
Ronald mencekal tangan kanan Zafira menahan gadis itu agar tidak keluar dari ruangan.
"Honey, kita hanya berciuman sebentar. Tidak akan memakan waktu lama. Lagi pula pantas-pantas saja kalau kita melakukan itu. Kamu adalah kekasihku dan sebentar lagi akan menjadi istriku. Jadi dimana letak salahnya? Mengapa kamu selalu menghindariku?," bantah Ronald menghentikan langkah Zafira yang hendak keluar dari ruangan dengan sorot mata tajam menatap gadis itu.
Namun Zafira tidak menghiraukan perkataan Ronald. Karena jika sampai dia melayani keinginan sang kekasih maka dia tahu apa taruhannya. Kesuciannya. Dan dia tidak mau hal tidak baik itu terjadi sebelum dia sah menjadi istri Ronald. Meskipun dia mencintai Ronald namun tetap saja pesan sang mama, Laras, tidak bisa dikesampingkan dan dipandang sebelah mata. Akan selalu menjadi malaikat pelindung yang menjaga kehormatannya dari kegilaan laki-laki yang belum sah menjadi suaminya.
Tangan kiri Zafira masih bersikeras menarik handle pintu dan sudah menempel kuat di sana. Sementara tangan kanannya yang masih dicekal Ronald bergerak pelan melepaskan cekalan pria itu hingga terurai. Namun tidak hanya sampai di situ, sang gadis dengan sangat pintar mendinginkan hati sang kekasih yang tengah dilanda kesal bahkan hasrat, langsung berbalik menggenggam kelima jari Ronald dan menyalurkan kehangatan lewat sentuhan tangannya.
"Ayolah honey kita makan siang. Aku sudah lapar," bujuk Zafira sembari meremas lembut tangan sang kekasih.
Mendapat remasan lembut dari jemari Zafira serta kehangatan yang muncul dari sentuhan tangan sang kekasih, membuat hati Ronald seketika dingin dan luluh. Akhirnya pria itu pun mengalah.
"Kamu selalu pintar mencari alasan untuk menolakku. Dan kamu juga selalu pintar mendinginkan hatiku," sungut Ronald sambil melirik pegangan tangan Zafira yang bertaut di kelima jarinya.
Zafira hanya tersenyum mendengar sungutan Ronald yang selama ini selalu didengarnya setiap kali gadis itu melakukan penolakan, baik di saat Ronald mau memeluk atau pun menciumnya.
"Tunggu saja kalau kita sudah menikah. Aku akan menerkam dan menghabisimu, honey! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku juga akan menjelajahi sampai ke lobang sempit sekali pun yang kamu miliki!," tukas Ronald dengan muka kesal.
Zafira sontak tertawa keras memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi mendengar ancaman Ronald. Dia tahu apa maksud ucapan pria itu.
"Iya honey, aku janji, aku akan memberikan semua milikku untukmu. Kalau memang kamu ingin menjelajahi lobang sempit itu, maka aku persilakan. Aku tidak akan menghindar apalagi menolaknya. Tapi tunggu kita sah dulu! Sekarang kamu harus bersabar," balas Zafira terkekeh menatap gemas Ronald yang memasang muka kesal.
Gadis itu pun membuka pintu dan tangan kanannya menarik Ronald agar mengikuti langkahnya.
Mau tidak mau, Ronald terpaksa menyeret kaki mengikuti langkah Zafira meski pun di dalam hati merasa kecewa karena penolakan yang sudah puluhan kali dilakukan sang kekasih yang membuat keinginannya pun untuk ke sekian kali harus tertahan.
__ADS_1
Namun benar kata Zafira, dia harus bersabar sedikit lagi. Karena sebentar lagi gadis berkulit putih itu akan menjadi milik dia seutuhnya. Takkan ada penolakan lagi setelah pernikahan mereka nanti. Justru Zafira-lah yang akan memberikan dengan seikhlasnya tanpa harus ada adegan paksa memaksa yang terjadi selama bertahun-tahun.
Setelah keluar dari ruangan, Zafira dengan cepat melepaskan genggaman tangannya dari jemari Ronald.
Beberapa pasang mata bawahan Zafira yang sedang sibuk mengetik di keyboard laptop atau pun yang sedang merapikan berkas-berkas pekerjaan, mendadak terhenti sejenak, menatap ke arah Zafira yang baru saja keluar dari ruangan.
Masing-masing ada yang hanya menundukkan kepala, ada yang tersenyum, ada juga yang langsung mengucapkan salam selamat siang kepada gadis cantik atasan mereka itu.
Zafira membalas dengan anggukan serta senyuman seramah mungkin untuk semua karyawan yang menyapanya.
Iya, meski pun perusahaan ini adalah perusahaan milik keluarga tetapi gadis itu tidak pernah berbangga diri. Dia tetap berfikiran kalau dia bekerja mencari uang sama seperti para karyawan yang ada di perusahaan ini.
