
Fariz masih berdiri di tempatnya semula sambil memandangi Zafira yang tampak mulai pulas. Wajah itu terlihat sangat lelah sehingga cepat sekali tertidur hanya dalam hitungan tidak sampai lima menit.
Pria itu berjalan mendekati tempat tidur, sedikit membungkukkan badan lalu mengulurkan tangan menyentuh wajah istrinya.
"Selamat tidur cintaku," ucapnya tersenyum, pelan mengelus pipi kiri sang istri.
Apapun yang akan terjadi dalam pernikahannya kelak, Fariz tetap merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan dapat hidup satu atap bersama Zafira dan menjadi suaminya. Jikalau belum ada cinta di hati Zafira untuk dirinya, dia masih sanggup untuk menunggu hingga suatu hari nanti sang istri akan menyadari betapa berartinya seorang Fariz dalam hidupnya.
Fariz berjalan memutari ujung ranjang dan naik ke atasnya. Beringsut dengan sangat pelan, jangan sampai membangunkan Zafira yang sedang tertidur nyenyak.
Fariz mendekat ke arah sang istri lalu ikut membaringkan tubuh, menelentang di samping Zafira, lebih tepatnya di belakang Zafira. Dikarenakan posisi sang gadis yang menghadap ke kanan sedangkan posisi Fariz yang berada di samping kirinya. Dia melihat sesaat pada sosok yang tertidur memunggunginya. Menatap punggung itu, terdiam tanpa kata.
Kemudian dia mengalihkan pandangan, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Dia merasa sangat bahagia bisa menikahi sang gadis pujaan. Namun ternyata, di malam pengantin, dia ditinggal begitu saja oleh sang istri tanpa memberikan sesuatu yang wajib diberikan seorang istri di saat malam pengantin. Tetapi pria itu memahami sikap Zafira. Selain suasana hati sang istri sedang tidak baik, dia juga sadar betul bahwa di hati gadis itu belum ada rasa cinta untuknya.
Saat sedang melamun menatap ke langit-langit kamar, tiba-tiba Fariz merasakan ada pergerakan dari sosok di sampingnya. Refleks, pria itu menoleh ke samping kanan. Tubuh Zafira yang tadinya membelakangi Fariz, tampak bergerak ke kiri lalu terlentang. Meskipun tubuh Zafira melakukan pergerakan, tetapi mata itu tetap tertutup rapat. Tampaknya Zafira masih begitu lelap. Dan daster selutut yang dikenakannya ikut tersingkap naik ke atas paha.
Seketika Fariz terkesima dan membuka kedua matanya dengan lebar menatap paha sang istri. Desiran di hati tiba-tiba saja terasa memanas dengan sendirinya.
Pria itu menelan saliva kasar, melihat paha putih milik sang istri yang kini terpampang jelas di matanya tanpa penghalang. Kedua bola mata itu tak berkedip, terus menatap tubuh Zafira. Dari rambut, wajah, leher, dada, paha hingga ke betis. Sempurna. Lekukan tubuh gadis itu sungguh telah membuat darahnya terasa mendidih dan menjadikan hatinya terasa bergetar.
Rupanya bukan hanya cinta dan hati Zafira yang diinginkan pria itu, namun juga tubuhnya. Dia sangat ingin melakukan penyatuan tubuh dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Sudah lebih dari seratus orang gadis yang dia temui di sepanjang hidupnya, tetapi tidak ada satu pun yang mampu membuatnya tergoda, apalagi terangsang melihat tubuh mereka. Dia tidak pernah tergiur saat melihat lekuk tubuh gadis lain. Padahal setiap hari dia melihat banyak karyawati di kantor yang cantik serta seksi tetapi tidak satu pun yang mampu membuat hatinya tergiur apalagi terangsang seperti yang saat ini dia rasakan terhadap Zafira.
