
Mata Zafira melebar tatkala mendengar kata cinta Fariz yang diikuti dengan gerakan kepala Fariz yang terlihat semakin mendekati wajahnya. Hatinya kian bergetar hingga kedua tangannya pun ikut bergetar melihat mata Fariz yang terpejam diiringi nafas yang menderu keluar dari hidung pria itu.
Lambat, Fariz terus mendekatkan kepalanya, menepis jarak di antara mereka. Kepala pria itu semakin rapat dan terus merapat ke wajah Zafira yang teramat cantik di matanya. Dengan suara nafas yang memburu, pria itu menutup mata dari semua warna yang ada di dunia. Tujuannya hanya satu, mencium Zafira. Rasanya jantungnya ingin terlempar dari peraduannya namun kali ini dia tidak ingin menghentikan niatnya. Dia sudah terlalu mencintai Zafira dan ingin sekali menumpahkan segala perasaan serta hasrat yang selama ini sekuat tenaga dipendamnya.
Mata Zafira kian membola saat wajah Fariz benar-benar telah mendekat, yang semakin menepis jarak di antara mereka. Entah apa yang ada di fikiran gadis itu, apakah dia telah kehilangan akal sehat atau memang hatinya yang menyuruhnya untuk segera mengatupkan kedua kelopak mata. Zafira refleks memejamkan mata menunggu bibir sang suami berlabuh di bibirnya. Tidak ada penolakan apalagi kemarahan yang dilakukan gadis itu. Kali ini dia ikhlas menerima dan menunggu sebuah ciuman yang akan segera menepi di bibirnya. Tetapi rasa gugup yang teramat besar tidak dapat disingkirkannya dari hati. Tangannya gemetaran. Kedua tangan Zafira saling bertaut, terulur ke bawah dan tampak gemetar memegangi tas serta paper bag. Saking gugupnya, dia mendadak tidak memiliki tenaga untuk bergerak.
"Brugghh"
Sebuah suara mengejutkan mereka. Keduanya sontak membuka mata. Fariz pun tampak kalang kabut dan refleks menghentikan niatnya. Pria itu mengira, ada seseorang yang sedang mengintip perbuatan mereka.
Rupanya suara itu bukanlah adanya seseorang yang datang ke tempat itu. Melainkan berasal dari tas serta paper bag yang terjatuh dari pegangan Zafira saking gemetarnya tangan gadis itu.
Mata keduanya serempak melihat ke bawah, kemudian langsung berpandangan kembali. Untuk beberapa detik mereka masih berdiri mematung saling menatap, masih dalam kondisi terkejut. Di detik berikutnya, dengan cepat Fariz menunduk, mengambilkan tas serta paper bag itu dan memberikannya kepada Zafira. Dengan tangan masih bergetar, Zafira mengambil tas serta paper bag-nya. Untung saja Fariz tidak menyadari kegugupan yang dialami Zafira.
"Maaf..," ucap Fariz merasa bersalah. Dia hampir saja melanggar janjinya. Dia takut, istrinya merasa tidak nyaman dengan sikap yang baru saja dilakukannya.
"Hmm, aku masuk dulu," dengan menyeret kaki yang terkesan tergopoh-gopoh, Zafira melangkah cepat pergi meninggalkan suaminya.
Bukan karena marah, tetapi dia berusaha menghindari tatapan Fariz yang akan melihat rona merah di wajahnya.
"Apa yang aku lakukan? Apa Zafira marah? Dia sudah memintaku untuk tidak melakukannya sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Tapi apa yang aku lakukan tadi? Apa dia merasa terganggu?," gumam Fariz merasa risau.
Tatapan pria itu nanar memandangi kepergian Zafira yang telah menghilang di pintu lobby.
Sesampai di ruangan.
Zafira menghempaskan tubuh duduk di kasur di kamar privatnya. Tas serta paper bag ditaruhnya sembarang tempat. Tergeletak di atas kasur dimana saat ini dia sedang duduk. Dia tidak menghiraukan di sekelilingnya. Perasaannya masih tidak tenang. Tangan kanan memegangi dada seraya menarik serta mengeluarkan nafas perlahan-lahan, berusaha menetralkan segala perasaan yang sedang melanda hatinya.
