
Tiga tahun kemudian.
Pukul 08:00.
Pagi yang cerah, sinar mentari begitu lembut menerpa bumi.
Tampak seorang pria tampan dengan pakaian rapi, kemeja biru panjang serta dasi terpasang rapi di dada, dipadu dengan celana serta sepatu licin berwarna hitam.
Pria itu baru saja turun dari mobil hitam miliknya merk Pajero Sport, tubuhnya yang tinggi berkisar 185 cm dengan langkah tegap berjalan memasuki Lobby kantor.
Security yang bertugas di depan pintu dengan sigap membukakan pintu lalu sedikit membungkukkan tubuh memberi ucapan selamat pagi untuk pria beralis tebal dengan raut muka yang tenang, membuktikan jika si tampan itu sosok laki-laki yang baik serta penyabar.
"Selamat pagi pak," Security mengucap salam saat tubuh pria itu sudah memasuki lobby.
"Selamat pagi pak Saiful, sehat terus ya!..," balas pria itu tersenyum ramah sembari menepuk pelan pundak Security dan berjalan menuju lift lalu menekan tombol untuk menuju lantai 22.
Security tersebut kembali menutup pintu setelah sang Direktur Utama telah berjalan menjauhinya, sambil menggeleng terpana melihat atasannya itu. Sejak dua tahun pria tampan itu menjadi atasannya, tidak satu kali pun pria itu membentak apalagi memarahi para karyawannya, hanya senyum ramah serta sedikit lelucon yang selalu dilontarkannya setiap hari untuk semua bawahan yang bertemu dengannya.
Fariz Erlangga, dia lah Direktur Utama Badan Usaha Milik Negara PT. PLN Indonesia di kawasan Jakarta Pusat.
Usianya memang terbilang masih sangat muda untuk menjadi seorang Direktur Utama di salah satu BUMN terbesar di Indonesia, namun usia bukan menjadi penghalang karena ilmu serta kecerdasan yang Fariz miliki pantas menjadikan dirinya sebagai seorang pimpinan.
Usianya yang menginjak 24 tahun lebih namun karena kecerdasannya yang merupakan lulusan Universitas Indonesia menjadikan dia begitu mudah untuk mendapatkan pekerjaan dimana pun yang dia inginkan.
Memang benar berita serta informasi yang ditulis di internet atau pun pernyataan sebagian orang di dunia nyata bahwa mayoritas mahasiswa mahasiswi lulusan Universitas Indonesia hanya butuh waktu paling lama dua bulan sampai tiga bulan setelah kelulusan, maka dengan mudah mereka akan segera mendapatkan pekerjaan minimal menjadi staff dan tak jarang menjadi kepala atau pun posisi-posisi tertinggi lainnya di sebuah perusahaan.
Apalagi Fariz merupakan mahasiswa terbaik dengan nilai Cum Laude lulusan Fakultas Teknik Elektro Jurusan Listrik Universitas Indonesia menjadikan dirinya dengan mudah diterima di perusahaan manapun, termasuk di BUMN yang kini telah mempercayakan kepada dirinya untuk menjadi Direktur Utama di PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Indonesia.
__ADS_1
Berkat jabatan serta semua tugas yang diemban selama dua tahun, sang Direktur Utama bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini dengan membeli mobil, apartemen serta rumah. Semua penghasilannya disimpan dengan baik tanpa harus berfoya-foya seperti kebanyakan laki-laki mapan pada umumnya.
Pria tampan dengan rambut hitam serta licin yang telah disisir rapi itu baru saja keluar dari lift.
Setelah membalas ucapan selamat pagi dari beberapa orang bawahannya, pria itu segera memasuki ruangan dan duduk di kursi yang sudah dua tahun ini menemani dirinya dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai Direktur Utama yang telah membawa dirinya menjadi pria dengan prestasi serta kekayaan yang cukup melimpah dengan bermodalkan ilmu serta kecerdasan yang dia miliki.
Di ruangan itu, ada sebuah foto rahasia yang sengaja ditaruh di dalam lemari, foto siapa lagi kalau bukan foto gadis yang selama ini sangat dicintai, Zafira Mutia Wibawa, gadis cantik yang begitu diimpikannya, dipuja puluhan tahun dan takkan tergantikan dengan gadis mana pun yang ada di dunia ini.
Sepertinya mata, hati serta fikiran Fariz telah buta, dan dia hanya bisa melihat Zafira saja dalam kehidupannya.
Begitulah kalau sudah jatuh cinta, segala sesuatu menjadi indah, entah itu hitam di mata orang lain namun akan terlihat putih di mata si pecinta. Begitu pun yang dirasakan Fariz, tidak ada seorang pun yang bisa merubah perasaannya terhadap Zafira. Zafira terlalu indah untuk dilupakan, dan dia tidak akan sanggup melakukan itu.
Seperti yang terlihat pagi ini, pria itu mempunyai rutinitas setiap hari sesampai di kantor, selalu membuka lemari lalu mengusap foto itu sambil tersenyum sendiri memandang foto Zafira.
"Selamat pagi Zafira, aku mencintaimu..," Fariz mengulas senyum menatap wajah cantik berhidung mancung serta berambut panjang di foto itu.