__ADS_1
Hanya Zafira satu-satunya gadis yang mampu menggetarkan hati serta membuatnya bergairah setiap kali bersentuhan kulit apalagi malam ini dapat melihat bagian tubuhnya yang selama ini selalu tertutup rapat. Pemandangan malam ini merangsang hasratnya. Hanya melihat paha saja, telah membuat libido-nya mendadak meningkat.
Pria itu mengusap-usap dada dengan tujuan menenangkan gejolak yang menggebu di hatinya. Tetapi matanya tetap tidak teralih dari sosok di sampingnya yang masih terlentang dengan paha yang mengintip dari balik daster yang tidak sengaja tersingkap. Dia melirik ke bagian bawah tubuhnya sendiri, terasa berdenyut dan tampak membentuk gelembung besar di balik celana piyamanya.
"Sabar, sabar. Aku harus banyak bersabar setelah ini," batinnya menyabarkan hati sambil menggelengkan kepala.
Demi membuang hasrat yang semakin menggebu, dia segera memperbaiki daster Zafira. Menutupnya kembali dengan sangat hati-hati sampai ke lutut. Masih untung model daster itu tertutup di bagian dada. Bagaimana jika daster itu model terbuka di bagian dada? Tamatlah riwayat Fariz. Sepanjang malam pasti dia tidak akan bisa tidur. Dan tidak mungkin dia membangunkan Zafira dan meminta haknya? Tidak mungkin gadis itu bersedia melayaninya.
Setelah membenahi daster Zafira, Fariz menarik selimut dan menutup tubuh gadis itu yang terlihat mulai kedinginan akibat udara AC yang semakin dingin. Ada satu hal yang perlu diketahui tentang sosok Zafira. Tubuh gadis itu tidak terlalu kuat menahan dinginnya udara AC tanpa melindunginya dengan selimut tebal. Kecuali jika pengaturan AC disetel dengan suhu 25 - 28 derajat celcius, kulit halus itu masih bisa melawan udara dingin meski tidak menggunakan selimut. Seperti pengaturan AC di kantornya yang setiap hari selalu disetel dengan suhu 25 derajat celcius.
Fariz terus memandangi wajah gadis yang sedang tertidur itu. Ingin rasanya dia memeluk Zafira. Menumpahkan seluruh perasaan cinta, rindu, hasrat, yang ada di hatinya. Tetapi dia masih belum memiliki keberanian serta kekuatan untuk melakukan itu. Mungkin besok-besok jika keberanian serta kekuatannya telah terkumpul, dia akan mencoba sedikit demi sedikit mengikis jarak di antara mereka. Untuk saat ini, biarkan saja waktu yang akan menggiring mereka untuk saling mengenal satu sama lain sebagai pasangan suami istri, bukan sebagai sahabat seperti yang mereka jalani selama ini. Biarkan malam ini dia cukup memandangi wajah cantik itu tanpa melakukan apapun yang akan membuat gadis itu terganggu.
"Saat tertidur pun kamu terlihat sangat cantik," pujian keluar dari mulut pria itu sambil tersenyum menatap gadis yang terlelap.
"Aku mencintaimu sayang," bisiknya hampir tak terdengar seraya membelai kening serta pipi gadis itu menggunakan tangan kanan. Mengelusnya beberapa menit dengan penuh kasih sayang.
Setelah mengucapkan kata itu dan merasa puas menatap wajah sang istri, dia pun kembali merebahkan tubuh lalu mencoba memejamkan mata dan ikut tidur di samping istrinya. Semoga saja dia bisa tidur nyenyak malam ini.
Pukul 01:00 dini hari.
Zafira terbangun dari tidur. Merasa ingin buang air kecil sekalian ingin tahajjud, seperti yang selalu diajarkan oleh sang mama, Laras. Memang, dia masih belum bisa seperti mamanya yang rutin melaksanakan tahajjud setiap malam. Tetapi setidaknya dia masih mengikuti dan mematuhi ajaran sang mama. Dalam satu minggu, dia masih bisa melakukan tahajjud tiga sampai lima kali, jika tidak mengantuk dan kondisi memungkinkan.
