
"Kamu?..," hanya kata itu yang mampu diucapkan gadis yang masih duduk di samping Fariz.
Zafira tidak tahu harus mengatakan apa? Kalimatnya seolah mengabur bersama fikiran yang menari-nari di dalam kepalanya. Kalimatnya ditimbun oleh pemikiran tentang permintaan Fariz yang ingin meminta sebuah pelukan darinya. Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia saja belum sepenuhnya yakin, apakah cinta di hatinya sudah benar-benar tumbuh terhadap Fariz atau belum?
"Aku tahu kamu pasti keberatan melakukan itu. Tapi kan aku sedang sakit. Apa kamu tega membiarkanku tidak tidur sampai besok pagi?," tanya Fariz dengan mata masih tertutup.
Sebenarnya Fariz sudah sangat mengantuk, mungkin karena pengaruh obat yang tadi diminum. Tetapi rasa kantuk itu terasa hilang yang membuatnya sulit sekali tidur karena masih menginginkan serta menunggu sentuhan dari sang istri.
"Iiiihh.., Benar kataku. Kamu ini memang paling pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak pernah berhenti mencari berbagai cara untuk mengecohku," Zafira melengos membuang muka dengan ekspresi cemberut.
Gadis itu menjadi bingung, harus memenuhi keinginan Fariz atau tidak. Dia semakin resah menghadapi tingkah Fariz yang terus menerus membuat jantungnya berpacu berdetak-detak seakan ingin retak.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau. Aku tidak akan memaksa. Tidak boleh memaksakan sesuatu kalau orang yang diminta merasa terpaksa," ucap Fariz tampak kecewa lalu menopangkan tangan di atas kepala, tetap tidak membuka mata.
Pria itu memang tidak menunjukkan sikap marah tetapi ucapannya terkesan membuat suatu pemaksaan, yang mau tidak mau harus dituruti Zafira.
Zafira yang tadinya membuang muka, langsung menggerakkan kepala, menatap kembali pada Fariz.
Dia dapat menangkap gurat kekecewaan di muka pria yang menopang tangan di kepala. Dia merasa iba jika tidak menuruti keinginan Fariz. Tetapi jika menurutinya, dia sudah dapat memastikan hatinya akan ber-ulah lagi. Rasa gugup pasti akan kembali menggoncang rongga dadanya. Dia tidak mau pria itu sampai mendengar detak jantungnya yang berpacu dengan kencang. Fariz hanya memegang dan menciumi tangannya saja sudah cukup membuat jantungnya terhempas, terombang ambing tanpa arah. Bagaimana jika disuruh memeluknya? Pria itu terkadang membuat Zafira merasa mau gila dan kehabisan akal untuk mencari cara menghindarinya. Ada saja hal-hal yang dilakukannya demi mendapatkan hati serta cinta istrinya.
Zafira merasa menjadi istri yang jahat jika tidak menuruti permintaan sang suami, yang saat ini sedang sakit gara-gara dirinya. Fariz terluka seperti ini karena dirinya. Jika tidak membantunya menurunkan pigura, kaki Fariz tidak akan sampai tertimpa benda besar itu. Zafira semakin merasa bersalah jika mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat pigura itu jatuh dan menimpa kaki suaminya.
Fikiran gadis itu bergulung-gulung. Berperang dengan pertanyaan, kebingungan, serta rasa bersalah yang menggempur isi kepalanya. Seluruh perasaan itu mengikatkan keresahan yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara melepaskan ikatan keresahan yang semakin mencengkeram hatinya.
__ADS_1
Zafira memejamkan mata beberapa detik. Menarik nafas panjang berulang kali. Menghempaskannya perlahan-lahan. Dia mencoba mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk memenuhi keinginan Fariz.
Gadis itu beringsut mendekat ke arah Fariz yang masih menopang tangan di atas kepala.
"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu," suara gadis itu terdengar bergetar seraya menelan saliva.
Segala perasaan membuncah, mengusik ketenteraman jiwanya. Gugup, malu, bingung, ragu teraduk-aduk menjadi satu. Kini, dia tidak peduli dengan perasaan yang terus mengguncang hatinya, yang terpenting saat ini dia harus membuat Fariz cepat tertidur agar besok pagi kondisi suaminya cepat pulih seperti sedia kala. Jika Fariz tidak tidur sampai besok pagi, maka gadis itu pasti akan semakin merasa bersalah.
