Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
23 - BERHENTI BERHARAP


__ADS_3

"Sreett"


Demi mendengar ucapan Fariz, tiba-tiba hati gadis itu terasa sakit dan tersayat.


Entah mengapa, gadis itu selalu merasa sedih dan cemas setiap kali Fariz mengucapkan sebuah kata atau kalimat yang mengisyaratkan akan pergi meninggalkannya.


Zafira terdiam membeku. Dia sontak kehilangan kata. Mulutnya terbungkam, hanya matanya lurus tertuju tajam menatap pria yang masih berjongkok di hadapannya.


"Pakailah sepatumu. Aku pulang dulu. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu lagi hubunganmu dengan calon suamimu. Kamu akan segera menikah, mungkin ini saatnya aku harus meng...ikhlaskan...mu," Fariz berkata dengan suara bergetar serta terpatah-patah, menahan perih serta luka yang terasa semakin besar menyayat hatinya.


Jika saja saat ini Fariz berada sendirian di ruangan kerja atau di kamar, mungkin saja dia sudah meneteskan air mata meluapkan segala kesakitan yang diderita hatinya.


Zafira tersentak mendengar kalimat yang diucapkan untuk kedua kalinya oleh Fariz. Hatinya merasa takut. Jika sang sahabat berjanji tidak akan mengganggunya lagi, itu artinya Fariz akan meninggalkannya? Zafira menjadi tidak tenang dan merasa ada sesuatu yang menghantam hatinya. Perasaan terkejut serta takut melanda dirinya saat ini.


Fariz berdiri dan berniat berlalu dari hadapan Zafira.


"Tidak!," Zafira berteriak yang sontak membuat Fariz terperanjat, mengurungkan niat untuk melangkah.


Zafira membungkuk dan tampak terburu-buru memakai kembali sepatunya lalu segera berdiri.


"Apa yang kamu katakan? Ada apa denganmu? Mengapa kamu tiba-tiba berkata dan bersikap seperti ini? Aku benci kamu mengatakan ini! Mengapa kamu termakan dengan perkataan Ronald? Bukankah selama ini kamu selalu mengabaikan celaan atau hinaannya. Katakan padaku! Tidak benar apa yang baru saja kamu katakan? Tidak mungkin kamu berniat meninggalkanku?," Zafira mendekat dan berdiri tepat berhadapan dengan Fariz.


Kini keduanya telah berdiri saling berhadapan. Zafira memandang Fariz lekat tanpa berkedip, mencari keseriusan di wajah sang sahabat atas apa yang baru saja diucapkannya. Fariz pun membalas tatapan itu sambil menarik serta melepaskan nafas berat.


"Apa yang kukatakan itu benar Zafira. Kali ini aku serius dengan ucapanku. Aku sekarang sadar, kalau selama ini aku memang tidak punya rasa malu. Seharusnya aku malu bertahun-tahun mengharapkanmu tapi bertahun-tahun pula aku selalu diabaikan. Aku sudah tahu kalau kamu sudah memiliki kekasih tapi aku masih saja terus berada di dekatmu. Benar kata Ronald, seharusnya aku menjauh darimu. Aku bukan siapa-siapa, hanya teman bagimu. Aku tidak punya hak untuk terus bersamamu apalagi sampai memberi perhatian yang berlebih kepadamu, sementara aku tahu kamu tidak pernah menganggapku ada. Apalagi sekarang..," tenggorokan Fariz tercekat, rasanya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Zafira masih terdiam menunggu kalimat Fariz yang mendadak terhenti. Tatapan mata gadis itu seperti orang yang tengah berada dalam situasi kebingungan. Ada kecemasan di raut wajahnya, mengisyaratkan jika saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Apalagi kamu sekarang calon istri orang... Dan.., Dan sebentar lagi akan segera menikah dengan kekasih yang kamu cintai. Aku yang memang tidak tahu diri, terlalu berharap sesuatu yang mustahil. Aku tidak menyalahkan Ronald sepenuhnya, puluhan tahun kita berteman tapi hatimu tidak berubah. Zafira yang sekarang, sama seperti Zafira yang kukenal puluhan tahun lalu, selamanya akan menganggapku teman dan saudara. Sekarang aku sadar, kita tidak bisa seperti ini terus. Jadi mulai sekarang aku berjanji, tidak akan berharap apapun lagi padamu..," ucap Fariz masih menatap gadis di hadapannya kemudian membuang pandangan ke arah lain.


