Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
77 - MEREBAHKAN KEPALA


__ADS_3

Makasih ya temen-temen atas support dan dukungan kalian.


Medaliku di "Dinding Medali Saya" bertambah satu lagi.


Kemarin 15, Hari ini 16.


Cepet ya bertambahnya, itu karena support dari kalian juga🙏


Dan Covernya juga baru, udah diganti dan di-desain oleh NT.


So, bagi kalian yang suka sama Novel ini, jgn berhenti kasih dukungannya ya. Karena dukungan kalian adalah motivasi untuk Author. Bukan hanya aku aja tapi semua Author butuh dukungan dari para pembacanya🌹


Bagi yg belum kasih Bintang 5, Subscribe, silakan tekan...


Jangan pelit-pelit, gak baik.


Happy Reading ❤️


*****


Mata Fariz mengerling sambil menyunggingkan seringai licik pada gadis di sampingnya yang mulutnya tidak henti-hentinya mengomel. Pria itu merasa lucu melihat tingkah Zafira yang seperti seorang ibu memarahi anaknya.


"Rasakan istriku. Ini pembalasanku. Kamu yang duluan mengacuhkanku. Bukannya bermanis-manis padaku untuk mengajakku tidur di ranjang. Kamu malah pergi tidur begitu saja, meninggalkanku tanpa kata," batin Fariz tersenyum dalam hati.


Zafira terus berusaha membantu suaminya berdiri. Dan dengan susah payah serta nafas sedikit tersengal, akhirnya dia berhasil mengangkat tubuh tinggi pria itu. Sambil terus menahan tangan Fariz di bahu, gadis itu pelan-pelan mengajak Fariz berjalan ke tempat tidur.


"Tadi apa yang kamu lakukan di kamar mandi?," Zafira bertanya ingin tahu setelah sampai di ranjang.


Kedua tangannya langsung memapah kaki Fariz satu persatu, kemudian dengan sangat hati-hati menaikkannya ke atas ranjang.


"Buang air kecil," sahut Fariz berbohong.


Tidak mengapa berbohong demi kebaikan. Selama bukan berbohong karena pengkhianatan serta perselingkuhan di dalam pernikahan, maka kebohongan itu masih bisa dimaafkan. Begitulah kira-kira pemikiran Fariz.


"Sudah tahu kakimu masih bengkak, harusnya kamu lebih berhati-hati saat berjalan di kamar mandi. Aku mencemaskan lukamu," ucap Zafira dengan jujur, sambil duduk di sisi ranjang di ujung kaki suaminya. Menatap lekat wajah tampan yang duduk dengan kedua kaki lurus ke depan.


Sebenarnya Zafira menjadi kasihan dan merasa bersalah melihat keadaan Fariz saat ini. Pria itu terluka dan tertimpa pigura karena dirinya. Coba saja, kalau dia tidak meminta bantuan sang suami untuk menurunkan pigura itu, Fariz tidak akan terluka seperti ini.

__ADS_1


Mendengar kata cemas terucap kembali dari bibir Zafira, sebuah senyuman pun kembali tersungging di bibir pria beralis hitam itu. Hanya dalam satu hari, dia telah berhasil mengelabui istrinya beberapa kali. Dan hanya dalam satu hari juga, dia sudah mengetahui seberapa besar kecemasan gadis itu terhadap dirinya.


"Iya, besok-besok aku akan lebih berhati-hati lagi," ucap Fariz menuruti perkataan sang istri.


"Sekarang masih sakit tidak?," Zafira penuh perhatian mengusap-usap pinggiran punggung kaki Fariz yang tidak terkena salep sambil meniupnya berulang kali.


"Iya masih," jawab pria itu kembali berbohong.


Dalam satu hari sudah berapa kebohongan yang diciptakan pria itu demi mendapat perhatian sang istri. Tetapi tetap saja ada pengecualian. Dia berbohong untuk mendapatkan cinta sang istri, bukan untuk menyakiti atau pun melukai hatinya. Jadi, apapun kebohongan yang dilakukannya hari ini, masih bisa termaafkan dengan alasan demi cinta.