Karena itulah sikapnya tetap santun serta rendah hati. Meski pun dia memegang jabatan penting di perusahaan, tetap tidak merubah kerendahan hatinya. Dia selalu memperlakukan bawahannya dengan baik dan tidak pernah membentak apalagi memarahi mereka walau terkadang bawahannya melakukan kesalahan dalam pekerjaan.
Laras selalu memberikan pendidikan rumah yang terbaik untuk kedua anaknya dan tidak pernah mengajarkan anak-anaknya hidup dengan kesombongan apalagi membedakan status, suku, agama dan sebagainya.
Apakah sang papa juga mengajarkan anak-anaknya bagaimana bersikap yang baik serta rendah hati? Iya, sang papa juga ikut andil mengajarkan pendidikan rumah tetapi hanya sebagian saja, dikarenakan semuanya sudah diserahkan kepada sang istri. Karena dia yakin, sang istri jauh lebih pintar dan sabar dalam mendidik anak kembar mereka.
Setelah makan siang bersama, Ronald pun kembali ke kantornya dengan tetap meninggalkan pesan kepada sang kekasih bahwa malam ini dia akan segera datang ke rumah gadis itu untuk melamarnya yang dijawab anggukan senang dari sang gadis.
*****
Malamnya. Pukul 19:00.
Ronald telah tiba di rumah Zafira dengan didampingi kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kini, semua keluarga sedang berkumpul di ruang tamu.
Tampak Zafira duduk di sofa berukuran sedang, berada di tengah-tengah di antara sang mama dan sang nenek. Sedangkan sang papa serta Zafran duduk masing-masing di sofa tunggal.
Zafira begitu cantik menggunakan Maxi dress dari bahan sutra berwarna cream. Maxi dress yang dikenakan Zafira sangat cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi 170 cm, dengan model panjang menutupi tangan hingga mata kaki. Rambut panjangnya pun diikat rapi ke atas semakin memancarkan aura kecantikan alami wajahnya.
Jika dilihat seperti ini, hal yang wajar jika Fariz sangat tergila-gila kepada gadis bermata indah itu dan tidak sanggup menggantikannya dengan gadis mana pun. Wajah serta lekukan tubuh Zafira nyaris sempurna ditambah kulitnya yang putih bersih semakin membuatnya bagaikan puteri di kerajaan dongeng.
Ronald pun terlihat sangat tampan memakai kemeja batik tangan panjang dari butik termahal di kota ini, dengan warna biru navy senada dengan celananya. Diapit oleh kedua orang tuanya duduk di sofa panjang.
"Begitulah pak Arga dan bu Laras, maksud kedatangan kami kemari. Kami ingin meminta Zafira menjadi istri dari anak kami. Karena menurut cerita dari Ronald, mereka sudah berkenalan sangat lama, lebih kurang delapan tahun. Dan sudah saling yakin ingin membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Zafira juga telah beberapa kali datang ke rumah dan sudah mengenal kami dan nenek Ronald dengan sangat baik. Zafira gadis yang baik dan pintar. Dan kami merestui Ronald mempersunting Zafira menjadi istrinya," papa Ronald sebagai juru bicara menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Zafira.
Baik Laras, Mayang maupun Arga masih diam mendengarkan dengan saksama penuturan dari calon mertua Zafira.
Sementara Zafran melirik ke arah Ronald dan berfikir keras, mengapa Zafira lebih memilih laki-laki ini dibanding sahabat mereka, Fariz?
"Apa kelebihan pria ini dibanding Fariz? Iya, dia tampan dan berpostur tubuh sangat tinggi. Tapi Fariz juga tidak kalah tampan dan tinggi. Apa sebenarnya yang membuat Zafira mencintai pria ini? Huh! Zafira memang bodoh! Aku telah memperingatkannya berulang kali untuk meninggalkan pria ini dan menerima cinta Fariz tapi dia tetap tidak mendengarkanku," Zafran terus memandangi Ronald sambil tidak berhenti memijit pelipisnya memikirkan kehidupan saudara kembarnya di kemudian hari jika harus hidup satu atap dengan pria yang sebenarnya sangat tidak pantas untuk Zafira.
"Kasihan Fariz. Bagaimana nasibmu setelah Zafira menikah dengan pria ini? Maafkan aku, aku tidak bisa membantumu kali ini. Karena ini adalah keputusan dan sudah menjadi pilihan Zafira. Dan ini merupakan kebahagiaan Zafira. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaannya," sesal Fariz lirih, merasa sangat bersalah kepada sahabatnya.
Di lubuk hati, Zafran menjadi sangat sedih memikirkan nasib Fariz karena dia tahu betapa besar cinta Fariz untuk saudara kembarnya itu.
"Jadi bagaimana nak? Apa kamu menerima lamaran Ronald?," tanya Laras membuat lamunan Zafran terbuyar mendengar suara sang mama, lalu mengalihkan pandangan ke arah Laras yang sedang mengusap lembut rambut sang putri kesayangannya.
...*******...
__ADS_1