Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
68 - GUGUP


__ADS_3

Zafira berdiri di samping sofa dengan muka bersemu merah. Entah mengapa, dia merasa gugup dan menjadi malu atas peristiwa yang baru saja terjadi. Meski pun muka itu terlihat cemberut tetapi tidak dapat memungkiri jika dirinya merasa malu saat menindih tubuh pria itu. Kulit wajahnya yang putih mendadak berubah merah.


"Menyebalkan! Badanmu berat sekali! Kamu makan apa? Mengapa badanmu seperti batu?!," rutuk Zafira cemberut menatap Fariz. Dia semakin mempertajam guratan cemberut di mukanya untuk menyamarkan perasaan gugup yang muncul di hatinya. Dia berusaha menenangkan hati, jangan sampai Fariz melihat kegugupan di wajahnya.


Fariz dapat melihat muka Zafira yang tiba-tiba berubah merah. Sayangnya pria itu tidak menyadari kegugupan yang dirasakan Zafira. Fariz menduga, jika sang istri merasa kesal padanya sehingga membuat mukanya jadi memerah. Dia pun tidak berhenti tersenyum mengamati kekesalan di wajah Zafira yang masih saja terlihat cemberut.


Sama halnya dengan Zafira. Dia pun tidak menyadari jika hal gila yang baru saja terjadi, itu adalah akal licik suaminya. Ternyata memang benar yang dikatakan orang-orang tua. Seorang laki-laki jauh lebih pintar menggunakan akal liciknya demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Fariz dengan kelicikannya, akhirnya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan walaupun dengan cara memperdaya istrinya.


Tetapi jika difikir dengan akal sehat, wajar Fariz melakukan hal licik itu karena sang istri terlalu menjaga jarak dengannya. Dan istri seperti Zafira memang sudah sewajarnya diperdaya oleh suaminya seperti yang baru saja dilakukan Fariz.


Fariz masih saja senyum-senyum meluapkan kegembiraannya. Dia pun segera bangun dari sofa dan berdiri di depan sang istri yang masih memasang muka cemberut.


"Apa benar, kamu mau shalat berjama'ah denganku?," tanyanya ingin memastikan kalau Zafira tidak sedang membohonginya.


"Kebiasaan lagi kan? Selalu balik bertanya!," Zafira makin cemberut lalu meninggalkan Fariz.


Zafira berjalan ke meja, yang dengan cepat diikuti Fariz di belakangnya. Gadis itu mengambil gelas yang masih berisi air putih yang tadi malam belum sempat diminum Fariz.


"Ini air putihmu. Minumlah. Aku akan mengambil air untukku di dapur," ucap Zafira menyodorkan gelas kepada sang suami.


Dalam keadaan kesal pun yang tertangkap di pemikiran Fariz, Zafira masih sempat memperhatikan dan melayani dirinya. Padahal sebenarnya sang istri memasang wajah kesal karena menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


Fariz merasa senang mendapat pelayanan dari gadis itu. Selama ini, setiap bangun tidur di pagi hari, dia akan mengambil sendiri gelas dan mengisinya dengan air putih. Terkadang, bi Senah yang akan melakukannya. Tetapi pagi ini keadaan berubah drastis. Dia sudah memiliki seorang pelayan cantik yang bersedia menyuguhkan air putih untuk dirinya. Hatinya benar-benar bahagia. Memang tidak rugi memiliki seorang istri. Semua pekerjaan yang biasa dia lakukan sendiri, sekarang diambil-alih oleh sang istri. Seperti itulah pemikiran yang ada di benaknya.


Fariz mengambil gelas dari tangan Zafira dan meletakkan kembali di tempatnya semula.


"Aku mau ikut denganmu," ucapnya kemudian sambil terus tersenyum.


"Untuk apa kamu mengikutiku? Air putihmu sudah ada. Kamu tinggal meminumnya," Zafira menautkan alis, heran melihat sikap pria itu, yang sedari tadi diperhatikannya terus saja senyum-senyum tanpa sebab. Mencurigakan sekali.