__ADS_1
Namun saat hendak membalikkan badan, dia merasakan tubuhnya berat dan sulit bergerak. Matanya mengerjap beberapa kali dan pandangannya membentur meja rias. Dia merasa ini bukanlah kamarnya, karena profil meja rias yang ada di ruangan ini berbeda dengan profil meja rias yang ada di kamarnya.
Zafira kembali menggerakkan tubuh dan tetap tidak bisa. Dia merasa heran, mengapa tubuhnya terasa berat? Dia merasa ada sesuatu yang menimpa di belakang punggungnya.
Dengan susah payah gadis itu mencoba membalikkan tubuh dengan mengerahkan sedikit tenaga. Dan betapa terkejutnya, melihat satu sosok yang menempel erat di tubuhnya. Dia sangat mengenal wajah itu. Fariz, sahabatnya. Pria itu sedang merangkulkan tangan di perut dan menindih pahanya dengan paha kiri pria itu. Fariz menjadikan tubuhnya seperti guling.
Pria itu terlihat nyaman memeluk guling hangat itu. Mereka saling menempel begitu rapat namun tidak satu selimut. Tubuh Fariz masih berada di luar selimut.
Tanpa sadar, gadis itu pun berteriak histeris.
"Aaaww" teriaknya panik.
Zafira berteriak sambil memegang tangan Fariz dan melemparkannya begitu saja ke samping. Kemudian pahanya bergerak menyingkirkan paha pria itu dari atas pahanya. Dengan cepat gadis itu beranjak duduk. Menarik selimut untuk menutupi paha sampai ke dada. Dia menatap Fariz yang juga tampak terkejut dan berusaha membuka kedua kelopak mata.
Teriakan keras Zafira yang memecah kesunyian malam, mendadak membuat Fariz terkejut dan terbangun dengan muka terlihat tegang. Pria itu langsung mengucek mata yang masih sangat mengantuk.
Seandainya teriakan Zafira didengar bi Senah dan mang Karman, mungkin mereka akan berfikir yang tidak-tidak terhadap pengantin baru itu. Mereka pasti berfikir, jika telah terjadi sesuatu di kamar pengantin. Dan bisa dipastikan jika teriakan Zafira tersebut dikarenakan menahan sakit karena sang suami telah mengambil mahkota berharga yang ada di tubuhnya.
Sebenarnya Zafira pun tidak sengaja melakukan itu. Dia hanya merasa sangat terkejut sehingga membuatnya menjerit di tengah malam dengan sekuat tenaga saat melihat ada seseorang di atas ranjang bersamanya.
Dia juga terkejut karena mendapatkan tubuhnya telah dijadikan guling dengan bebasnya oleh seseorang. Selama ini dia terbiasa tidur sendiri dan merasa nyaman berada di kasur yang besar, namun tanpa dia sangka, tiba-tiba malam ini dia merasakan tubuhnya dihimpit oleh benda berat yang tak lain adalah Fariz. Keterkejutan itulah yang membuatnya histeris dan refleks mengeluarkan teriakan keras yang menggema di seluruh ruang kamar.
__ADS_1
Kini Zafira duduk dengan nafas turun naik. Dia berusaha mengatur perasaan terkejutnya sambil menatap Fariz yang tampak masih mengucek mata. Sebenarnya pria itu masih mengantuk dan enggan membuka mata. Tetapi dikarenakan jeritan keras Zafira yang memekakkan telinga, mau tidak mau memaksanya harus membuka mata, memastikan apa yang sebenarnya terjadi di kamar mereka. Apakah ada seekor kecoa atau ada seekor ular yang merayap masuk kamar lalu naik ke ranjang?
...*******...