
Fariz berjalan mendekati Zafira yang masih berdiri menunggunya.
"Ayo kita pulang," ajak Fariz setelah sampai di dekat sang istri.
"Lama sekali!," Zafira berkata ketus, mengerling dengan sorot mata sinis.
Dia tidak dapat lagi menahan rasa kesal yang membuncah di dada. Tadinya dia bermaksud ingin memasang wajah yang tenang di hadapan Fariz, tetapi rasa kesal karena melihat Fariz berbisik-bisik mesra dengan Wilda, membuatnya tidak sadar menunjukkan kembali muka kesal yang sempat dia sembunyikan dari pandangan sang suami.
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Ayo kita ke mobil," ucap Fariz meminta maaf, merasa bersalah kepada Zafira karena telah membiarkannya lama menunggu. Dia mengira, sang istri kesal karena terlalu lama menunggunya berbincang dengan teman lamanya, lebih tepatnya penggemar wanitanya.
"Tidak ada maaf!," ketus Zafira berlalu dari hadapan Fariz dan dengan langkah panjang meninggalkan pria itu. Fariz hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Zafira yang selalu terlihat manja di matanya, membuatnya semakin cinta dan gemas kepada gadis berkulit putih itu.
"Baru saja menunggu beberapa menit, sudah marah seperti itu," fikirnya tersenyum dalam hati, kemudian menyusul langkah Zafira menuju mobil.
Setelah sampai di pelataran parkir, seperti biasa, Fariz langsung membukakan pintu mobil untuk sang istri. Zafira masih bersikap dingin. Dia masuk ke mobil dengan muka masih saja ditekuk.
Fariz masuk dari pintu kemudi, segera menjalankan kendaraan keluar dari parkiran supermarket.
"Apa yang kamu bicarakan dengan gadis itu?," sang istri tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan saat mobil telah melaju di jalan raya.
Gadis cantik itu mencoba mengorek informasi sambil meluruskan pandangan ke depan. Rasa ingin tahu yang begitu besar, membuatnya tidak segan-segan menanyakan hal itu kepada Fariz.
"Tidak ada. Hanya menanyakan kabarnya saja," jawab sang suami berkata jujur.
"Menanyakan kabar sampai harus berbisik-bisik di telinganya?," pertanyaan Zafira seolah menyelidik.
Pandangannya tetap tertuju ke depan ke jalanan lurus, tetapi telinganya dipertajam untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan sang suami atas pertanyaannya itu. Dia ingin sekali mengetahui, apa yang dibisikkan Fariz pada gadis itu.
Fariz tertawa. Dia melihat ke samping memastikan apakah sang istri cemburu?
"Mengapa kamu menanyakan itu? Apa kamu tidak suka aku dekat-dekat dengan Wilda? Jangan-jangan kamu cemburu?," goda Fariz pada gadis di sampingnya kemudian menarik sebuah senyuman lalu fokus kembali menyetir.
Zafira tiba-tiba tertawa. Barisan giginya terlihat begitu rapi saat dia tertawa lebar seperti itu. Fariz yang merasa aneh mendengar sang istri tiba-tiba tertawa, langsung menoleh kembali ke samping kiri.
"Mengapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?," pria itu bertanya dengan sorot mata menyimpan kebingungan.
__ADS_1
"Iya, kamu yang lucu. Kamu mengatakan aku cemburu? Siapa juga yang cemburu? Aku sama sekali tidak cemburu melihatmu dekat-dekat dengan Wilda. Aku hanya kesal, harus berdiri lama menunggumu. Gara-gara kamu, kakiku jadi pegal," Zafira menghentikan tawa lalu melukis cemberut di bibirnya.
Lain di bibir lain di hati. Mungkin itulah yang saat ini dirasakan Zafira. Jelas-jelas dia tadi merasa kesal saat Fariz menggenggam tangan Wilda. Apalagi tatkala melihat Fariz berbisik di belakang telinga gadis itu, dia merasa tidak rela. Dia tidak rela membiarkan pria itu berdekatan apalagi menyentuh gadis lain.
"Cemburu? Apa benar yang dikatakan Fariz? Apa aku cemburu melihatnya terlalu dekat dengan Wilda? Ah tidak mungkin! Dulu aku sering melihat Wilda menemui Fariz di kampus. Tapi aku tidak pernah merasa cemburu!," Zafira masih bertanya pada dirinya sendiri dan mencoba memungkiri perasaannya.
Zafira juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri dan belum menyadari sepenuhnya apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Fariz. Tetapi satu hal yang tidak bisa disingkirkan dari hatinya, dia merasa tidak rela ketika melihat sang suami berduaan dengan gadis lain apalagi sampai memujinya.
Fariz yang mendengar jawaban Zafira pun hanya mampu terdiam menela'ah perkataan istrinya. Benar juga jawaban Zafira. Tidak mungkin gadis itu cemburu melihatnya bersama Wilda. Bukankah dulu Zafira-lah yang menyuruhnya membuka hati untuk mencoba menjalani hubungan dengan Wilda tetapi Fariz menolak saran gadis itu.
"Baguslah kalau kamu tidak cemburu. Itu artinya, sewaktu-waktu aku bisa bertemu dengan Wilda,"
Zafira yang sejak tadi hanya melihat lurus ke depan menjadi tersentak. Sontak memutar kepala menoleh pada pria yang berada di kursi kemudi.
"Apa? Kamu mau bertemu Wilda? Tidak boleh!," rona merah tergambar di muka gadis itu, antara kesal dan tidak ikhlas melepaskan Fariz bertemu dengan Wilda menyatu di hatinya.