Timbul prasangka buruk di benak gadis itu terhadap suaminya. Fariz pasti merasa senang karena tadi tanpa sengaja bibirnya menempel di kening pria itu. Zafira mengerutkan mata lalu memejamkannya. Dia menyesal mengapa kejadian itu tiba-tiba saja bisa terjadi? Bisa-bisanya dia mencium Fariz bahkan menindihnya. Walaupun terjadi karena unsur ketidaksengajaan, tetap saja membuatnya merasa malu. Seharusnya yang mencium pertama kali adalah laki-laki bukan malah dirinya. Walaupun kejadian tadi bukan dikatakan sebuah ciuman tetapi tetap saja bibirnya menempel sempurna di kening Fariz. Rasa malu kembali singgah di hatinya jika mengingat kejadian itu.


"Aku akan menemanimu ke dapur," ucap pria itu masih saja tersenyum aneh, sambil terus menghunuskan pandangan ke wajah cantik di depannya.


Matanya tak sengaja menangkap bibir ranum Zafira, berwana pink kemerahan tanpa tipuan lipstik. Otaknya kembali berfantasi. Dia kembali membayangkan adegan yang baru saja terjadi. Membayangkan bibir lembut itu menyentuh keningnya, sementara hidungnya bebas menyesap aroma wangi dari leher Zafira. Jika mengingat itu, Fariz rasanya ingin mengulanginya kembali. Jika sampai kejadian itu terulang lagi, dia tidak akan segan-segan mengambil kesempatan mengecup leher putih itu. Entahlah, otaknya selalu berfikiran vulgar tiap kali memikirkan dan berdekatan dengan Zafira. Apalagi setelah Zafira resmi menjadi istrinya, fikiran vulgarnya semakin menjadi-jadi.


Sambil berjalan keluar, matanya sempat melirik ke arah dada yang terlihat menyembul. Dia menarik rambut panjangnya dan sengaja menaruhnya ke depan dada kiri dan kanan, untuk menutupi area sensitifnya dari mata nakal Fariz.


Dia tahu, hasrat Fariz terhadap dirinya sangatlah besar. Terbukti saat kejadian di sofa. Dia dapat merasakan nafas Fariz yang memburu begitu kencang menerpa lehernya, saat tubuhnya menindih tubuh sang suami. Jika membayangkan kejadian itu, mengapa tiba-tiba saja bulu kuduk Zafira kembali berdiri? Rasa geli di lehernya hingga kini masih membekas. Zafira bergidik sambil kembali mengusap-usap kulit leher berusaha menghilangkan rasa geli itu. Dia terus berjalan ke dapur tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang mengikuti di belakangnya.


Keduanya beriringan berjalan ke dapur. Sesampai di dapur, tampak bi Senah sudah bangun, sedang mencuci piring bekas para tamu tadi malam yang belum sempat dicucinya semua.


"Selamat pagi Bi Senah," Zafira menyapa dengan begitu hangat.

__ADS_1


"Eh selamat pagi neng Zafira. Tumben sudah bangun? Baru jam setengah lima lewat. Biasanya pengantin baru itu bangunnya siang neng. Karena banyak yang harus mereka lakukan di kamar. Saking banyak yang dilakukan, pengantin baru biasanya tidak tidur semalaman. Terkadang sampai tidak keluar kamar berhari-hari... Hi, hi, hi..," bi Senah cekikikan, menoleh ke arah Zafira dan Fariz yang ada di belakangnya sambil mengerlingkan sorot mata nakal pada kedua pengantin baru itu.


Zafira dan Fariz serentak membelalakkan mata mendengar kalimat jujur bi Senah. Keduanya saling berpandangan tetapi sama-sama terdiam. Muka kedua pengantin itu menjadi bersemu merah. Keduanya tidak merespon ucapan wanita setengah baya itu, yang masih terdengar cekikikan menertawakan kedua pengantin. Sampai akhirnya Zafira pun berkata.


