
Mau ngucapin makasih banyak buat kalian yang udah ngasih Bintang 5 🙏
*****
Fariz telah selesai membantu Zafira memasang jaket, lalu gadis berambut panjang itu menutup rapat jaket yang tampak kebesaran di tubuhnya itu.
"Makasih," ucap Zafira mengangkat wajah menatap Fariz yang di saat bersamaan masih memandangi Zafira.
Fariz gelagapan dan refleks meluruskan tubuh menghadap ke depan, memegang kemudi dan langsung menyalakan mesin mobil.
"Kita berangkat sekarang ya," ucap Fariz mengalihkan perhatian Zafira.
"Iya," Zafira menyetujui.
Beberapa menit kemudian, Fariz mengurangi kecepatan laju kendaraan dan memberhentikan mobil dikarenakan ada lampu merah di depan mereka.
Fariz yang tadinya fokus menyetir, kini mengalihkan pandangan ke gadis di sampingnya.
"Zafira, maaf..," ucap Fariz mengerlingkan mata pada gadis yang memakai jaket.
"Untuk apa?," tanya Zafira tetap menatap ke depan memperhatikan seorang pengamen yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar.
"Hmm, itu.., apa.., apa bra-mu basah?," tanya Fariz dengan suara hampir tak terdengar.
Zafira seketika shock mendengar pertanyaan Fariz.
"Fariz! Mengapa kamu menanyakan hal itu?!," Zafira sontak menoleh ke samping dan melotot menatap Fariz.
"Apa yang ada di fikiranmu sampai-sampai menanyakan bra-ku!?," tanya Zafira kembali, masih tidak mengalihkan pandangan matanya kepada Fariz dengan sorot mata menelanjangi pria di sampingnya.
Fariz sudah menduga, jika dia mempertanyakan masalah bra, pasti gadis itu akan melancarkan protes padanya.
Pria itu langsung menggerakkan kepala kembali menatap lurus ke depan, dia sengaja tidak mau menoleh ke arah Zafira yang sedang melotot ke arahnya.
"Iya, maafkan aku.., Aku hanya bertanya dan tidak bermaksud bicara tidak sopan. Aku hanya khawatir padamu. Bajumu basah ditambah udara AC di mobil ini cukup dingin, takut kamu masuk angin dan kedinginan. Maksudku kita berhenti sebentar di mall dekat sini, aku akan menemanimu membeli..," ucap Fariz tidak melanjutkan kalimat "bra", takut Zafira akan semakin geram padanya.
Zafira tercenung mendengar perkataan Fariz. Sekarang dia baru mengerti alasan Fariz menanyakan bra-nya.
Gadis cantik itu menyesal telah berprasangka buruk terhadap Fariz. Padahal puluhan tahun mereka berteman, Fariz tidak pernah satu kali pun berkata kotor apalagi bersikap tidak sopan padanya.
"Maaf ya, aku sempat berfikir yang tidak-tidak. Mau kan memaafkanku?," ucap gadis itu memelas, dengan muka sengaja dibuat sesedih mungkin, yang membuat Fariz tersenyum melihat tingkah sang sahabat.
"Iya, tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Dasar gadis pemarah," celetuk Fariz menggoda Zafira.
"Pemarah? Sejak kapan di matamu aku jadi gadis pemarah? Selama ini aku belum pernah memarahimu," ucap Zafira kembali cemberut.
"Waktu kejadian di resto, kamu menyuruhku pergi dan berniat memutuskan pertemanan," jawab Fariz mengingatkan Zafira kembali.
"Iiih itu bukan marah. Waktu itu aku kesal karena kamu dan Ronald membuat keributan di resto. Lagi pula aku kan sudah meminta maaf," gerutu Zafira membuang muka ke luar jendela dengan muka ditekuk.
"Iya iya, kamu benar. Wajar kalau kamu kesal waktu itu karena aku dan Ronald sudah berbuat onar di tempat umum. Ya sudah, tidak perlu dibahas. Sekarang bagaimana usulku tadi? Kamu mau kan mampir ke mall?," Fariz mengalihkan pembicaraan.
Mendengar Fariz tidak mempermasalahkan lagi perihal di resto, gadis itu pun memutar kepala menatap Fariz.
"Iya, aku memang tidak nyaman dengan pakaian basah ini. Tubuhku terasa dingin. Idemu masuk akal, kita berhenti sebentar di mall dekat sini, tapi bagaimana ya...?," kalimat Zafira menggantung, matanya berputar sedang berfikir.