Pria yang sedang menelentang menjadi amat terkejut, langsung membuka mata dan menyingkirkan tangan dari atas kepala saat mendengar kalimat yang diucapkan Zafira. Untuk ke sekian kali hatinya menjadi melayang ke angkasa biru. Nyanyian cinta bersenandung indah di dalam relung hati membayangkan malam ini bisa tidur dalam pelukan gadis yang teramat dicintainya.
Fariz tidak menjawab. Hatinya tersenyum senang meskipun wajahnya tidak memperlihatkan respon apapun. Hanya kedua ekor matanya berkedip berkali-kali tidak melepaskan tatapan dari gadis cantik yang duduk di sampingnya.
"Tapi ada syaratnya..," Zafira menyambung kalimatnya.
"Apa syaratnya? Cepat katakan! Apapun syaratnya aku akan memenuhinya," tanya Fariz tak sabar. Mukanya tampak bersemangat, rasa kantuknya mendadak hilang.
Zafira merubah posisi duduknya, sedikit menghadap pada pria itu. Kali ini, Zafira ingin berbicara yang serius dengan sang suami. Mengingat baru dua hari menikah, permintaan serta keinginan suaminya semakin bertambah dan sulit untuk ditolak dengan alasan takut pria itu akan tersinggung, marah dan terluka. Ini waktunya Zafira akan menumpahkan kepada pria itu seluruh ganjalan di hatinya.
"Fariz, kamu tahu kan, pernikahan kita ini bukan sesuatu yang mudah untuk aku jalani. Perasaanku selama ini terhadapmu, itu reel rasa sayang pada sahabat. Untuk merubah perasaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi takdir telah membawaku menjadi istrimu. Mau tidak mau aku harus belajar menyesuaikan keadaanku sekarang dan merubah seluruh perasaanku terhadapmu. Dari sahabat menjadi suami. Dan kamu pasti tahu, aku perlu waktu mewujudkan semua itu. Aku akan terus mengajari hatiku untuk terus membangun perasaanku padamu," sesaat Zafira menghentikan ucapannya. Kali ini Zafira menunjukkan keseriusan dalam pembicaraannya.
Fariz diam mendengarkan dengan saksama semua yang diucapkan Zafira. Dia tidak ingin melewatkan satu kata pun yang keluar dari bibir gadis itu.
"Aku tahu, seberapa besar perasaanmu padaku. Aku bahkan sangat tahu, kamu sudah menungguku sejak kita kecil. Karena itulah, aku sangat berterima kasih untuk semua rasa dan kesetiaan yang kamu berikan padaku. Aku akan mencoba merubah perasaanku padamu dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Dan mulai malam ini, aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan melarangmu tidur satu ranjang denganku. Tapi aku minta, berjanjilah satu hal padaku..," gadis itu mulai menuturkan sedikit demi sedikit apa yang menjadi sandungan di dalam hatinya.
__ADS_1
Kembali untuk ke sekian kali hati Fariz tersenyum. Tidak dapat dibayangkan betapa gembiranya hati pria itu saat ini. Keinginannya untuk menjadi suami sesungguhnya, bukan hanya sebagai pengantin pengganti, akhirnya dapat terkabul untuk tidur satu kasur dengan Zafira layaknya suami istri pada umumnya. Dan yang lebih membuat pria itu merasa bahagia adalah keinginan Zafira untuk merubah perasaan. Dari sahabat menjadi suami. Sesuatu yang selama ini menjadi mimpinya, sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
"Janji apa? Katakan padaku. Aku pasti akan memenuhinya, asalkan kamu mengizinkanku tidur satu ranjang denganmu," tanya pria yang masih menelentangkan tubuh. Dia tidak sabar menunggu kelanjutan ucapan Zafira.