Rasa gugup hingga kini masih membekas. Zafira memejamkan mata, kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi di pelataran parkir.
"Aku bodoh. Memalukan sekali. Mengapa aku memejamkan mata? Oh Tuhan, apa Fariz melihat saat aku tadi memejamkan mata? Aku benar-benar malu. Tapi mengapa? Mengapa aku seolah menginginkan itu? Mengapa aku tidak menolak saat Fariz ingin menciumku? Apa jangan-jangan aku sudah..," Zafira menghentikan praduganya.
Zafira tidak berani melanjutkan pemikirannya. Dia tidak ingin terlalu banyak bertanya-tanya tentang perasaannya terhadap Fariz. Dia tidak ingin salah menafsirkan apa yang sebenarnya terjadi di hatinya saat ini? Tetapi rasa yang semakin tak tertahan di hatinya, memaksa gadis itu untuk terus menafsirkan semua yang dirasakannya.
Tiba-tiba saja Zafira membayangkan wajah tampan Fariz. Wajah yang selalu menatapnya penuh cinta. Wajah yang selalu terlihat tenang setiap kali berdekatan dengannya. Wajah itu... Zafira sangat mengagumi wajah Fariz. Dulu, dia tidak pernah merasa sekagum ini kepada Fariz. Selama berpuluh-puluh tahun menjalin persahabatan, dia sama sekali tidak pernah merasa begitu kagum kepada pria itu seperti yang dirasakannya pagi ini. Tetapi mengapa sekarang, hanya dengan membayangkan wajahnya, tatapannya, sentuhannya, hati Zafira mendadak tergetar dan merasa kagum?
"Fariz," gumamnya dalam hati memanggil nama suaminya sambil mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan, lalu memejamkan mata.
"Sepertinya aku mulai merasakan sesuatu yang beda terhadapmu. Apa aku sudah mulai jatuh cinta padamu?," batin gadis itu lirih dengan tetap mendongak serta menutup mata sambil terus membayangkan wajah tampan suaminya.
Zafira merebahkan tubuh di kasur. Rasanya hari ini dia malas sekali untuk melakukan pekerjaan. Hatinya serta fikirannya merasa tidak tenang. Bayangan wajah Fariz terus saja melekat di benaknya, mengusik jiwanya.
"Apa benar aku sudah jatuh cinta pada Fariz? Mengapa aku berdebar seperti ini setelah kejadian di parkiran tadi? Aku tidak menolaknya, itu artinya aku juga menginginkan ciuman itu," Zafira mengusap-usap dada, masih berusaha menafsirkan tentang perasaannya kepada Fariz.
__ADS_1
Sementara di mobil, Fariz pun merasakan hal yang sama. Rasa gugup masih terasa di dalam dadanya. Ada getaran indah di hatinya membayangkan kejadian tadi, saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Zafira. Jika saja tas serta paper bag Zafira tidak menjadi pengganggu di saat yang tidak tepat, dia pasti sudah berhasil menyentuh bibir gadis itu. Tetapi di balik rasa gugup serta getaran indah yang kini masih bermain-main di hatinya, ada sebuah ketakutan mengusik fikirannya.
Dia berfikir, kalau Zafira marah padanya. Tadi dia melihat Zafira pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru. Apakah gadis itu marah padanya karena telah melakukan sesuatu di luar kesepakatan? Jika itu benar, maka ini akan menjadi beban baru baginya untuk meminta maaf serta membujuk gadis itu agar mau memaafkan kekhilafannya.
Namun satu hal yang tidak diketahui Fariz. Dia tidak melihat saat kejadian tadi berlangsung. Dia tidak melihat respon Zafira saat menunggu ciuman yang akan dilakukannya. Gadis itu tampak memejamkan mata, diam dan menunggu. Itu artinya, sang gadis pun sama seperti Fariz, menginginkan ciuman itu. Jika Fariz mengetahui hal itu, dia pasti tidak akan setakut ini kepada Zafira.
Pukul 13:00.
