
Kini kedua sahabat itu berdiri saling berhadapan dengan mata saling berpandangan. Fariz masih meletakkan kedua tangan di kedua bahu Zafira.
"Zafira, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku baik-baik saja. Tapi untuk terakhir kali, aku ingin mengungkapkan perasaanku dan kamu harus tahu ini. Nanti jika kamu telah menjadi istri Ronald, aku tidak akan bisa mengatakan hal ini lagi padamu. Aku mencintaimu, Zafira.., Karena cintaku itu, aku sudah meng-ikhlaskanmu dan berharap kamu akan hidup bahagia dengan laki-laki pilihanmu. Tapi jika suatu hari nanti kamu terluka karena suamimu, aku akan selalu ada untukmu," ungkapan cinta akhirnya keluar juga dari mulut pria itu.
Zafira tercekat. Matanya terbuka lebar menatap Fariz. Dia tidak menyangka di detik-detik satu bulan sebelum hari pernikahannya, Fariz justru mengucapkan kata cinta yang memilukan untuk didengar.
Fariz berucap lirih, rasanya ingin mengucurkan buliran bening dari sudut mata namun dia berusaha menahannya, saat mengucapkan bahwa dia akan meng-ikhlaskan gadis yang dicintainya hidup berbahagia dengan pria lain.
Fariz tetap bersikap santai dan tenang di hadapan Zafira dengan tujuan supaya gadis itu tidak mengetahui luka hati yang kini dipendamnya. Sebesar itu cintanya pada Zafira memaksanya harus berpura-pura terlihat tegar dan baik-baik saja.
Mata gadis itu tiba-tiba mengeluarkan buliran bening dan jatuh ke pipi. Dia menatap tak berkedip pada pria yang baru saja mengucapkan kata cinta untuknya. Bukan rasa bahagia yang didapat setelah mendengar ungkapan cinta dari Fariz, malah sebaliknya, perasaan gadis itu berubah sedih.
Dia merasa telah mematahkan perasaan Fariz. Menolak cintanya berpuluh kali dan membuatnya menunggu hingga berpuluh tahun lamanya tetapi berujung sia-sia.
Namun dia juga tidak bisa memaksakan perasaan, jika hatinya memang menganggap Fariz tidak lebih dari seorang sahabat dan saudara. Sesuatu yang mustahil juga baginya untuk meninggalkan Ronald, laki-laki yang dicintainya yang telah menjadi penghuni di hatinya sejak di bangku SMA.
Lalu bagaimana dengan perasaan Zafira saat kemarin pertama kali berpelukan dengan Fariz, sehingga memunculkan debaran halus dan samar-samar di hatinya? Kemana rasa itu pergi? Entahlah, perasaan itu menguap, hilang begitu saja dan terlupakan setelah Zafira mendapat bunga mawar dari Ronald serta ajakan menikah dari sang kekasih.
Untuk beberapa menit Zafira dan Fariz masih saling berpandangan, diam seribu kata. Hanya sorot mata yang mengisyaratkan sejuta makna. Apapun yang tersirat dari tatapan itu hanya mereka berdua dan Allah yang tahu.
Perlahan-lahan Zafira melangkah lebih mendekat ke arah Fariz, mengulurkan kedua tangan dan memeluk tubuh pria itu.
"Fariz..," Zafira terdengar terisak memeluk erat pria di depannya.
__ADS_1
Fariz menjadi terkejut dan merasa gugup mendapat pelukan dari sang gadis. Ini kedua kalinya Zafira memeluknya, membangkitkan kegugupan di hatinya. Namun di balik rasa gugupnya, ada rasa yang lebih besar dari itu, yaitu rasa sakit yang teramat perih menusuk hatinya.
Tanpa terasa air bening pun mengalir dari pelupuk mata Fariz. Namun tangannya segera mengusap air mata itu. Dia tidak ingin jika sampai Zafira mengetahuinya.
Ini kali kedua mereka berpelukan setelah beberapa hari lalu mereka juga sempat berpelukan di pinggir jalan. Sore ini gadis itu kembali memeluk Fariz sebagai tanda permintaan maaf serta ungkapan rasa bersalahnya.
"Maafkan aku Fariz, maafkan aku..," gadis itu tidak bisa menahan air mata dan tumpah di dada sang sahabat.
Fariz hanyut dalam kebisuan. Tiada kata yang terucap untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Sedih, kecewa, terluka dan hancur menyatu dalam setiap tarikan nafasnya.
