Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
28 - SAKIT HATI


__ADS_3

Ternyata panggilan Zafira tidak terdengar di telinga Fariz. Pria itu masih duduk terpaku, tetapi kali ini sambil memejamkan mata memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi setelah malam ini.


Fariz begitu takut membayangkan Zafira akan segera menjadi milik laki-laki lain. Keputusan Zafira untuk menikah dengan Ronald merupakan petaka besar dalam kehidupannya. Setelah ini, entah apakah dia masih bisa hidup? Atau dia akan tetap hidup dan menikah dengan wanita lain tetapi dengan bayang-bayang Zafira? Atau dia akan mati tetapi dengan raga yang masih berjalan dan hidup?


Pupus semua harapan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Hidup bahagia bersama Zafira dan tinggal dalam satu rumah penuh cinta serta kasih sayang. Harapan itu tinggallah harapan, lebur menjadi serpihan debu yang berhamburan diterbang angin bayu.


Merasa panggilannya tidak ada respon dari Fariz, Zafira beringsut dari jok kemudi dan bergeser ke jok samping kiri kemudian membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar melalui pintu sebelah kiri.


Gadis itu keluar dari mobil, berjalan memutar dari depan mobil menghampiri Fariz yang masih duduk tak bergerak.


Zafira berdiri tercenung melihat Fariz yang masih dengan posisi semula. Hatinya menjadi sedih. Entah mengapa, gadis itu tidak bisa melihat keadaan Fariz seperti itu, tanpa diperintah hatinya berdenyut ngilu dengan sendirinya.


Perlahan-lahan Zafira mendekati sahabatnya dan berdiri di sebelah pria itu.


"Fariz, mengapa duduk di sini?," tanya Zafira yang sontak membuyarkan lamunan Fariz.


Telinga Fariz langsung terbuka lebar saat mendengar suara seseorang yang sudah sangat akrab di telinganya, suara yang selalu hadir di setiap hari-harinya.


Seketika Fariz terdongak memandang Zafira yang telah berdiri di dekatnya namun pria itu belum beranjak dari duduknya.


Kemudian Zafira duduk berjongkok dan memperhatikan muka Fariz yang tampak kusut. Ada rasa cemas terpancar dari sorot mata Zafira menatap pria yang masih duduk bersandar di pintu mobil. Tangan gadis itu spontan terulur membenahi rambut Fariz yang terlihat berantakan. Gadis itu menyisir pelan rambut Fariz dengan jarinya.


Entahlah, mengapa sikap Zafira selalu sangat manis, begitu peduli serta penuh perhatian kepada Fariz. Gadis itu terlalu memperhatikan keadaan serta selalu merasa mencemaskan diri Fariz jika terjadi sesuatu pada pria itu. Semua yang dilakukan Zafira mengalir begitu saja, berjalan seadanya mengikuti kata hati tanpa paksaan apalagi dibuat-buat.

__ADS_1


Fariz masih terdiam tidak melepaskan tatapannya pada gadis yang saat ini dengan penuh perhatian merapikan rambutnya.


Bahagia itu pasti ada dan sangat terasa di hati sang pria karena mendapat sentuhan serta perhatian dari Zafira. Perasaan yang tadinya terombang ambing antara sedih, kecewa serta terluka, terkikis sudah hanya dengan sentuhan jari gadis itu.


Dengan menggunakan kedua matanya, Fariz terus menyusuri mata, hidung serta seluruh wajah gadis itu dengan sorot penuh cinta namun orang yang ditatap masih sibuk menyisir rambut Fariz sehingga tidak menyadari jika dirinya sedang ditatap begitu dalam oleh si pria.


Merasa rambut Fariz sudah tidak terlihat berantakan lagi, gadis itu pun mengajak Fariz bangun.


"Ayo bangun," Zafira memegang lengan sang pria dan membantunya berdiri.


Saat melihat wajah Zafira muncul di hadapannya, hati Fariz menjadi bahagia dan untuk sejenak melupakan kesakitan yang tengah merundungnya karena berita pernikahan sang sahabat. Mata pria itu masih tidak berpaling menatap sosok cantik yang sekarang ada di sampingnya.


Fariz pun segera berdiri. Dan kini keduanya telah saling berdiri bersebelahan dengan tangan Zafira masih menempel di lengan sang pria.


Zafira sedikit mendongak melihat pria di sebelahnya yang ternyata mata pria itu juga sedang menatapnya. Untuk beberapa detik keduanya saling berpandangan. Fariz menikmati tatapan teduh gadis itu walau hanya hitungan detik dikarenakan Zafira telah melepaskan pegangan dari lengan Fariz tanpa memberikan jawaban dan berjalan menjauhi pria itu lebih ke pinggir lalu berdiri di balik mobil Honda Civic yang masih terparkir rapi di sana.


Sang pria menyusul dari belakang dan ikut berdiri di depan Zafira.


