Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
49 - PENGANTIN YANG MENAKJUBKAN


__ADS_3

Sepulang dari menemui Fariz, Zafran kembali ke rumah dengan perasaan tidak tenang. Dia memegang setir mobil sambil terus memikirkan Zafira. Bukan hanya Fariz yang merasa ketakutan dengan pernikahan Zafira tetapi dirinya pun merasakan hal yang sama.


Zafran sungguh tidak rela jika saudara kembarnya itu menikah dengan Ronald, laki-laki yang sangat pintar bersandiwara dan gemar mempermainkan hati wanita. Dan dia lebih tidak rela lagi melihat Fariz menderita seumur hidupnya karena terpaksa merelakan gadis yang dia cinta melangkah ke pelaminan bersama laki-laki lain di depan matanya. Zafran hanya berharap masih ada waktu dan kesempatan untuk membuka mata, hati serta fikiran Zafira agar dapat membatalkan pernikahan ini. Pria itu pun bergegas pulang ingin segera menemui sang adik.


Sementara itu, di salah satu ruangan di rumah Arga, Zafira baru saja selesai dirias. Wajahnya yang memang sudah cantik sejak lahir menuruni perpaduan wajah Laras dan Arga, semakin memancarkan kesempurnaan wajah itu saat dipoles dengan maxe up pengantin yang memang jauh lebih tebal dari pada maxe up Zafira sehari-hari yang terbiasa hanya memakai maxe up tipis dan seadanya.


Penata rias yang telah berhasil merias Zafira hingga membuat pengantin cantik itu semakin cantik bak seorang puteri, izin keluar untuk mengambil sarapan karena dari selesai shalat Subuh, dia sibuk merias sang pengantin dan sengaja meminta kepada tuan rumah untuk tidak menyuguhkan sarapan sebelum menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara Zafira, selepas shalat Subuh telah diberikan Laras tiga butir telor ayam kampung setengah matang. Dan saat wajahnya sedang dirias, dia pun menyempatkan makan roti serta meminum susu yang telah disediakan oleh sang mama, sehingga perutnya saat ini sudah cukup kenyang dan tidak memerlukan sarapan lagi.


Setelah penata rias keluar dari ruangan, tinggallah pengantin itu seorang diri duduk di kursi rias tersenyum memandangi wajahnya di depan kaca.


Hari ini gadis itu benar-benar menawan. Dia ibarat seorang bidadari turun dari kayangan. Benar-benar sangat menakjubkan. Tubuh tinggi semampai, kulit bersih nan putih, rambut panjang yang indah dan hitam yang telah digulung dan dibentuk sedemikian rupa.


Zafira mengenakan kebaya putih dengan bahan brokat memiliki banyak renda dengan ukuran press body dan berlengan panjang. Ditambah payet manik-manik berwarna putih berkilau semakin menambah kesan anggun sang pengantin.


Sementara bawahannya, Zafira memakai kain bermotif batik bunga berwarna coklat keemasan. Sangat pas dipadukan dengan kebaya putih yang membalut tubuh ramping itu.


Rambut panjangnya digulung dan ditata dengan model sanggul klasik. Menonjolkan unsur tradisional yang berakar kuat pada kebudayaan Indonesia tetapi tetap terlihat begitu elegant dan menawan. Tidak lupa ada penambahan aksesoris di atas rambut Zafira menyerupai mahkota yang sering dipakai ratu di kerajaan Inggris membuat Zafira tampil anggun dan memukau.


Kaki jenjangnya semakin jenjang dengan menggunakan heels setinggi sepuluh centi meter dengan warna putih memiliki manik-manik berkilau senada dengan kebaya yang dipakai.


Siapa pun yang memandang Zafira, pasti akan takjub dan tidak akan berkedip melihat kecantikan wajah gadis itu. Sungguh besar anugerah Allah yang telah memberikan wajah sesempurna itu. Jika dilihat seperti ini, hal yang wajar jika Fariz tidak mampu memalingkan hati serta cintanya dari Zafira. Gadis itu benar-benar memikat bagi setiap mata yang memandangnya.