Perasaan bahagia mengalir begitu deras dalam jiwa pria itu mendapat perhatian demi perhatian, sentuhan demi sentuhan yang diberikan Zafira terhadap dirinya. Walau pun semua itu didapat dengan cara sedikit membohongi istrinya tetapi itu tidak mengurangi rasa bahagia yang terus berkembang di relung hati. Jangan sampai niatnya yang hanya berpura-pura sakit akan menjadi boomerang bagi dirinya. Niat hati hanya berpura-pura sakit demi mendapat perhatian sang istri, akhirnya sakit sungguhan. Jangan sampai itu terjadi.


"Jadi bagaimana? Kita panggil dokter saja?," raut muka sang istri masih menggambarkan kecemasan.


"Tidak. Tidak perlu," sahut pria itu cepat. Dia tidak ingin dokter sampai datang ke kamar dan mengganggu kebersamaannya dengan Zafira.


Fariz masih ingin menikmati hari-hari pertama tinggal satu rumah bersama Zafira sebagai suami istri. Hal yang selama ini dia nantikan serta impikan akhirnya dapat terwujud. Namun ada dua hal yang sampai saat ini belum juga terwujud. Pertama, belum ada pengungkapan cinta dari mulut Zafira bahwa dia juga mencintainya. Kedua, Zafira belum siap memberikan nafkah batin kepada dirinya. Menyangkut masalah nafkah lahir, Zafira telah memenuhi kewajibannya itu dengan sangat baik dan sepenuh hati. Namun Fariz belum merasakan kebahagiaan seutuhnya sebelum mendapatkan dua hal tersebut. Dan ketidak-sabaran di hatinya semakin menggunung menunggu saat itu tiba.


Pria itu tidak pernah kehilangan harapan untuk menunggu pengungkapan cinta dari bibir Zafira serta pemberian hak batin dari istrinya itu. Dia akan mengambil haknya jika Zafira memang telah ikhlas menyerahkan untuk dirinya, tanpa dipaksa apalagi merampas. Dia tidak akan pernah melakukan perampasan hak itu. Tidak masalah dia menunggu lama, asalkan Zafira menyerahkannya dengan hati bukan dengan terpaksa.


"Tapi bagaimana kalau sakitnya tidak hilang?," sang istri masih mengelus pinggiran memar itu sambil terus meniupnya untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan Fariz.


"Iya hanya memar. Tapi takutnya ada tulang yang retak," ucap Zafira masih khawatir.


"Mudah-mudahan saja tidak," sahut Fariz menenangkan hati istrinya yang dirundung cemas.


Melihat kekhawatiran di raut muka Zafira membuat hati pria itu menjadi merasa bersalah karena telah membohonginya. Sebenarnya dia tidak bermaksud membohongi Zafira tetapi tidak ada cara lain, karena sebagai seorang pria yang mencintai wanitanya, dia harus memiliki usaha untuk menarik perhatian dan meluluhkan hati batu istrinya.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud membohongimu," bisiknya dalam hati dengan rasa bersalah.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang tidurlah biar kakimu bisa cepat diistirahatkan. Jangan banyak bergerak biar tidak makin bengkak," Zafira meletakkan bantal di ujung ranjang lalu menepuk-nepuknya, menyuruh sang suami untuk segera tidur, tetapi pria itu tak kunjung merebahkan tubuh.


Fariz masih duduk mengamati gerak gerik Zafira yang telah beringsut turun dari sisi tempat tidur. Berjalan memutari tempat tidur kemudian naik ke atasnya. Zafira tidak langsung berbaring. Gadis itu masih duduk membenahi daster sebelum menutupi tubuhnya dengan selimut.


Mata Fariz yang sejak tadi tak lepas memandangi Zafira, tiba-tiba melirik dua lembar selimut yang ada di dekat mereka. Tanda tanya besar pun muncul di kepalanya.


"Mengapa selimutnya ada dua?," Fariz bertanya menatap bingung pada gadis yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Satunya untukku. Satunya untukmu," jawab Zafira memberitahu.


"Mengapa harus berbeda selimut? Satu selimut cukup untuk kita berdua," pria itu memprotes. Dia merasa keberatan dengan keinginan Zafira yang membedakan selimut mereka.


Dan lebih parahnya lagi, dengan penuh percaya diri, Fariz mengungkapkan niat hatinya yang ingin satu selimut dengan Zafira. Tanpa berfikir lebih dulu, apakah istrinya sudah siap berada dalam satu selimut dengannya? Laki-laki dimana-mana sama, urat malunya terkadang tidak berfungsi.