"Mengapa tidak boleh? Aku hanya bertemu biasa. Paling makan di restoran. Tidak melakukan apa-apa,"
"Pokoknya tidak boleh! Coba saja kalau berani!," Zafira semakin gusar. Sorot matanya terhunus tajam menatap pria yang tampak fokus mengarahkan pandangan ke depan.
"Kamu itu pria beristri. Tidak baik kalau masih bertemu dengan gadis lain di luaran sana," celetuk Zafira memberikan alasan yang cukup masuk akal. Padahal yang sebenarnya adalah, karena dia tidak merasa rela harus melepaskan Fariz pergi bersama gadis lain.
Fariz manggut-manggut mendengar alasan istrinya.
"Hmm, apa yang kamu katakan benar juga. Baiklah, aku akan memikirkannya kembali," sahut Fariz sambil sedikit mempercepat laju kendaraan.
Pukul 11:40 Wib.
Setelah lebih kurang lima belas menit di perjalanan, mereka telah tiba di kediaman sang mama, Laras.
Karena ini hari Sabtu, semua keluarga berkumpul di rumah. Mereka sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Anak mama mengapa ke sini?," mama Laras menyambut kedatangan anak serta menantunya yang telah masuk ke dalam rumah. Mencium kening serta pipi kanan dan kiri anak gadisnya, yang dibalas dengan pelukan oleh sang anak.
"Mama mengapa berkata seperti itu? Memangnya Zafira sudah tidak boleh main ke rumah Zafira sendiri?," rajuk Zafira melepaskan pelukan, memasang muka cemberut manja kepada sang mama.
__ADS_1
"Bukan begitu sayang. Mama hanya heran, pengantin baru bukannya di rumah, malah main ke rumah mama?," mama Laras tersenyum, mencubit penuh cinta pipi putih buah hatinya.
Wanita cantik itu berpaling kepada sang menantu yang ada di samping Zafira.
"Fariz, mengapa kamu mengizinkan Zafira ke sini? Harusnya kalian senang-senang dulu di rumah kalian, menikmati waktu berdua," ucap mama Laras pada Fariz yang sedang membungkuk mencium tangannya.
"Iya ma, tadi Zafira minta antar ke sini. Katanya kangen mama papa," ucap Fariz tanpa sungkan-sungkan memanggil mama Laras dengan panggilan mama.
Zafira yang mendengar itu, sontak memalingkan wajah melihat Fariz. Matanya memandang lekat pria itu. Dia benar-benar merasa heran dengan sang suami. Sepertinya Fariz sudah begitu siap memanggil mama Laras dengan panggilan mama. Lidahnya seperti sudah terbiasa dan tidak terdengar kaku ketika menyebut panggilan tersebut.
Kedua pengantin baru itu pun disambut suka cita oleh semua orang yang ada di dalam rumah. Keduanya mencium tangan serta memeluk papa Arga dan oma. Tak ketinggalan berpelukan dengan Zafran.
"Om Bram dan yang lainnya kemana ma?," tanya Zafira setelah melihat tidak ada om Bram beserta keluarganya di rumah itu.
"Tadi pagi om Bram sudah kembali ke Thailand dan menitipkan salam untukmu dan Fariz. Maaf katanya, tidak sempat menemui kalian. Om Bram tidak ingin mengganggu suasana pengantin baru kalian," sahut mama Laras memberitahu.
Zafira hanya mengangguk mendengar penjelasan sang mama lalu memeluk dan menyandarkan kepala di dada mama cantiknya.
"Eh, manja sekali. Malu dilihat suamimu," mama Laras menggoda Zafira yang masih bergelayut manja di dadanya.
Semua orang termasuk Fariz hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan anak gadis itu. Tidak ada yang aneh, memang dari kecil seperti itulah sikap Zafira kepada mama, papa serta oma. Selalu ingin dimanja dan disayang.
"Sudah, sudah. Ayo, cuci tangan dulu. Kebetulan kita baru mau makan siang," ajak sang mama pada Zafira dan Fariz, yang diikuti seluruh keluarga.
Setelah makan siang bersama dan berbincang-bincang dengan keluarga, Zafira pun masuk ke kamar, yang disusul Fariz. Fariz sudah seperti bodyguard, selalu berada di belakang Zafira.
Fariz masuk ke kamar sang istri. Matanya menyapu seluruh isi ruangan. Kamar yang begitu rapi dan bersih, menandakan jika sang penghuni kamar itu seseorang yang memiliki jiwa pembersih dan menyukai kerapian.
Walaupun mereka telah berpuluh tahun bersahabat, tetapi Fariz sangat jarang dapat kesempatan bisa masuk ke kamar gadis itu. Hanya beberapa kali, saat zaman SMP dan SMA, setelah itu dia sama sekali tidak pernah masuk ke kamar gadis itu lagi.
Mata Fariz terbuka lebar demi melihat sesuatu yang terpasang di dinding kamar. Matanya menatap tajam pada beberapa foto Zafira bersama Ronald yang terpampang di dinding, dibingkai dengan pigura besar. Foto itu adalah foto prewedding yang sengaja dipasang di kamar Zafira, tiga hari sebelum acara pernikahan dilangsungkan.
Hati Fariz mendadak terasa sakit dan nyeri melihat adegan foto mesra di dinding itu. Rasa cemburu menyusup dalam hatinya ketika melihat Ronald memegang dagu menatap lekat gadis di depannya, yang dibalas senyuman serta tatapan mesra oleh sang gadis. Tampak sepasang kekasih itu saling bertatapan mesra penuh cinta. Perasaan cemburu itu makin menjadi, tatkala melihat tangan Ronald melingkar mesra di pinggang ramping Zafira. Ingin rasanya dia mengambil dan memecahkan pigura itu. Dia benar-benar tidak sanggup menahan rasa cemburu melihat kemesraan yang terpampang di depan matanya.
...*******...
__ADS_1