Saat Zafira dengan senyum merekah sedang melihat pantulan wajahnya dari kaca di depannya, saat itulah satu sosok memasuki kamar tempat Zafira dirias.

__ADS_1


Sosok itu pun duduk di pinggir meja rias, menatap Zafira sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Hari ini kamu benar-benar cantik adikku. Semua orang pasti akan terpana melihat penampilanmu hari ini. Kamu lebih cantik dari puteri atau pun ratu di kerajaan," ujar Zafran sambil mengusap pelan sanggul Zafira.


"Terima kasih. Kamu pasti tahu sendiri, aku memang dari lahir sudah diciptakan cantik seperti mama," Zafira menjulurkan lidah mengarah ke Fariz, membuat sang kakak kembar mau tidak mau menjadi tersenyum memperhatikan tingkah Zafira yang memang dari kecil terlihat manja dan menggemaskan.


Fariz masih terus memandangi Zafira, sambil matanya berfikir mencari kalimat yang ampuh yang bisa merubah hati sang adik agar mau membatalkan pernikahannya.


"Oh iya, aku tidak melihat Fariz. Dimana dia sekarang? Mengapa belum datang?," tiba-tiba Zafira menatap Zafran dengan raut muka serius.


Zafran kembali menarik senyum, kali ini dia tersenyum lebih lebar. Tepat sekali. Dia sebenarnya mau membahas tentang Fariz dan rupanya Zafira telah mendahului membuka pembicaraan mengenai Fariz.


"Itu yang mau kukatakan. Tadi aku ke rumahnya dan melihat dia sedang duduk di lantai kamar. Dia benar-benar terpukul. Aku kasihan sekali padanya," Zafran mulai melancarkan aksinya berharap sang pengantin berubah fikiran dan mau mempertimbangkan kembali rencana pernikahannya dengan Ronald.


"Fariz hanya butuh waktu melupakanku. Setelah itu dia pasti akan menemukan gadis lain yang jauh lebih segalanya dariku. Kemarin dia sendiri yang mengatakan akan segera mencari calon istri dan memperkenalkannya padaku," ucap Zafira menjelaskan, hatinya yang tadi cemas kembali tenang.


"Aah.., itu hanya akal-akalannya saja. Aku yakin dia tidak benar-benar ingin melakukan itu," Zafran memberitahu.


Zafira terdiam mendengar penuturan Zafran. Matanya tetap tidak berpindah pada sosok yang duduk di dekatnya.


"Zafira, kamu masih memiliki waktu untuk membatalkan pernikahan ini. Tolong kamu fikirkan lagi. Aku sudah berusaha mencari kebenaran tentang Ronald tapi ternyata calon suamimu itu terlalu licik dan sangat pintar menyembunyikan sifat aslinya," ujar Zafran mencoba mengacaukan fikiran serta hati sang adik agar berfikir kembali untuk melanjutkan pernikahan yang sudah di depan mata.


"Apa yang kamu katakan? Tidak mungkin aku membatalkan pernikahan ini. Kurang dari satu jam acaranya akan dimulai. Kamu jangan bicara yang tidak masuk akal," Zafira mengernyitkan dahi menatap Zafran penuh ketidakmengertian.


"Satu jam itu masih panjang jika kamu memang mau melakukannya. Aku akan membantumu. Menikahlah dengan Fariz. Dia lebih tepat menjadi suamimu dan akan menjagamu dengan baik. Percaya padaku!," tegas Zafran terus meyakinkan Zafira.

__ADS_1


"Zafran, kamu ini mabuk ya? Pagi-pagi perkataanmu sudah melantur. Apa yang kamu katakan? Menyuruhku menikah dengan Fariz? Tidak mungkin aku menikah dengannya. Jelas-jelas aku akan menikah dengan Ronald tapi kamu malah menyuruhku menikah dengan Fariz. Kamu jangan mabuk di sini," Zafira sedikit mendelik kepada Zafran yang dengan santainya duduk di pinggir meja rias.