Fariz mencoba mengirim sebuah pesan kepada Zafira. Ingin memastikan apakah gadis itu memang marah padanya atau tidak pasca kejadian tadi pagi di pelataran parkir.
"Siang istriku, apa kamu sudah makan dan shalat?,"
Lima belas menit berlalu. Fariz tidak menerima balasan. Hatinya mulai dilanda kecemasan. Zafira tidak membalas pesannya, menandakan gadis itu memang marah karena ciuman yang hampir dilakukannya di parkiran kantor.
Pria itu semakin gusar. Dia mengambil ponsel dan menekan kontak yang tertulis nama "Hidupku".
Tetap sama. Teleponnya pun tidak diangkat. Fariz menyesali sikapnya tadi pagi. Andai dia dapat menahan hasratnya, pasti kejadiannya tidak seperti ini. Fikirnya.
Lima menit selanjutnya.
"Dreet"
Sebuah pesan masuk. Fariz dengan cekatan mengambil ponsel dan membuka pesan itu.
"Aku baru saja selesai shalat. Kamu juga jangan lupa makan dan shalat," balasan dari Zafira membuat Fariz mendadak tersenyum senang. Sekarang dia tahu, bahwa istrinya tidak marah padanya.
"Kita mau kemana?," Fariz menjalankan laju mobil keluar dari pelataran lobby.
"Ke Supermarket saja. Aku ingin membeli kebutuhan dapur. Kasihan juga kalau bi Senah terus yang disuruh belanja, nanti badannya jadi kurus," Zafira membuat lelucon yang berhasil membuat Fariz tertawa.
Saat turun dari mobil dan akan memasuki Supermarket, Fariz mengulurkan tangan kanan meraih jemari tangan Zafira lalu menggenggamnya erat dengan kelima jemarinya. Refleks sang gadis menoleh ke kiri pada pria yang telah menautkan jemarinya. Hawa hangat menyusup di sela-sela jemari keduanya dan merayap mengaliri seluruh aliran darah mereka.
"Kamu tidak marah kan kalau hanya seperti ini?,"
Zafira tersenyum lalu menggeleng.
"Tidak,"
Fariz semakin menggenggam erat jemari halus itu dan beriringan masuk ke dalam Supermarket.
Malamnya. Pukul 21:00.
Fariz telah berbaring terlebih dahulu seperti kebiasaannya setiap malam. Setelah Fariz berbaring, menjadi tugas Zafira untuk menyelimuti tubuh sang suami. Setelah itu, Zafira ikut menyelimuti dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kamu merasa bahagia hidup bersamaku?," pria itu membuka obrolan.
Posisi mereka yang sama-sama menelentang membuat Zafira menolehkan kepala menatap Fariz yang berada di sampingnya.
"Iya, aku merasa bahagia," ucap Zafira dengan sangat jujur. Dia tidak ingin membohongi perasaannya.
Fariz senyum sumringah. Lalu menggeser tubuh sedikit lebih merapat ke tubuh Zafira.
"Apa itu artinya kamu sudah mulai mencintaiku?," pria itu kembali memancing. Tak pernah kehabisan akal untuk mencari cara agar Zafira segera mengungkapkan kata cinta kepadanya.
"Mulai kan? Mulai mencari seribu cara untuk memancing. Dasar tidak sabaran. Ayo tidur. Besok mau kerja. Jadi harus tidur lebih awal," Zafira sengaja memutuskan pembahasan tentang pertanyaan Fariz menyangkut perasaan cintanya kepada pria itu.
Fariz hanya tersenyum mendengar jawaban Zafira. Fariz juga sadar, usia pernikahan mereka baru berjalan sepuluh hari. Dan hal yang wajar kalau Zafira belum mencintainya. Tetapi meskipun belum ada tanda-tanda Zafira akan mengungkapkan perasaannya, Fariz cukup lega karena sudah sangat banyak perubahan yang terjadi pada diri Zafira. Salah satunya, dia telah membiarkan dan mengikhlaskan setiap malam tubuhnya dipeluk oleh suaminya, seperti yang terjadi malam ini.
