
Tak berapa lama Fariz sudah kembali, tampak sapu tangan biru di tangannya kini telah basah.
Pria tampan itu kembali duduk berjongkok dan kembali mengulangi untuk ke sekian kali membersihkan bagian dalam sepatu Zafira dengan sapu tangan yang sudah dia cuci bersih dengan air di toilet.
Zafira terus memperhatikan pekerjaan Fariz yang menurutnya begitu sabar serta telaten. Gadis itu tersenyum melihat Fariz, merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Fariz.
"Sekarang sudah bersih, pakailah," Fariz mengambil sepasang sepatu coklat itu dan meletakkan tepat di depan kaki Zafira yang masih berdiri dengan kaki telanjangnya.
Gadis itu langsung menuruti perkataan Fariz, segera memasukkan kaki ke dalam sepatu yang sudah bersih namun masih basah.
"Dingin ya?," tanya Fariz melihat ke arah Zafira.
"Sedikit, tidak apa-apa nanti juga kering sendiri," jawab Zafira.
Fariz hanya mengangguk lalu membuang sapu tangan ke kotak sampah yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Sayang sekali ya sapu tanganmu jadi korban," Zafira berkata dengan muka menyesal.
"Tidak apa-apa, tidak perlu kamu fikirkan, ayo kita ke kantin," Fariz melangkah yang diikuti anggukan Zafira.
"Kemana teman-temanmu? Mengapa mereka tidak bersamamu?," tanya Fariz lagi.
"Biasa, mereka sibuk dengan urusan pribadi, ada yang ke kantin sama pacarnya, ada yang ke perpustakaan menemani pacarnya, aku selalu ditinggal sendiri, kesal!," gerutu Zafira.
"Salah sendiri, cari pacar jauh. Mengapa tidak cari yang dekat-dekat saja?," Fariz tersenyum menggoda Zafira.
"Kamu maksudnya?," Zafira refleks menoleh ke samping, menatap Fariz.
"Iya, itu juga kalau kamu bersedia," Fariz kembali tersenyum, meski senyuman itu hanyalah senyuman palsu terukir di bibir, padahal di dalam hati Fariz selalu merasa sedih.
"Tidak mau! Aku hanya ingin berteman denganmu, tidak lebih, tapi aku juga tidak ingin kamu jauh dariku," ucap Zafira sejujurnya.
"Maksudmu? Tidak ingin jauh? Bagaimana kamu ini, hanya ingin berteman denganku tapi tidak ingin jauh dariku?," tanya Fariz ingin memperjelas perkataan Zafira.
"Iya, sama seperti aku dengan Zafran. Aku tidak mau Zafran jauh dariku. Karena jika ada sesuatu yang terjadi padaku, Zafran lah yang selalu ada untuk menjaga dan melindungiku. Sama sepertimu, setiap aku butuh sesuatu, kamu lah yang selalu membantuku dan memprioritaskanku setiap waktu. Kamu dan Zafran adalah saudara yang tidak akan tergantikan dengan siapa pun, karena itulah aku tidak mau jauh dari kalian berdua," ucap Zafira mengatakan perasaan yang ada di hatinya.
Fariz tertegun, denyutan rasa sakit mengiris seluruh hatinya mendengar ucapan Zafira yang menganggapnya hanya sebatas saudara.
"Berarti tidak ada harapan bagiku untuk masuk ke dalam hatimu?," Fariz bertanya mulai serius.
"Mulai lagi kan? Membahas masalah ini terus," ucap Zafira manyun.
"Ya baiklah, kalau kamu tidak mau membahas ini," sahut Fariz terdengar kecewa, dan memutuskan pembicaraan tentang perasaannya.
Lima menit kemudian, mereka telah sampai di kantin dan duduk di meja saling berhadapan.
"Aku pesan bakso dan air mineral. Kamu mau pesan apa?," Zafira bertanya pada sang sahabat.
"Aku pesan mie ayam dan es cappucino saja,"
"Tidak boleh! Kamu kemarin sudah pesan es, hari ini mau pesan es lagi. Tidak baik minum es setiap hari, nanti lama-lama bisa kena amandel. Pesan air mineral saja," Zafira mengingatkan Fariz.