"Bagaimana apa?," tanya Fariz penasaran karena Zafira tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku belum pernah membeli bra dan langsung memakainya. Biasanya setiap membeli bra, aku mencucinya dulu sebelum dipakai. Aku takut.., hmm.., gatal..," ucap Zafira terputus, kali ini dengan perasaan malu harus mengucapkan kata itu.
Fariz tersenyum tetapi hanya dalam hati, tidak menunjukkannya di depan Zafira, karena jika sampai Zafira melihatnya tersenyum, gadis itu pasti akan mengamuk lagi padanya.
"Mudah-mudahan tidak. Hmm, anu.., pakaian dalammu itu kan barang import, pasti kualitas dan kebersihannya lebih terjamin. Jika memang gatal, aku akan membelikanmu bedak gatal. Kamu bisa telepon aku, jam berapa pun aku pasti akan membelikannya di apotik," ucap Fariz menenangkan Zafira.
Seketika hati Zafira menjadi tenang.
Setiap kata serta saran yang muncul dari pemikiran Fariz selalu mampu membuat hati Zafira tenang, sehingga gadis itu pun percaya dan mau menuruti saran Fariz untuk membeli bra di mall terdekat.
"Baiklah, aku mau," ujar Zafira mengangguk.
Dan saat mereka baru selesai menuntaskan pembahasan seputar "bra", saat itu lampu merah telah berubah hijau.
Fariz tersenyum dan langsung mengarahkan kendaraan ke mall yang berada paling dekat dengan posisi mereka saat ini.
Tidak berapa lama mereka telah memasuki mall dengan jaket hitam masih melekat di tubuh Zafira.
"Kamu tunggu di sini saja, tidak perlu mengikutiku," pinta Zafira saat dia telah berada di store yang menjual perlengkapan wanita, dari mulai pakaian dalam, baju, tas, sandal, sepatu serta parfum.
Fariz mengangguk dan berjalan menjauh, pria itu berkeliling melihat-lihat semua barang yang terpajang di store itu.
Zafira yang sudah berada di tempat pakaian dalam, langsung mengambil bra yang biasa dia kenakan, merk Wacoal dengan harga 400 ribuan. Gadis itu segera meminta nota belanja pada pelayan wanita yang ada di sana.
"Zafira!," tiba-tiba Zafira dikejutkan oleh suara Fariz yang memanggilnya dari kejauhan sambil menggapaikan tangan menyuruh Zafira supaya mendekatinya.
Zafira melangkah mendekati Fariz dengan nota bra masih ada di tangannya.
"Ini, aku memilihkannya untukmu," Fariz memberikan kemeja putih berbahan katun hampir mirip dengan baju yang saat ini dipakai Zafira.
Zafira mengambil kemeja itu dari tangan Fariz dan mengangkatnya ke atas, mencoba membandingkan dengan baju yang dipakainya saat ini. Dia menyukai kemeja pilihan Fariz, dan tersenyum dalam hati.
"Jangan besar kepala, aku mau membeli baju ini bukan karena cantik, tapi karena warnanya putih, warna kesukaanku," begitulah sikap Zafira setiap kali menyukai pilihan Fariz.
Dia tidak pernah memuji sang sahabat, hanya hatinya saja yang senantiasa berkata dan mengagumi ketulusan Fariz dalam memperhatikan dirinya.
"Terserah apa alasanmu, yang penting kamu harus ganti baju, biar tidak masuk angin," jawab Fariz tidak mau berdebat.
"Aku ke kasir dulu," ucap Zafira hendak melangkah.
Namun dengan cepat Fariz merampas nota bra yang ada di tangan Zafira.
"Tugasmu mengganti pakaian basahmu itu. Biar aku yang akan membayar ini ke kasir," ujar Fariz seraya mengambil kembali kemeja putih yang masih berada di tangan Zafira dan dengan langkah cepat meninggalkan Zafira.
"Fariz!," panggil Zafira namun pria itu sudah jauh berjalan.
Zafira tercenung menatap Fariz, gadis itu sudah sangat hafal dengan kelakuan sahabatnya.
Setelah Fariz membayar semua barang Zafira, dengan total hampir 1 juta, Zafira pun pergi ke kamar ganti, mengganti bra serta baju dan memasukkan pakaian basahnya ke dalam kantong belanja.
Darimana Fariz mendapatkan uang sebanyak itu? Tentu saja dari sang papa, Rico.
Sejak Zafran, Zafira serta Fariz lahir, posisi Rico di perusahaan bukan hanya sebagai asisten Arga namun telah dipercaya Arga menjadi pengawas perusahaan.