Zafira berdiri mematung. Meski pun wajahnya masih sedikit pucat namun tetap terlihat begitu cantik di bawah lampu jalan yang memancarkan cahaya remang-remang tepat ke wajahnya. Dan terlihat jelas raut cantik itu masih kaku tanpa menyungging senyum sedikit pun.


"Aku tahu kamu pasti lelah seharian ini, maafkan aku," sambung pria itu merasa menyesal sembari memandangi wajah pucat di depannya.


Zafira masih diam mematung. Matanya tidak ingin menatap Fariz, sengaja memandang ke arah jalan raya memperhatikan beberapa kendaraan yang lewat. Bibir gadis itu pun tertutup rapat.

__ADS_1


"Maafkan aku Zafira.., Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan tadi. Aku hanya merasa bingung dengan hidupku sekarang. Aku tahu, kamu pasti sedih atas sikapku tadi. Tolong maafkan aku..," ucap Fariz memohon dan memberanikan diri menggapai lalu memegang kedua tangan gadis itu.


Lagi dan lagi hati pria itu bergetar dan merasa hangat saat menyentuh tangan halus milik gadis berparas cantik itu, namun dia berusaha menenangkan segala perasaan di dalam dirinya dengan tidak terlalu mempedulikan getaran cinta yang mulai mengusiknya.


Dengan gerakan pelan, Zafira melepaskan pegangan tangan Fariz dan menatap tajam pria di hadapannya.


"Kamu jahat! Mengapa kamu bisa setega itu? Selama ini aku belum pernah mendapat perlakuan seperti itu darimu, tapi tadi kamu sudah membuatku sedih dan kecewa. Puluhan tahun kita bersama, tidak pernah satu kali pun kamu membentakku, tapi tadi kamu sampai menepis tanganku dan mengabaikan niat baikku. Nasinya berserakan. Piringnya pecah. Kamu sudah membuatku terkejut dengan sikapmu itu. Mana Fariz yang kukenal dulu? Yang selalu bersikap lembut dan baik padaku? Aku merasa tidak mengenal dirimu. Kamu sekarang sudah berubah. Jauh berbeda dengan Fariz yang kukenal selama ini," ucap gadis itu meluapkan perasaan kecewanya dengan wajah yang tampak menahan tangis.


Fariz bisa melihat gurat kesedihan di wajah Zafira yang nyaris menangis. Pria itu sadar dengan kesalahan yang telah dilakukannya dan berharap mendapat maaf dari gadis yang saat ini masih dibalut rasa sakit hati.


"Aku tahu, aku salah, karena itu aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Wajar kalau kamu merasa kecewa padaku, sikapku memang sudah keterlaluan. Aku juga bingung, mengapa aku bisa melakukan hal sekasar itu padamu. Kalau kamu ingin memarahiku, aku akan menerimanya, tapi tolong mengerti kondisiku, Zafira. Aku melakukan itu karena suasana hatiku sedang tidak baik," ujar Fariz mengakui kesalahannya.


"Iya, aku sakit hati, sedih dan kecewa padamu. Susah payah aku membeli nasi kesukaanmu dengan mengesampingkan rasa lelahku, tapi kamu malah membuangnya. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?," tanya Zafira dengan suara tertahan.


"Iya Zafira, aku sadar dengan kesalahanku. Aku tahu kamu lelah, seharusnya aku mengerti kondisimu yang sedang lelah bukan malah bersikap kasar padamu sehingga membuatmu menangis. Sekali lagi maafkan aku..," pinta Fariz penuh harap seraya memandang Zafira yang berdiri dengan wajah yang tergambar letih.


"Iya, aku memang lelah, Fariz! Seharian aku lelah bekerja dan berjam-jam aku memikirkan apa kesalahanku padamu yang membuatmu tiba-tiba tidak mau berbicara denganku. Aku berusaha keras membujukmu tapi kamu sama sekali tidak mempedulikanku bahkan kamu telah membuatku sakit hati dengan sikapmu. Rasanya aku tidak ingin memaafkanmu lagi! Kamu jahat! Kamu laki-laki kasar! Tempramental! Sikapmu sudah tidak selembut dulu. Aku sedih jika mengingat itu," suara Zafira serak dan tak bisa menahan tangisannya lagi.


Rasa sakit hati, sedih dan kecewa berbaur menjadi satu dalam hati Zafira dan menumpahkannya dengan tangisan.


Fariz terdiam mendengar perkataan Zafira. Dia merenung, mencoba mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu di kamarnya. Rasa bersalah serta sesal mengikat hatinya.


Fariz sadar, sikapnya memang sudah di luar batas sehingga membuat Zafira menjadi begitu sakit hati dengan perlakuannya. Berpuluh tahun dia bersikap lembut pada Zafira namun hanya dalam hitungan detik, dia berubah menjadi pria kasar di mata Zafira.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2