"Maafkan aku.., Sampai hari ini aku belum bisa membalas perasaanmu. Aku tahu hatimu pasti sangat terluka dengan rencana pernikahanku.," berkali-kali Zafira mengucapkan permintaan maaf dan rasa bersalahnya kepada Fariz sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh pria itu.
Fariz hanya berdiam diri, tidak berucap dan tidak melakukan apapun. Hanya mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Zafira.
Tangan Fariz bergerak meraih kepala Zafira dan mengusap rambut gadis itu.
Fariz menarik nafas panjang dan mengatur nafas itu agar terlihat tenang. Dia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semua yang terjadi adalah Kehendak Allah dan harus diterima dengan keikhlasan.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku sudah mengikhlaskan semuanya," sahut Fariz terpaksa mengucapkan kata ikhlas, membohongi hatinya. Hal sebenarnya dia belum sanggup melakukan itu.
"Tapi Fariz.., Apa kamu akan meng-ikhlaskan jika pernikahanku akan segera dilangsungkan bulan depan?," ucap Zafira masih dengan suara terisak.
Fariz terperanjat namun tetap menutupi keterkejutannya. Dia tidak menyangka pernikahan Zafira akan dilangsungkan secepat ini. Tinggal menghitung hari, hanya sisa satu bulan, Zafira akan benar-benar menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Bagai ada pisau menggores hati. Berdarah tetapi tak mengalirkan darah. Luka, itulah yang dirasakan Fariz saat ini. Sungguh terasa perih mengoyak hati.
Nasehat sang mama, Tina, terus diingatnya, menjadi penguat untuk dirinya agar tidak rapuh dan terjatuh. Dia harus belajar untuk melepaskan dan meng-ikhlaskan. Tidak mengapa impiannya musnah demi kebahagiaan gadis yang dia cinta. Tidak mengapa cintanya patah asalkan bisa melihat Zafira selalu tersenyum bahagia.
"Apa kamu benar-benar mencintai Ronald?," Fariz bertanya lirih, masih mendekap tubuh gadis itu.
Zafira terdiam dalam dekapan Fariz. Bibirnya pun terasa berat untuk mengungkapkan kata cinta kepada Ronald di hadapan Fariz. Dia tahu situasi saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah perasaannya kepada Ronald. Namun Zafira juga tidak bisa diam saja. Dia harus menjawab pertanyaan Fariz agar semuanya bisa lebih jelas dan terbuka.
"Iya, aku mencintainya, tapi aku juga tidak mau kehilanganmu, Fariz. Aku tidak bisa menghentikan perasaanku. Di satu sisi, aku mencintai Ronald dan akan segera menikah dengannya. Di sisi lain, aku menyayangimu seperti saudaraku dan ingin kamu terus di dekatku. Aku sudah mengenalmu dari kecil dan tidak sanggup kehilanganmu. Aku mohon tetaplah di dekatku dan jangan pernah menjauhiku. Aku ingin, kamu seperti Zafran, yang tidak akan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi ke depan, kita akan tetap menjadi sahabat dan saudara. Aku, Zafran dan kamu," pinta Zafira parau dengan penuh perasaan bersalah harus mengucapkan semua itu.
Tidak perlu ditanyakan bagaimana perasaan pria itu mendengar kata cinta dari Zafira yang diperuntukkan bagi pria lain. Telah lama Fariz berharap kata cinta diucapkan Zafira untuk dirinya namun semua hanya harapan semata yang takkan pernah menjadi nyata. Dia tahu, Zafira tidak akan pernah mengucapkan kata cinta apalagi memberikan cinta itu untuknya.
Luka di hati Fariz terasa semakin menganga, sukar tertutup kembali. Rasa perih mencabik-cabik hati hingga ke jantungnya.
Mendengar tidak ada jawaban dari Fariz, Zafira pun berkata kembali.
"Fariz, berjanjilah kamu tidak akan menjauhiku? Hanya kamu dan Zafran saudara yang sangat baik dan selalu menjagaku. Aku tidak mau kehilangan salah satu di antara kalian. Aku mohon ikhlaskan aku. Mengertilah perasaanku. Tidak mungkin di saat aku menikah nanti, kamu memilih pergi dan menjadi orang asing bagiku," pinta gadis itu kembali dengan penuh permohonan.
Tenggorakan pria itu tercekat mendengar Zafira menyuruhnya meng-ikhlaskan dirinya. Fariz memang ingin meng-ikhlaskan gadis itu tetapi rasanya begitu sulit. Mulutnya berucap meng-ikhlaskan namun hatinya belum sanggup menerima.
Suasana hening. Semilir angin sore menerpa wajah keduanya yang tengah dilanda kegundahan.
...*******...
__ADS_1