Pria itu tidak mau jika Zafira sampai melihat luka dari sorot matanya.


"Fariz!," Zafira menekan suaranya agar tidak terdengar orang-orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


Beberapa pasang mata pejalan kaki melihat ke arah muda mudi yang sekarang sedang berdiri dengan raut muka terlihat tegang. Ada juga beberapa pasangan yang lewat sambil berbisik menatap ke arah Zafira dan Fariz, entah apa yang mereka bicarakan.


"Aku benci kamu mengatakan ini! Kita sudah berteman sangat lama, kamu itu sudah seperti Zafran. Kamu itu saudaraku Fariz. Mana mungkin seorang saudara bisa saling meninggalkan! Aku tidak mau! Siapa pun laki-laki yang aku pilih untuk mendampingi dan menjadi suamiku, itu artinya dia-lah yang aku percaya untuk membahagiakanku. Seharusnya kamu ikut bahagia melihatku bisa bahagia bukan justru kamu mengambil keputusan akan menjauhiku! Jangan pernah kamu mengambil keputusan seperti ini!," Zafira berkata dengan sorot mata penuh harap.


Fariz tercekat, bagaimana dia bisa bahagia melihat gadis yang sangat dicintai harus menikah dan membangun bahtera cinta dengan laki-laki lain?


Jika benar di akhir cerita Zafira menikah dengan Ronald, maka hancurlah hidup pria itu, karena seluruh hati serta cintanya sudah diberikan untuk Zafira. Dia juga tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi di hidupnya setelah ini, setelah dia benar-benar memutuskan untuk tidak peduli pada diri Zafira lagi dan harus melihat gadis yang dicintai dimiliki oleh laki-laki lain.


"Rasanya aku sudah tidak sanggup harus menahan semua perasaanku lagi Zafira. Aku akan melepaskanmu. Asalkan kamu bisa berbahagia hidup bersama Ronald, aku siap melepasmu menikah dengannya. Mulai sekarang, kita tidak perlu bertemu dulu. Aku akan mengajari hatiku untuk tidak berharap apapun lagi padamu. Aku permisi..," ucap Fariz terakhir kali lalu membalikkan badan berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir sekitar Tiga puluh meter dari tempat mereka berdiri saat ini.


Zafira terperanjat mendengar ucapan terakhir Fariz. Hatinya menjadi semakin cemas dan takut.


Zafira mengejar Fariz. Sepatu heels dengan tinggi tujuh centi membuatnya kesulitan mengejar langkah Fariz yang panjang serta cepat.


"Fariz! Jangan pergi!," panggilnya tetap tidak menyerah mengikuti sang sahabat.


Pria itu sudah sampai di mobil hitam miliknya dan terburu-buru masuk ke dalam mobil.


Zafira yang tiba tepat di saat Fariz menyalakan mobil, masih sempat menepuk kaca mobil.


Mata Zafira masih sempat menangkap samar-samar dari balik kaca riben, Fariz sama sekali tidak menghiraukan panggilan Zafira bahkan tidak menolehkan wajahnya sedikit pun ke arah Zafira yang masih di luar berusaha menghentikannya.


Fariz menginjak gas dengan keras. Suara deru mobil terdengar menggema memekakkan telinga meninggalkan Zafira yang berdiri tercenung menatap nanar kepergian sahabatnya.


Gadis itu berjalan kembali ke kantor dengan perasaan yang berkecamuk. Sedih, cemas serta takut membaur menjadi satu meretakkan dinding hati serta jiwanya.