"Kamu lupa syaratku tadi pagi? Boleh tidur satu ranjang denganku tapi jangan terlalu menempel apalagi melakukan hal-hal yang terlalu intim. Laki-laki sejati tidak pernah melanggar janji yang sudah dia sepakati. Kamu mengerti kan maksudku?," jelas Zafira mengingatkan kembali kesepakatan yang telah disepakati bersama tadi pagi di meja makan saat sarapan.


Fariz langsung teringat. Iya, memang benar yang dikatakan Zafira. Baru tadi pagi gadis itu menyetujui permintaannya untuk tidur satu ranjang tetapi dengan satu syarat, tidak boleh terlalu menempel dan harus menjaga jarak.


"Iya aku ingat. Aku juga mengerti maksudmu. Tapi kalau boleh, bisa tidak kesepakatan itu diubah?," pria itu berusaha bernegosiasi, siapa tahu sang istri bisa berubah fikiran.


"Diubah bagaimana maksudmu?," gadis yang duduk di samping Fariz melekatkan pandangan ke arah pria yang mengenakan piyama berwarna grey tua.


"Selimutnya satu saja," Fariz mengatakan sejujurnya apa yang diinginkan hatinya tanpa ada rasa malu sedikit pun.


"Iiiiihh.., Tidak boleh! Enak saja sembarangan merubah kesepakatan!," Zafira mengulurkan tangan menjepit lengan Fariz dengan ibu jari dan telunjuk dengan jepitan cukup keras.


"Aduuuh," Fariz mengaduh mengusap-usap bekas cubitan Zafira yang terasa pedas.


"Cubitanmu ini memang luar biasa sakitnya. Dari dulu aku selalu heran, tanganmu halus, tapi saat mencubit, mengapa bisa sesakit ini?," ringis Fariz merasa heran dengan jari Zafira. Terlihat lentik dan kecil-kecil tetapi saat mencubit tidak pernah main-main. Sungguh sakit. Selama ini, Fariz sudah beberapa kali merasakan cubitan gadis itu dan dia akan selalu meringis, setiap kali jari itu singgah ke kulit tubuhnya.


"Makanya jangan berani bermain-main denganku. Apalagi berani merubah kesepakatan!," ujarnya menjulurkan lidah kemudian tersenyum memanas-manasi sang suami.


Fariz terlihat kesal tetapi tetap tidak bisa menahan perasaan gemas pada gadis di sampingnya. Andai saja, Zafira mengizinkannya untuk menyentuhnya, dia tidak akan membuang kesempatan sedetik pun. Dia akan memeluk, mencium bahkan melakukan hal lain yang lebih dari itu. Tetapi dia masih menahan segala perasaan serta hasrat yang ada di hati. Memendamnya sampai di ujung waktu sang istri akan menyerahkan dengan ikhlas seluruh miliknya kepada dirinya.


Sampai saat ini Fariz masih memiliki kesabaran yang luas untuk menahan semua perasaan serta hasrat yang semakin membuncah di hati. Dia sangat yakin, suatu hari nanti Zafira akan dapat merasakan cinta tulus yang diberikannya dan akan membuka pintu hati selebar-lebarnya untuk mengizinkan Fariz masuk dan bertahta di hatinya. Fariz yakin dengan hal itu. Kesabaran adalah kunci segalanya.


"Tidurlah. Mudah-mudahan besok kakimu lebih baik," ucap gadis itu pada suaminya.


Gadis cantik itu mengibas-ngibas pelan dan merapikan rambut panjangnya agar lebih ringan saat dibawa tidur. Kemudian Zafira pun mengambil selimutnya, bersiap tidur. Baru saja dia hendak memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut, baru terpasang batas lutut, tiba-tiba sang suami telah lebih dulu melakukan sesuatu di luar dugaan yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya oleh Zafira.


"Brruuukk,"


Dalam hitungan detik Fariz telah merebahkan kepala di atas paha istrinya. Zafira tercekat. Membelalakkan kedua mata. Tangannya ikut tertahan untuk melanjutkan menyelimuti tubuhnya.


"Glek"

__ADS_1


Tenggorokan Zafira seketika terasa kering.


...*******...


__ADS_2