"Tolong jangan lakukan hal yang membuatku tidak nyaman. Dan tolong jangan lakukan sesuatu yang aku belum siap melakukannya. Aku tahu apa yang sekarang kamu fikirkan dan inginkan. Tanpa kamu jelaskan, aku sudah sangat faham dan mengerti. Tapi kamu juga harus tahu, aku ingin melakukannya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Aku tidak mau melakukannya hanya setengah hati. Bukan sekedar melayani dan bukan sekedar menjalankan kewajiban seorang istri. Aku ingin kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Cinta sama cinta. Tanpa paksaan. Jika aku melakukannya hanya untuk melayani dan menyenangkanmu, itu sama artinya aku merasa terpaksa dan tidak ikhlas. Aku pasti tidak akan merasakan nikmat yang sesungguhnya jika hanya melakukannya dengan setengah hati tanpa keikhlasan," entah muncul darimana keberanian dalam diri Zafira untuk mengatakan semua perkataan itu.
Pembicaraan itu merupakan pembicaraan orang dewasa dan sedikit vulgar. Tetapi gadis itu dengan sangat ter-arah tanpa diiringi rasa malu, begitu lancar mengucapkannya. Mungkin karena dia tidak memiliki pilihan lain sehingga memaksanya untuk mengatakan yang sejujurnya tentang segala ganjalan yang ada di hatinya. Dia merasa tidak mempunyai alasan serta cara lagi untuk menghadapi sikap Fariz yang terus menggiringnya untuk melakukan hal-hal yang belum siap dilakukannya, membuatnya mau tidak mau harus mengungkapkan semua perasaan yang meresahkan hati serta unek-unek yang mengganggu fikirannya. Dia sudah kehabisan cara dan akal untuk menghindari Fariz. Mungkin dengan meluahkan segala isi hatinya, mampu membuat pria itu mengerti dan tidak terlalu memaksakan kehendaknya.
Semua ucapan Zafira menekankan kepada Fariz agar tidak memaksakan kehendak untuk segera melakukan hubungan ranjang. Tanpa harus dijabarkan secara terperinci, pria itu dapat menafsirkan arti dari ucapan sang istri.
Fariz tetap diam membisu. Mencerna setiap kata. Menela'ah setiap kalimat yang keluar dari mulut sang istri. Matanya lekat menatap wajah Zafira yang tampak begitu serius.
"Aku sudah berjanji dalam hati untuk mengikuti nasehat mama yang memintaku jadi istri yang baik untukmu. Dan aku pun sudah berjanji pada diriku sendiri untuk belajar membalas semua perasaanmu. Tinggal menunggu waktu. Aku harap kamu bisa bersabar," ucap gadis itu memberi pengertian kepada sang suami.
Kali ini tidak ada yang bisa menahan senyuman Fariz yang sudah di ujung bibir, saking senangnya mendengar setiap kata yang diungkapkan Zafira. Senyuman pria itu pun terbit di kedua sudut bibirnya saat gadis itu mengutarakan yang sejujurnya bahwa akan membalas semua perasaannya. Tanpa merasa malu, dia pun tersenyum sumringah memperlihatkan kepada Zafira kalau hatinya kini tengah bahagia.
"Terima kasih istriku. Kamu memang gadis yang sangat baik. Tidak salah aku sangat menginginkanmu menjadi istriku. Dan tidak salah aku menghabiskan waktu untuk menunggumu. Aku telah menerima jawaban dari semua do'aku. Aku benar-benar sangat bahagia. Baik, aku janji. Aku tidak akan melakukan apapun yang membuatmu tidak nyaman. Aku mengerti maksudmu dan tidak akan melanggar janji ini. Aku akan selalu bersabar menunggu sampai kamu siap," ucap pria tampan itu masih dengan senyuman merekah di bibir tipisnya yang kemerahan.
"Baik, aku pegang janjimu," Zafira mengangguk, menyudahi konferensi privat di atas ranjang persegi empat.
Zafira bergerak mendekat ke arah Fariz. Mengambil bantalnya dan mendekatkan bantal itu di samping kepala Fariz. Dengan perasaan ragu-ragu dan hati was-was, gadis itu memasukkan satu persatu kaki jenjangnya ke dalam selimut yang dipakai Fariz. Kini tubuh gadis itu telah tenggelam, masuk ke dalam satu selimut dengan Fariz.
Dia menguatkan diri jangan sampai getaran dari dalam dadanya terdengar sampai ke telinga Fariz.
__ADS_1
Dengan perasaan yang semakin gugup, gadis itu merebahkan diri tepat di samping suaminya. Tubuhnya kini hampir menempel rapat di tubuh pria tampan itu, hanya dipisah jarak sekitar lima centi meter.
...*******...