Sementara di dalam mobil, Fariz tidak mampu menahan air mata. Sedari tadi pria itu ingin meluapkan semua rasa yang telah menghancurkan dirinya. Sedari tadi pun dia menahan agar matanya tidak menangis namun saat ini dia sudah tidak mampu menahannya lagi.


Pria itu memukul keras setir mobil berulang kali. Dia tidak merasakan jika tangan itu sakit atau pun lebam, sakit di tangan tidak sesakit hatinya saat ini.


Baru kali ini dia menangis semenjak usianya dewasa. Rasanya sakit sekali harus melepaskan gadis yang selama ini dijaga serta diharapkan bisa menjadi pendamping hidupnya kelak.


Semua telah musnah. Harapan serta impiannya telah hancur berkeping-keping begitu pun dengan hati serta hidupnya.

__ADS_1


Pria yang tengah dilanda kehancuran itu menancap gas menuju rumah. Fikirannya tidak tenang jika harus memaksakan diri untuk kembali ke kantor. Jalan terbaik baginya adalah pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Rasanya dia ingin menyendiri dan meminum obat tidur agar bisa tidur sepanjang waktu dan terlepas dari semua beban serta perasaan hancur ini.


Persis seperti Fariz, Zafira pun merasakan hal yang sama. Dia tidak mengerjakan pekerjaan apapun di kantor.


Sudah satu jam gadis itu hanya duduk melamun di ruangannya.


Staff-nya telah membawa beberapa tumpuk berkas untuk diperiksa, gadis itu tidak menyentuhnya sama sekali.


Sedari tadi dia hanya duduk berpindah-pindah. Dari kursi kerja, pindah ke sofa, pindah ke kamar pribadi. Mencoba membaringkan tubuh di spring bed dan memejamkan mata untuk meng-istirahatkan perasaan serta fikirannya yang sedang kacau.


Namun ternyata semua yang dilakukan Zafira tetap tidak bisa menghalau perasaan gundah karena fikirannya terus saja tertuju kepada Fariz. Dia tahu, sahabatnya itu pasti sangat sedih serta terluka mendengar perkataan Ronald, apalagi mendapat kabar jika dirinya dalam waktu dekat akan menikah dengan sang kekasih.


Zafira mengangkat tubuh dari kasur lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan WhatsApp kepada pria yang tadi telah meninggalkannya di pelataran parkir.


"Fariz, kamu masih di kantor atau sudah pulang ke rumah?," isi pesan Zafira.


Zafira terkesiap, dahinya berkerut, perasaannya semakin cemas. Gadis itu takut terjadi sesuatu pada Fariz. Pesan yang dikirimkan ceklist.


Dia mencoba menelepon Fariz melalui telepon biasa, sama saja, tidak aktif.


"Kamu kemana?," lirih hatinya semakin merasa takut.


Gadis itu memutar otak dan bayangan wajah mamanya Fariz muncul di benaknya. Tidak menunggu lama, Zafira menekan kontak Tina dan mencoba mencari tahu keberadaan Fariz.


Untung sambungan telepon itu langsung direspon oleh si penerima.


"Assalamu'alaikum tante," ucap Zafira memberi salam.


"Wa'alaikumsalam sayang," jawab Tina hangat. Sikap Tina sama persis dengan Laras, sangat menyayangi Zafira.


"Tante, apa Fariz ada di rumah?," tanya Zafira dengan hati berdebar. Dia takut jika sampai Fariz tidak berada di rumah, maka akan menjadi tanggung jawabnya untuk mencari pria itu sampai ketemu.


"Ada sayang, dari tadi dia pulang dan mengurung diri di kamar. Ada apa? Kamu ribut dengan Fariz?," wanita itu mencoba mengorek informasi.

__ADS_1


Hati Zafira menjadi lega. Meski pun sekarang Fariz sedang marah padanya, setidaknya dia tahu kalau keadaan Fariz baik-baik saja dan tidak pergi kemana-mana yang bisa membahayakan dirinya.


...*******...


__ADS_2