Zafira dengan lembut.
"Terima kasih ma," Zafira memeluk sang mama, kemudian ikut memeluk sang oma yang dengan wajah menuanya tersenyum penuh haru melihat sang cucu akan segera melepas masa lajangnya.
Setelah berbincang menentukan tanggal yang baik untuk hari pernikahan Zafira dan Ronald, ketiga tamu itu pun berpamitan pulang, tentunya kepulangan mereka setelah dijamu makan malam yang nikmat bersama dengan seluruh keluarga Zafira.
Zafira dan Zafran serta kedua orang tuanya mengantar tamunya sampai ke mobil.
Kedua orang tua Ronald telah terlebih dahulu memasuki mobil. Dan saat Ronald hendak memasuki mobil, Zafira menahan pria itu dengan menarik tangannya sehingga pria itu terpaksa menghentikan langkah dan menoleh pada Zafira.
__ADS_1
Zafira menjinjitkan kaki karena tubuh Ronald jauh lebih tinggi dari pada tubuhnya, selisih dua puluh centi meter. Gadis itu mendekatkan bibir di telinga sang kekasih, membisikkan beberapa kalimat.
"Kamu harus memenuhi janjimu siang tadi, akan menebus kesalahanmu pada Fariz. Aku minta saat pernikahan kita nanti, kamu harus meminta maaf pada Fariz secara langsung di depanku," bisik Zafira mengingatkan.
Ronald tersenyum lalu mengangguk.
"Baik honey, aku tidak akan mengingkari janjiku! Apapun yang kamu minta pasti akan aku penuhi, karena aku mencintaimu," ucapnya meyakinkan calon istrinya seraya meraih kedua tangan Zafira dan mengecupnya lembut.
Senyum pun mengembang dari bibir Zafira. Gadis itu senang karena Ronald telah merendahkan egonya untuk meminta maaf pada sahabatnya. Karena Zafira tahu, selama ini Ronald sosok yang begitu angkuh dan tidak mau mengalah terhadap Fariz. Jangankan meminta maaf, berbicara pun sering sekali menyakiti hati Fariz. Tetapi sekarang pria itu sudah jauh berubah, lebih bisa mengalah dan bersikap dewasa.
Itu hanya pemikiran Zafira saja. Ronald tetaplah Ronald yang dulu. Pria tidak setia serta memiliki keangkuhan yang sulit dihilangkan. Ketampanan, harta, serta keluarga terpandang membuatnya selalu berbangga diri dan memandang kecil orang lain. Namun segala kebusukan Ronald tertutupi dengan sikap manis serta pintarnya dia memainkan bersandiwara di hadapan Zafira bahkan di depan keluarga gadis itu.
Sepulangnya Ronald, Zafira langsung memasuki kamar mandi. Membersihkan muka, mengganti pakaian serta mengambil wudhu. Karena dia belum menunaikan shalat Isya dikarenakan Ronald dan orang tuanya datang sebelum adzan Isya' berkumandang.
Setelah lima belas menit melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, gadis itu pun mengambil ponsel dan duduk di pinggir ranjang.
Dia tidak sabar ingin menelepon Fariz berniat memberitahu acara lamaran yang baru saja selesai dan ingin meminta restu dari sang sahabat. Namun hatinya menjadi ragu. Rasanya dia tidak sanggup menceritakan tentang lamaran malam ini dan rencana pernikahannya yang akan dilangsungkan bulan depan melalui sambungan telepon.
"Apa besok saja aku menemui Fariz langsung dan menceritakan tentang lamaran ini? Sepertinya kurang tepat kalau aku membicarakan ini melalui telepon," fikirnya menimbang-nimbang.
Kini Zafira sudah bersiap tidur. Telah menyalakan AC, mengunci kamar dan seperti biasa menyelimuti tubuh hingga ke dada. Namun gadis itu terus saja merasa gelisah. Entah apa yang menjadikan hatinya gelisah. Apa karena dia belum mendapat restu dari Fariz sehingga ada sesuatu yang mengganjal di hati serta fikirannya.
Dia ingin sekali malam ini segera berlalu agar bisa cepat bertemu Fariz dan meminta restu dari sahabat karibnya itu. Karena orang-orang terdekat yang dia sayangi, semuanya telah memberi restu kepadanya dan menyetujui keputusannya untuk menikah bulan depan.
Hanya Fariz satu-satunya orang yang belum memberikan restu dan dia sangat membutuhkan kata itu terucap langsung dari bibir Fariz agar dirinya bisa tenang menyambut hari bahagia yang sudah di depan mata.
__ADS_1
Setelah lebih dari lima belas menit bergelut dengan fikiran yang mengusik waktu tidurnya, ditambah rasa lelah setelah seharian beraktivitas, mata gadis itu pun akhirnya tertidur dan melupakan sejenak segala urusan duniawi.
...*******...