Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
43 - BERTEMU DI TAMAN


__ADS_3

Keesokan sore. Pukul 16.00.


Zafira baru selesai melaksanakan shalat Ashar.


Gadis itu langsung menuju ke meja kerja, mematikan laptop. Dia telah menyelesaikan sebagian pekerjaannya dan masih ada beberapa pekerjaan lagi yang belum sempat dirampungkan hari ini. Besok dia akan segera menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum rampung, karena sebelum mengajukan cuti sepuluh hari untuk berbulan madu setelah pernikahannya nanti, dia ingin semua pekerjaannya telah beres.


Zafira mengambil ponsel di atas meja dan mengetik pesan.


"Fariz, kita bertemu di taman biasa. Aku berangkat sekarang dari kantor. Jangan lupa shalat Ashar," pesan itu terkirim.


Tanpa menunggu balasan Fariz, gadis itu segera memasukkan ponsel ke dalam tas dan berjalan keluar ruangan.


Lima menit kemudian, Zafira telah berada di dalam mobil menuju taman kenangan mereka. Terdengar suara notif di ponsel, menandakan ada pesan masuk. Zafira memperlambat laju kendaraan melihat pesan yang baru saja masuk.


"Aku baru selesai shalat. Baik, hati-hati di jalan," pesan Fariz.


Jarak kantor Fariz lebih dekat dengan taman. Selang dua puluh menit, Fariz telah sampai lebih dulu di taman tempat masa kecil mereka dulu biasa bermain bersama orang tua mereka. Dan sampai mereka tumbuh dewasa pun tetap sering ke tempat ini.


Taman yang begitu indah. Dengan rerumputan hijau yang sengaja ditanam di hamparan tanah, tertata begitu rapi hampir di seluruh sudut taman. Ada banyak bunga tumbuh di sana, mulai dari cemara, mawar melati dan berbagai bunga lainnya.


Di salah satu sudut taman itu juga terdapat sebuah danau yang cukup luas yang di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon besar dengan dedaunan yang lebat sehingga danau itu tetap rindang meski pun di setiap hari terik matahari siang menerpa tempat itu.


Dan demi memuaskan para pengunjung taman, banyak disediakan kursi panjang untuk duduk bersantai di sekitaran danau. Dapat terlihat dengan jelas jika danau tersebut terpelihara dengan baik, membentang sangatlah indah dan bersih.


Fariz telah duduk di kursi panjang sambil menatap bentangan danau yang ada di hadapannya.


Tak lama kemudian, Zafira pun tiba di taman dan langsung menghampiri Fariz, duduk di sebelah kiri sang sahabat.


"Ini," Zafira tersenyum menyodorkan es cream vanila pada Fariz.


"Masih sempat membeli es cream rupanya," Fariz berujar sambil mengambil es cream dari tangan Zafira lalu mulai memakannya.

__ADS_1


Cukup lama mereka berdiam diri larut dalam fikiran masing-masing sambil menikmati ombak kecil air danau saat tertiup angin sore hingga tidak terasa es cream di tangan mereka pun telah habis tak bersisa.


"Bersihkan tanganmu," Zafira memberikan tissue basah pada Fariz yang langsung disambut pria itu.


"Fariz, aku mengajakmu ke sini ingin berbicara serius," ujar Zafira memulai pembicaraan setelah melihat Fariz sudah cukup santai dan siap diajak bicara.


"Tentang pernikahanmu?," sahut Fariz pendek menatap datar Zafira kemudian kembali mengedarkan pandangan ke danau di depannya.


Zafira terkejut dan langsung menoleh ke arah Fariz.


"Bagaimana kamu tahu?,"


"Tanpa kamu beritahu pun, aku sudah tahu," sahut Fariz tak bergeming.


"Iya, aku ingin membahas tentang itu," Zafira berkata pelan, sedikit bergerak mengatur posisi duduknya, terlihat jelas dari bahasa tubuhnya jika gadis itu tidak tenang.


Jujur saja dia merasa berat harus menceritakan kepada Fariz tentang rencana pernikahannya yang akan segera dilangsungkan bulan depan.


Dan mendadak nasehat sang mama, Tina, muncul di benaknya.


