
Zafira masuk ke kamar, setelah membersihkan diri dan berendam sebentar di bathtub dengan air hangat, gadis itu langsung shalat isya, duduk di kasur sambil bersandar di kepala ranjang.
Lelah rasanya dari pagi hingga sore berkutat dengan pekerjaan kantor. Bahkan bukan hanya itu, dia masih harus bergulat dengan segala urusan pribadinya dengan Fariz yang cukup menguras emosi serta air mata.
Seluruh tubuhnya terasa penat, membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup. Namun rasa lelahnya terbayarkan karena dia bisa berbaikan lagi dengan Fariz. Tidak sia-sia melakukan segala cara untuk membujuk Fariz, akhirnya usaha gadis itu membuahkan hasil walaupun harus mengalami kejadian yang sempat membuatnya sakit hati tetapi itu sudah terlupakan karena sudah tergantikan dengan keakraban mereka yang telah terjalin kembali.
Zafira sangat takut jika sampai Fariz mendiamkannya berlama-lama, karena selama ini, hubungannya dengan sang sahabat selalu terjalin baik, saling mengerti, saling memperhatikan satu sama lain dan dia tidak ingin di penghujung masa lajangnya, justru hubungan mereka menjadi buruk dan tidak berbaikan.
Zafira menyandarkan tubuh di kepala ranjang memangku bantal kecil di paha. Kaki jenjangnya terjulur ke depan. Mata itu menerawang dan membentur sudut ruangan, seperti memikirkan sesuatu.
Saat fikirannya tengah melalang buana berkejar-kejaran dengan rasa lelah serta penat, tiba-tiba bayangan wajah Fariz melintas di benaknya. Wajah itu muncul begitu saja menghiasi pelupuk mata. Wajah yang begitu tenang, sabar serta tatapan penuh cinta nampak tengah tersenyum padanya.
Zafira mengerjapkan mata berulang-ulang sambil menggelengkan kepala pelan seperti orang kebingungan.
"Ya Allah ada apa denganku? Mengapa bayangan Fariz sekarang jadi mengikutiku? Bodoh, Bodoh! Ada apa denganku? Fariiizz! Mengapa kamu jadi membayangiku?!," gerutu Zafira memejamkan mata sambil mengibas-ngibas rambut basahnya sehingga kepala itu terlihat bergoyang ke kiri dan ke kanan, berusaha mengusir bayangan pria yang masih saja tersenyum kepadanya.
Setelah sekian lama persahabatan yang mereka jalin, mengapa baru malam ini dia tiba-tiba memikirkan dan terbayang-bayang wajah Fariz? Selama ini, perasaan seperti ini tidak pernah ada dan belum pernah dialaminya.
__ADS_1
"Jangan-jangan benar yang dikatakan Fariz? Apa aku telah jatuh cinta padanya? Oh, tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku sebentar lagi akan menikah dengan Ronald. Ini perasaan gila! Aku tidak mau menjadi gadis yang tamak. Tidak mungkin aku mencintai dua laki-laki sekaligus. Tidak mungkin! Apa yang akan dikatakan semua orang jika aku mencintai laki-laki dalam waktu yang bersamaan? Menjijikkan sekali! Aku seperti gadis murahan! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Ini hanya halusinasiku karena seharian ini terlalu lelah membujuk Fariz!," Zafira berperang dengan batinnya sendiri mencoba menepis perasaan aneh yang terus bermunculan dalam dirinya.
Gadis itu meremas jemari secara bergantian penuh kegelisahan memikirkan perasaan yang kini campur aduk tak menentu.
Matanya menatap ke atas sudut plapon, mengerutkan kening, kemudian memejamkan mata dengan rapat, jemarinya terus bergerak tanda jika dirinya tengah berada dalam kegelisahan serta kebingungan.
"Iya, Iya, ini benar. Aku hanya terpengaruh perkataan Fariz yang mengatakan kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Dasar kamu Fariz! Usil sekali! Kamu sudah berhasil mendoktrin otakku! Awas saja kamu!," Zafira melempar bantal kecilnya ke sudut ruangan hingga terlempar bergulingan di lantai.
Setelah cukup lama bayangan Fariz menguasai fikirannya, tiba-tiba kini bayangan Ronald pun ikut berkelebat di benak Zafira. Gadis itu teringat hubungannya dan Ronald yang telah berjalan lebih kurang delapan tahun.