Memang sangat pantas jika Fariz begitu tergila-gila kepada Zafira. Gadis itu bukan hanya memiliki kecerdasan yang sama seperti Fariz, mahasiswi dengan Cum Laude di kampusnya. Tetapi dia juga memiliki fisik serta kebaikan hati nyaris sempurna. Membuat Fariz tidak mampu berpaling apalagi membuang ukiran wajah gadis itu dari hati serta fikirannya meski satu detik pun.
Pria itu masih terus mengusap-usap foto Zafira sampai di menit berikutnya dia kembali meletakkan foto itu ke dalam lemari menaruhnya dengan rapi dan mengunci lemari itu dengan rapat agar tidak ada orang membuka serta melihat foto gadis yang sudah dua tahun ini disimpan dengan aman di lemari itu.
Setelah berkutat dengan pekerjaannya menatap layar laptop yang hampir memakan waktu Dua jam, akhirnya Fariz bisa sedikit bersantai. Merilekskan tubuh, mata serta otaknya sambil meminum secangkir teh hangat yang telah disiapkan office boy di kantornya.
"Setiap pagi aku harus meminum teh buatan office boy di kantor ini. Kapan aku bisa menikmati teh buatan Zafira di setiap aku bangun tidur?," gumamnya sambil tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.
Di balik senyuman itu, selalu ada rasa cemas yang mendalam bersarang di diri sang pria, dikarenakan kehadiran Ronald yang telah dua tahun ini menjadi benteng pembatas antara dirinya dengan Zafira.
Fariz menghirup tehnya lalu berjalan dan berdiri di depan jendela memandang lurus dari ketinggian, melihat bangunan serta gedung-gedung pencakar langit yang ada di depannya.
__ADS_1
Jarinya mengetuk pinggiran jendela berulang-ulang sembari menghela nafas dalam lalu menghembuskannya berat. Meskipun posisinya sekarang sudah sangat membanggakan kedua orang tua serta keluarga namun tidak dengan hatinya.
Hati pria itu merasa tidak bangga dengan dirinya sendiri dengan jabatan serta kesuksesan yang dia raih, dikarenakan sampai saat ini kehidupan percintaannya masih saja berjalan di tempat, dengan kata lain dia masih saja gagal menyentuh serta mendapatkan hati Zafira.
Pria itu termenung lama di depan jendela, matanya menatap kosong ke depan, sama seperti hatinya yang selalu kosong. Mengharapkan cinta yang tak kunjung datang.
Sementara di Perusahaan PT. Satya Wibawa Group, Zafran dan Zafira pun telah bekerja meneruskan perusahaan sang papa dalam kurun dua tahun terakhir.
Meskipun dalam dua tahun ini sang papa tidak secara langsung melepaskan seluruh tanggung jawab kepada anak-anaknya namun sang papa sudah sangat puas serta bangga dikarenakan kedua anaknya bisa menjalankan perusahaan dengan baik seperti keinginannya.
Zafran kini telah menjabat sebagai Presiden Direktur dan Zafira menjabat sebagai Manager Keuangan.
Walau pun Arga telah menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada kedua anaknya namun Arga tetap datang ke kantor untuk mengajari serta mengawasi kinerja anak kembarnya.
Setelah dua tahun dalam masa pengajaran, arahan, bimbingan serta pengawasan Arga, kini kedua anak pintar itu telah delapan puluh persen bisa dilepas oleh sang papa. Terkadang dalam satu minggu, Arga cukup datang satu sampai dua kali untuk memantau perusahaan.
Sejak pagi Zafira disibukkan dengan pekerjaan. Sesekali mulutnya mengunyah biskuit yang ada di meja lalu menyeruput air putih. Zafira bukan penikmat teh atau kopi, sehingga setiap dia mengunyah cemilan, air putih lah yang dipilih gadis itu untuk membasuh tenggorokannya.
Sebagai Manager Keuangan banyak yang harus dirinya handle, mulai dari menganalisa biaya, harga, variabel, hasil penjualan dan kinerja perusahaan. Mengelola anggaran perusahaan. Bekerja sama dengan audit untuk memastikan pengawasan keuangan perusahaan tetap terjaga. Mengembangkan tren dan proyeksi keuangan perusahaan di masa depan. Melakukan evaluasi rencana anggaran untuk efisiensi biaya dan lain sebagainya.
Zafira melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 11:30. Sudah saatnya dia beristirahat, makan serta shalat. Tubuhnya juga sudah terasa penat sedari tadi duduk memeriksa pekerjaannya dari layar laptop.
Ponsel di meja berdering, ada notif pesan masuk muncul di layar ponsel.
"Kamu siang ini makan dimana? Aku ke kantormu boleh tidak? Aku ingin mengajakmu makan siang di restoran dekat kantormu," isi pesan itu yang ternyata tidak lain dari si pemuja sejati Zafira, Fariz.
"Baik, tapi aku telepon Ronald dulu, apakah dia siang ini akan mengajakku makan siang di luar atau tidak," jari Zafira langsung mengetik balasan.
__ADS_1
Fariz yang saat ini sudah di dalam mobil menuju kantor Zafira memukul pelan setir mobil. Getaran hatinya menahan perasaan cemburu tidak bisa disingkirkan apalagi dikubur, sekuat apapun dia melakukan semua itu tidak akan berhasil. Rasa cemburu itu justru semakin besar terasa membakar dadanya melihat kemesraan serta kebersamaan Zafira dan Ronald, yang semakin hari semakin dekat dan intim.
...*******...