"Jika memang Zafira itu jodohmu maka tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kalian. Pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu. Tapi kalau Zafira bukan jodohmu, sekuat dan se-gigih apapun kamu memperjuangkannya, kalian tidak akan pernah bisa bersama. Berserah diri dan berdoalah kepada Allah agar diberikan jalan terbaik untuk hidupmu dan juga hidup Zafira,"


Nasehat Tina kembali terngiang di telinga Fariz. Semua yang dikatakan sang mama adalah benar. Tidak ada yang sanggup menentang Kehendak Allah. Dan saat ini hal terbaik yang harus dia lakukan adalah berserah diri kepada Allah dan belajar melepaskan Zafira demi kebahagiaan gadis itu.


Terluka? Itu pasti. Penantian yang panjang berujung sia-sia. Harapan bisa hidup bersama Zafira pun kandas. Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini selain melepaskan. Apapun yang terjadi dia harus belajar melakukan itu.


Kini sudah waktunya Fariz harus mengikhlaskan Zafira hidup bersama pria yang dicintainya. Meski pun rasa sakit di hati entah kapan akan berakhir, namun dia harus tetap kuat. Biarlah segala luka dikuburnya sendiri demi melihat Zafira bahagia dan berharap masih ada sebuah keajaiban untuk menyembuhkan luka hatinya.


"Fariz, apa kamu tidak keberatan kalau aku menikah dengan Ronald?," tanya Zafira masih menatap pria di sampingnya.


Fariz tersenyum menutupi kesedihannya dengan tujuan agar Zafira bisa melihat jika dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak keberatan. Aku pasti akan menyetujui rencana pernikahanmu. Ini berita baik dan aku sebagai salah satu orang terdekatmu akan ikut bahagia mendengar berita ini,"


"Benarkah Fariz? Kamu menyetujui dan tidak keberatan aku menikah dengan Ronald?," wajah Zafira tampak berseri menatap Fariz yang duduk dengan wajah tenang di sampingnya.


"Iya. Mengapa aku harus keberatan? Jika itu bisa membuatmu bahagia, aku pasti akan merestui. Seluruh keluargamu merestui, mengapa aku tidak? Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Ronald," Fariz berusaha meyakinkan Zafira sambil memaksakan diri semakin melebarkan senyuman walau hatinya terasa tersayat besi tajam, nyeri dan perih.


"Terima kasih Fariz. Kamu selalu mengerti aku. Sama seperti mama, papa, oma dan Zafran. Aku menyayangi kalian," Zafira menggenggam tangan Fariz.


Namun dengan cepat Fariz melepaskan genggaman itu dengan harapan, jika dia mulai menjaga jarak dengan Zafira, maka bisa cepat melupakan rasa cintanya pada gadis itu.


"Mengapa kamu melepaskan tanganmu? Apa kamu sudah tidak mau bersahabat dan bersaudara denganku lagi?," Zafira terkejut mendapati sikap Fariz.


"Bukan begitu, tapi kamu harus mulai menjaga sikapmu. Karena sebentar lagi kamu sudah resmi menjadi istri orang. Aku tidak mau kalau sampai calon suamimu akan menyembelihku gara-gara melihatmu memegang tangan pria lain. Haha, haha,"


Fariz sengaja memperlihatkan tawa dan berusaha tegar meski pun puing-puing hatinya patah berkeping tak menyisakan sepenggal harapan sedikit pun. Dia berusaha membuang segala perasaan sakit di hati dan sengaja mengukir senyum di hadapan gadis itu.


"Tidak lucu!," Zafira bersungut mendengar lelucon Fariz.


Fariz tidak menanggapi sungutan sang gadis dan segera beranjak dari kursi lalu melangkah dua meter ke depan. Dia berdiri termenung memandangi danau yang tampak tenang memberikan sebuah isyarat kepada Fariz bahwa hatinya harus seperti sang danau.


Zafira pun beranjak menyusul Fariz, ikut berdiri di samping kiri sang sahabat.


"Fariz..," panggil Zafira pelan mendongak ke arah pria itu.


"Iya, ada apa?," Fariz menoleh ke arah gadis itu yang saat ini tengah menatapnya. Namun hanya sesaat, kemudian Fariz kembali memalingkan wajah menghindari tatapan Zafira, menatap kembali pada keindahan yang terbentang di hadapan mereka.


"Apa kamu baik-baik saja?," Zafira bertanya sangat hati-hati dengan tetap menatapkan mata ke arah Fariz.


Fariz masih saja diam termenung memandangi keindahan air danau. Hingga di menit berikutnya pria itu memutar tubuh ke kiri menghadap Zafira yang berdiri di sampingnya. Kedua tangannya pun memegang bahu gadis itu dan memutar tubuh Zafira agar menghadap ke arahnya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2