__ADS_1
"Iya sudah, terserah kamu saja," Fariz mengalah dan akan selalu mengikuti keinginan Zafira.
Saat mereka masih menunggu pesanan datang, Fariz tiba-tiba teringat dengan sepatu Zafira yang masih basah.
"Lepaskan saja sepatumu, biar kakimu tidak dingin," Fariz memberi saran.
"Oh iya ya, hampir saja aku lupa, makasih kamu selalu mengingatkanku," ucap Zafira segera melepaskan sepatu yang dipakainya.
Itulah yang selalu dilakukan Fariz, setiap menit, setiap saat selalu memperhatikan segala sesuatu menyangkut diri Zafira.
Setelah selesai menghabiskan makanan, keduanya masih duduk bersantai di kantin sambil memainkan ponsel masing-masing.
Fariz melihat Zafira sedang tersenyum mengetik sesuatu di layar handphone.
"Kamu sedang chat an dengan Ronald?," Fariz menebak dengan sangat tepat, karena dia tahu, jika Zafira bermain ponsel dan mengukir senyum, itu pasti dia sedang berkirim pesan dengan Ronald.
"Iya," sahut Zafira pendek, masih dengan mata tertuju ke layar handphone.
Tiba-tiba handphone yang dipegang Zafira berdering, tampak senyum Zafira semakin mengembang saat melihat nama yang tertera di layar handphone dan langsung mengangkat sambungan telepon itu.
"Hallo honey," suara Ronald dari seberang terdengar mesra.
"Hallo too honey," Zafira menjawab tak kalah mesra.
Muka Fariz yang awalnya cerah mendadak muram, matanya melirik sekilas pada gadis yang duduk di hadapannya lalu menunduk.
"Kamu sedang apa?," tanya Ronald dari seberang.
"Baru selesai makan siang bersama Fariz," jawab Zafira kemudian melirik ke arah Fariz yang sedang menunduk memainkan ponsel, bukan tanpa alasan Fariz menunduk seperti itu, dia menyimpan mukanya yang tengah bermuram durja.
"Tidak ada yang terjadi antara aku dan Fariz. Kamu tenang saja. Fariz ini sahabatku, dari awal sampai kapan pun dia akan menjadi sahabatku dan juga saudaraku. Aku menyayangi Fariz sama seperti aku menyayangi Zafran," jelas Zafira jujur.
Alasan itulah yang membuat Ronald tidak merasa cemburu kepada Fariz dan mengizinkan Zafira tetap berteman dengan Fariz, karena puluhan tahun Zafira berteman dengan Fariz namun perasaan gadis itu tetap sama, tidak berubah, selalu menganggap Fariz sahabat sekaligus saudaranya, hal itulah yang menjadi keyakinan bagi Ronald jika sang kekasih tidak akan pernah berpaling kepada Fariz.
"Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu. Kamu hati-hati di sana, jaga hatimu dari si pengagum setiamu itu! Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya!," ucap Ronald mengingatkan Zafira.
"Baik, aku akan menjaga hatiku, kamu tidak perlu khawatir," ucap Zafira meyakinkan sang kekasih.
"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya. Nanti malam aku telpon kembali. I Miss you honey..," ucap Ronald kemudian dengan suara begitu mesra.
"I Miss you too honey..," jawab Zafira tersenyum lalu mematikan sambungan telepon.
Fariz masih saja menunduk berpura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya. Sementara hatinya untuk ke sekian puluh kali tersayat mendengar pembicaraan romantis antara Zafira dan Ronald yang selalu didengarnya.
"Fariz, apa kamu mau masuk ke kelas sekarang?," Zafira bertanya pada sosok yang masih tertunduk memainkan ponsel.
Namun Fariz tidak mendengarkan pertanyaan gadis di depannya, fikiran serta hatinya sedang gundah, sehingga telinganya menjadi kehilangan pendengaran.
"Fariz!," Zafira menjitak jari sang sahabat sehingga membuat Fariz tersadar dari beban fikiran yang membelitnya.