Saat dirinya duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas, dia mengenal Ronald sebagai pembasket terhebat di sekolahnya. Dan tidak perlu diragukan lagi mengenai postur tubuh serta wajah. Nyaris sempurna. Banyak anak-anak perempuan di sekolah bahkan di sekolah lain yang mengagumi ketampanan, postur tubuh serta kepiawaian Ronald bermain basket, termasuk Zafira.
Saat pertama berkenalan, Zafira ingat, debaran hatinya muncul halus dan samar-samar, sama seperti yang dia rasakan saat memeluk Fariz tadi.
"Ya Allah, apa yang aku rasakan saat bertemu Ronald sama persis yang aku rasakan saat memeluk Fariz dan mendengar detak jantungnya. Apa benar yang dikatakan Fariz? Apa benar aku telah jatuh cinta padanya? Ya Allah, ini tidak benar kan??? Sebentar lagi aku akan menikah dengan Ronald. Kami telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan mempercayai perkataan Fariz. Dia pasti sengaja mempengaruhi fikiranku, sengaja mendoktrinku agar aku mengurungkan rencana pernikahanku dengan Ronald. Huh, dia pasti iri padaku karena aku akan segera menikah, sementara dia sendiri jangankan calon istri, kekasih pun tidak ada! Aku tidak akan mempercayai perkataannya! Dasar iri!," Zafira masih terus berperang dengan batinnya tanpa mau mempercayai kalau sebenarnya dia telah mulai merasakan hal lain di hatinya terhadap Fariz.
Sekian menit gadis itu terus berperang sengit dengan batinnya. Antara hati dan fikiran yang tidak sinkron, saling berlawanan arah. Hati mengatakan ada debaran cinta, namun fikirannya mengatakan itu hanya halusinasi. Keduanya sama-sama memiliki keteguhan untuk mempertahankan keinginan masing-masing yang nyaris membuat isi kepala Zafira menjadi overload dipenuhi dengan nama serta wajah Fariz.
__ADS_1
Di saat gadis itu masih memikirkan tentang Fariz, di saat yang sama tiba-tiba ponsel yang tergeletak di kasur tak jauh dari tempatnya sedang duduk, berbunyi. Ada pesan masuk. "Fariz".
"Apa kamu sudah mandi air hangat? Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah lebih baik? Apa badanmu masih lemas?," isi pesan Fariz seperti biasa dengan perhatian-perhatiannya yang membuat Zafira selalu merasa sangat diperhatikan dan diprioritaskan.
Tiba-tiba gadis itu tersenyum mendapat chat dari sang sahabat. Entah siapa yang mengajari atau menyuruh gadis itu, tiba-tiba saja kedua tangannya mendekap ponsel itu ke dada sambil tersenyum dengan muka berkilauan, tersenyum tersipu. Seperti orang sinting. Hati atau fikirannya kah yang menyuruhnya berbuat seperti itu?
Entah mengapa, hatinya menjadi sangat senang melihat nama yang tertera di layar ponsel apalagi membaca isi pesannya yang begitu manis dan menyentuh hati.
Memang sangat mengherankan, selama ini gadis itu selalu merasa santai, biasa saja setiap menerima pesan masuk dari Fariz, meski pun dengan sejuta perhatian yang diberikan pria itu untuknya. Tetapi kali ini sungguh terasa berbeda. Tidak seperti biasanya, senyuman langsung mengembang dari bibir indah milik gadis itu saat membaca isi pesan Fariz.
Dengan antusias, Zafira menggerakkan jari menekan satu persatu tombol di ponsel. Mengetik pesan.
"Alhamdulilah sudah jauh lebih baik. Badanku juga sudah lebih fresh. Tadi aku berendam air hangat sebentar," Zafira menekan tombol "send", sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Alhamdulilah, aku senang mendengarnya. Sepanjang jalan sampai ke rumah, aku terus memikirkan keadaanmu," isi pesan Fariz, kembali membuat Zafira tersenyum senang.
Senyuman terus mengembang di bibir gadis cantik itu. Matanya terus menatap kata demi kata yang tertulis di sana. Membacanya berulang kali seolah akan menghafal isinya agar menempel di dalam kepalanya.
__ADS_1
Sungguh sesuatu yang aneh. Seorang gadis yang telah mempunyai kekasih yang katanya mencintai dan dicintainya bahkan dalam waktu dekat akan merencanakan pernikahan, bisa tersenyum senang membaca pesan dari laki-laki lain.
...*******...