"Aku tidak mabuk. Tapi aku benar-benar akan membantu kalian agar bisa menikah. Serahkan semuanya padaku. Aku akan mengurus semuanya, asal kamu setuju membatalkan pernikahan ini,"


"Tidak. Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Aku tidak akan menikah dengan Fariz. Ada apa denganmu Zafran? Ronald dan keluarganya pasti akan marah besar jika tiba-tiba aku membatalkan pernikahan ini dan menikah dengan Fariz. Lagi pula aku mencintai Ronald. Laki-laki yang aku pilih untuk menjadi suamiku itu Ronald, bukan Fariz. Kamu juga tahu sendiri, Fariz itu sahabat kita. Tidak mungkin aku menjadikannya suami," ucap Zafira tidak mau menuruti keinginan Zafran.


"Mengapa tidak mungkin? Fariz mencintaimu dan sangat menginginkanmu menjadi istrinya. Nanti setelah menikah dan hidup satu rumah, kalian pasti bisa lebih dekat dan kamu pasti akan lebih mengetahui sisi baik dari Fariz. Aku yakin lambat laun kamu pasti akan jatuh cinta padanya," Zafran dengan penuh semangat, terus mencoba menasehati sang adik.


"Sudahlah Zafran, jangan membahas ini lagi. Jangan membuat mood-ku jadi hancur gara-gara perkataanmu ini. Bukannya membuatku bahagia, kamu malah sengaja ingin menghancurkan mood-ku," Zafira mendengus membuang pandangan ke samping.


Zafran kehabisan kata-kata dan menggelengkan kepala. Dia sudah sering menasehati Zafira seperti ini tetapi hasilnya pasti nihil. Sebenarnya, Zafran juga enggan menasehati Zafira namun dia tidak patah semangat, apalagi setelah melihat keadaan Fariz yang tadi tampak terpukul membuatnya kembali bersemangat untuk menasehati dan berbicara dari hati ke hati dengan Zafira.


Zafran melihat jam di tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Zafran melihat ke arah pintu. Dia mendengus kesal menatap tajam ke daun pintu. Sepertinya dia menunggu seseorang muncul di sana. Apa mungkin dia menunggu kedatangan Fariz dan akan menyuruh sang sahabat kawin lari dengan Zafira?


"Baiklah kalau kamu tidak mau membatalkan pernikahan ini. Tapi ingat, jika suatu saat nanti, kamu mengetahui kebenaran tentang calon suamimu, jangan pernah menyalahkanku dan juga Fariz. Aku dan Fariz telah berulang kali membuka mata dan fikiranmu tapi kamu selalu tidak percaya karena kamu belum memiliki bukti yang akurat," akhirnya Zafran mengalah.


Zafran beranjak dari meja rias. Sebelum pergi meninggalkan Zafira, dia masih sempat menyentuh kening Zafira dengan telunjuknya.


"Otakmu tidak jalan!," ucapnya menatap Zafira tajam lalu meninggalkannya.


Zafira mendengus kesal sambil memutar tubuh ke arah pintu, mengamati Zafran yang berjalan keluar ruangan. Gadis itu cemberut mendapat perlakuan Zafran tetapi dia lebih memilih diam dan tidak menjawab perkataan sang kakak kembar. Hanya mukanya terlihat ditekuk mengantar kepergian Zafran. Dia kesal kepada Zafran, bukannya mengucapkan selamat dan ikut bahagia dengan pernikahannya, tetapi justru menyuruhnya membatalkan pernikahan.


"Dasar aneh kamu. Semudah itu menyuruhku membatalkan pernikahan. Kamu tidak berfikir akibatnya," batin Zafira dalam hati menatap kepergian Zafran yang telah menghilang di balik pintu.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2