"I-iya, ada apa?," tanya Fariz terkejut.
__ADS_1
"Kamu itu, aku tanya malah balik bertanya!," Zafira menggerutu.
"Iya maaf, aku tadi sibuk membalas chat," Fariz mencoba berbohong tentang perasaan hatinya yang sebenarnya sedang tersayat.
"Memangnya kamu sedang chat siapa?," Zafira bertanya penasaran memanjangkan leher berusaha melirik ponsel yang dipegang Fariz.
"Untuk apa kamu tahu? Ini rahasiaku," Fariz mencoba mencerahkan kembali raut wajahnya yang tadi sempat muram.
"Aduh duuh, sepertinya kamu sekarang sudah mulai berpaling dariku, kapan kamu mau mengenalkan padaku siapa gadis beruntung itu?," goda Zafira tersenyum senang melihat sang sahabat telah membuka hati untuk gadis lain.
"Bukan siapa-siapa," sungut Fariz kesal pada Zafira karena tidak pernah peduli dengan perasaan yang ada di dalam hatinya.
"Tadi kamu mengatakan sedang membalas chat? Siapa lagi kalau bukan seorang gadis," ucap Zafira masih menggoda Fariz.
"Hmm, aku tidak semudah itu menyukai gadis lain," ujar Faris bersungut mengutarakan isi hatinya.
"Riz," tiba-tiba seorang gadis telah duduk di kursi di samping Fariz.
Zafira dan Fariz serempak menoleh kepada gadis yang telah duduk satu meja dengan mereka.
"Wilda?," Fariz menyebut nama gadis itu.
Wilda adalah teman satu fakultas Fariz, yang selama ini selalu berusaha mendapatkan hati pria tampan itu.
"Kamu sudah makan Riz?," Wilda bertanya sambil melihat mangkok yang ada di atas meja.
"Sudah, baru saja aku selesai makan. Ada apa kamu ke sini?," tanya Fariz heran.
"Nanti sore pulang kuliah, aku mau ke Gramedia mencari beberapa buku, kamu mau tidak mengantarkanku?," tanya Gadis itu berharap pria tampan itu mau memenuhi permintaannya.
Ini untuk ke sekian kali Wilda mencoba mencari alasan untuk mengajak Fariz supaya bisa pergi bersama dirinya.
"Maaf Wil, aku tidak bisa. Nanti sore aku mau mengantar Zafira pulang,"
Mendengar itu, Zafira langsung mengeluarkan suara.
"Fariz, aku nanti pulang dengan Zafran, jadi kamu bisa mengantar Wil...," ucapan Zafira mendadak terputus setelah gadis itu melihat mata Fariz yang menukik tajam ke arahnya, memberi isyarat supaya Zafira tidak melanjutkan kalimatnya.
"Zafira mengatakan dia pulang bersama Zafran, mengapa kamu malah ingin mengantarnya?," Wilda bertanya heran.
"Tadi Zafran meneleponku, katanya sore ini dia mau bertemu temannya, jadi dia menyuruhku mengantarkan Zafira pulang ke rumah," terang Fariz kembali.
Zafira menggelengkan kepala mendengar jawaban Fariz, gadis itu tahu kalau Fariz sengaja membuat alasan untuk menolak permintaan Wilda.
"Ayo Zafira, kita masuk kelas," ajak Fariz beranjak dari kursi.
"Duluan ya Wil," pamit Zafira beranjak dari duduk dan mengiringi langkah Fariz.
Wilda tidak menjawab, dia memukul meja, mendelik kesal pada Zafira.
Wilda tahu jika selama ini Fariz dan Zafira berteman baik. Dan Wilda juga tahu dari mulut Fariz sendiri kalau pria tampan itu sebenarnya menyukai Zafira, karena alasan itulah yang membuat Fariz selalu mengabaikan Wilda dan selalu menolak setiap kali gadis itu mencoba mengajaknya berkencan.
__ADS_1
Sorot mata Wilda tajam penuh rasa benci mengamati kedua sahabat yang terus berjalan menjauhi kantin.
...*******...