"Apa boleh memelukmu?," setiap malam pria itu selalu meminta izin tiap kali ingin tidur dan memeluk Zafira.
"Boleh. Tapi jangan macam-macam," Zafira membalik badan, membelakangi Fariz.
"Baik. Satu macam saja. Hanya memeluk," Fariz ikut membalik badan menghadap Zafira, menggeser lebih merapat dan memeluk wanitanya dari belakang. Kini tangan kirinya telah melingkar mesra di pinggang ramping Zafira.
Lagi dan lagi, Zafira merasakan perbedaan dalam dirinya. Perasaan nyaman, damai, bahagia, hangat, gugup menelusup ke aliran darah bahkan sampai ke jantung hatinya. Zafira mulai merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya setiap kali menerima sentuhan Fariz. Semakin hari perasaan itu semakin kuat dan dia tidak sanggup melepaskan diri dari rasa itu.
Fariz menyuruk sampai ke tengkuk Zafira. Menyingkirkan helai demi helai rambut panjang di belakang tengkuk itu. Sontak membuat Zafira sedikit meringis merasakan geli dan tubuhnya pun seketika meremang.
Mengapa setiap sentuhan Fariz mampu membuat diri Zafira merasa melayang dan merinding? Jawaban adalah, itulah cinta. Karena ada cinta di hatinya untuk Fariz membuat perasaannya melayang dan tubuhnya merasa merinding saat disentuh oleh pria yang dicintainya.
"Fariz, jangan macam-macam. Atau aku akan menyuruhmu tidur di sofa," suara dari depan Fariz menyadarkan pria itu.
Bibir Zafira mengatakan "Jangan" tetapi hatinya merasa tidak rela. Dia menginginkan sentuhan itu tetapi dia masih malu untuk mengakuinya. Zafira menggigit bibir jangan sampai Fariz mendengar suara ringisannya.
Fariz pun menghentikan aksinya. Ini untuk ke sekian malam, teman di bawah sana mulai menegang kembali. Fariz sedikit menarik tubuh bawahnya menjauhi tubuh Zafira agar tidak terlalu menempel. Dia tidak mau Zafira sampai merasakan benda yang sedang menegang itu, yang pasti akan membuat gadis itu memarahinya. Fikirnya.
Pemikiran Fariz berbanding terbalik dengan kenyataan. Sesungguhnya sang istri sudah mulai menginginkan sentuhan pria tampan itu.
Sepuluh menit berlalu, Zafira masih belum bisa memejamkan mata. Sedari tadi matanya terus bergerak. Mengatup, terbuka, mengatup kembali dan terbuka kembali. Dia terus saja memikirkan tentang semua perasaan yang kian tumbuh di hatinya.
Zafira merasakan tubuh di belakangnya sudah tidak bergerak. Mungkinkah Fariz telah tertidur? Cepat sekali? Jelas cepat. Pria itu selalu merasa mengantuk setiap kali mencium aroma wangi yang menyebar dari tubuh Zafira. Beda halnya jika dia bisa diberikan kebebasan menyentuh dan meraba seluruh tubuh gadis itu, mungkin semalaman suntuk dia tidak akan mengantuk.
"Fariiizz?," panggil Zafira. Tidak ada sahutan.
Pelan, Zafira meraih tangan Fariz yang masih melingkar di pinggangnya. Memegang dan menggenggamnya.
"Fariz, aku tidak tahu perasaan apa ini? Aku selalu merasa bahagia setiap berada di dekatmu. Merasakan sentuhanmu. Mendapat perhatianmu. Kamu tidak pernah membuatku marah apalagi menangis. Kamu selalu memberiku kebahagiaan. Aku tidak pernah mendapatkan cinta yang sebesar ini dari pria mana pun. Perasaanku padamu semakin besar. Aku tidak mengerti, perasaan apa ini? Apa aku sudah jatuh cinta padamu? Apa benar aku sudah mulai mencintaimu?," bisik hati Zafira sambil mengusap lembut tangan suaminya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Zafira masih terus mengusap tangan Fariz hingga akhirnya dia pun ikut tertidur, menyusul suaminya terbang ke dunia mimpi.
...*******...