"Iiih bi Senah, bibi jangan bicara yang aneh-aneh," Zafira mencoba melarang bi Senah agar tidak berkata yang dapat memancing hasrat Fariz. Dia tahu, Fariz sudah seperti macan yang siap menerkam mangsa. Zafira kembali teringat nafas Fariz yang memburu menghempas lehernya. Kembali gadis itu bergidik.


"Tidak ada yang aneh neng. Kebanyakan pengantin baru pasti merasakan hal yang sama. Biasanya pengantin wanita tidak bisa tidur semalaman karena diganggu dan dibangunkan hampir setiap jam oleh suaminya untuk membereskan pekerjaan di tempat tidur. Sampai badan menjadi lemas dan sakit-sakit saat bangun di pagi hari. Mana banyak merah-merah di badan. Hi, hi, hi..," bi Senah masih terus berceloteh sengaja menggoda kedua majikannya.


Mata serta mulut Zafira secara bersamaan terbuka lebar membentuk huruf O mendengar penjelasan bi Senah. Dia spontan menoleh ke arah Fariz yang ternyata sedang tersenyum lebar menatapnya. Zafira menjadi kesal melihat reaksi Fariz. Apalagi dengan sorot mata yang begitu lekat menghujamkan tatapan nakal ke arahnya. Ditambah senyuman yang seakan-akan memberi sebuah arti yang Zafira sendiri sangat mengerti arti dari senyuman itu. Hasrat nakal tercermin dari senyuman itu.


Zafira mendelik kepada sang suami. Memberi isyarat agar suaminya berhenti tersenyum nakal padanya. Bukannya merasa malu mendengar celotehan bi Senah, dia justru menerima dengan senang hati semua ucapan bi Senah. Dasar laki-laki, paling semangat jika membicarakan seputar kegiatan ranjang. Fikiran mereka selalu mesum.


Zafira tiba-tiba saja membayangkan jika suatu hari nanti, dia sudah siap menerima Fariz menjadi suaminya. Pasti ucapan bi Senah akan menjadi kenyataan. Dia sudah sering membaca dari internet, bagaimana rasa sakit yang dialami seorang gadis saat pertama kali melakukan hubungan badan dengan suami. Seorang gadis akan merasakan sakit yang teramat dalam, saat pertama kali melepas keperawanannya.


Belum lagi mendengar cerita dari teman-temannya yang telah lebih dulu menikah. Mereka semua berbagi pengalaman saat melakukan malam pertama. Mengatakan betapa menyakitkannya melepas keperawanan untuk pertama kali. Dan tidak jarang sampai ada yang mengeluarkan air mata, menjerit dan menangis. Saking sakitnya.


Zafira menjadi takut membayangkan hal itu. Kemarin saat dia memutuskan menikah dengan Ronald, dia sama sekali tidak memikirkan tentang hal itu, dikarenakan dia terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor serta menghabiskan sebagian waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu menyambut pernikahannya sehingga dia melupakan ritual malam pertama.


Tetapi pagi ini, setelah mendengar celotehan bi Senah yang memang terdengar vulgar membuka fikirannya kembali mengenai ritual malam pertama. Perkataan bi Senah membuatnya mendadak membayangkan malam pertama yang akan dilewatinya bersama Fariz. Jatuh cinta saja belum, tetapi dia telah membayangkan melakukan malam pertama dengan Fariz. Merasakan terpaan nafas Fariz di lehernya saja sudah membuatnya bergidik geli, apalagi membayangkan harus melepaskan keperawanan dengan pria itu, semakin membuatnya takut.


"Iiihh takuuutt!," Zafira tiba-tiba saja berteriak sambil memejamkan mata, membuat bi Senah serta Fariz menjadi terkejut.

__ADS_1


Keduanya serentak menoleh dan menatap penuh kebingungan pada gadis yang tiba-tiba saja berteriak tanpa sebab, dengan suara yang memekakkan seisi ruangan.


...*******...


__ADS_2