Segala sesuatu yang terjadi dalam perusahaan, Rico yang akan bertugas mengontrol, mengawasi serta di tahap akhir akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di perusahaan dan tentu saja harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan sang pemilik perusahaan, Arga.
Semakin banyak tugas yang diemban Rico, maka uang yang diberikan Arga pun semakin besar.
__ADS_1
Selain memang Arga mempercayai Rico untuk membantunya di perusahaan, Arga pun ingin memberikan kehidupan terbaik untuk anak sahabatnya itu, Fariz, karena itu Arga memberi gaji yang tidak pernah sedikit untuk sang sahabat.
Beberapa menit kemudian, Zafira keluar dari kamar ganti, dan seperti biasa, Fariz selalu setia menunggu sang gadis.
Mata Fariz lekat menatap gadis yang baru muncul di pintu kamar ganti.
"Cantik sekali," batin Fariz tidak berhenti mengagumi sang pujaan.
"Bajunya pas sekali dengan ukuran tubuhmu, terlihat sangat cantik," ucap Fariz kemudian yang disambut senyuman oleh sang gadis.
"Bukan bajunya yang cantik, tapi orangnya yang terlalu menawan," sahut Zafira meledek Fariz lalu melenggang mendekati pria tampan itu.
"Biasa saja!," sahut Fariz berbohong.
"Huh! Kamu mengatakan biasa saja? Tapi buktinya kamu mengejarku terus!," ucap Zafira menjulurkan lidah ke arah Fariz dan mau tidak mau Fariz menjadi tertawa dengan tingkah Zafira yang membuat hatinya semakin hari semakin tidak bisa lepas dari gadis itu.
"Tapi yang dikejar tidak kunjung tertangkap," sahut Fariz yang membuat Zafira ikut tertawa.
"Salah sendiri, mengapa harus menangkap burung merpati sepertiku. Kamu pasti tahu peribahasa jinak-jinak merpati. Mudah didekati tapi sulit diraih," sela Zafira terus mengolok-olok Fariz.
"Iya aku tahu peribahasa itu. Itu artinya Ronald sangat beruntung bisa mendapatkanmu," ujar Fariz kemudian.
"Dia hanya mendapatkan hatiku bukan tubuhku. Aku hanya akan memberikan seluruhnya saat menikah nanti," jawab Zafira dengan tegas.
Fariz manggut-manggut tanda mengerti arah pembicaraan gadis itu.
"Kamu memang istimewa Zafira. Jika Allah mengabulkan doaku, aku ingin mendapatkan seluruh yang ada di dirimu," doa Fariz dalam hati dengan penuh harapan.
"Biar aku yang membawa itu," ujar Fariz sambil menunjuk kantong belanja yang berisi baju basah Zafira.
"Tidak perlu. Ini tidak berat. Ayo kita pulang! Dari tadi berdiri di sini saja," ajak Zafira dengan santainya memegang telapak tangan Fariz lalu menggenggamnya erat tanpa memikirkan perasaan yang bergemuruh di dalam diri sang sahabat.
"Dug Dug Dug"
Jantung pria itu kembali berdegup kencang saat tangan halus Zafira memegang telapak tangannya.
Ada rasa hangat mengalir dalam tubuh Fariz saat merasakan sentuhan tangan Zafira, membuat hati Fariz seolah bernyanyi di antara degupan jantung yang terus mengalun.
Meskipun Zafira memperlakukan Fariz hanya sebagai sahabat bukan sebagai seorang kekasih, namun Fariz sudah cukup merasa senang dan bahagia bisa disentuh oleh gadis yang selama ini dipuja dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Siang atau pun malam Fariz tidak pernah berhenti berharap suatu hari nanti bisa merengkuh hati serta cinta Zafira. Entah kapan...
Biar waktu yang akan menjawab...
Langkah kaki Zafira tertahan, melihat Fariz hanya diam mematung.
"Hei, mengapa kamu diam saja? Apa kamu masih ingin membelikan baju untuk Wilda?," Gurau Zafira tertawa.
"Tidak akan pernah!," sungut Fariz kesal.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita pulang!," Zafira menarik tangan Fariz lalu mengajak pria itu meninggalkan kamar ganti.
Fariz mau tidak mau mengikuti langkah Zafira dan beberapa detik kemudian Zafira telah melepaskan genggaman tangannya karena dia merasa tidak nyaman jika sampai pengunjung mall melihatnya bergandengan tangan dengan pria.
Ada rasa kecewa tergambar di raut muka sang pria saat Zafira melepas genggamannya.
Sebenarnya Fariz ingin Zafira terus melakukan itu dan tidak melepaskannya lagi.
__ADS_1
...*******...